Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 7)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Wiro Saksana mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena tak pernah dilihatnya gurunya bicara seperti itu sebelumnya.

Kemudian terdengar kembali suara sang nenek. “Tujuh belas tahun. Sekian lama kau tinggal bersamaku. Belajar tulis baca, belajar ilmu silat, belajar segala kesaktian. Tapi kau jangan lupa! Kudu inget! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan sama kau semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ilmu kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Wiro?”

“Ya, Eyang…”

“Karena itu kau musti sadar, kudu ingat. Kalau ini hari kau sudah menjadi sakti mandraguna yang tak sembarang orang bisa menandingi kau, tapi hal utama yang musti kau lakukan ialah menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan tekebur! Pakai semua ilmu yang kuberikan untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi. Kau sadar, Wiro?”

“Sadar, Eyang…”

“Ingat?”

“Ingat, Eyang…”

“Ingat… ya, ingat! Manusia ingat dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau kalau kau cuma sekedar mengingat saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia manapun selagi bernama manusia, suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan kelupaan. Yang penting ialah kau musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon jadinya, tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!”

Kesunyian menyeling beberapa lamanya.

Kesunyian ini dipecahkan oleh suara Eyang Sinto Gendeng kembali.

“Hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di sini, Wiro!”

“Eyang…,” terkejut Wiro Saksana mendengar kata-kata gurunya yang tiada disangkanya itu.

“Kau terkejut…? Tak perlu terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku memberikan segala macam ilmu kepada kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau yaitu menuntut dan mempelajari ilmu itu dariku…”

Dalam duduknya itu Wiro Saksana jadi tertegun. Jadi rupa-rupanya apa yang dinyanyikan oleh Eyang Sinto Gendeng tadi ada hubungannya dengan peri kehidupannya. Cuma yang belum dimengerti Wiro ialah barisan kalimat, Tujuh belas tahun masa perjanjian…. tujuh belas tahun saat pembalasan…

Eyang Sinto Gendeng tiba-tiba melayang turun ke tanah kembali. Dia berdiri di hadapan muridnya. Dan mulai lagi bicara.

“Segala apa yang ada di dunia ini selalu terdiri atas dua bagian, Wiro! Dua bagian yang berlainan satu sama lain tapi yang menjadi pasangan-pasangannya…”

Wiro Saksana kerenyitkan kening tak mengerti. “Misalnya Eyang?” tanyanya.
“Misalnya…, ada laki-laki ada perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan? Tapi merupakan pasangan?!”

“Betul Eyang…”

“Misal lain… ada langit… ada bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air… ada panas ada dingin. Ada hidup ada mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus ada bengkok, ada panjang ada pendek, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya selalu begitu Wiro, Kemudian… ada susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas semua itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang ciptakan kau, Wiro….?”

“Tidak tahu Eyang…”

“Bogrol!”

“Aku tahu Eyang…”

“Siapa?”

“Ibu sama bapakku.”

“Siapa yang mencipatakan ibu sama bapak kau?”

“Nenek sama kakek…”

“Yang menciptakan nenek sama kakek…?”

“Nenek dari nenek dan kakek dari kakek…”

“Dan yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek…?”

“Ya nenek dari nenek dari nenek dan kakek…”

“Geblek!” bentak Sinto Gendeng. “Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia! Bapak kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau dilahirkan sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itu pun juga diciptakan dengan kodrat iradatnya Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia miskin. Sekarang aku mau tanya sama kau. Berapa kau punya mata?”

“Dua, Eyang.”

“Hidung?”

“Satu Eyang.”

“Lobang hidung?”

“Dua Eyang…”

“Mulut?”

“Satu….”

“Bibir?”

“Dua Eyang.”

“Kepala?”

“Satu…”

“Tangan?”

“Dua…”

“Kaki…?”

“Juga dua Eyang…”

“Kau punya biji kemaluan…?”

“Dua Eyang,” dan dalam hatinya Wiro memaki tapi geli.

“Kau punya batang kemaluan?”

“Satu Eyang…” Wiro geli lagi dan memaki lagi.

