Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 9)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Keempat orang itu makan dengan angkat kaki. Suara celepak-celapak mulut mereka terdengar sampai ke tempat Wiro Sableng duduk. Tapi tentu saja pemuda ini tak mau ambil peduli. Meski mereka menyiplak sampai sekeras geledek pun dia tak akan ambil pusing!

Wiro Sableng melambaikan tangan memanggil pemilik kedai.

“Berapa aku musti bayar?” tanya Wiro.

Orang kedai itu menyebutkan jumlah uang yang musti dibayar Wiro.

“Waduh… mahal sekali!” keluh Wiro. “Tadi aku sudah bilang jangan mahal-mahal…”

“Itu juga sudah sangat murah, Nak,” kata orang kedai.

Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. “Habis uangku buat bayar makanan itu.” Dikeluarkannya uangnya dan diberikannya pada orang di kedai.

Pada saat itu pula terdengar gelak tawa keempat orang yang duduk di meja seberang sana. Salah seorang dari mereka, yang berbadan gemuk pendek dan berkepala botak berkata, “Kalau tidak gablek uang, jangan masuk kedai, Bung!”

Yang seorang lagi menyambungi, “Dari pada takut-takut keluar uang, sebaiknya cari saja makanan di tong sampah!”

Keempat orang itu tertawa gelak-gelak.

Wiro memandang kepada mereka. Diejek demikian rupa pemuda ini tenang-tenang saja malahan sunggingkan senyum dan garuk-garuk kepala.

Laki-laki yang berkumis panjang menjulai ke bawah bertanya, “Kau mau uang buat beli makanan?”

“Mau saja kalau diberi,” jawab Wiro sejujurnya. Digaruknya lagi kepalanya.

“Merangkaklah di hadapanku, menyalak tiga kali dan tuanmu ini pasti akan kasih uang kepadamu”

Atap kedai itu seperti mau runtuh oleh suara tertawa keempat orang itu.

Wiro memandang berkeliling. Ketika dilihatnya beberapa sisir pisang ambon yang berjejer digantung di atas meja tempat meletakkan ikan dan gulai maka tertawalah pemuda itu. Mula-mula perlahan tapi makin lama makin keras dan dia melangkah mendekati deretan pisang itu. Dikeluarkannya sisa seluruh uangnya yang masih ada yang tak seberapa tapi cukup untuk membeli sesisir pisang.

“Aku beli pisangmu, pak,” kata Wiro.

Diturunkannya sesisisr sambil melangkah ke pintu dipotesnya sekaligus empat buah pisang. Dia melangkah juga ke pintu sementara di belakangnya masih terdengar suara gelak tawa keempat orang tadi.

Tiba-tiba hampir tak kelihatan saking cepatnya, dan tanpa berpaling sama sekali Wiro Sableng gerakkan tangan kanannya. Empat buah pisang meluncur lewat bahunya.

Di belakangnya suara tertawa keempat orang tadi mendadak sontak berhenti, berganti dengan suara-suara tercekik!

Keempat buah pisang itu telah jeblos ke dalam mulut empat manusia berpakaian hitam-hitam itu. Jangankan untuk tertawa, bernafas pun mereka sudah megap-megap! Dan diluar sana Wiro Sableng sambil senyum-senyum melangkah terus sepanjang jalan. Dipotesnya sebuah pisang dan mulai memakannya.

Dia melangkah terus dan acuh tak acuh ketika beberapa saat kemudian didengarnya derap kaki empat orang dalam kedai tadi mengejarnya.

“Bikin mampus saja sama kawan-kawan!” teriak salah seorang pengejar.

“Berani kurang ajar sama kita orang! Cincang sampai lumat!” kata yang berbadan paling tinggi.

Wiro Sableng terus juga melangkah enak-enak. Cuma sekali-kali tangan kanannya dilambaikannya ke belakang untuk melemparkan kulit-kulit pisang yang dimakannya. Namun lambaian tangan itu bukan lambaian tangan biasa yang hanya sekedar melemparkan kulit pisang belaka! Dari tangan kanan pemuda itu membadai angin dahsyat laksana tembok baja yang membendung lari keempat orang pengejar itu!

