Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 3)

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Kalingundil terdiam. Digigitnya bibirnya. Dan saat itu dendam serta bencinya terhadap kedua orang yang berdiri di langkan rumah itu, terutama Jarot Karsa, tak dapat dilukiskan.

Mahesa Birawa memandang sekilas pada Suci yang berdiri di belakang suaminya. Nafsu untuk dapat memiliki perempuan ini yang tak kesampaian atau belum kesampaian membuat amarahnya semakin meluap-luap. Dadanya seperti mau pecah. Saat itu meski sudah bersuami dan punya anak satu tapi Suci dilihatnya semakin tambah cantik dan muda jelita.

Bola mata Mahesa Birawa bergerak ke jurusan Jarot Karsa setelah terlebih dahulu menyapu tampang Ranaweleng dengan garangnya.

“Anjing tua yang di atas langkan turunlah untuk menerima mampus!”

suara Mahesa Birawa begitu lantang dan menggeletarkan karena disertai tenaga dalam yang tinggi sudah mencapai puncak kesempurnaannya.

Jarot Karsa sunggingkan senyum tawar. Sekali dia menggerakkan kedua kakinya maka setengah detik kemudian dia sudah berdiri di tanah, beberapa tombak di hadapan kuda Mahesa Birawa. Gerakannya waktu melompat tadi enteng sekali. Senyum datar yang mengejek tersungging lagi di mulut orang tua ini.

“Ini manusianya yang bernama Mahesa Birawa?! Yang inginkan istri orang?! Kalau kau tidak sedeng tentu sinting! Apa kunyukmu yang satu ini sudah kasih tahu padamu agar mencari dukun untuk mengobati otak miringmu?!”

Bergetar badan Mahesa Birawa mulai dari ubun-ubun sampai ke ujung jari-jari kaki!
“Anjing tua yang tak tahu diri, hari ini terpaksa kau harus pasrahkan nyawa kepadaku!”

Mahesa Birawa enjot diri, melompat turun dari kuda. Dalam keadaan tubuh melayang demikian rupa kedua tangannya dipukulkan ke muka. Dua rangkum angin sedahsyat badai menyerbu orang tua yang membungkuk itu. Debu dan pasir mengebubu!

Jarot Karsa melengking dan melompat setinggi tiga tombak ke atas. Angin pukulan yang dahsyat lewat di bawah kedua kakinya. Pada detik dia hendak mengirimkan serangan balasan maka berserulah Ranaweleng.

“Bapak Jarot minggirlah, biar aku yang hadapi manusia pengacau ini!”

“Ah Raden…,” kata Jarot Karsa dalam keadaan tubuh masih mengapung di udara. “Biarlah aku yang sudah tua ini kasih pelajaran padanya! Tak usah Raden bersusah payah. Dalam satu dua jurus ini akan kusapu badannya keluar halaman!”

Mahesa Birawa kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru angin yang dahsyat melanda ke arah Jarot Karsa. Si orang tua, yang rupanya ingin menjajaki sampai di mana ketinggian tenaga dalam lawan, balas mengirimkan pukulan tangan kosong.

Letusan sedahsyat meriam berdentum ketika dua tenaga dalam itu saling bentrokan di udara. Gendang-gendang telinga seperti menjadi pecah dan pekak. Tubuh Mahesa Birawa kelihatan berdiri gontai beberapa detik lamanya sedangkan Jarot Karsa jatuh duduk di tanah, mandi keringat dingin!

Bukan saja Jarot Karsa sendiri, tapi Ranaweleng pun kagetnya bukan main. Suci yang berdiri di belakang suaminya dan menyaksikan itu menjerit tertahan karena menyangka si orang tua mendapat celaka besar. Ternyata tenaga dalam Mahesa Birawa demikian tingginya, lebih tinggi dari tenaga dalam Jarot Karsa.

Tahu kalau tenaga dalam lawan lebih unggul dari dia, Jarot Karsa segera melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak demikian cepat hampir tak kelihatan, menyapu­nyapu dan sekali-kali menjotos ke muka dengan dahsyatnya.

Hampir dua jurus Mahesa Birawa terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya memerihkan matanya. Mahesa Birawa atau Suranyali mau tak mau mempercepat pula gerakannya. Tubuhnya kini laksana bayang-bayang. Bila satu jurus lagi berlalu, maka Jarot Karsa mulai merasakan tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati.

Tiga jurus lagi berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah hampir tak kelihatan karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang menggebubu ke udara menutupi keduanya.

Tiba-tiba diiringi dengan lengkingan yang menggetarkan dengan satu gerakan yang sukar ditangkap oleh mata Jarot Karsa, dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya yang lebih tinggi sedikit dari lawan dia menyorongkan siku kirinya ke muka. Tubuh lawan di lihatnya mengelak ke samping dan sekaligus tangannya yang lain memapaki gerakan mengelak dari Mahesa Birawa.

“Buk!!”

