Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 11)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Meski kematian di depan mata tapi untuk melarikan diri adalah pantanganku!” kata Sepasang Sabit Baja.

Sementara itu tiga murid Dewi Kala Hijau menjura di hadapan guru mereka. Kala Biru berkata: “Dewi, syukur kau datang. Kalau tidak…”

“Diam!” bentak Dewi Kala Hijau.

“Lekas kalian bereskan dulu kelima manusia keparat itu!” Maka Kala Biru, Kala Hitam dan Kala Putih segera menyerbu kelima tokoh silat di hadapan mereka, sedang Dewi Kala Hijau melangkah mendekati mayat Kala Merah. Muka tengkoraknya kelihatan mengkerut dan tambah menggidikkan ketika dia melihat bagaimana muridnya yang tertua dan terpandai itu menemui kematian demikian rupa. Di samping mayat Kala Merah dilihatnya pula sesosok tubuh laki-laki tua yang ditancapi puluhan kala hijau.

Dewi Kala Hijau begitu memperhatikan jari-jari tangan laki-laki itu segera mengetahui siapa dia adanya.

Sepuluh Jari Malaikat memang mempunyai ilmu yang teramat tinggi. Namun demikian kematian muridnya yang paling pandai dalam cara demikian rupa sungguh tak pernah diduganya. Dengan penuh geram dan sekali tendang saja maka mencelatlah mayat Sepuluh Jari Malaikat sampai sebelas tombak!

Sepasang mata yang beringas dari Dewi Kala Hijau memandang berkeliling. Di atas dan di bawah panggung berhamburan puluhan mayat manusia! Hampir keseluruhannya mati dengan ditancapi oleh kala-kala hijau!

Di antaranya tumpukan mayat itu masih bisa dikenalinya beberapa tokoh sakti seperti Si bayangan Setan, Nenek Kelewang Merah. Brahmana Wingajara, Sepasang Ruyung Emas, Si Golok Sakti dan lain sebagainya!

Dewi Kala Hijau memalingkan badannya ketika dibelakannya terdengar jerit kematian!

~ 9 ~

Satu dari lima pengeroyok yang bertempur dengan ketiga muridnya roboh ke tanah dengan kening ditancapi kala hijau! Sekali lagi terdengar suara jeritan dan satu lagi roboh tanpa nyawa. Sepasang Sabit Baja serta dua tokoh kalangan hitam bertempur mati-matian. Tapi satu jurus kemudian Sepasang Sabit Baja juga terpaksa menyerahkan nyawanya di tangan Kala Hitam.

Melihat ini dua tokoh silat golongan hitam lumer nyali mereka. Untuk kabur tentu tak mungkin dan untuk melawan terus berarti mati! Maka tanpa pikir panjang lagi keduanya melemparkan senjata masing-masing dan cepat-cepal jatuhkan diri berlutut.

“Keparat! Saat ini tiada ampun lagi bagi kalian!” bentak Kala Biru. Kaki kanannya ditendangkan kemuka tapi di belakangnya terdengar seruan Dewi Kala Hijau.

“Kala Biru, tahan dulu!” Maka Kala Biru pun membatalkan tendangannya. Dewi Kala Hijau melangkah ke hadapan kedua orang tokoh silat golongan hitam itu. Salah seorang dari mereka segera berkata: “Dewi, kami berdua mohon diampuni dan bersedia memasuki Partaimu…”

“Sesudah hampir mampus, baru minta ampun huh!” kertak Dewi Kala Hijau.

“Siapa nama kalian? Apakah mempunyai gelar?!”

Yang tadi bicara menjawab: “Aku Lalanang dari Pantai Selatan. Gelarku Pembunuh Tanpa Bayangan, Aku mohon keampunanmu Dewi…”

“Kalian berjanji mau memasuki Partaiku…?”

“Kami berjanji.”

“Baik! Tapi karena kalian sebelumnya sudah berani melawan terhadap murid-muridku maka aku baru mengampuni jiwa kalian dan memperbolehkan kalian memasuki partaiku bila kalian sudah mencongkel ke luar salah satu biji mata kalian!”

Sepasang Kaki Kematian dan Pembunuh Tanpa Bayangan saling pandang dan terkejut.

“Cepat, aku tak bisa menunggu lebih lama! Boleh pilih matamu atau nyawamu!” bentak Dewi Kala Hijau.

Sekali lagi kedua orang itu saling berpandangan. Apa boleh buat, pikir mereka. Dari pada mati lebih baik korbankan satu biji mata. Lagi pula mereka sama-sama dari golongan hitam, perbuatan itu tentu tak akan diambil perduli oleh dunia persilatan.

