Kamis, 08 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 1)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Wiro Sableng Episode #5:
Neraka Lembah Tengkorak
Karya: Bastian Tito

~ 1 ~

Hujan lebat dan kabut tebal menutupi keseluruhan Gunung Merapi mulai dari puncak hingga ke kaki. Dinginnya udara tiada terkirakan. Dari malam tadi hujan mencurah lebat dan sampai dinihari itu masih juga terus turun. Suaranya menderu menegakkan bulu roma. Halilintar bergelegaran. Kilat sabung menyabung. Dunia laksana hendak kiamat layaknya.

Untuk kesekian puluh kalinya kilat menyambar dan untuk kesekian puluh kalinya pada suasana di kaki sebelah Timur Gunung Merapi menjadi terang benderang beberapa detik lamanya. Dalam keterangan yang singkat itu maka kelihatanlah satu pemandangan yang mengerikan tetapi juga sangat aneh.

Pada sebelah Timur kaki Gunung Merapi itu terdapat sebuah lembah tak bertuan yang tak pernah dijejaki kaki manusia. Tapi disaat hujan deras kabut tebal dan udara dingin luar biasa itu, di tengah-tengah lembah kelihatanlah empat sosok tubuh manusia! Keempatnya berdiri dengan tidak bergerak-gerak seakan-akan tiada mau perduli dengan buruknya cuaca saat itu. Bahkan mungkin juga tidak merasakan sama sekali suasana disaat itu.

Keempatnya menghadap ke satu arah yaitu mulut sebuah goa yang terletak sekitar sepuluh tombak di hadapan mereka. Meski kabut tebal dan hujan lebat, namun mata mereka yang berpemandangan tajam dapat melihat mulut goa itu dengan jelas.

Keempat manusia ini nyatanya adalah gadis-gadis berparas jelita rupawan. Yang pertama mengenakan pakaian ringkas warna merah darah.

Yang kedua biru, yang ketiga hitam pekat dan yang terakhir berpakaian putih.

Di seluruh permukaan lembah berhamparan tulang belulang dan tengkorak-tengkorak kepala manusia yang memutih laksana salju! Keempat gadis-gadis itu sendiri berdiri di atas tumpukan tulang belulang dan tumpukan tengkorak-tengkorak kepala manusia.

Dan sikap mereka berdiri itu juga sama sekali tidak acuh dan tak ambil perduli. Sepasang mata mereka masing-masing terus saja memandangi mulut goa tanpa berkedip!

Tiba-tiba dari mulut goa selarik sinar hijau menyambar ke arah keempat gadis itu. Kemudian menyusul puluhan kalajengking hijau beracun dengan japit-japit terbuka menyerang keempatnya. Satu jengkal lagi binatang-binatang pembawa maut itu mencapai sasarannya tiba-tiba dengan serentak keempat gadis menghembus ke muka. Puluhan kalajenking hijau mental dan jatuh bergelepakan di antara tulang belulang serta tengkorak-tengkorak manusia!

Pada saat sinar hijau dari mulut goa lenyap maka secepat kilat keempat gadis itu memasang sebuah kedok tipis ke muka masing-masing! Dan kini berubahlah muka yang cantik rupawan itu menjadi muka tengkorak yang ngeri menegakkan bulu roma!
Dan dari mulut goa melesatlah sesosok bayangan hijau! Keempat gadis muka tengkorak serentak menjura dan serentak pula berseru: “Guru!”

Manusia yang ke luar dari goa ini nyatanya adalah juga seorang gadis bermuka tengkorak dan berpakaian ringkas hijau. Dia berdiri di atas setumpuk tulang belulang manusia. Sesudah menyapu keempat paras dan sosok tubuh di hadapannya maka perempuan berpakaian hijau ini menengadah ke langit dan tertawa mengekeh panjang sekali!