Mahesa Birawa terjajar sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya memencong menahan sakit pukulan tangan kanan Jarot Karsa yang bersarang di dada kirinya. Cepat-cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke bagian yang terkena itu, Jarot Karsa tertawa mengekeh.

“Jika kau masih juga belum mau angkat kaki dari sini bersama kunyuk-kunyukmu itu, jangan menyesal kalau mukamu nanti akan benjat benjut macam mangga busuk!”

Tampang Mahesa Birawa kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan kiri dipentang lurus-lurus ke muka. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas kepala. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanan Mahesa Birawa kemudian kelihatan menjadi hijau dan bergeletar.

“Bangsat tua bangka!” kertak Mahesa Birawa, “lihat tangan kananku. Kenalkah kau akan pukulan yang akan kulepaskan ini…!”

Jarot Karsa kerutkan kening. Matanya memandang lekat-lekat ke tangan kanan Mahesa Birawa yang semakin lama semakin bertambah hijau itu. Meski dia sudah hidup hampir tujuh puluh tahun, meski pengalamannya di dunia persilatan setinggi langit sedalam lautan namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya meliahat tangan kanan lawan itu, ditambah lagi dia sama sekali tidak tahu ilmu pukulan apakah yang akan dilancarkan oleh lawannya!

Akan Ranaweleng, begitu melihat tangan Mahesa Birawa yang menjadi hijau itu, kagetnya bukan main. Dengan cepat dia memberikan kisikan pada Jarot Karsa dengan mempergunakan ilmu “menyusupkan suara.”

“Bapak Jarot, hati-hati. Pukulan yang hjendak dilepaskan itu adalah pukulan – Kelabang Hijau — Hebatnya bukan main dan sangat beracun…!”

Jarot Karsa menindih rasa terkejutnya. “Pukulan Kelabang Hijau…” keluhnya dalam hati. Hampir-hampir tak dapat dipercayanya kalau tidak menyaksikan sendiri. Dia tahu betul bahwa di dunia persilatan hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan yang dahsyat ini yaitu seorang Resi bernama Tapak Gajah yang diam di lereng Gunung Lawu. Tapi kini muncul seorang lain yang memiliki ilmu pukulan itu. Apakah Mahesa Birawa ini muridnya Tapak Gajah?

Kerut-kerut pada kening Jarot Karsa mengendur sedikit. Dicobanya menunjukkan mimik mengejek.

“Hanya pukulan Kelabang Hijau, apakah perlu ditakutkan…!” kata seorang tua bungkuk itu.

Diam-diam Mahesa Birawa menjadi kaget melihat bahwa lawan mengetahui ilmu pukulan yang hendak dilepaskannya. Cepat dia membentak.

“Kalau sudah tahu mengapa tidak segera berlutut, anjing tua?!”

“Hanya monyet edan yang akan berlutut di hadapanmu Mahesa Birawa. Terimalah ini…!” dan tangan Jarot Karsa mendahului melepaskan pukulan tangan kosong yang dahsyat.

Setengah tombak lagi angin pukulan yang menghembuskan maut itu melanda tubuh dan kepala Mahesa Birawa maka kelihatanlah laki-laki ini meninjukan tangan kanannya ke muka!

Setiup angin laksana topan prahara dan mengeluarkan sinar hijau melesat ke muka. Angin pukulan Jarot Karsa terdorong dan balik menyerang orang tua itu sendiri!

Jarot Karsa melompat ke samping. Tapi tak keburu. Sinar hijau pukulan Kelabang Hijau telah melanda pinggangnya. Suci menjerit dan menutup mukanya dangan kedua tangan. Orang tua itu berteriak setinggi langit. Tubuhnya terguling di tanah. Kulitnya kelihatan hijau. Dia mengerang dan menggelepar-gelepar seketika, kemudian nafasnya lepas, maka tubuhnya melingkar tanpa nyawa!

“Manusia biadab!” bentak Ranaweleng. “Orangku tiada permusuhan dengan kau. Mengapa kau bunuh dia?!”

Mahesa Birawa atau Suranyali tertawa mengekeh.

“Sebentar lagi kau juga akan mampus Ranaweleng! Tapi aku masih berbaik hati untuk membiarkan kau angkat kaki dari sini. Kalau kau masih keras kepala ketahuilah bahwa ajal sudah di depan mata!” dan Mahesa Birawa tertawa lagi macam tadi.

“Hari ini aku mengadu nyawa dengan kau manusia iblis!” teriak Ranaweleng. Maka menerjanglah Kepala Kampung Jatiwalu itu.

~ 4 ~

“Manusia keparat yang tidak tahu diri, hari ini terimalah mampus di tanganku!” bentak Mahesa Birawa seraya angkat lengan kirinya untuk menangkis pukulan lawan.

