Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 8)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Wiro Saksana berdiri. Dia tak tahu apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh gurunya. Yang dia tahu tadi ialah suara yang menderu-deru, lalu dia menjerit, lalu roboh dan… tak ingat apa-apa lagi.

“Kau telah lihat angka 212 pada kulit dada dan telapak tangan kananmu?”

Wiro mengangguk.

“Berarti dalam dirimu sudah kulekatkan unsur-unsur keduniaan dan unsur ingat Tuhan. Agar kau tidak lupa bahwa kau hidup di dunia adalah untuk menolong sesama manusia. Juga agar kau tidak lupa bahwa kau mempunyai Tuhan yang harus dituruti segala perintah dan dijauhkan segala laranganNya. Kau mengerti?”

“Mengerti Eyang. Tapi… mengapa badanku kini tiga kali lebih enteng dari sebelumnya? Bahkan tenaga juga terasa bertambah hebat!”

Eyang Sinto Gendeng tertawa mengikik.

“Itu adalah berkat jarum kapak Naga Geni 212” kata Sinto Gendeng pula. Lalu nenek­nenek ini menerangkan apa yang telah dilakukannya terhadap muridnya.

Wiro merasa mendapat anugerah ilmu tambahan segera berlutut dihadapan gurunya.

“Tak usah pakai peradatan segala macam. Berdirilah! Masih banyak yang aku mau bicarakan sama kau,” kata Sinto Gendeng pula.

Wiro berdiri.

Sinto Gendeng mengeluarkan kapak dan batu hitam kembali. Diulurkannya benda­benda itu. “Wiro… kapak ini kuberi nama Kapak Naga Geni 212. Sepuluh tahun lamanya kubutuhkan waktu untuk membuatnya dan telah dua puluh tahun lebih senjata ini berada di tanganku. Rupanya kau ada jodoh dengan senjata ini. Terimalah…”

Tertegun dan hampir tak percaya Wiro Saksana mendengar ucapan gurunya. Tak disangkanya bahwa dia bakal mendapat anugerah senjata yang sangat sakti itu. Dia terdiam mematung seketika.

“Ayo Wiro! Kenapa kau jadi bimbang? Terimalah Kapak Naga Geni 212 ini untuk kau!”

Wiro Saksana mengulurkan kedua tangannya. Ketika senjata sakti itu menyentuh tangannya mendadak sontak mengalirlah arus aneh yang dingin ke dalam tubuh Wiro. Dan disaat itu pula dirasakannya tubuhnya naik sampai dua tingkat, padahal dia merasa tingkat tenaga dalam yang sudah dimilikinya sebelumnya sudah mencapai tingkat yang paling sempurna!

“Sisipkan di pinggangmu Wiro dan pakai kau punya baju kembali!”

Wiro melakukan apa yang dikatakan Eyang Sinto Gendeng. Kapak dan batu yang ada angka 212-nya itu disisipkan ke pinggangnya.

“Kapak Naga Geni 212 bukan senjata sembarangan, Wiro. Karenanya juga tak boleh kau pakai sembarangan. Pergunakanlah hanya pada saat-saat kau terdesak hebat atau dalam keadaan nyawamu terancam. Kau telah lihat juga macam kehebatan kapak itu tadi, tapi masih ada satu lagi kehebatannya yaitu bila kau tekan salah satu bagian di bawah mata kapak itu maka akan berhamburanlah jarum-jarum putih dari mulut naga-nagaan… Untuk membuat angka 212 pada dada dan telapak tanganmu aku telah pergunakan jarum-jarum semacam itu tadi. Cuma jarum-jarum tadi telah kuisi dengan sejenis racun yang hebat sehingga tubuhmu akan kebal terhadap segala racun apapun juga! Tangan kananmu juga mempunyai racun yang tersembunyi, Wiro. Jangan sembarangan mempergunakannya karena bisa mematikan lawan!”

Wiro Saksana hendak berlutut lagi, tapi segera dibentak oleh gurunya.

“Terima kasih Eyang… terima kasih,” kata pemuda itu.

Eyang Sinto Gendeng hanya keluarkan suara tertawa. Digaruk-garuknya kepalanya yang berambut jarang dan yang kini hanya ditancapi dua buah tusuk kundai. Kemudian mulailah dia untuk ketiga kalinya menyanyikan lagu tadi: Pitulas taun wus katilar…

Ketika Sinto Gendeng selesai menyanyikan lagu itu maka bertanyalah Wiro.
“Eyang, apakah maksud Eyang dengan nyanyian itu…?”

Sinto Gendeng tertawa. Aneh sekali tawanya kali ini. Dan parasnya kelihatan begitu sedih serta rawan. Kemudian ketika dia berkata, jelas suaranya itu bergetar tanda dia tak dapat menahan sesuatu yang menyesak di lubuk hatinya.

“Aku sudah bilang bahwa hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di Gunung Gede ini bersamaku…”

“Mengapa demikian, Eyang…?” Wiro garuk-garuk kepalanya.