“Nah… itu semua membuktikan di dunia ini kehidupan manusia adalah tak ubahnya seperti bilangan dua dan satu, satu dan dua, dua satu dua dan seterusnya. Angka dua dan satu itu selalu ada melekat dalam diri manusia. Dan semuanya itu hanya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa yakni Gusti Allah! Kehidupan dua dan satu ini, kehidupan dua satu dua ini, dan adanya dua satu dua ini tak bisa diingkari dan harus melekat dalam diri manusia! Manusia pasti akan merasakan senang susah, gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati, dan manusia juga musti percaya pada yang satu yakni Gusti Allah…”

“Tapi manusia yang picak, Eyang, matanya cuma satu, manusia yang buntung kakinya sebelah, berarti cuma punya satu kaki. Jadi dia tidak memiliki angka dua yang sempurna dalam dirinya…”

“Betul, meski begitu berarti dia cuma punya satu mata, punya satu kaki! Nah, bukankah ada juga melekat angka satu pada dirinya?! Aku sudah bilang sama kau bahwa dalam diri manusia musti ada angka dua dan satu itu! Apa kau masih kurang ngerti, goblok?!”

Wiro diam, kata-kata gurunya itu memang betul.

“Sekarang berdirilah kau!,” perintah Eyang Sinto Gendeng.

Wiro Saksana berdiri.

Eyang Sinto Gendeng menyeringai dan tertawa cekikikan. Tiba-tiba dari balik pakaian hitamnya dikeluarkannya kembali kapak saktinya. Terkejut Wiro Saksana dan pemuda ini mundur beberapa langkah ke belakang. Sinto Gendeng menyeringai lagi, tertawa lagi hingga kedua matanya berair.

~ 9 ~

“Kenapa kau terkejut…?” tanya Eyang Sinto Gendeng. “Kau takut?!”

“Eyang mau bikin cilaka murid lagi?!” tanya Wiro Saksana bersiap-siap.

Dan nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak ke belakang. “Pejamkan matamu, Wiro!” perintah Eyang Sinto Gendeng pula.

“Tapi… Eyang mau bikin apa?!”

“Eeee… kunyuk betul kau! Aku suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! Pejamkan matamu!”

Wiro memejamkan matanya dengan ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu dipejamkannya tidak rapat betul.

“Biar rapat!” hardik Sinto Gendeng.

Dan Wiro terpaksa menutup matanya rapat-rapat.

“Buka bajumu!”

Wiro membuka bajunya dan meletakkannya di tanah. Kedua matanya tetap memejam.

“Buka tangan kananmu, naikkan ke atas dan hadapkan telapaknya kepadaku!” perintah Sinto Gendeng lagi. Wiro mengikuti perintah itu.

Eyang Sinto Gendeng memegang mata kapak dengan tangan kanannya erat-erat. Salah satu jarinya kemudian menempelkan disatu bagian rahasia pada gading dekat kepala kapak yang terbuat dari besi putih itu.

“Apapun yang terjadi sekali-kali jangan buka kedua matamu dan sekali-kali jangan bergeser. Kecuali kalau kau mau mampus!”

“Eyang…”

“Diam! Gila betul!,” bentak Sinto Gendeng. Wiro terpaksa membungkam.

Perempuan tua itu menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Maka dari mulut naga­nagaan di hulu kapak melesat dengan suara menderu tiga puluh enam batang jarum putih. Ketiga puluh enam jarum itu mendarat dan menancap di dada kanan Wiro Saksana.

Jarum-jarum ini menancap dengan teratur membentuk susunan angka 212. Pemuda itu menjerit keras. Tubuhnya rebah ke tanah! Sekali lagi Sinto Gendeng menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Kini dua puluh empat batang jarum hitam meluncur dan menancap di telapak tangan sebelah kanan Wiro Saksana! Pemuda ini menjerit lagi karena tancapan jarum yang 36 tadi telah membuat dia tak sadarkan diri!

Sebelum Wiro Saksana siuman, Eyang Sinto Gendeng sudah mencabuti jarum-jarum putih di dada pemuda itu, juga jarum-jarum hitam di telapak tangan kanan Wiro. Dan ketika Wiro sadarkan diri maka dilihatnya di kulit dadanya terukir deretan angka-angka 212 berwarna hitam kebiruan. Angka-angka yang sama juga juga terdapat di telapak tangannya. Bedanya angka-angaka yang di telapak tangan ini agak kecil dan berwarna putih sehingga agak samar-samar kelihatannya.

“Berdiri Wiro!” perintah sang guru.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.