Dua lengan beradu dengan keras, Ranaweleng terpelanting ke belakang sedang Mahesa Birawa hanya terjajar beberapa langkah saja. Lengan Ranaweleng yang beradu dengan lengan Mahesa Birawa kelihatan kemerahan dan perih. Laki-laki ini menggigit bibirnya menahan sakit. Dia maklum bahwa tenaga dalamnnya lebih rendah dari lawan. Karena itu dengan memepergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sampai ke puncaknya, Ranaweleng tidak lebih digdaya dari Jarot Karsa.

Sementara itu di langkan rumah terdengar jeritan-jeritan Suci pada kedua orang yang berkelahi itu. “Suranyali! Kakang Rana! Hentikanlah perkelahian ini! Hentikanlah!”
Suci tidak pernah tahu kalau Suranyali telah berganti nama menjadi Mahesa Birawa. Dan dia berteriak lagi, “Kalian berdua tidak mempunyai permusuhan mengapa musti berkelahi?!”

“Suci masuklah ke dalam!” sahut Ranaweleng kepada isterinya. Saat itu dia harus jungkir balik di udara mengelakkan pukulan lawannya.

Di pihak Mahesa Birawa sudah barang tentu tiada niat sama sekali untuk menghentikan perkelahian. Bahkan teriakan-teriakan Suci tadi mendorongnya untuk lebih cepat menamatkan riwayat Ranaweleng!

Dalam sekejapan saja kedua orang itu telah bertempur delapan jurus dan kelihatanlah dengan nyata betapa Ranaweleng terdesak dengan hebat. Pukulan-pukulan tangan kosong lawan mengurungnya dari berbagai jurusan. Dengan membentak keras serta mempercepat gerakannya dan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh, Ranaweleng berusaha keluar dari kurungan pukulan lawan. Namun percuma saja. Tubuh Mahesa Birawa laksana bayang­bayang. Bergerak cepat sekali. Dan pada jurus ke sepuluh satu hantaman sikut kiri yang keras sekali menyambar rusuk kanan Ranaweleng.

Ranaweleng merintih tertahan. Mukanya kelihatan pucat kebiruan. Dia tahu, sekurang­kurangnya dua dari tulang iganya telah patah dan tubuhnya di bagian dalam terluka hebat! Untuk beberapa lama dia berdiri limbung dengan pemandangan mata berkunang-kunang.

“Ha… ha…,” tertawa Mahesa Birawa. “Sebentar lagi Ranaweleng, sebentar lagi ajalmu akan sampai. Lebih bagus cepat-cepat kau minta tobat pada Tuhanmu sebelum mampus!”

Mulut Ranaweleng komat kamit. Rahang-rahangnya menggembung. Kedua tangannya terpentang ke muka. Dia siap-siap untuk melancarkan pukulan tangan kosong yang dahsyat. Di lain pihak Mahesa Birawa berdiri laksana tugu. Kedua kakinya tenggelam satu senti ke dalam tanah. Tenaga dalamnya dialirkan ke segenap bagian tubuh untuk menghadapi serangan lawan.

Tiba-tiba jeritan sedahsyat angin punting beliung keluar dari mulut Ranaweleng. Kedua tangannya bergerak susul menyusul dan gelombang Angin Panas menderu ke arah Mahesa Birawa. Yang di serang membentak dahsyat dan lompat tiga tombak ke udara. Begitu angin panas menggebubu di bawah kakinya, membakar hangus pohon-pohon di belakangnya, maka Mahesa Birawa segera menukik ke bawah laksana seekor elang.

Pukulan Angin Panas yang dilakukan oleh Ranaweleng membutuhkan pemusatan tenaga dan pikiran yang besar. Beberapa detik sesudah dia melancarkan pukulan tersebut, keadaan dirinya masih terbungkus oleh pemusatan pikiran itu sehingga pada saat lawannya menukik dari atas dia terlambat meneyingkir.

Untuk kedua kalinya Ranaweleng harus menerima hantaman lawan. Kali ini badannya hampir terjungkal ke tanah. Masih untung dia sempat menggulingkan diri kalau tidak pastilah tendangan kaki kanan Mahesa Birawa yang mengarah bawah perutnya menamatkan riwayatnya!

Begitu bangun, karena tahu bahwa dia tak akan sanggup menghadapi lawan dengan tangan kosong maka Ranaweleng segera cabut keris eluk tujuh dari balik pinggangnya!

Tapi betapa terkejutnya Ranaweleng ketika melihat ke muka. Mahesa Birawa berdiri dengan kedua kaki terpentang. Tangan kiri lurus-lurus ke muka, tangan kanan diangkat tingi­tinggi di belakang kepala dan tangan itu sudah menjadi hijau oleh racun ilmu pukulan Kelabang Hijau!

Suci yang telah melihat kedahsyatan pukulan Kelabang Hijau itu menjerti keras.

“Sura!! Jangan….! Hentikan perkelahian ini!”

Suranyali alias Mahesa Birawa sunggingkan senyum berbau maut. “Jika kau punya sepuluh senjata, keluarkanlah sekaligus Ranaweleng!” katanya mengejek.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.