“Sepuluh tahun mendidik kalian! Sepuluh tahun memendam cita-cita. Nyatanya kalian tidak mengecewakan!” Si Muka Tengkorak berpakaian hijau kembali mengekeh lama-lama. Lalu melanjutkan, “Hari ini adalah merupakan ambang pintu ke arah mencapai cita-cita bersama! Hari ini kita berpisah! berpisah untuk kelak membangun cita-cita yaitu cita-cita besar mendirikan Partai Lembah Tengkorak yang bakal dan musti menguasai dunia persilatan! Sekarang kalian pergilah! Tapi apa kalian ingat semua pesanku...?”

“Tentu guru!” jawab keempat gadis muka tengkorak berbarengan.

“Bagus! Laksanakan tugas kalian dengan baik! Nah pergilah…!”

“Guru…” berkata gadis berpakaian merah.

“Ada sesuatu yang kau hendak tanyakan Kala Merah?!”

“Murid dan saudara-saudara seperguruan sebelum pergi menghatur-kan terima kasih kepada guru yang telah mendidik kami selama sepuluh tahun, Sepuluh tahun bersama guru, satu kalipun kami belum pernah melihat paras guru! Sudilah, sebelum kami pergi, guru suka memperlihatkan paras guru yang asli…”

Manusia muka tengkorak berpakaian hijau tertawa gelak-gelak.

“Belum saatnya, muridku. Belum saatnya! Kelak di satu ketika kau akan melihatnya juga. Sekarang ayo pergi, cepat!” Keempat gadis itu menjura hormat. Sekali mereka berkelebat maka lenyaplah keempatnya dari pemandangan, lenyap dengan diiringi suara kekehan memanjang dari guru mereka, Dewi Kala Hijau!

Dua bulan kemudian maka dunia persilatan dibikin gegerlah oleh munculnya empat dara ganas bermuka tengkorak yang teramat saki! Dengan hanya bersenjatakan ilmu “Kala Hijau” keempatnya telah memusnahkan dua partai persilatan yang dianggap kuat dan membunuh hampir selusin tokoh-tokoh persilatan dari kalangan putih!

Bahkan tokoh-tokoh silat golongan hitam pun merasa gentar dengan munculnya empat gadis iblis ini! Selama beberapa bulan sejak munculnya keempat murid Dewi Kala Hijau itu maka dunia persilatan diselimuti ketegangan.

Jika empat dara ganas itu sanggup memusnahkan dua partai persilatan kuat dan membunuh selusin tokoh silat lihay maka sukar dijajaki kehebatan dan sampai dimana ketinggian ilmu keempat manusia itu!

***

Pada suatu hari di tanggal 1 bulan 2 terlihatlah satu pemandangan baru di tepi Telaga Wangi yang terletak di sebelah Selatan Gunung Ungaran. Di tepi telaga saat itu ada sebuah panggung besar yang diberi bergaba-gaba aneka wama.

Di depan panggung berderet-deret puluhan buah kursi yang diduduki oleh tamu-tamu yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang tak dapat disangsikan lagi kelihayannya.

Hari itu adalah menjadi satu hari penting dalam catatan lembaran dunia persilatan karena saat dan di tempat itulah akan diresmikan berdirinya satu partai baru di dunia persilatan yang telah mengambil nama Partai Telaga Wangi.

Partai yang baru muncul ini banyak mendapat perhatian dan sorotan partai-partai serta tokoh-tokoh persilatan lainnya karena Ketua Partai Telaga Wangi ini adalah seorang tokoh silat termashur di Jawa Tengah yang memegang gelar sebagai Dewa Pedang. Dewa Pedang atau yang nama aslinya Brajaguna adalah tokoh silat aliran putih dan mempunyai kelihayan mengagumkan dalam permainan pedang sehingga tak percuma dunia persilatan meletakkan gelar “Dewa Pedang” kepadanya!

Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tiupan terompet. Puluhan pasang mata dari para tamu yang hadir dilayangkan ke atas panggung. Ketua Partai Telaga Wangi memunculkan diri diiringi oleh isteri, tiga orang anak laki-lakinya dan keseluruhan anak-anak murid Partai yang membawa panji-panji serta lambang partai yaitu sebuah bendera yang disulam dengan gambar sebuah pedang serta bunga mawar putih.

