Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 15)

  Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Wiro meletakkan kulit pisang di tepi meja. “Siang tadi, Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu telah mengeroyok seorang gadis belia berparas cantik. Bahkan gadis itu hendak mereka perkosa beramai-ramai. Mungkin bapak tahu pangkal sebab sampai hal itu terjadi…? mungkin juga kenal dengan gadis itu?”

“Gadis itu berpakaian biru…?”

“Betul.”

Si orang tua hela nafas. “Sebenarnya sudah berkali-kali Bergola Wungu tanya padaku apakah ada seorang lain yang tinggal di rumah Kalingundil. Aku jawab tidak tahu. Aku tak ingin susah anak muda. Kalau kukatakan ada dan Kalingundil mengetahuinya, pastilah leherku akan jadi umpan pedang Kalingundil dan gadis itu adalah anak Kalingundil sendiri!”

Kini jelaslah bagi Wiro Sableng mengapa demikian besar tekat Bergola Wungu untuk membunuh si gadis baju biru itu.

“Kalingundil yang bikin kejahatan, anaknya yang musti ikut tanggung akibat…” desis orang tua pemilik kedai.

Wiro manggutkan kepala. “Dendam kesumat laksana besi tua seribu karat kadang kala tidak mengenal pembalasan yang wajar…” katanya. “Kadang kadang itu adalah merupakan hukum karma bagi seseorang yang pernah melakukan perbuatan terkutuk!”

“Kata-katamu beul, anak muda….” kata orang tua itu pula. Lalu diangsurkannya mukanya dekat-dekat ke muka Wiro Sableng. “Waktu Bergola Wungu tahu bahwa kau telah mendustainya, habis mukaku ini ditempelaknya…!”

“Itu salahmu sendiri,” kata Wiro seenaknya. “Siapa suruh kau yang tua bangka masih mau berdusta!”

Orang tua itu jadi menggerendeng dan memaki panjang pendek dalam hatinya. Dan dia memaki lagi untuk kedua kalinya ketika didengarnya Wiro berkata, “Minta tehnya, Pak.”

Sementara si orang tua membuatkan segelas teh manis untuknya, Wiro Sableng tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak diduganya kalau gadis berbaju biru yang menarik perhatiannya itu adalah anak Kalingundil. Anak buah Mahesa Birawa yang telah membunuh kedua orang tuanya.

Ketika si orang tua datang membawakan teh bertanyalah Wiro Sableng, “Bapak tahu nama anak perempuan Kalingundil itu?”

“Nilamsuri. Nama bagus, orangnya juga cantik, tapi sayang bapaknya manusia terkutuk!”

“Sewaktu Mahesa Birawa melakukan pembunuhan atas diri Ranaweleng, apakah Kalingundil juga ikut-ikutan?” tanya Wiro lagi.

“Bukan hanya Kalingundil, tapi semua anak buahnya,” menyahuti si orang tua.

Wiro hendak bertanya lagi tapi mulutnya terkatup kembali karena di luar terdengar suara gemuruh derap kaki kuda. Empat penunggang kuda lewat di muka kedai dengan cepat. Mereka bukanlah Empat Berewok dari Goa Sanggreng. Dan ketika Wiro Sableng berpaling pada orang tua pemilik kedai, orang tua ini tarik nafas panjang dan berkata, “Kalingundil dan anak-anak buahnya… pasti akan segera terjadi bentrokan dengan Bergola Wungu…”

“Menurutmu… siapa yang bakal menang di antara mereka?” tanya Wiro.

Orang tua itu angkat bahu. “Aku tidak mengharapkan siapapun di antara mereka akan menang! Kalau dapat biarlah Gusti Allah membuat mereka mampus semua. Kalingundil dan Bergola Wungu tiada beda bagiku! Sama-sama jahat! Sama-sama tidak bayar kalau makan apa-apa di sini!”

Wiro Sableng tertawa. Diteguknya teh manis dalam gelas kaca itu. Lalu dia berdiri. “Meski hari ini aku tidak bayar harga pisang dan teh manis itu, tapi jangan samakan aku dengan Bergola Wungu atau Kalingundil…” Habis berkata demikian Wiro segera tinggalkan kedai.

Si orang tua mengangkat gelas bekas minuman pemuda itu. Tapi sesuatu menarik perhatian matanya yang sudah agak mengabur itu. Pada kaca gelas dilihatnya sederetan angka. Diperhatikannya lebih dekat. Tidak salah, itu memang deretan angka 212. Tak habis mengerti orang tua ini bagaimana angka ini bisa tertera di sana. Disekanya dengan ujung pakaiannya. Disekanya lagi… lagi… Tapi angka 212 itu tetap saja tidak mau pupus!

“Ah…. semakin tua umur dunia ini semakin banyak terjadi keanehan….” katanya dalam hati.

~ 17 ~

Dari jauh telah terdengar suara beradunya senjata serta bentakan-bentakan hebat. Wiro Sableng percepat jalannya. Dan bila dia sampai di halaman rumah yang agak kegelapan itu maka dilihatnyalah bagaimana halaman rumah itu kini berubah menjadi sebuah medan pertempuran. Enam manusia, sepasang demi sepasang tangah bertempur hebat dan cepat. Di tangga rumah besar dilihatnya berdiri Nilamsuri.

Di bawah tangga, dengan bersedekap tangan berdiri seorang laki-laki berbadan tinggi langsing. Wiro tak pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi dia yakin betul bahwa manusia ini pastilah Kalingundil.