Maka tanpa menunggu lebih lama kedua orang itu segera mencongkel masing-masing sebuah. matanya! Biji mata dan darah menyembur ke luar! Satu pemandangan yang mengerikan! Tapi Dewi Kala Hijau menyaksikan itu dengan tertawa meringkik!

“Aku masih belum percaya terhadap kalian!” berkata Dewi iblis itu.

“Jika kalian sudah kulepas mungkin kalian akan ingkar janji!” Dari balik pakaian hijaunya Dewi Kala Hijau mengeluarkan dua buah pil lalu diberikannya pada kedua orang itu.

“Telan cepat!” perintahnya.

“Dewi, pil ini… apakah…”

“Setan alas! Telan kataku!”

Pembunuh Tanpa Bayangan dan Sepasang Kaki Kematian segera menelan pil yang diberikan.

“Pil itu adalah racun kala hijau yang akan bekerja dalam tempo sebelas bulan dari sekarang. Sesudah kau berjanji untuk memasuki Partai Lembah Tengkorak maka sebelum tanggal 12 bulan 12 kau harus datang ke lembah Tengkorak. Di sana aku akan berikan obat penawarnya. Tapi bila kalian ingkar janji dan tak mau datang, maka racun itu akan bekerja. Perut kalian akan hancur!”

Bergidiklah kedua tokoh silat golongan hitam itu. Mereka berdua meski dari golongan jahat namun baru hari itu menemui manusia paling jahat dan paling kejam serta berhati iblis macam Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya.

“Di samping itu…” terdengar Dewi Kala Hijau membuka mulut kembali, “Masing-masing kalian kubebani tugas yaitu harus mencari anggota partai sebanyak mungkin lalu membawanya ke Lembah Tengkorak pada hari 12 bulan 12 nanti! Kalian dengar?!”

“Kami dengar, Dewi…” jawab Sepasang Kaki Kematian dan Pembunuh Tanpa Bayangan. Dewi Kala Hijau berpaling pada ketiga muridnya.

“Kala Biru, dukung mayat Kala Merah. Kita segera meninggalkan tempat ini…!”

Kala Biru melangkah untuk mengerjakan perintah gurunya itu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat ada perubahan pada paras gurunya. Dua murid Kala Hijau pun melihat hal ini Dewi Kala Hijau mendongak ke langit, keningnya mengkerut kemudian sepasang matanya memandang ke Utara. Telinganya dipasang benar-benar mendengarkan suara aneh yang ditangkapnya.

“Ada apa Guru…?” tanya Kala Putih. Dia dan dua saudara seperguruannya masih belum mendengar apa-apa padahal kepandaian mereka ini sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, demikian pula tenaga dalam mereka. Dapat dibayangkan bagaimana jauh tingginya kesaktian serta tenaga dalam Dewi Kala Hijau!

Kira-kira seperempat minum teh baru Kala Hitam dan dua saudara-saudara seperguruannya mendengar suara yang sejak tadi didengar oleh Dewi Kala Hijau. Dan ketiga gadis bertopeng muka tengkorak ini pun jadi mengerenyitkan kening lalu memandang ke jurusan Utara.

Suara yang mereka dengar itu adalah suara siulan aneh yang melengking-lengking, membawakan lagu tak bernama dengan nada tak karuan!

Meski suara siulan itu jauh sekali kedengarannya, namun telinga Dewi Kala Hijau dan tiga muridnya serasa ditusuk-tusuk!. Makin lama makin keras juga suara siulan, itu. Telinga keempat orang itu kini bukan saja seperti ditusuk-tusuk tapi juga tergetar hebat!

Tiba-tiba kelihatanlah seorang pemuda berambut gondrong. Berparas gagah dan berpakaian putih-putih muncul di kejauhan! Pemuda ini kelihatannya melangkah biasa saja dan seenaknya, tapi dalam tempo yang sangat singkat tahu-tahu sudah berada di tepi telaga!

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan langkahnya dan memandang berkeliling. “Edan betul!” terdengar seruannya.

“Apa yang terjadi di sini! Apa aku sudah kesasar ke neraka, huh?!” Dan pemuda rambut gondrong berparas gagah ini lalu menggaruk-garuk kepalanya. Cuping hidungnya berkemak kempis kemudian dia meludah ke tanah dan melangkah ke tepi panggung. Di sini dia berhenti dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yang satu ini pasti isteri Dewa Pedang, Ketua Partai Telaga Wangi yang… ah kalau aku tak salah Partai itu baru diresmikan hari ini. Tapi kenapa isteri Dewa Pedang jadi kojor begini...?! Eh, Dewa Pedang sendiri kemana? Dan itu... ah! Si Bayangan Setan, Brahmana Wingajara. Sepasang Ruyung Emas... aduh… aduh... banyak sekali tokoh-tokoh gagah…”

Pemuda tu menghela nafas dalam dan lagi-lagi menggelengkan kepalanya ketika melihat mayat Sepuluh Jari Malaikat terhampar di samping sosok gadis berpakaian merah yang mukanya hancur dan perutnya robek membusai!