“Karena segala ilmuku telah kupasrahkan kepadamu. Karena hari inilah saatnya bagimu untuk turun gunung, memasuki alam dunia luar, membawa garis-garis kehidupanmu sendiri yang telah ditentukan Gusti Allah…”

Sinto Gendeng diam seketika. Kemudian diteruskannya, “Sebelum kau meninggalkan puncak Gunung Gede ini ada satu tugas yang musti kau lakukan…”

“Tugas apakah itu, Eyang?” tanya Wiro Saksana. Lagi-lagi digaruknya kepalanya yang berambut gondrong itu.

“Dengar baik-baik Wiro… Lebih dari empat puluh tahun yang silam aku telah mengambil seorang murid bernama Suranyali. Waktu itu dia baru saja berumur dua tahun. Dari umur dua tahun itulah aku mulai mendidiknya pelbagai ilmu dasar silat dan kesaktian. Tapi kemudian aku ketahui bahwa aku telah ketelanjuran mengambil itu manusia menjadi muridku. Suranyali kulepas turun gunung, kubekali pelbagai nasihat tapi dasar Suranyali bukan manusia baik-baik, begitu turun gunung segala ilmu yang kuberikan padanya dipakainya untuk perbuatan jahat, maksiat. Dia membuat keonaran dimana-mana! Menjadi kepala perampok! Tukang peras bahkan menculik perempuan-perempuan cantik dan merusak kehormatannya!

“Menurutku kini umurnya sudah hampir setengah abad, sudah dekat ke liang kubur! Tapi ini sama sekali tidak memberikan keinsyafan pada dirinya. Kejahatannya akhir­akhir ini semakin menjadi-jadi, sudah lewat dari takaran! Kini dia tengah menyusun rencana busuk terhadap Pajajaran. Pajajaran hendak dibikinnya banjir darah!

“Karena itu kau harus lekas-lekas dapat mencari itu manusia laknat dan perintahkan kepadanya untuk datang ke sini menghadapku guna mempertanggungjawabkan segala apa yang telah dibuatnya selama malang melintang di dunia sana! Dan perlu kau ketahui, Suranyali kini telah memakai nama baru yakni Mahesa Birawa!”

Wiro Saksana merasa betapa sedihnya akan berpisah dengan gurunya yang selama 17 tahun telah mendidiknya itu. Tapi mengingat perpisahan itu adalah demi untuk menjalankan tugas dari sang guru, terhibur juga sedikit hatinya. Dan berkatalah pemuda itu:

“Tugas Eyang akan aku laksanakan. Cuma bagaimana jika itu manusia Mahesa Birawa tidak mau mematuhi perintah untuk datang ke sini…?”

“Jawabnya hanya satu Wiro. Pateni manusia itu! Bunuh manusia durhaka itu!”

Wiro Saksana terdiam. Dalam diamnya ini dia berpikir-pikir sampai dimanakah ketinggian ilmu Suranyali atau Mahesa Birawa itu? Sanggupkah dia menghadapi manusia yang sesungguhnya adalah kakak seperguruannya sendiri?!

“Aku tahu apa yang kau pikirkan Wiro,” kata Eyang Sinto Gendeng pula tiba-tiba. Ini mengejutkan Wiro Saksana. “Suranyali memang sakti bahkan kudengar dia telah berguru pula pada seorang sakti di Gunung Lawu! Tapi kau tak usah takut! Kau memiliki kapak Naga Geni 212. Dan kau berada dalam kebenaran pula! Sesungguhnya kau punya hak untuk membunuh itu manusia, Wiro. Pertama karena tugas yang aku pikulkan dibatok kepalamu! Kedua karena Suranyali atau Mahesa Birawa itulah yang telah membunuh kau punya ibu-bapak!”

Mendadak sontak bergetarlah sekujur tubuh Wiro Saksana. Parasnya berubah kelam membesi! Sejak kecil, sejak diam di puncak Gunung Gede itu belum pernah dia mengetahui apa yang dinamakan kebencian dan dendam kesumat! Tapi saat itu dadanya serasa mau pecah oleh kobaran kebencian dan amarah serta dendam yang tiada terkirakan!

“Bapakmu bernama Ranaweleng! Dibunuh oleh Suranyali. Ibumu dilarikannya. Sesudah itu bunuh diri sesudah dirusak kehormatannya. Kau sendiri hampir menemui ajal dimakan api sewaktu rumah bapakmu dibakar oleh Suranyali dan anak buahnya. Kebetulan sekali aku lewat disitu…”

Wiro menjatuhkan diri di hadapan gurunya. “Terima kasih Eyang… kalau Eyang tidak ada…”

“Berdiri!” bentak Sinto Gendeng. Perempuan aneh itu memang paling tidak suka dilututi seperti itu. “Bukan aku yang menolong kau, tapi Gusti Allah!” katanya. “Ayo berdiri!”

Wiro berdiri kembali. Dan Sinto Gendeng menuturkan peristiwa tujuh belas tahun yang lalu sejelas-jelasnya. Kini maklumlah Wiro apa arti kata-kata dalam nyanyian gurunya tadi. Dikuatkan hatinya untuk mengendalikan perasaannya yang campur aduk. Dikuatkannya dirinya untuk membendung air mata yang hendak tumpah dari kelompok matanya!