Dewa Pedang seorang Iaki-laki separuh baya bertampang gagah. Sikapnya tenang, langkahnya enteng sedang pedangnya tergantung di pinggang kiri. Keseluruhan sikap dan gerak geriknya membayangkan wibawa yang besar.

Isteri Dewa Pedang yang berpakaian ringkas dan bemama Suwita adalah juga seorang yang berpengetahuan silat tinggi. Meskipun tidak selihay suaminya tapi dalam ilmu pedang perempuan ini tidak bisa dianggap remeh. Pada parasnya yang cantik jelita itu kelihatan bayangan kejantanan, keras hati dan berani.

Di belakang menyusul tiga pemuda berparas keren. Ketiganya adalah anak-anak Dewa Pedang yang dengan sendirinya tentu pula memiliki kepandaian silat yang tinggi. Anak yang tertua bemama Indrajaya, yang tengah Jayengrana dan yang bungsu yang menjadi kesayangan Dewa Pedang dan isteri ialah Brajasastra.

Dewa Pedang dan isteri serta ketiga putera mereka duduk di belakang panggung di kursi yang sudah disediakan. Sedangkan anggota Partai berdiri berderet di belakang mereka. Sementara suara terompet masih terus menggema maka sepasang mata Ketua Partai Telaga Wangi menyapu ke arah puluhan tamu.

Brajaguna seorang yang berpemandangan tajam. Sekali saja matanya menyapu ke arah para hadirin maka segeralah dia dapat menyimpulkan bahwa para tamunya itu terbagi dalam tiga golongan.

Pertama ialah golongan atau aliran putih yang berhati polos dan menjadi sahabat-sahabat terbaik dari Partai yang hendak didirikannya.

Golongan kedua yakni tokoh-tokoh silat yang dulunya pernah menjadi musuhnya dan tentu saja kehadiran mereka dalam peresmian berdirinya Partai Telaga Wangi saat itu diragukan itikat baiknya.

Golongan yang ketiga ialah tokoh-tokoh silat baru tapi yang sudah agak dapat nama dalam kalangan persilatan namun tak dapat dipastikan digolongan mana mereka berdiri sebenamya.

Suara terompet berhenti.

Begitu suara tiupan terompet berhenti maka Ketua Partai baru diikuti oleh keseluruhan anggota partai yang ada di atas panggung mendongak ke atas. Tangan kiri lurus-lurus ke bawah sedang tangan kanan dimelintangkan di dada. Maka serentak dengan itu mereka pun berseru dengan suara gegap gempita.

Hari satu bulan doa
Peristiwa besar dan penting di tepi telaga
Partai baru membuka lembaran sejarah
Partai Telaga Wangi ialah namanya!

Keempat baris kalimat itu diserukan sampai tiga kali berturut-turut. Sesudah itu maka bangkitlah Ketua Partai dari kursinya dan melangkah ke muka panggung. Dengan muka berseri-seri Dewa Pedang memandang pada para hadirin lalu menjura memberi hormat.

“Saudara-saudara sekalian yang kami muliakan. Pertama sekali saya selaku Ketua dari Partai yang baru muncul ini, atas nama keseluruhan anggota Partai mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat yang setinggi-tingginya karena saudara-saudara sekalian telah sudi meringankan langkah untuk datang ke mari.”

Suara Ketua Partai Telaga Wangi ini keras dan lantang penuh wibawa dan nadanya teratur demikian rupa enak didengar sehingga seluruh mata yang hadir ditujukan kepadanya. Setelah menyapu sekilas paras tamunya dengan sepasang matanya yang tajam maka Dewa Pedang pun meneruskan bicaranya.

