Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 5)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

“Ah, cuma bijinya siapa yang sudi!,” jawab Wiro Saksana. Dia menghembus ke udara dan melambai-lambaikan kedua tangannya. Dua puluh satu butir biji jambu klutuk itu berguguran ke tanah bahkan tujuh butir di antaranya berbalik menyerang Sinto Gendeng. Tapi dengan goyangkan sedikit saja kaki kanannya, maka nenek-nenek sakti itu membuat ketujuh biji jambu klutuk itu bermentalan!

“Kalau tak sudi biji jambu, terimalah ranting kering ini!” kata Sinto Gendeng. Dan ranting kering yang di tangan kirinya dilemparkannya ke bawah, mendesing laksana anak panah mengarah batok kepala muridnya! Memang Sinto Gendeng benar-benar seorang perempuan tua yang aneh. Dalam melatih muridnya setiap serangan yang dilancarkannya benar-benar merupakan serangan yang mematikan atau sekurang-kurangnya bisa menimbulkan celaka hebat bila sang murid tidak berhati-hati. Setiap jurus ilmu silat yang diciptakannyapun aneh-aneh namanya.

Melihat serangan ranting kering ini Wiro ganda tertawa. Sekali dia gerakkan tangan kanan yang memegang keris maka ranting kering itu belah dua tepat di pertengahannya dan jatuh ke tanah.

“Sebaiknya turun saja dari pohon eyang” kata Wiro Saksana. “Kalau tidak…”

“Kalau tidak kenapa?” memotong Eyang Sinto Gendeng.

“Sambut keris ini, Eyang….! Sambut dengan jidatmu biar konyol!”

Habis berkata begitu Wiro Saksana tertawa mengakak dan melemparkan keris eluk tujuh yang di tangan kanannya. Senjata itu melesat hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Namun empat detik kemudian terdengarlah suara cekikikan Eyang Sinto Gendeng. Dan ketika Wiro mendongak ke atas dilihatnya keris yang dilemparkannya tadi berada dalam jepitan telunjuk dan jari tengah kanan gurunya.

Wiro Saksana menggerendeng.

Tiba-tiba. “Ini balasan kehormatan untuk keris bututmu, Wiro!” Sinto Gendeng cabut dua tusuk kundainya dari batok kepalanya yang berambut putih dan jarang itu. Dibarengi dengan angin lemparan yang bukan olah-olah dahsyatnya maka menyambarlah dua tusuk kundai itu ke arah Wiro Saksana. Yang satu menyerang kepala, yang lain menyerang perut!

Wiro Saksana yang tahu kehebatan tusuk kundai itu tak mau memapaki senjata tersebut dengan mengandalkan lambaian tangan yang mengandung tenaga dalam. Didahului dengan bentakan nyaring maka pemuda ini menjejek bumi dan melintangkan badannya ke udara. Tusuk-tusuk kundai itu lewat di kiri kanannya, terus amblas ke dalam tanah!

Eyang Sinto Gendeng tertawa gelak-gelak.

“Bagus…, bagus kau tidak menangkis seranganku dengan hantaman tenaga dalam! Tak satu tenaga dalam yang bagaimana hebatnyapun yang sanggup memapaki tusuk kundai itu Wiro! Eeee…. aku haus! Hik…. ambilkan air buatku Wiro! Cepat!”

“Kalau haus jilat saja air keringat!” kata murid yang lucu dan seperti kurang ingatan pula macam gurunya.

Dan dasar Eyang Sinto Gendeng manusia aneh, dia sama sekali tidak marah mendengar gurau yang keliwatan dari muridnya itu, melainkan tertawa mengakak.
Tiba-tiba tawanya lenyap. “Air, Wiro! Lekas!” bentak perempuan itu.

Sang murid berlalu juga dari tempat itu. Melangkah ke sebuah pondok kecil. Di bagian belakang pondok ini ada sebuha gentong berisi air putih dingin. Wiro mengambilnya segayung.

Ketika dia melangkah kembali ke tempat tadi untuk memberikan air itu kepada gurunya maka didengarnya suara Eyang Sinto Gendeng menyanyi. Suaranya sama sekali tidak merdu. Namun kata-kata yang terjalin dalam nyanyian itu membuat Wiro Saksana menjadi heran dan bertanya-tanya dalam hati.

Pitulas taun wus katilar,
Pucuking Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo,
Langit isih tetep biru,
Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,

Pitulas taun agawe kang tua tambah tua.
Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah,
Pitulas taun wektu perjanjian,
Pitulas taun wiwitane perpisahan,
Pitulas taun wekdaling pamales…

Artinya:
Tujuh belas tahun telah berlalu.
Puncak Gunung Gede masih tetap seperti dulu,
Langit masih tetap biru,
Bulan dan matahari masih berpandangan jauh dan rindu.

Tujuh belas tahun membuat si tua tambah tua,
Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda gagah,
Tujuh belas tahun masa perjanjian,
Tujuh belas tahun ujung perpisahan,
Tujuh belas tahun saat pembalasan.