Di ujung halaman sebelah kiri berdiri pula Bergola Wungu. Sebagaimana dua orang yang terdahulu sepasang matanya memandang ke tengah halaman, memperhatikan jalannya pertempuran.

Tiga orang anak buah Kalingundil yaitu Saksoko, Majineng dan Krocoweti sebenarnya bukan orang-orang yang berilmu rendah. Permainan golok mereka cukup lihai. Tapi menghadapi anak-anak buah Bergola Wungu yaitu Ketut Ireng, Seta Inging, dan Pitala Kuning merak kalah gesit. Dalam sembilan jurus Krocoweti terpaksa pasrahkan nyawa dilanda ruyung berduri Pitala Kuning! Krocoweti menggeletak di tanah dengan dada melesak!

Tiga jurus kemudian menyusul Majineng. Lehernya hampir kutung terbabat kelewang Seta Inging. Pertempuran yang agak lama berlangsung ialah antara Ketut Ireng dan Saksoko. Kedua orang ini mempunyai tingkat kepandaian yang sama dan sama-sama bersenjatakan golok. Namun oleh kemenangan kedua kawannya Ketut Ireng mendapat semangat dan nyali besar. Lima jurus di muka sambaran goloknya tiada tertahankan. Akhirnya Saksoko yang berbadan gemuk pendek itu menjerit mengerikan ketika perutnya yang buncit terbabat ujung golok! Ususnya membusai dan menjela-jela di tanah!

Rahang-rahang Kalingundil kelihatan mengatup rapat dan bertonjolan. Kedua kakinya terpentang. Saat itu karena gelap tak seorangpun yang melihat bagaimana kedua lengan Kalingundil menjadi hitam sampai ke jari-jari tangannya. Didahului dengan suara bentakan yang bukan saja dahsyatnya menggetarkan dada tapi juga menggetarkan tanah maka melompatlah Kalingundil ke tengah halaman di mana tiga anak buah Bergola Wungu berada. Tujuh belas tahun yang lampau kehebatan pukulan lengan baja itu sudah mengagumkan. Dan kini dapat dibayangkan bagaimana keampuhannya!

Tiga pekik kematian merobek kegelapan malam! Ketut Ireng, Seta Inging dan Pitala Kuning terlempar sampai lima-enam tombak dan menggeletak di tanah tanpa nyawa!

Bergola Wungu saksikan kematian yang mengenaskan ketiga muridnya itu dengan tubuh bergetar.

“Bergola Wungu! Kau tunggu apa lagi! Majulah jika kau benar-benar ingin membalaskan dendam kesumat seribu karat!”

Meski bagaimana kobaran amarahnya namun Bergola Wungu menyahuti, “Jangan bicara terlalu keren, keparat! Aku masih berbaik hati untuk membiarkan kau bernafas beberapa jam lagi! Aku Bergola Wungu menunggu kau besok pagi waktu matahari terbit di pekuburan Jatiwalu! Aku ingin nyawamu terbang ke neraka disaksikan makam ayah­bundaku!”

Habis berkata demikian, Bergola Wungu putar tubuh. Tapi saat itu Kalingundil sudah menyerbunya dengan kedua tangan terpentang!

Bergola Wungu yang tahu kehebatan lengan baja itu tak berani menyambuti. Dia berkelit ke samping dan lambaikan tangan kanannya. Serangkum angin menyambar ke dada Kalingundil. Kalingundil melompat ke samping dan hantamkan lengannya kembali. Tapi ini juga dapat dielakkan Bergola Wungu. Dalam sebentar saja kedua orang ini sudah terlibat dalam tiga jurus. Memasuki jurus keempat tiba-tiba dari bagian yang gelap di bawah pohon mempelam terdengar suara memaki.

“Kalingundil edan! Orang sudah kasih kesempatan untuk bertempur besok pagi masih saja beringasan! Gelo betul!”

Kalingundil keluar dari kalangan pertempuran. Segera dia hantamkan lengannya ke jurusan datangnya suara.

“Jangan memaki saja kunyuk! Keluarlah unjukkan diri!”

Angin dahsyat melanda ke tempat gelap, menghantam pohon mempelam sampai pohon itu tumbang. Tapi orang yang memaki sudah kabur. Dan ketika menoleh ke samping, Bergola Wungu pun sudah lenyap!

Akan Nilamsuri begitu mengenali suara yang memaki tadi tanpa tunggu lebih lama dia segara mengejar ke tempat gelap. Beberapa puluh meter kemudian, di pinggiran kampung dekat pematang sawah, orang yang dikejar tahu kalau dirinya dikuntit. Dengan pergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah sampai ke puncak yang sangat tinggi dia melompat ke satu cabang pohon dan menunggu.

Nyatanya yang mengejar adalah si gadis baju biru itu. Segera dia lompat turun kembali.

“Kita berjumpa lagi, Nilamsuri…”

“Eh, dari mana kau tahu namaku?” gadis itu tanya dengan heran.

Wiro Sableng tertawa dan menjawab, “Terlalu banyak manusia tempat bertanya. Terlalu banyak mulut yang bisa kasih keterangan! Ada apa kau mengejar aku?!”

“Ada apa kau ikut campur urusan ayahku?!” balik menanya Nilamsuri.

Wiro Sableng melangkah mendekati gadis itu. Matanya yang memandang tajam membuat hati si gadis menjadi berdebar. Wiro semakin mendekat juga. Nilamsuri menyurut mundur namun badannya tertahan oleh batang pohon.

“Ayahmu Kalingundil, bukan….?” desisnya.

Gadis itu mengangguk.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.