Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 6)

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Sang murid mengangguk dan matanya tetap lekat ke kapak aneh di tangan gurunya.

“Kali ini kau tak akan sanggup lagi berkelit dari seranganku, Wiro!”

“Eyang Sinto… apakah kau sudah gila hendak membunuh murid sendiri…?!”

Perempuan itu tertawa mengikik. “Aku memang sudah gila Wiro! Kalau tidak percuma namaku Sinto Gendeng! Goblok kau yang tidak tahu artinya Gendeng!”

Wiro memandang dengan waspada. Matanya kembali meneliti kapak aneh di tangan gurunya. Kapak itu bermata dua dan besarnya hampir sebesar batu bata. Gagangnya putih bersih, mungkin terbuat dari gading menurut taksiran Wiro. Pada batang kapak yang besar hampir sebesar lengan itu kelihatan enam buah lobang-lobang kecil. Ujung terbawah dari gagang kapak ini merupakan kepala seekor naga yang mulutnya membuka.

“Wiro!” kata Eyang Sinto. “Aku akan pergunakan kapak ini tiga jurus berturut-turut untuk menyerangmu! Bila kau sanggup melayaninya, kau akan selamat. Kalau tidak maka bersiaplah untuk mati konyol!”

Wiro Saksana kertakkan geraham. Dia hendak menjauhi kata-kata gurunya itu. Namun sebelum mulutnya terbuka, Eyang Sinto Gendeng sudah berseru:

“Ini jurus pertama Wiro!”

~ 7 ~ 

Si tua Sinto Gendeng menerjang ke muka. Kapak besar di tangan kanannya membabat kian kemari dalam jurus “orang gila mengebut lalat.” Ketika tadi Wiro Saksana memainkan jurus itu dengan mempergunakan sebilah keris, kehebatannya sudah luar biasa apalagi kini penciptanya sendiri yang melakukannya maka dahsyatnya bukan olah-olah!

Kapak besar itu berkelebat kian kemari hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin deras bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Wiro. Angin deras ini bukan sembarang angin karena bila menyambar kulit maka kulit itu perih bukan main, seperti lecet! Dan dari mulut kepala naga pada ujung gagang kapak senantiasa keluar suara mendengung macam tawon!

Dalam sekejap saja Wiro Saksana segera terbungkus sambaran-sambaran kapak bermata dua itu. Mata dan kulit tubuhnya perih terkena angin tajam yang menderu-deru. Telinganya pengang oleh suara yang mengaung yang keluar dari mulut kepala naga-nagaan pada gagang kapak.

“Ciaaaaatt!”

Wiro membentak dahsyat. Tubuhnya berkelebat dan lenyap detik itu juga. Tangan dan kakinya sambar menyambar kian kemari, membuat gerakan menghindar dan menyerang bagian-bagian yang lowong dari gurunya. Tapi mana dia sangup mengahadapi senjata aneh yang dahsyat itu. Apalagi senjata tersebut berada dalam tangan Sinto Gendeng dan mempergunakan jurus “orang gila mengebut lalat” yang sudah mencapai tingkat kesempurnaannya.

Dalam sekejap saja pemuda itu terdesak hebat. Lengah atau ayal sedikit saja pastilah pinggang atau perut atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar mata kapak. Hanya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi yang dimilikinyalah maka Wiro Saksana dapat menghindari sambaran-sambaran dan bacokan­bacokan kapak bermata dua itu.

Berkali-kali Wiro melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalam yang dahsyat. Namun angin pukulannya terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam yang menderu yang keluar dari senjata di tangan gurunya.

“Senjata edan!” maki Wiro Saksana. Tiba-tiba dijatuhkannya tubuhnya ke bawah. Serentak dengan itu tangan kanannya dengan jari-jari ditekuk kedalam meluncur ke arah sambungan siku Eyang Sinto Gendeng.

Tapi pada detik itu pula kaki kanan sang guru menyapu dari atas ke bawah, mencari sasaran di kepala Wiro Saksana. Mau tak mau ini pemuda terpaksa jatuhkan dan gulingkan diri di tanah. Dengan demikian maka berakhirlah jurus pertama yang penuh kehebatan itu.

Sinto Gendeng berdiri dengan dada turun naik.

“Kini jurus kedua, Wiro!” katanya. Kedua kakinya dipentang lebar-lebar. Tubuhnya membungkuk ke muka sedikit sedang kapak di tangan kanan dipegangnya lurus-lurus ke muka ke arah Wiro Saksana. Dari balik pakaian hitamnya Eyang Sinto Gendeng mengeluarkan benda hitam yang berkilauan ditimpa sinar matahari. Wiro tak dapat memastikan benda apa yang ada dalam tangan kiri gurunya itu. Mungkin sebentuk besi, mungkin juga sebuah batu.

Tiba-tiba tangan kiri Sinto Gendeng memukulkan benda di tangan kirinya ke kepala kapak. Bunga api memijar. Dan sedetik kemudian lidah api yang dahsyat menyambar ke arah Wiro Saksana!