~ 6 ~

Selama diam di puncak Gunung Gede itu bersama gurunya, walau bagaimanapun miring otak sang guru, namun baru hari itulah Wiro Saksana melihat dan mendengar Eyang Sinto Gendeng menyanyi. Kata-kata dalam nyanyian itu entah mengapa membuat Wiro jadi berdebar. Apakah maksud kata-kata nyanyian itu? Perasaan yang bagaimanakah yang tengah dicetuskan oleh gurunya karena Wiro melihat nenek-nenek itu menyanyi dengan penuh perasaan, dengan mata memandang jauh ke muka.

Tujuh belas tahun membuat aku si tua bangka tambah tua. Kata-kata ini jelas ditujukan ke diri gurunya sendiri. Tapi pada siapakah ditujukan kalimat yang berbunyi: Tujuh belas tahun membuat seorang orok menjadi pemuda gagah, itu? Apakah ditujukan kepadanya? Berdebar hati Wiro Saksana. Kemudian kalimat­kalimat: Tujuh belas tahun ujung perpisahan… serta… Tujuh belas tahun saat pembalasan… Apakah arti semua itu?

Ketika Wiro Saksana memandang ke atas pada saat itu pula Eyang Sinto Gendeng melihat ke bawah. Dan mata yang tajam dari Wiro Saksana, meskipun cuma sekilas, namun masih dapat melihat pantulan air muka serta cahaya mata gurunya yang lain dari biasanya! Air muka itu. Sinar mata itu menyembunyikan satu perasaan sedih! Perasaan apakah yang menyemaki hati sang guru sebenarnya?

Tiba-tiba Eyang Sinto Gendeng membentak keras sampai Wiro Saksana terkejut dan serasa terbang nyawanya.

“Tunggu apa lagi, geblek?! Orang sudah haus dianya tegak mematung! Kukencingi kepalamu baru tahu! Lemparkan gayung itu cepat!”

Dan Wiro Saksana segera lemparkan gayung batok kelapa yang berisi air ke atas. Gayung itu melesat ke atas tanpa setetes airpun yang tumpah!

“Bagus Wiro… bagus sekali!” memuji Sinto Gendeng. Dan dengan tangan kirinya disambutnya gagang gayung. Sesaat kemudian tenggorokannya yang kurus dan kerinyutan itu kelihatan turun naik meneguk air dari dalam gayung. Air itu diteguknya sampai habis.

“Terima gayung ini kembali, Wiro!”

Gayunng melesat ke bawah. Wiro Saksana ulurkan tangan untuk menyambut tapi pada detik itu pula di atas pohon gurunya kelihatan menggerakkan tangan kanannya. Angin deras mendorong kepala gayung, membuat gayung yang hendak disambuti Wiro Saksana itu mencelat ke samping dan menyerang dadanya!

“Gila betul!” bentak si pemuda. Cepat-cepat dia palangkan lengannya di muka dada. Gayung dan lengan beradu. Gayung pecah berantakan ke tanah, gagangnya patah dua!

Pada saat itulah Sinto Gendeng melayang turun ke bawah. Kedua kakinya menjejak tanah tanpa suara dan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun padahal cabang pohon jambu klutuk dari mana dia meloncat tadi hampir empat tombak tingginya. Dapat dibayangkan bagaimana luar biasanya ilmu meringankan badan perempuan sakti ini!

Kedua orang itu, guru dan murid berdiri berhadap-hadapan. Wiro Saksana dapat merasakan betapa lainnya pandangan kedua mata Sinto Gendeng kepadanya, pandangan yang tidak dimengertinya. Nenek-nenek ini bergerak mundur beberapa langkah ke belakang. Kedua kakinya kemudian merenggang sedang kedua tangan mengembang ke muka. Mulutnya berkemik. Detik demi detik sepasang kakinya amblas ke dalam tanah sampai tiga senti sedang seluruh tubuhnya bergetar hebat. Mukanya yang hitam dan berkerinyut itu basah oleh keringat.

Tiba-tiba kejut Wiro Saksana bukan olah-olah ketika dilihatnya bagaimana kedua tangan gurunya berwarna putih sekali sedang sepuluh kuku jari tangan perempuan itu memerak serta memancarkan sinar yang menyilakuan!

“Eyang!” seru Wiro Saksana. “Apakah kau mau bikin aku mati konyol dengan pukulan sinar matahari itu?!”

Sinto Gendeng tidak menjawab. Mulutnya semakin mengemik. Rahang-rahangnya semakin mengatup dan pandangan mata serta tampangnya sangat mengerikan!

Merinding bulu kuduk Wiro Saksana. Baru kali ini dilihatnya gurunya sedahsyat itu. Tanpa menunggu lebih lama, tanpa menunggu sampai kedua tangan yang mengepal dihantamkan ke muka, maka pemuda ini cepat-cepat pentang kaki dan dekapkan lengan di muka dada. Matanya meram, mulutnya komat kamit. Sepasang kakinya amblas dua senti ke tanah. Tubuhnya tak bergerak barang serambutpun, laksana gunung karang yang keras membatu!

