Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 2)

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Gulungan surat itu dilemparkannya ke hadapan Ranaweleng. Karena lemparan itu disertai dengan aliran tenaga dalam maka surat tersebut melesat berdesing dan ujung kayu di mana surat itu disepit menancap pada tiang langkan!

Ranaweleng kaget. Ditekannya rasa kaget itu dan dicabutnya surat yang menancap dari tiang langkan lalu dibacanya. Kalingundil dan Saksoko memperhatikannya dengan bertolak pinggang.

Ranaweleng keparat!

Aku kasih tempo satu hari untukmu agar angkat kaki dari Jatiwalu ini! Bawa anakmu tapi tinggalkan istrimu! Ini adalah perintah! Kalau kau tidak patuhi, jangan harap kau bisa melihat matahari tenggelam esok hari! Ini adalah perintah!

Mahesa Birawa

Bergetar tubuh Ranaweleng. Dadanya panas dikobari luapan hawa amarah. Dia tak pernah kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu, bahkan juga tak pernah dengar nama atau riwayat manusia itu sebelumnya.

Matanya memandang melotot pada kedua tamunya. “Mahesa Birawa ini siapa?” tanya Ranaweleng.

Kalingundil meludah dahulu ke tanah sebelum menjawab. “Laki-laki yang kau rampas kekasihnya dan yang kini menjadi istrimu!”

Kaget Ranaweleng bukan alang kepalang. Belum dia sempat bicara Saksoko sudah mendahului. “Mahesa Birawa inginkan jawabanmu hari ini juga Ranaweleng!”

Kalingundil menyambungi, “Dan sebaiknya….. apa yang tertulis di surat itu kau ikuti saja.”

“Kalau tidak?,” tanya Ranaweleng menindih rasa geramnya.

Kalingundil tertawa mengekeh. Gigi-giginya kelihatan besar-besar dan coklat kehitaman.

Ranaweleng tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Diremasnya dan dipatah­patahkannya kayu penyepit surat lalu dilemparkannya ke kepala Kalingundil, tepat mengenai mulut yang sedang tertawa mengekeh itu!

“Bangsat rendah!” hardik Kalingundil. Dia meloncat ke muka. “Kau berani berlaku kurang ajar terhadapku, huh?!”

“Tak usah jual lagak di sini, setan!” balas menghardik Ranaweleng. “Kalian budak­budak sinting kembalilah kepada majikan kalian! Bilang sama itu manusia Mahesa Birawa agar lekas-lekas pergi mencari dukun untuk mengobati otaknya yang tidak waras!”

“Betul-betul anjing budak yang tidak tahu diri!” semprot Saksoko. Dari tadi dia memang sudah beringasan gara-gara si orang tua yang telah mempermainkan dan setengah menantangnya tadi. Sekali dia ayunkan langkah maka satu tendangan yang didahului oleh angin hebat melanda ke bawah perut Ranaweleng.

Melihat musuh yang inginkan jiwanya ini Ranaweleng menggeram dan kertakkan rahang. Dia berkelit ke samping dan hantamkan ujung sikunya ke tulang iga lawan. Saksoko bukan manusia yang baru belajar ilmu silat kemarin. Sambil melompat ke atas lututnya ditekuk dan disorongkan ke kepala lawan. Ranaweleng merunduk dan lompat ke samping. Sebelum dia berbalik untuk mengirimkan pukulan ke punggung lawan yang saat itu masih belum menginjak lantai langkan maka terdengarlah suara seseorang.

“Ah, Raden Ranaweleng, mengapa musti mengotori tangan terhadap kunyuk kesasar ini?! Biar aku si tua bangka Jarot Karsa yang kasih sedikit pelajaran sopan santun terhadapnya!”

Ternyata yang berkata itu adalah orang tua renta kurus kerempeng yang tadi mencabuti rumput di halaman, yang merupakan pembantu Kepala Kampung Jatiwalu.

Mendengar dirinya dimaki sebagai kunyuk kesasar maka marahlah Saksoko. Dia membalik dan menyerang orang tua itu kini dengan satu pukulan jarak jauh yang menimbulkan angin deras. Angin pukulan ini menyerang ke pusat jantung di dada Jarot Karsa. Dengan begitu Saksoko berkehendak untuk mencabut nyawa si orang tua detik itu juga!

Tapi Jarot Karsa ganda tertawa.

Sekali dia gerakkan tangan kanannya yang kurus maka setiup angin dahsyat memapaki serangan si gemuk pendek Saksoko. Angin pukulan Saksoko menyungsang balik menyerang Saksoko sendiri. Ditambah dengan dorongan angin pukulan si orang tua maka kedahsyatannya bukan olah-olah!