Terkejutnya pemuda itu bukan alang kepalang. Dia membentak dan lompat ke udara. Lidah api lewat di bawahnya, kedua kakinya terasa perih panas dan bila dia melirik ke belakang maka dilihatnya bagaimana semak belukar serta pepohonan terbakar berkobar oleh sambaran lidah api tadi!

Masih belum turun ke tanah lagi, maka Sinto Gendeng telah menyerang pemuda itu untuk kedua kalinya. Lidah api menyambar lagi. Wiro bergulingan di tanah, menghindarkan dengan sebat. Tanah yang tersambar lidah api kapak sakti itu menjadi hitam hangus. Wiro leletkan lidahnya. Masih belum sempat dia mengatur nafas, tangan kiri dan tangan kanan Sinto Gendeng bergerak lagi berkali-kali. Lidah-lidah api yang hampir setengah lusin banyaknya menyambar tubuhnya dari enam jurusan!

Wiro memekik dahsyat. Meraung dan membentak. Kedua tangannya diangkat tinggi­tinggi ke atas. Tubuhnya melompat kian kemari, mulutnya komat-kamit. Aji angin es yang ditebarkannya hanya bisa menahan gelombang lidah api yang menyambar tapi sama sekali tidak dapat melenyapkan hawa panas lidah-lidah api itu!

Wiro Saksana kelagapan tapi masih belum hilang akal! Bentakan setinggi langit melengking ke udara. Tubuh Wiro Saksana lenyap keluar dari sambaran-sambaran lidah-lidah api untuk sesaat kemudian berguling di tanah dengan sangat cepatnya, menuju ke tempat Eyang Sinto Gendeng berdiri.

Sambil bergulingan ini, Wiro lepaskan dua pukulan tangan kosong yang hebat. Satu “kunyuk melempar buah” yang satu lagi “sinar matahari”! Mau tak mau Sinto Gendeng hindarkan diri juga ke samping. Maka putuslah jurus kedua itu!

Wiro Saksana itu berdiri dengan tubuh berkeringat dingin. Dibelakangnya kobaran api masih juga membakari semak belukar dan daun-daun pepohonan. Gurunya dilihatnya berdiri tegak tak bergerak. Benda yang di tangan kirinya tadi ternyata adalah sebuah batu api dan kini sudah disimpannya kembali di balik pakaian hitamnya.

“Jurus terakhir Wiro…!” kata Eyang Sinto Gendeng.

Pemuda itu tahu, kalau dua jurus pertama tadi hebatnya bukan olah-olah maka jurus ketiga atau yang terakhir ini tentu lebih dahsyat lagi. Karenanya dia benar-benar lebih waspada dan teliti kini. Sepasang matanya yang hitam pekat itu menyorot tajam-tajam ke depan.

Sinto Gendeng memegang kapak itu dengan tebalik. Mulut naga-nagaan yang terbuka di dekatkannya ke mulutnya sedang jari-jari tangannya menutup enam lobang di batang kapak. Ketika Wiro Saksana tidak mengerti apa yang bakal diperbuat gurunya maka terdengarlah suara tiupan seruling! Ternyata kapak itulah yang mengeluarkan suara seruling tersebut dan ditiup oleh Sinto Gendeng!

Gema seruling itu mula-mula perlahan, halus dan lembut, memukau Wiro Saksana. Kemudian tiupan seruling mengeras dan pembuluh-pembuluh darah di tubuh Wiro seperti ditusuk-tusuk. Darahnya mengalir tidak karuan, menyendat-nyendat. Matanya mengabur, kepalanya berat dan pusing!

Maklum bahwa tiupan seruling itu bukan tiupan biasa, cepat-cepat Wiro menghempos tenaga dalam. Mengatur jalan nafas dan darahnya! Tapi kasip! Suara seruling semakin kencang. Melengking dan menusuk-nusuk gendang-gendang telinga!

Wiro kerahkan lagi tenaga dalamnya. Mulutnya komat-kamit, kedua tangannuya menghantam ke arah Sinto Gendeng, tapi sang guru kini tidak di tempat, melainkan berlari-lari sebat mengelilingi pemuda itu. Wiro membentak, tapi suaranya tidak keluar. Dari melompat tapi tubuhnya terhuyung. Seluruh kekuatan luar dan dalamnya punah oleh tiupan seruling!

Pinggangnya tertekuk ke muka. Mendadak samar-samar ingatan jernih melintas di otaknya. Cepat-cepat pemuda ini mentutup indera pendengarannya. Sukar sekali mula-mula, karena saat itu kedua liang telinganya sudah mengeluarkan darah!

Tapi dengan kerahkan segala sisa tenaga yang ada pemuda ini sanggup juga menutup pendengarannya. Begitu suara seruling lenyap dari telinganya maka perlahan-lahan tenaga luar dan dalamnya yang tadi punah kini datang kembali. Tapi rasa yang menusuk-nusuk pembuluh-pembuluh darahnya masih belum lenyap.