“Ciaaaaaaatttt”

Bentakan Sinto Gendeng melengking melanglang langit! Kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum sinar putih yang menyilaukan serta panasnya dapat menghanguskan dan melelehkan benda apa saja menggempur ke arah sasaran di muka sana yaitu tubuh Wiro Saksana!

Pada detik yang sama Wiro Saksana membentak pula.

“Heeyyyaaaaa!”

Tangan yang tadi bersidekap dengan serentak memukul ke depan. Dan kedua tangan itu terus saja terpentang lurus ke muka. Inilah apa yang dinamakan ilmu pukulan “benteng topan melanda samudra”! Ilmu pukulan ini bukan saja dapat dipakai untuk menyerang tapi sesuai dengan namanya juga dapat menjadi perisai tangguh atau benteng kekar yang melindungi Wiro dari serangan gurunya!

Bila angin-angin topan pukulan itu sama bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang menyenging liang telinga, debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon berguguran bahkan ranting-ranting kering patah-patah dan berjatuhan! Puncak Gunung Gede bergetar. Langit seperti mau terbelah oleh dentuman itu!

Ketika debu dan pasir surut ke tanah, ketika keadaan di sekitar situ menjadi terang kembali maka Wiro Saksana melihat bagaimana kedua kaki gurunya amblas ke dalam tanah sedalam sepuluh senti. Muka perempuan itu penuh keringat dan matanya menyipit. Namun bila ditelitinya pula keadaan dirinya maka didapatinya kedua kakinya tenggelam ke dalam tanah sampai sebatas betis. Sedangkan tubuhnya yang memercikkan keringat dingin itu terasa masih bergetar gontai akibat adu tanding tenaga dalam yang luar biasa tadi!

“Bagus Wiro, bagus sekali!” terdengar Eyang Sinto Gendeng. Meski memuji namun dari mukanya bukan menunjukkan kegembiraan, sebaliknya muka yang berkerut-kerut itu masih memancarkan kengerian. “Sekarang sambuti pukulan angin es ini, Wiro!”

Dan habis berkata begitu, Sinto Gendeng angkat tinggi-tinggi kedua tangannya dengan telapak membuka lebar menghadap ke arah muridnya. Matanya kembali terpejam. Wiro menunggu dengan badan tiada bergerak.

Udara mendadak menjadi sangat sejuk. Kemudian ketika Sinto Gendeng memutar­mutar kedua tangannya maka kesejukan itu mendadak sontak berubah menjadi udara yang sangat dingin menyembilui tulang-tulang sungsum. Geraham-geraham Wiro Saksana bergemeletakan menahan rasa dingin yang amat sangat itu.

Permukaan kulitnya membeku seperti ditutupi salju. Tanah yang dipijaknya laksana pedataran es. Satu menit saja hal itu berlangsung lebih lama pastilah tubuh pemuda ini menjadi beku membatu. Inilah kehebatan ilmu kesaktian yang bernama “angin es” itu!

Dengan badan bergetar menahan dingin, Wiro Saksana membentak dahsyat. Bersamaan dengan itu kedua tangannya diputar-putar ke udara angin laksana badai menggebubu ke pelbagai arah. Puncak gunung itu menderu-deru. Daun-daun pohon yanag tadi kaku tegang oleh dinginnya udara kini kelihatan mulai bergerak, makin kencang – makin kencang. Udara dingin yang tadi menyayat sungsum kini tergetar buyar dilanda ilmu “angin puyuh” yang dilepaskan oleh Wiro Saksana.

Semakin keras putaran tangan pemuda itu, semakin membadai gebubu angin, semakin buyar udara dingin. Daun-daun pohon yang tadi hanya bergerak-gerak kini jatuh berhamburan bersama rantingnya. Kemudian satu demi satu pohon-pohon kecil bertumbangan. Pohon­pohon besar yang masih bisa bertahan menjadi gundul daun dan rantingnya! Tubuh Eyang Sinto Gendeng kelihatan tergoyang hebat. Pakaian hitamnya berkibar-kibar.

“Gila betul! Gila betul!” teriak perempuan sakti itu. Mulutnya mengeluarkan lengkingan dahsyat kemudian dia melompat sejauh sembilan tombak dan dari situ mencabut sebuah tusuk kundai lalu menyambitkannya ke arah Wiro.

Sang murid cepat-cepat hentikan putaran tangannya dan melompat ke samping. Tusuk kundai membawa angin maut itu melesat menghantam sebatang pohon. Pohon itu tumbang dengan batang pecah berkeping-keping!

Udara dingin lenyap. Angin yang memuyuh juga lenyap dan suasana kembali sepeti sedia kala. Ketika Wiro memandang ke muka dilihatnya gurunya berdiri memegang sebentuk kapak yang aneh sekali. Belum lagi dia sempat meneliti lebih lama benda itu, Eyang Sinto Gendeng ajukan pertanyaan, “Kau lihat senjata di tanganku ini, Wiro? Kau lihat…?!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.