Betapapun mereka mempercepat lari mereka namun tetap saja mereka tak sanggup mengejar Wiro Sableng padahal kelihatannya pemuda itu hanya tinggal sepejangkauan tangan lagi!

Keempat orang itu berteriak-teriak, memaki dan menggeram, menggapai-gapaikan tangan ke muka karena merasa hampir-hampir dapat menagkap punggung baju Wiro Sableng!

Namun gerakan-gerakan mereka itu tak ubahnya seperti empat ekor monyet yang menjadi gila mencak-mencak kian kemari! Dan orang yang dikejar terus juga berjalan ongkang-ongkang bahkan sambil makan pisang ambon!

Mengapa sampai terjadi hal yang demikian, lain tidak karena Wiro Sableng telah mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang bernama: dinding angin berhembus tindih menindih!

“Gila betul!” teriak laki-laki tinggi jangkung yang lari paling depan. Namanya Bergola Wungu. Dialah yang menjadi pemimpin dari tiga orang lainnya dan dialah yang memiliki ilmu paling tinggi!

Dengan sangat geram, sambil lari dicabutnya sebilah belati dari pinggangnya dan dilemparkannya ke arah punggung Wiro Sableng. Tapi anehnya pisau itu melesat kembali, berbalik menyerang Bergola Wungu! Kalau saja dia tidak cepat-cepat buang diri ke samping pastilah lehernya akan dimakan ujung pisau!

Akhirnya dengan keluarkan keringat dingin, Bergola Wungu dan anak-anak buahnya hentikan pengejaran. Baru hari ini Bergola Wungu serta anak-anak buahnya menghadapi kejadian seperti itu. Kejadian yang mendekam hati tapi juga aneh tak bisa mereka mengerti. Sebagai pemimpin dari tiga orang itu, sebagai orang yang paling tinggi ilmu silat dan kesaktiannya sudah barang tentu Bergola Wungu malunya bukan main! Untuk mencuci mukanya dia berkata menggerendeng:

“Kalau bangsat itu bukannya manusia siluman pastilah dia iblis bermuka manusia!”

~ 11 ~

Siapakah keempat manusia berpakaian serba hitam dan sama-sama memelihara berewok itu? Mereka menamakan diri Empat Berewok dari Goa Sanggreng dengan Bergola Wungu sebagai pimpinannya. Mereka tak lain adalah komplotan rampok yang malang melintang sepanjang sungai Cimandilu yang terkenal keganasannya di daerah sekitar situ. Dulunya, Bergola Wungu adalah turunan orang baik-baik yang ayahnya mati ditangan Kalingundil, kepala rampok yang malang melintang dan bersarang di kampung Jatiwalu.

Sesudah ayahnya dibunuh, keluarganya ditumpas sedang keganasan Kalingundil dan tiga orang anak buahnya semakin menjadi-jadi melanda Jatiwalu maka Bergola Wungu yang saat itu berumur dua puluh enam tahun meninggalkan kampung kelahirannya dengan satu tekat yaitu mencari guru silat yang dapat mengajarkan ilmu dan kesaktian kepadanya. Dia berhasil menemukan seorang guru dan kemudiannya berhasil pula mendapat tiga orang anak buah, maka malang melintanglah Bergola Wungu di sepanjang sungai Cimandilu, menjadi kepala perampok yang ditakuti.

Dan ketika dirasakannya saat untuk melakukan pembalasan sudah tiba maka bersama ketiga orang anak buahnya berangkatlah dia menuju Jatiwalu. Tapi sewaktu sampai di Jatiwalu, Kalingundil dan anak-anak buahnya tak ada di sana, pergi keluar kampung dan tak satu orangpun yang tahu. Rumahnya kosong dan sepi. Bergola Wungu memutuskan untuk menunggu sampai musuh besarnya itu kembali. Dan sampai hari itu Kalingundil masih juga belum muncul.

Mereka duduk di dalam kedai di tempat semula. Untuk berapa lamanya tak satupun yang bisa bicara. Bergola Wungu teguk tuaknya sampai habis.

“Kurasa manusia itu mungkin salah seorang anak buah Kalingundil…” kata Ketut Ireng, laki-laki yang duduk di hadapan Bergola Wungu.