“Eyang…,” desis Wiro Saksana, “Sewaktu Eyang turun ke kampung Jatiwalu itu, mengapa Eyang tidak langsung turun tangan…?”

Sinto Gendeng tertawa rawan.

“Semustinya… semustinya memang aku harus turun tangan saat itu. Tapi ketika kutahu bahwa Ranaweleng – bapakmu – mempunyai seorang orok maka aku mempunyai pikiran lain! Kalau kupelihara anak itu dan kudidik ilmu silat seta kesaktian maka jika sudah besar dia lebih mempunyai hak dariku untuk menamatkan riwayat Suranyali alias Mahesa Birawa. Kalau tidak percuma saja aku ajarkan kepadamu bahwa kehidupan di dunia ini tersimpul dalam tiga barisan angka 212. Bukankah setiap budi ada balas? Setiap kejahatan ada pembalasannya? Tuhan telah menolongmu, berarti itu angka 1. Suranyali membunuh orang tuamu berarti itu angka2, Wiro! Jangan sekali-kali kau lupakan!”

“Menurut Eyang, apakah manusia keparat itu masih ada di kampung Jatiwalu bersama anak-anak buahnya…?”

“Tak dapat kupastikan, Wiro. Itu tugasmu untuk menyelidik. Yang aku tahu ialah bahwa manusia itu hendak membuat Pajajran banjir darah. Karenanya, seret dia ke sini sebelum hal itu terjadi. Dan kalau dia tidak mau, pateni saja!!” (pateni=bunuh).

Sunyi selang beberapa lamanya. Kedua orang itu tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.

“Kau akan segera berangkat, Wiro?”

Pemuda itu tak segera menjawab. Kemudian dia mengangguk perlahan.

“Ucapanku yang terakhir Wiro, mulai saat kau turun gunung ini, pakailah nama WIRO SABLENG. Itu lebih baik bagi kau. Gurunya GENDENG, muridnya SABLENG.” Dan habis berkata demikian si nenek tua ini tertawa mengikik lama dan panjang. Namun tertawa itu hanyalah untuk menyembunyikan hati yang rawan, sedih itu untuk membendung air mata yang hendak tumpah keluar!

“Eyang… kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Wiro.

Sang guru hentikan tertawanya. “Selama langit masih biru, selama hutan masih hijau, selama air sungai masih mengalir ke laut, kita pasti bertemu lagi Wiro Sableng…!”

~ 10 ~

Kedai nasi itu cukup besar. Tapi saat itu pengunjungnya cuma beberapa orang. Wiro Sableng meneguk air liurnya. Dia tak punya banyak uang tapi perutnya perih dan lapar, tenggorokannya kering dahaga. Akhirnya dia masuk juga ke dalam kedai itu. Wiro duduk di satu sudut. Kursi-kursi dan meja lengket oleh debu. Tapi pemuda rambut gondrong ini terus saja duduk seenaknya tanpa mengacuhkan debu itu.

Seorang laki-laki tua ubanan datang mendekatinya. Dia adalah pemilik kedai.

“Makan nak…?” tegurnya.

Wiro mengangguk. “Tapi jangan mahal-mahal, aku tak punya banyak uang!” kata Wiro Sableng terus terang.

Pemilik warung itu kerutkan kening. Selama dia membuka kedai di Jatiwalu itu baru hari ini ada seorang tamu yang datang di kedainya dan berkata seperti itu. Matanya meneliti Wiro Sableng dari rambutnya yang gondrong sampai ke kakinya yang berdebu.

“Kau tentu seorang pendatang…” katanya.

“Betul,” Wiro menggaruk-garuk rambutnya. “Tolong lekas nasinya, pak, perutku sudah lapar betul…!”

Orang kedai itu segera mengambilkan sepiring nasi dan segelas air lalu diletakkannya di atas meja di hadapan Wiro. Titik air liur pemuda ini. Selama tujuh belas tahun di puncak Gunung Gede dia hanya kenal nasi merah dan sayur. Kini menghadapi nasi putih dan ikan serta gulai yang lezat maka lahaplah makan Wiro. Keringat memercik di kulit mukanya. Kemudian diteguknya air.

Pada saat dia mengusapi perutnya yang buncit keras itu maka masuklah empat orang laki-laki. Semuanya berpakaian serba hitam, memakai golok di pinggang. Tampang-tampang mereka sungguh tak sedap dipandang. Mereka masuk dan duduk dengan seenaknya. Keempatnya memelihara berewok.

Pemilik kedai melihat kehadiran keempat orang ini dengan cepat datang melayani. Agaknya keempat manusia ini pastilah orang-orang penting juga. Tak lama kemudian maka dihidangkanlah makanan yang lezat-lezat di atas meja. Tuak murni pun diletakkan dalam sebuah bumbung bambu berikut empat buah gelas yang juga dari bambu.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.