Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 10)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Sepuluh Jari Malaikat, mengetahui siapa kau adanya dan memandang kepada nama besarmu, maka kami berempat atas nama guru Dewi Kala Hijau bersedia mengampunimu! Kuharap kau mau segera menyatakan diri masuk ke dalam Partai kami…”

Meledaklah tertawa Sepuluh Jari Malaikat. Kedua tangannya dinaikkan ke atas. Kala Merah dan saudara-saudara seperguruannya bersiap-siap.

“Perempuan iblis, dengar!” Sepuluh Jari Malaikat buka suara.

“Aku memang tak keberatan masuk ke dalam partaimu, tapi sepuluh jari-jari tanganku ini pasti tidak mau diajak ikut-ikutan bersama kalian, apalagi masuk Partai kalian!” marahlah Kala Merah.

“Kalau begitu mampus adalah yang paling baik buatmu!” teriak Kala Merah. Tangan kanannya laksana kilat naik ke atas lalu dipukulkan ke muka! Sinar hijau menyambar. Tiga binatang kala berwarna hijau melesat! Segenap yang masih hadir membuka mata lebar-lebar, ingin menyaksikan apa yang bakal terjadi.

Tiba-tiba Sepuluh Jari Malaikat membentak nyaring! Tubuhnya berkelebat ke samping. Sinar dan kala hijau lewat di sampingnya.

“Perempuan iblis!” terdengar suara Sepuluh Jari Malaikat dalam kelebatan itu.

“Aku tidak suka bertempur dengan lawan yang menyembunyi-kan mukanya di balik topeng! Coba kulihat dulu parasmu!” Habis berkata begitu Sepuluh Jari Malaikat berkelebat lagi dan...

“Bret!”

Suara ini disusul oleh suara seruan tertahan Kala Merah! Topeng tengkorak tipis yang menutupi mukanya robek dan tanggal! Terkejutlah semua orang yang ada, termasuk Sepuluh Jari Malaikat sendiri! Siapa yang menyangka kalau perempuan bertopeng tengkorak dan berhati sejahat iblis itu ternyata adalah seorang gadis berparas cantik jelita?!

Kala Merah sendiri kagetnya bukan main. Mukanya pucat oleh sirapan darah, tapi kemudian kekalapannya pun muncul!

“Setan alas! Terima kematianmu!” bentak Kala Merah. Gadis ini menyerbu ke muka. Kedua tangannya naik ke atas dan turun lagi secepat kilat! Dua larik sinar hijau menderu dan puluhan kala hijau melesat dari kedua telapak tangan Kala Merah!

“llmu terkutukmu ini boleh kau pamerkan pada orang lain! Terhadapku kau bisa cilaka sendiri!” ejek Sepuluh Jari Malaikat. Sepuluh jari-jari tangannya dipentang lebar-lebar lalu dihantamkan ke muka! Dua gelombang angin laksana topan prahara memapas dua larik sinar hijau! Puluhan kala hijau yang menyerang ke arah Sepuluh Jari Malaikat tertahan sejenak lalu menderu membalik menyerang Kala Merah dengan dahsyatnya!

Kala Merah menjerit keras!

Selama dilepas oleh gurunya, selama malang melintang di dunia persilatan dalam memenuhi tugas yang dipikulkan gurunya yakni mendirikan Partai Lembah Tengkorak, selama dia menghadapi musuh-musuh perkasa, selama itu pula dia terus-menerus telah menyebar maut, menyerang lawan-lawannya dengan ilmu “Kaia Hijau” yang sangat dahsyat itu! Tapi hari ini senjata itu membalik menyerangnya sendiri!

“Mampuslah kau iblis terkutuk!” teriak orang banyak.

“Kurang ajar!” terdengar bentakan Kala Hitam.

“Berani menyumpahi!” Sekali dia lepaskan ilmu kala hijau ke arah orang banyak yang tadi menyumpahi kemampusan bagi kakak seperguruannya maka terdengarlah pekik-pekik kematian!

Sementara itu meskipun agak gugup namun dengan ilmu mengantengi tubuhnya- yang tinggi Kala Merah melompat tujuh tombak ke udara. Kalakala hijau yang menyerangnya lewat di bawah kaki. Dari atas gadis ini menukik ke bawah laksana seekor rajawali dan sekali lagi melepaskan pukulan ilmu Kala Hijau kepada Sepuluh Jari Malaikat dan kali ini serangannya itu datang dari belakang!

Sepuluh Jari Malaikat mendengus. “Terhadap orang lain kau bisa berlaku curang, gadis iblis!” bentaknya.

“Tapi terhadapku jangan cobs-coba!”

Tokoh lihai ini lambaikan kedua tangannya. Puluhan kala-kala hijau yang menyerangnya luruh hancur ke tanah, Sekejapan kemudian kedua tangan itu telah membentuk cengkeraman dan menyerang dalam satu jurus aneh! Meski Kala Merah sempat juga mengelakkan cengkeraman lawan namun dia tak dapat menghindar-kan bajunya dari kerobekan!