“Betul-betul edan! Siapa yang punya pekerjaan ini? Apa setan-setan dari atas langit pada turun dan mengamuk semua?!”

Sepasang mata Dewi Kala Hijau kelihatan menyorot tajam. Dia yakin betul karena melihat langkah aneh dan mendengar suara siulan si pemuda bahwa pemuda itu adalah seorang yang berilmu tinggi.

Tapi sikap dan bicaranva menunjukkan bahwa dia seperti orang yang tidak waras! Dan yang menyakitkan hati Dewi Kala Hijau ialah sikap si pemuda yang seperti tidak melihat kehadirannya di situ bersama murid-muridnya!

“Pemuda gila, siapa kau?!” tanya Dewi Kala Hijau membentak. Pemuda itu memutar kepalanya. Dan dia kelihatan terkejut ketika melihat paras Dewi Kala Hijau. dan juga paras ketiga murid-muridnya. Kemudian matanya melirik pada Pembunuh Tanpa Bayangan serta Sepasang Kaki Kematian yang saat itu masih berlutut di hadapan Dewi Kala Hijau.

“Eh… melihat kepada tubuhmu, kau tentunya gadis muda belia. Tapi melihat kepada parasmu. Hem…” Pemuda itu geleng-gelengkan kepala.

“Semustinya aku yang bertanya siapa kau!” Dewi Kala Hijau tertawa mendongak ke langit.

“Manusia sinting, sebaiknya kau segeralah meninggalkan tempat ini! Aku muak melihatmu!”

“Oh… bicara boleh saja, tapi jangan keliwat menghina! Coba kacakan kau punya paras ke dalam air telaga itu! Aku berani bertaruh bahwa kau sendiri akan lebih muak memandang parasmu daripada parasku!” Habis berkata begitu si pemuda tertawa mengekeh.

Mendadak suara tertawanya terhenti karena Kala Hitam melompat ke muka dengan membentak. “Pemuda keblinger, berani menghina guruku! Terima kematianmu detik ini juga!”

“Kala Hitam, jangan turun tangan dulu!” seru Dewi Kala Hijau. Kala Hitam menghentikan langkahnya dengan terheran. Dia tahu betul sifat gurunya. Bila seseorang menghinanya pastilah orang itu akan menemui ajalnya detik itu juga. Tapi kali ini dihina demikian rupa di hadapan murid-muridnya sang guru sama sekali tidak turun tangan bahkan melarangnya untuk membunuh pemuda itu!

Pada pertama kali melihat paras pemuda itu sesungguhnya Dewi Kala Hijau telah tergetar hatinya. Mula-mula dia menyangka bahwa pemuda itu adalah seseorang yang pernah dikenalnya sepuluh tahun yang lalu. Tapi nyatanya pemuda ini hanyalah seorang pemuda lain yang berparas mirip sekali dengan orang yang dimaksudkannya bahkan pemuda ini jauh lebih gagah lagi!

“Jadi kau ini adalah murid perempuan berbaju hijau itu?” tanya si pemuda pada Kala Hitam.

“Hemm… pantas. Memang cocok sekali! Apakah sekian banyaknya manusia yang kojor di sini kalian yang menyebabkan? Dan itu, dua manusia bertampang jelek itu kenapa pada berlutut di hadapan gurumu?!”

“Pemuda otak miring! Sebaiknya kau lekas berlutut, niscaya kuampuni dosa dan jiwamul” bentak Dewi Kala Hijau.

“Eh… dosa dan salah apa yang aku buat terhadapmu? Kalau kukatakan tampangmu dan tampang murid-muridmu buruk dan mengerikan itu adalah kenyataan! Kalian tak punya alasan untuk marah…”

“Jangan bicara ngaco! Berlalulah dari sini jika tak ingin mampus!” bentak Dewi Kala Hijau pula. Si pemuda garuk-garuk kepalanya lalu dengan seenaknya duduk di tepi panggung dan menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil!

“Aku tahu betul daerah ini bukan kau yang punya, juga bukan tempat kediamanmu. Lantas kenapa kau mau mengusirku dengan seenaknya?!”

Kala Biru yang menjadi gemas sekali melihat sikap pemuda itu berkata: “Guru, biar aku patahkan batang lehernya manusia gendeng ini!” Dewi Kala Hijau memberi isyarat agar muridnya itu tetap di tempat.

“Orang muda, jika kau betul punya mata dan melihat mayat-mayat yang berhamparan di sini, itu sudah cukup bagimu untuk tidak lancang seenaknya!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.