Bergola Wungu letakkan gelas bambunya ke meja. Dia berpikir, kalau yang tadi itu benar-benar anak buah Kalingundil, pastilah maksudnya untuk menuntut balas akan menemui kegagalan. Kalau anak buah Kalingundil sudah demikian hebatnya, apalagi Kalingundil sendiri! Memang waktu lima belas tahun belakangan ini adalah waktu yang cukup lama untuk menambah ilmu kesaktian. Tapi bila kehebatan anak buah Kalingundil seperti kenyataan tadi, ini adalah tiada diduga Bergola Wungu sama sekali!

“Tidak mungkin…,” desis Bergola Wungu. “Tak mungkin manusia tadi adalah anak buah Kalingundil! Lagi kita belum yakin betul apa dia benar-benar manusia! Dan aku ingat bahwa Kalingundil cuma punya tiga orang kaki tangan! Aku kenal tampang-tampang mereka semua!”

“Tapi bukan mustahil selama belasan tahun ini jumlah anak buahnya bertambah,” menyela laki-laki yang bernama Seta Inging.

“Aku tetap tidak mau percaya….!”, kata Bergola Wungu. Dilambaikannya tangannya pada pemilik kedai. “Sini!” bentaknya.

Orang tua pemilik kedai datang dengan ketakutan dan terbungkuk-bungkuk.

“Berapa orang anak buah Kalingundil semuanya?”

“Cuma tiga, Den. Cuma tiga…”

“Masih yang dulu-dulu juga…?”

Orang tua itu mengangguk.

“Dan tak satu manusia pun disini yang tahu kemana mereka pergi?!”

“Tidak satu pun, Den…”

“Selain mereka berempat, siapa lagi yang diam di rumah besar itu…?”

“Tidak ada, Den…”

“Dulu kudengar dia punya bini…”

“Sudah meninggal, Den….”

“Juga seorang anak perempuan… Apa juga sudah meninggal?!”

“Tidak.”

“Kalau begitu di mana perempuan itu sekarang?”

“Bapak tidak tahu, Den…”

“Dusta!”

“Sungguh tidak tahu, Den…”

“Bakar saja kedai ini!”, ancam Ketut Ireng.

Dan orang tua itupun berlutut minta dikasihani. “Jangan den… sungguh bapak tidak tahu. Jangan dibakar kedai ini den… Kasihani bapak… Tapi mungkin dia ikut bersama Kalingundil. Mungkin juga… Mungkin juga menginap di tempat bibinya…”

“Dimana tempat bibinya?”

“Tidak tahu, Den…”

“Tidak tahu melulu!” bentak Bergola Wungu.

“Kalian manusia-manusia yang sudah diinjak-injak kemanusiaannya oleh Kalingundil, yang diperas dan dipreteli harta kekayaannya, yang dibunuh dan disiksa, masih saja melindungi manusia-manusia keparat itu!”

“Kami semua benci dan mendendam terhadap Kalingundil serta anak buahnya, Den. Tapi kami ini rakyat lemah. Tak ada daya untuk melawan…”

“Kalian bukan lemah tapi bodoh dan pengecut!” bentak Ketut Ireng. Lalu sambungnya, “jika beberapa hari dimuka ini kami masih belum juga menemui Kalingundil dan cecunguk-cecunguknya itu, akan kubakar rumahnya, juga seluruh kampung ini…!”

“Oh jangan, Den… Jangan, Den. Sekurang-kurangnya Raden musti ingat bahwa kampung ini dulunya adalah kampung raden juga…”

“Dulu!” kata Bergola Wungu, “tapi sesudah bapakku dibunuh dan keluargaku ditumpas, kampung ini bukan kampungku lagi! Orang-orang di kampung ini berdiam diri, tak ambil perduli ketika ibuku dirusak kehormatannya, ketika saudara-saudaraku ditebas lehernya! Patutkah kuakui ini sebagai kampungku? Persetan sama kampung keparat ini!”

Bergola Wungu membantingkan gelas bambunya ke meja. Papan meja pecah, gelas bambu mental terbelah dua!

“Mereka bukannya takut, den, bukan tak mau menolong, tapi tak punya daya. Kalingundil dan anak buahnya berilmu tinggi…”

“Diam!” bentak Bergola Wungu.

Orang tua pemilik kedai itu diam membungkam.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.