Karenanya, diaturnya jalan nafas dan darahnya. Pengaruh tiupan seruling sakti itu berhasil dilawannya sedikit demi sedikit. Dan ketika dirasakannya sudah punya kekuatan untuk balas menyerang pemuda ini pura-pura jatuhkan diri ke tanah, pura-pura pingsan. Namun begitu tangan kanannya menyentuh tanah, segera diraupnya pasir tanah itu dan dilemparkannya ke arah Sinto Gendeng!

Ratusan pasir yang sudah diisi dengan aji “angin puyuh” itu menderu ke arah mulut naga-nagaan dan lobang-lobang di gagang kapak, ratusan butir lagi menyerang ke muka Sinto Gendeng. Perempuan tua renta itu melepaskan mulutnya dari mulut kepala naga dan cepat­cepat menghembuskan ke muka. Pasir-pasir yang menghambur menyerangnya rontok kembali ke tanah! Bersamaan dengan itu Sinto Gendeng memasukkan kapak saktinya ke balik pakaiannya. Berarti jurus ketiga yang mendebarkan itu berakhir sudah.

Wiro berdiri tersengal-sengal bersandar. Matanya tetap menyorot lekat-lekat dan memperhatikan gerak-gerik gurunya. Meski tadi Eyang Sinto Gendeng mengatakan hanya akan menyerangnya sebanyak tiga jurus, tapi bukan mustahil nenek-nenek itu akan menyerangnya kembali! Tapi dilihatnya Eyang Sinto Gendeng cuma memandang saja kepadnya.

Wiro garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Sekian belas tahun lamanya dia menuntut ilmu kesaktian dan ilmu silat baru hari ini diketahuinya bahwa Eyang Sinto Gendeng memiliki sebuah senjata berbentuk kapak yang demikian anehnya, tapi juga demikian hebatnya! Selama sekian tahun baru hari itu pula gurunya menggempur dia dengan serangan-serangan yang benar-benar mematikan. Serangan-serangan yang dilancarkan tidak dengan tertawa-tawa sebagaimana biasanya! Dihubungkannya pula dengan nyanyian yang dibawakan gurunya tadi! Benar-benar banyak keanehan yang dilihat Wiro Saksana hari ini.

Tiba-tiba dilihatnya nenek-nenek sakti itu berkelebat. Wiro segera siapkan diri. Terdengar suara tertawa yang meringkik-ringkik macam kuda.

“Gila betul!” maki Wiro. Dia cepat-cepat lompat ke samping karena Eyang Sinto Gendeng berkelebat ke arahnya!

~ 8 ~

Tetapi Eyang Sinto bukan menyerangnya. Nenek-nenek sakti ini ternyata hanya melompat ke atas pohon jambu klutuk dan duduk di cabang tempat dia duduk sebelumnya.

“Bagus Wiro… bagus sekali,” katanya. Mukanya dihadapkan lurus-lurus ke arah timur. “Sekian lama kau kudidik di puncak Gunung Gede ini, ternyata tidak mengecewakan…!” Sinto Gendeng tertawa melengking-lengking. Dan sehabis tertawa tadi maka diulanginya nyanyian tadi. Nyanyian yang membuat hati Wiro Saksana menjadi tergetar.

Pitulas taun wus katilar,
Pucuking Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo,
Langit isih tetep biru,
Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,

Pitulas taun agawe kang tua tambah tua.
Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah,
Pitulas taun wektu perjanjian,
Pitulas taun wiwitane perpisahan,
Pitulas taun wekdaling pamales.

Wiro duduk menghamparkan diri di bawah sebatang pohon di seberang pohon jambu
klutuk. Dilihatnya gurunya menghela nafas dalam beberapa kali. “Dadamu sesak Eyang? Aku bisa tolong urut…”

“Diam!” bentak Sinto Gendeng. Wiro menggaruk kepalanya dan diam. “Aku mau bicara sama kau!” kata Sinto Gendeng pula.

“Bicara apa Eyang…?” Pemuda ini mulai bicara sungguh-sungguh karena dilihatnya gurunya juga bicara sungguh-sungguh.

“Berapa lama kau tinggal di sini bersamaku, Wiro?!”

“Murid tidak ingat…”

“Gelo betul! Buat apa aku ajar tulis baca dan berhitung sama kau?!”

“Mungkin sepuluh tahun, Eyang…”

“Goblok! Tujuh belas tahun, tahu?!”

Wiro tertawa, “Iyyaa… tujuh belas tahun Eyang,” katanya pula.

“Kuharap hari ini kau jangan bicara sinting sama aku, Wiro!” bentak Sinto Gendeng dan matanya masih terus menatap ke timur.

“Kau lihat matahari itu?”

“Lihat Eyang…” jawab Wiro seraya memandang ke timur.

“Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari tujuh belas tahun yang silam. Puncak Gunung Gede ini juga masih seperti dulu juga. Cuma yang tua tambah tua, yang orok jadi pemuda! Cuma dunia luar yang banyak berubahnya!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.