Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 14)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Murid Sinto Gendeng memaki dalam hati, “Sialan! Sudah ditolong malah menuduh yang bukan-bukan!”

Tapi di hadapan si gadis itu pemuda itu masih sunggingkan senyum. “Kuharap kau jangan punya pikiran yang tidak-tidak terhadapku saudari…”

“Lalu perlu apa kau menotok aku?!”

Wiro garuk-garuk kepalanya. Dia tak ingin Nilamsuri tahu siapa dia sebenarnya. Karena itu dia menjawab dusta. “Kau ingat bagaimana kau begitu kalap untuk bertempur melawan Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu?!”

“Ya, lalu?!”

“Dengar saudari, aku hanya paham sedikti ilmu totokan. Karena aku tahu kau tak bakal sanggup menghadapi mereka, aku lantas totok kau punya urat besar lalu sembunyi dibalik rumpun bambu. Ketika mereka pergi kubawa kau kembali ke sini dan kulepaskan totokan di lehermu.”

“Aku tak percaya….!” kata Nilamsuri.

“Aku memang tidak suruh kau percaya untuk mempercayainya,” menyahuti Wiro Sableng.

“Kai ini siapa sebenarnya?!”

“Heh…” Wiro Sableng hela nafas panjang. “Bukankah aku sudah kasih tahu nama? Malah kau sendiri masih rahasiakan kau punya nama!”

Nilamsuri dalam kesalnya tambah tak percaya. Terlintas dalam pikirannya untuk menjajal si pemuda.

“Baik,” katanya, “jika kau tidak mau kasih keterangan, biar pedangku ini yang memintanya!”

Habis berkata demikian maka gadis ini segera kirimkan satu tusukan hebat ke dada Wiro Sableng!

Wiro terkejut dan gerabak gerubuk lompat ke samping.

“Saudari! Apa-apaan ini? Kenapa kau serang aku?!”

Sebagai jawaban Nilamsuri kirimkan serangan berantai. Pedangnya menderu kian kemari membuat Wiro tak bisa ayal lagi dan terpaksa berlompatan dengan cepat.

“Sekarang kau tak bisa sembunyikan diri lagi saudara!” kata Nilamsuri. “Terima jurus elang menyambar burung dara ini!”

Pedang di tangan Nilamsuri menderu dari samping kiri ke bahu Wiro. Ketika pemuda ini berkelit, ujung pedang dengan sangat tiba-tiba menusuk ke rusuk laksana patukan burung elang!

Wiro lambaikan tangan kiri, angin keras membentur badan pedang, menyimpangkan senjata itu dari sasarannya!

“Saudari!” seru Wiro Sableng, “sayang aku ada urusan lain. Sampai jumpa lagi!” Habis berkata demikian pemuda ini melompat ke muka, mencuil dagu si gadis lalu berkelebat.

“Pemuda kurang ajar!” maki Nilamsuri. Disabetkannya pedangnya dengan sekuat tenaga. Tapi Wiro Sableng sudah lenyap dari hadapannya. Hanya suara tertawanya yang masih sempat terdengar di kejauhan. Gadis itu berdiri termangu. Parasnya yang cantik kelihatan kemerahan. Pemuda itu benar-benar ceriwis sekali!

Tapi kini dia sudah tahu bahwa pemuda itu sama sekali bukan bodoh dan berotak miring. Sama sekali tidak buta dalam ilmu silat! Tadi dia telah menyerang dengan jurus-jurus ilmu pedangnya yang lihay dan si pemuda berhasil mengelakkan bahkan memukul badan pedang dengan pukulan tangan kosong yang menimbulkan angin keras!

Meski hatinya marah sekali dengan keceriwisan pemuda itu tapi rasa senang dan kagumnya tak dapat disembunyikannya. Sekelumit senyum memberkas di bibirnya ketika dia mengusap dagunya yang tadi dicuil oleh Wiro Sableng.

****

Kedai itu sepi saja.

Angin malam bertiup dingin dari lembah. Wiro Sableng masuk ke dalam seenaknya dan sambil bersiul-siul.

Orang tua pemilik kedai menyambuti dengan muka pucat cemas.

“Orang muda,” katanya, “sebaiknya kau lekas-lekas tinggalkan tempat ini!”

“Memang kenapa?” tanyanya.

“Sebentar lagi mungkin empat manusia berewok itu akan kembali ke sini…”

“Siapa takutkan mereka!” ujar Wiro.

“Tapi anak muda, kau mungkin belum tahu siapa mereka itu.”

“Perduli amat siapa mereka,” kata Wiro pula sambil duduk di kursi.

Dan pemilik kedai itu berkata lagi, “Mereka adalah rampok-rampok yang ditakuti di sungai Cimandilu! Mereka adalah Empat Berewok dari Goa Sanggreng!”

“Biar mereka adalah Empat Setan dari Neraka, aku tetap tak perduli!”

Pemilik kedai jadi terdiam. Siang tadi dia memang telah menyaksikan bagaimana pemuda itu menyumpal mulut Empat Berewok dari Goa Sanggreng dengan pisang. Maka bertanyalah dia, “Orang muda, kau ini siapa sebenarnya dan datang dari mana?”

Wiro usap-usap dagunya yang licin. Ini mengingatkannya pada dagu Nilamsuri yang dicuilnya dan pemuda ini senyum-senyum sendiri. Si orang tua diam-diam mulai meragukan apakah anak muda ini berotak sehat!