Tubuh Saksoko mencelat keluar langkan rumah sampai tiga tombak dan menggelinding di tanah. Dicobanya bangun kembali. Tapi tubuhnya itu segera rebah lagi setelah terlebih dahulu dari mulut Saksoko menyembur darah kental dan segar!

Kaget Kalingundil bukan kepalang. Mukanya hitam membesi. Laki-laki ini menerjang ke depan. Terjangan ini disertai dengan bentakan yang keras menggeledek membuat langkan rumah dan tanah menjadi bergetar!

Jarot Karsa merunduk cepat. Gerakannya ini disusul dengan cepat oleh Kalingundil. Serangkum angin keras dan dingin menyerang ke seluruh jalan darah di tubuh orang tua. Pasir menderu beterbangan, debu menggebu.

Jarot Karsa cepat-cepat dorongkan tangan kanannya ke muka. Maka dua angin pukulan bertemu di udara menimbulkan suara berdentum seperti letusan meriam! Tubuh Jarot Karsa kelihatan bergoyang gontai sedang Kalingundil terdampar ke tanah tapi cepat bangun lagi.

Keringat dingin memercik di kening anak buah Mahesa Birawa ini. Nyalinya menciut kecil. Tak nyana si orang tua memiliki kehebatan demikian rupa! Tak diduganya sama sekali kalau tenaga dalamnya ada di bawah angin berhadapan dengan tenaga dalam Jarot Karsa!

Tapi laki-laki ini, yang menjadi buta matanya dan tumpul pikirannya karena amarah dan kebencian yang meluap, tidak memikirkan lagi bahwa sesungguhnya si orang tua bukan tandingannya.

Kedua tangannya dipentang ke muak. Tangan itu kelihatan bergetar. Jarot Karsa dan juga Ranaweleng memperhatikan gerak gerik manusia itu dengan tajam. Kelihatan kini bagaimana sepasang lengan Kalingundil sampai ke jari-jari tangannya berwarna kehitaman.

“Ha… ha…” terdengar kekehan si tua Jarot Karsa, “Kau hendak pamerkan ilmu lengan tangan baja?!”

Kalingundil terkejut. Terkejut karena belum apa-apa musuh sudah mengetahui ilmu simpanan yang paling diandalkannya. Tapi ini tidak diperlihatkannya, bahkan dia pentang mulut.

“Bagus, penglihatanmu masih tajam juga, huh! Tapi tahukah kau kehebatan ilmu pukulan lengan tangan baja ini?!”

“Kau tak perlu banyak bacot, Kalingundil, majulah!” tantang Jarot Karsa.

Kalingundil menggeram. Kebetulan saat itu dia berdiri di dekat langkan rumah. Sekali ayunkan tangan kanannya maka: brak!! Tiang langkan yang besarnya hampir menyamai paha manusia patah. Atap rumah menurun miring!

Sebenarnya Jarot Karsa kagum juga dengan kehebatan ilmu lawannya itu. Tapi sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan masakan dia jerih menghadapi ilmu pukulan macam begitu saja!

“Ayo monyet kesasar, majulah!” katanya dengan terbungkuk-bungkuk.

Kedua telapakan kaki Kalingundil menjejak tanah. Tubuhnya melesat ke muka, sedikit miring. Kaki kiri dan kanan mengirimkan serangan berantai terlebih dahulu kemudian menyusul sepasang lengannya yang menghitam oleh aji ’lengan tangan baja.’ Angin yang ditimbulkan oleh serangan dua lengan ini dahsyatnya bukan alang kepalang, tajam dan memerihkan mata. Lengan kiri membabat ke pinggang Jarot Karsa, kalau kena pastilah pinggang orang tua itu akan terkutung dua. Lengan kanan menghantam dari atas ke bawah mengincar batok kepala Jarot Karsa. Dapat dibayangkan bagaimana dalam sekejapan mata lagi kepala si orang tua akan hancur berantakan!

Pekikan setinggi langit yang hampir merupakan lolongan serigala haus darah melengking menegakkan bulu roma! Kalingundil melingkar di tanah. Nafasnya sesak, lidahnya menjulur keluar seperti orang yang tercekik dan matanya melotot. Tubuhnya bergerak-gerak beberapa lamanya kemudian ketika darah menyembur dari mulutnya, tubuh itu pun tak bergerak-gerak lagi! Kalingundil pingsan menyusul kawannya yang terdahulu.

Ranaweleng menghela nafas dalam. Dipandanginya kedua manusia yang melingkar di tanah itu. Kemudian dia berpaling pada si orang tua. “Bapak Jarot Karasa, kau kenal dengan manusia yang bernama Mahesa Birawa itu?”

Jarot Karsa menggeleng.

“Siapa dia tak penting Raden. Yang penting ialah mulai saat ini kita musti waspada karena cepat atau lambat manusia itu pasti datang ke sini untuk membuat perhitungan dengan kita!”