“Keparat edan!” maki Kala Merah sambil menurupi dada bajunya yang robek. Kedua kakinya menerjang ke muka. Tangan kiri mengebut dan tanyan kanan kembali mengirimkan Pukulan Kala Hijau yang dahsyat. Jurus kaki menendang, tangan kiri mengebut dan tangan kanan memukul itu adalah iurus yang dinamakan “Empat Elmaut Berebut Korban”.

Sepuluh Jari Malaikat terkejut juga melihat kehebatan serangan ini. Sambil mendorongkan tangan kiri ke muka menolak serangan kala-kala hijau beracun maka orang tua berambut putih macam perempuan ini melompat ke kiri, geserkan kedua kaki ke muka, lalu dalam keadaan mengapung di udara lancarkan satu tendangan dari samping ke arah tulang-tulang iga sebelah kanan Kala Merah!

Tapi jurus “Empat Elmaut Berebut Korban” itu nyatanya mempunyai jurus-jurus pecahan karena begitu diserang lawan Kala Merah bukannya berkelit bahkan memburu lagi dengan serangan!

Dua tendangan lagi menderu, dua pukulan menggebu, pasir beterbangan, angin menggelombang! Sepuluh Jari Malaikat kembali menerima empat serangan sekaligus! Sepuluh Jari Malaikat menggeram dalam hati. Dia bergerak dengan cepat, Dua tendangan dapat dielakkannya, satu pukulan dikelit dengan rungukkan kepala tapi pukulan yang kedua mau tak mau harus ditangkisnya dengan lengan!

Pukulan tangan dan tangkisan lengan pun beradulah menimbulkan suara keras. Tubuh Kala Merah mencelat empat tombak ke belakang sedang Sepuluh Jari Malaikat berdiri terhuyung-huyung! Kala Merah menyadari kalau lawannya sudah lenyap dari hadapannyal Ketika dia melihat bayangan Sepuluh Jari Malaikat, orang tua itu sudah berada dekat sekali dan terdengar suaranya; “Perempuan iblis, selamat jalan ke akhirat!”

Sepuluh jari tangan kemudian mencengkeram ke depan dalam jurus yang tak mungkin lagi dielakkan oleh Kala Merah karena jurus itu adalah jurus yang paling hebat dari ilmu silat Sepuluh Jari Malaikat yaitu yang bernama jurus “Sepuluh Jari Kebinasaan”!

Lima jari menyengkeram ke perut, serangan ini dapat merobek dan membusaikan isi perut. Lima jari lagi bergerak ke muka dan kehebatannya ialah bisa menanggalkan mulut serta hidung dan mengorek biji-biji mata!

“Celaka, matilah aku!” keluh Kala Merah. Dia menjerit setinggi langit. Setengah detik lagi Kala Merah bakal menemui kematiannya maka dari samping kiri dan kanan serta belakang Sepuluh Jari Malaikat melesatlah sinar-sinar hijau dan puluhan kala maut!

“Curang!” terdengar seruan dari para hadirin yang ada.

Serentak dengan itu sembilan tokoh silat golongan putih, antaranya tokoh yang terkenal berjuluk “Sepasang Sabit Baja” menyerbu memasuki kalangan pertempuran!

Pada saat itu Sepuluh Jari Malaikat hanya rasakan sambaran angin dari tiga jurusan dan matanya menangkap sekilas larikan-larikan sinar hijau! Tahulah dia bahwa tiga perempuan iblis lainnya telah membokongnya secara pengecut! Karena sudah demikian dekatnya tiga serangan itu yang datangnya sekaligus pula, tiada mungkin lagi bagi Sapuluh Jari Malaikat untuk mengelak! Percuma saja dia membatalkan serangannya terhadap Kala Merah karena itu tak akan dapat menyelamatkan jiwanya!

Keringat dingin memercik di kening dan di kuduk tokoh silat utama ini! Dalam detik kematian itu Sepuluh Jari Malaikat memutuskan untuk mati sama-sama dengan Kala Merah. Sepuluh jarinya diteruskan mencengkeram ke muka!

Maka setengah kejap kemudian terdengarlah dua jerit kematian yang dahsyat! Tubuh Sepuluh Jari Malaikat menggeletak di tanah ditancapi oleh puluhan kala hijau beracun. Demikian banyaknya kala- kala yang menggerogoti tubuhnya, demikian cepatnya racun yang bekerja sehingga nyawa pendekar tua yang menjagoi dunia persilatan di Daerah Jawa Timur selama dua puluh tahun itu putus detik itu juga tanpa tubuhnya berkelojotan lebih dahulu!

Kala Merah terhampar satu langkah di samping Sepuluh Jari Malaikat. Kematian yang diterimanya sangat mengerikan. Parasnya yang cantik jelita hancur rusak. Hidung serta mulut tanggal. Kedua biji matanya tercongkel.

Darah membasahi seluruh mukanya Pakaiannya di bagian perut robek besar sehingga kelihatanlah perutnya yang juga robek besar.