“Bapak sudah lama tinggal di sini?” tanya Wiro.

“Sejak masih orok…”

“Hem… kalau begitu tentu kenal dengna nama Ranaweleng…”

“Oh tentu… tentu sekali. Beliau adalah Kepala Kampung yang baik. Cuma sayang…”

“Sayang kenapa…?”

Orang tua itu tak segera menjawab. Dia memandang keluar kedai seperti mau menembusi kegelapan malam, seperti tengah mengenangkan sesuatu.

“Beliau sudah meninggal…” katanya kemudian menambahkan.

Wiro Sableng menelan ludahnya.

“Bapak tahu siapa yang membunuhnya…?”

Pertanyaan ini membuat si orang tua memandang lekat-lekat pada paras Wiro Sableng. “Semua orang tahu…,” katanya. Kemudian dituturkannya peristiwa kematian Ranaweleng dan Suci Bantari sekitar tujuh belas tahun yang lewat. Kisah ini sudah didengar sejelasnya oleh Wiro Sableng dari gurunya Eyang Sinto Gendeng.

“Ada satu keanehan dalam peristiwa tujuh belas tahun yang lalu itu,” kata si pemilik kedai.

“Keanehan bagaimana?” tanya Wiro ingin tahu.

“Waktu itu Mahesa Birawa dan anak-anak buahnya membakar rumah mendiang Ranaweleng. Dalam kobaran api yang tiada terkirakan besarnya terdengar suara tangisan orok! Itu adalah oroknya Ranaweleng sendiri! Orang banayak sangat kebingungan. Bagaimana mungkin menyelamatkan bayi dalam kobaran api itu?

Pada saat yang sangat tegang itu semua orang melihat berkelebatnya bayangan hitam. Sangat cepat sekali bayangan hitam itu menyerbu ke dalam kobaran api lalu lenyap. Dan suara tangisan oroknya Ranaweleng juga hilang! Sewaktu api padam semua orang mencari. Tapi tak ditemui tulang belulang orok itu…”

Wiro Sableng termanggu-manggu. Dia tahu betul, orok yang diceritakan orang tua itu adalah dirinya sendiri dan berkelebatnya bayangan hitam adalah kelebat bayangan gurunya Eyang Sinto Gendeng!

“Sampai sekarang tidak pernah diketahui dimana anak Ranaweleng itu?” bertanya Wiro.

Si orang tua angkat bahu. “Kalau dia masih hidup kira-kira sebesar kaulah, anak muda,” katanya.

“Mahesa Birawa sendiri… apakah masih hidup?”

“Masih… sampai dua tahun belakangan ini dia masih tinggal di sini. Tapi sekarang entah dimana. Tapi ada atau tidaknya dia di sini, sama saja. Empat orang anak buahnya sama saja jahat dan kejamnya dan keempatnya malang melintang di kampung ini. Kalau makan tak pernah bayar!”

“Apakah mereka itu Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu?” tanya Wiro.

“Bukan… bukan! Justru Empat Berewok dari Goa Sanggreng ini sengaja datang dari jauh bikin perhitungan dengan anak buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini! Dan Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu bukanlah manusia baik. Mereka rampok-rampok yang tak kalah kejam dan terkutuknya dengan anak-anak buah Mahesa Birawa! Tapi ketika mereka datang anak-anak buah Mahesa Birawa tak ada di sini. Kebetulan keluar… sudah empat hari dengan hari ini…”

Wiro mengulurkan tangannya memotes sebuah pisang yang tergantung.

“Eee… apakah kau punya uang untuk membayar pisang itu, anak muda?” tanya si pemilik kedai.

Wiro tertawa, “Hutang dulu toh tak apa-apa…” sahutnya.

Si orang tua mengeluh dalam hati. Berarti tambah satu lagi “langganan”nya yang makan tanpa bayar!

Sambil mengunyah pisangnya Wiro Sableng bertanya, “Urusan apakah yang dibawa oleh Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu ke sini?”

Si orang tua memandang lagi ke luar kedai. Lalu katanya, “Perlu kau ketahui… pemimpin Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu, yang kini memakai nama Bergola Wungu, dulunya adalah penduduk kampung Jatiwalu ini! Anak-anak buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini kemudian membunuh ayahnya, juga ibunya, merusak kehormatan perempuan itu serta saudara-saudara perempuannya. Bergola Wungu sempat melarikan diri. Ketika dia kembali ke sini ternyata dia sudah jadi seorang yang tak kalah jahatnya dengan anak-anak buah Mahesa Birawa!”

Lama Wiro Sableng terdiam. Tiba-tiba dia ingat satu nama yang diucapkan Nilamsuri.
“Kenal dengan seorang yang bernama Kalingundil?”

Kulit kening pemilik kedai itu mengkerut.

“Adalah lucu kalau pertanyaan itu kau ajukan saat ini, anak muda?” katanya.

“Kenapa…?”

“Karena Kalingundil adalah anak buah Mahesa Birawa yang bercokol di sini dan yang bertindak sebagai pemimpin dari tiga kawan-kawan lainnya!”

Tentu saja Wiro Sableng terkejut mendengar keterangan ini. Tapi rasa terkejutnya disembunyikannya. Dan dia berpikir-pikir, mengapa gadis itu di pekuburan siang tadi menanyakan apakah kedua orang tuanya dibunuh oleh manusia bernama Kalingundil itu?

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.