“Dalam pasang surutnya dunia persilatan dewasa ini, kami bersama telah memberanikan diri untuk mendirikan sebuah partai baru yang kami namakan Partai Telaga Wangi. Sesuai dengan namanya maka kami benar-benar berusaha dan menginginkan agar kelak Partai kami ini menjadi harum dalam merintis segala sesuatu yang baik di dunia persilatan. Kami percaya bahwa hanya dengan usaha yang betul-betul, dengan segala kesungguhan hati dan ditambah pula dengan bantuan saudara-saudara sekalian disini terutama dari saudara-saudara golongan putih, maka pastilah dunia persilatan akan diliputi ketentraman dan perdamaian abadi…”

Sesudah mengakhiri pidatonya itu maka Ketua Partai Telaga Wangi memperkenalkan istri dan ketiga puteranya pada para hadirin. Empat anggota partai yang menduduki jabatan penting juga diperkenalkan. Keempatnya ialah Jambakrogo, Pengurus Partai untuk daerah Utara, Klabangsongo, Pengurus Partai daerah Selatan lalu Rah Gundala Pengurus Partai daerah Barat dan yang keempat Suralangi, Pengurus Partai Daerah Timur.

Dewa Pedang mengakhiri perkenalan tokoh-tokoh Partai Talaga Wangi itu dengan kata-kata penutup, “Akhirul kalam, sekedar untuk pelepas dahaga dan penangsal perut saudara-saudara sekalian, maka kami persilahkan saudara-saudara untuk menikmati minuman serta hidangan selayaknya. Disamping itu jika ada kekurangan atau kekhilafan dalam bentuk apapun sudi kiranya saudara-saudara memberi maaf.”

Dewa Pedang menjura lalu memutar tubuh Namun sudut matanya menangkap acungan tangan seorang tamu yang duduk di sebelah Timur panggung.

“Ketua Partai Telaga Wangi! Sebagai Partai baru aku Si Bayangan Setan ingin menjajaki sampai dimana kehebatan kalian! Jangan-jangan Partaimu ini hanya bagus nama saja tapi tak ada isi! Jangan-jangan Partaimu yang memakai nama Telaga Wangi hanya merupakan Telaga Busuk yang tak mampu menghadapi pasang surut dunia persilatan! Sebagai Ketua Partai apakah kau bisa sedikit memberikan bukti di hadapan para hadirin bahwa Partaimu adalah satu Partai yang memang patut diberojotkan…?!”

Semua kepala para hadirin yang ada segera dipalingkan ke arah Timur. Dewa Pedang sendiri juga memandang ke jurusan itu. Yang telah buka suara tadi ternyata adalah seorang tokoh silat berjubah hitam berbadan tinggi langsing, berkepala lonjong dan kedua pipinya sangat cekung. Dialah tokoh yang digelari Si Bayangan Setan. Dan dari gelamya ini saja sudah dapat diketahui bahwa dia adalah tokoh dari kalangan hitam.

Dewa Pedang yang tajam pemandangan diam-diam sudah maklum bahwa maksud kedatangan serta ucapan Si Bayangan Setan tadi adalah satu tantangan atau penghinaan atau sekurang-kurangnya menganggap remeh Partainya dan dirinya selaku Ketua!

Namun dengan tenang dan bijaksana Dewa Pedang buka mulut hendak menjawab. Tapi dari panggung sebelah Barat tiba-tiba terdengar seseorang berseru. Suaranya keras menggeledek!

“Bayangan Setan! Apakah kau buta atau masih belum membuka mata lebih lebar sehingga kau berbicara begitu terhadap Partai Telaga Wangi? Jika kau kenal julukan Ketuanya tak bakal kau anggap remeh!”

Kini semua kepala serentak diputar ke panggung sebelah Barat. Namun tak seorangpun, termasuk Dewa Pedang yang mengetahui siapa adanya manusia yang telah bicara tadi. Ini memberi kenyataan bahwa siapa pun adanya orang itu maka dia pastilah memiliki tenaga dalam yang tinggi dan ilmu memindahkan suara yang lihai.

Meskipun orang itu berada di sebelah Selatan atau Utara namun suaranya bisa dipindahkan sehingga kedengarannya dari arah Barat atau Timur!. Karena tak mengetahui siapa yang bicara maka Si Bayangan Setan dengan penasaran berseru.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 2)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.