Darah mengalir tiada hentinya bersama busaian usus yang menjela-jela! Kala Hitam, Kala Biru, dan Kala Putih hendak memburu dan memeluki kakak seperguruan mereka itu namun dari kiri kanan dan muka belakang berlompatan sembilan tokoh silat dengan berbagai senjata di tangan mengurung ketiganya!

Maka terjadilah pertempuran yang seru, tiga lawan sembilan. Debu beterbangan! Suara senjata, suara teriakan-teriakan dan bentakan-bentakan terdengar tiada hentinya. Lima jurus pertama ketiga murid Dewi Kala Hijau itu terkurung rapat dan menerima tekanan serangan yang hebat. Namun ketika mereka berhasil merobohkan salah seorang tokoh yang mengurung maka delapan tokoh silat lainnya menjadi gugup.

“Jangan gugup!” membentak “Sepasang Sabit Baja” Kemudian dia berseru pada dua belas tokoh silat lainnya, di antaranya enam tokoh silat golongan hitam.

“Kalian tunggu apa lagi?! lnilah saatnya untuk menumpas perempuan-perempuan iblis ini!” Serempak dengan itu maka menyerbulah kedua belas tokoh silat itu. Kini dua puluh lawan tiga! Dengan sendirinya ruang gerak ketiga gadis bertopeng tengkorak itu menjadi semakin sempit. Dua puluh senjata bergulung-gulung membungkusnya dalam jurus-jurus yang mematikan! Kala Biru mengerling pada kedua saudara seperguruannya.

“Bagaimana…?” tanyanya dengan ilmu menyusupkan suara.

“Kurasa sukar bagi kita menghadapi lawan sebanyak ini!”

“Bukan sukar. Kita musti mencari kesempatan untuk menggerakkan tangan melepas Pukulan Kala Hijau!” menyahuti Kala Hitam.

“Sebaiknya kita melompat ke luar dari kurunaan lalu menyerang mereka dari luar!” mengusulkan Kala Putih.

“Justru untuk ke luar dari kurungan yang rapat inilah yang sangat sukar!” ujar Kala Biru pula.

“Tapi mari kita usahakan!” Maka ketiganyapun bergerak lebih cepat. Dari mulut mereka ke luar lengkingan-lengkingan dahsyat yang merobek langit dan membisingi—liang liang telinga kedua puluh pengeroyok.

“Sret!”

Ujung lengan pakaian Kala Biru robek besar disambar salah satu sabit baja di tangan tokoh Sepasang Sabit Baja, ketika gadis muka tengkorak ini mencoba melesat ke luar kalangan pertempuran dalam jurus yang keduapuluh sembilan.

“Celaka! Tak mungkin bagi kita untuk keluar dari kurungan ini!” keluh Kala Biru pada saudara-saudara seperguruannya.

“Bret!”

“Bret!”

Baru saja habis Kala Biru habis mengucapkan kata-kata di atas maka Kala Hitam dan Kala Putih juga mendapat nasib yang sama. Pakaian mereka sama-sama kena robek dimakan ujung senjata dua orang pengurung! Ketiga gadis-gadis iblis itu keluarkan keringat dingin. Bulu tengkuk mereka merinding, Untuk pertama kali dalam hidup mereka merasakan kengerian! Kengerian dalam menghadapi elmaut yang memburu dan mengurung dari puluh jurusan!

“Ha… ha… ha… ! Sekarang coba perlihatkan kehebatanmu manusia-manusia dajal!” kata Sepasang sabit Baja. Dua buah sabit di tangannya menderu-deru. Bertobatlah sebelum nyawa kalian minggat dari badan masing-masing!”

Ketiga gadis iblis itu hanya bisa kertakkan rahang, Mereka menyadari bahwa tak sampai sepuluh jurus lagi pasti salah seorang dari mereka akan jatuh menjadi korban!

Kurungan dua puluh senjata semakin hebat dan saat Ruang gerak ketiga murid Dewi Kala Hijau itu sudah sempit zekali. Puluhan senjata berkelebat ganas di muka hidung, di samping dan di belakang mereka.

Dalam suasana menjelang kematian yang menegangkan itu tiba-tiba terdengarlah suitan panjang dan nyaring! Entah dari mana datangnya tahutahu bertaburan angin deras hijau dan disusul oleh pekik maut para pengeroyok! Enam di antara mereka roboh ditancapi puluhan kala-kala hijau!

“Guru!” seru Kala Hitam, Kala Biru dan Kala Putih penuh kegembiraan.

Para pengeroyok mundur terkejut. Seorang di antaranya berteriak: “Dewi Kala Hijau! Lari! Kita tak akan bisa selamatkan diri dari tangannya!”

Sembilan tokoh silat yang menjadi luntur nyalinya begitu mengetahui siapa yang berdiri di hadapan mereka segera ambil langkah seribu namun mereka hanya bisa larikan diri beberapa langkah saja karena di belakang mereka kemudian berlesatan sinar dan kala-kala hijau! Kesembilannya mati di situ juga!

Lima tokoh silat yang masih hidup terdiri dari tiga golongan hitam dan dua golongan putih. Salah satu dari golongan putih ini ialah Sepasang Sabit Baja. Mereka saling berpandangan.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.