Ranaweleng mengangguk.

“Aku tak ingin melihat kdua orang ini lebih lama di depan rumahku. Bereskan mereka, pak Jarot.”

Si orang tua tertawa mengekeh.

“Tak usah khawatir… tak usah khawatir. Aku akan sapu mereka dari depan hidungmu, Raden.”

Dua kali kaki kanan Jarot Karsa yang kurus kering itu menendang. Tubuh Kalingundil dan Saksoko mencelat seperti bola, dan angsrok di luar pagar halaman.

~ 3 ~

Kedua mata Mahesa Birawa alias Suranyali yang menutup dalam tidur-tidur ayam membuka lebar-lebar bila telinganya menangkap suara derap kaki kuda yang memasuki pekarangan. Dia bangun dan melangkah cepat ke pintu muka. Dan matanya yang tadi membuka lebar itu kini tampak membeliak. Setengah meloncat dia turun ke tanah.

“Ada apa dengan kalian?!” tanya Mahesa Birawa. Pertanyaan ini hampir merupakan teriakan.

Kedua kuda itu berhenti. Penunggangnya, Kalingundil dan Saksoko turun perlahan­lahan. Pakaian mereka kotor oleh darah dan debu. Muka keduanya pucat pasi. Melihat ini Mahesa Birawa segera maklum bahwa kedua anak buahnya itu mendapat luka dalam yang parah.

Kalingundil berdiri terbungkuk-bungkuk sambil mengurut dada. Pemandangannya masih berkunang-kunang. Saksoko begitu menginjakkan kedua kakinya di tanah segera tergelimpang, muntah darah lagi lalu pingsan!

Mahesa Birawa melompat dan cepat menubruk Saksoko. Dari dalam sabuknya dikeluarkannya sebutir pil dan dimasukkannya ke dalam mulut Saksoko. Sebutir lagi kemudian diberikannya pada Kalingundil.

“Telan cepat!,” katanya. “Kalau sudah, lekas atur jalan nafas dan darahmu!”

Kalingundil menelan pil yang diberikan lalu cepat-cepat duduk bersila di tanah untuk mengatur jalan nafas dan darahnya. Tak lupa dia mengalirkan tenaga dalamnya ke bagian tubuh yang tadi kena terpukul.

Satu jam kemudian keadaan Kalingundil boleh dikatakan siuman meski masih berbaring menelentang di atas sebuah tempat tidur.

“Sekarang!” kata Mahesa Birawa sangat tidak sabar dan sambil menggeprak meja, “terangkan apa yang terjadi Kalingundil!”

Kalingundil tarik nafas panjang. Diurutnya dadanya beberapa kali lalu mulailah dia memberi keterangan. Dan bila Mahesa Birawa selesai mendengar keterangan itu maka mendidih darah di kepalanya. Mukanya hitam membesi. Kumisnya yang tebal melintang bergetar. Matanya yang memang sudah besar itu dalam keadaan melotot seperti mau tanggal dari rongganya!

“Kalingundil! Siapkan kudaku! Panggil Majineng dan Krocoweti. Kalian bertiga ikut aku ke tempatnya itu manusia haram jadah! Lekas…!”

Kalingundil tanpa banyak bicara tinggalkan tempat itu. Tak lama kemudian kelihatanlah empat orang penunggang kuda menderu laksana terbang. Debu mengepul, pasir berhamparan. Mahesa Birawa memacu kudanya di muka sekali.

Orang tua bernama Jarot Karsa itu mengusap dagunya. Tanpa berpaling pada Ranaweleng yang berdiri di sampingnya dengan mata yang memandang tajam ke muka dia berkata, “Dugaan kita tidak salah, Raden. Mereka datang. Agaknya yang di depan sendiri itu adalah manusia yang bernama Mahesa Birawa…..”

Ranaweleng memandang pula ke muka. Hatinya mengeluh. Inilah pertama selama menjadi Kepala Kampung dia menghadapi kesukaran dan kekerasan macam begini! Bahkan dia tadi belum sempat menyelesaikan pembicarannya dengan Suci ketika Jarot Karsa memanggilnya, memberi tahu kedatangan empat penunggang kuda itu.

Ketika Mahesa Birawa sampai di halaman, Suci pun saat itu sudah berdiri di belakang suaminya. Mahesa Birawa hentikan kudanya. Sorotan matanya seganas kelaparan tertuju pada Ranaweleng. Di belakangnya Kalingundil memberikan kisikan.

“Laki-laki tua yang berdiri di dekat tiang itulah bangsatnya yang telah mencelakai aku dan Saksoko. Hati-hati terhadap dia, Mahesa. Ilmunya tinggi sekali…”

“Kau manusia kintel tutup mulut! Tak usah kasih nasihat padaku!” membentak Mahesa Birawa.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 3)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.