Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 13)

  Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Tendangan yang dilancarkan Ketut Ireng hanya menggunakan tenaga kasar atau tenaga luar karena dia sama sekali tidak menduga siapa adanya pemuda berambut gondrong itu. Dan akibatnya dari tendangan itu menimpa dirinya sendiri. Kaki kanannya sampai ke betis kelihatan menjadi gembung dan kehitaman. Ketut Ireng menelungkup di atas punggung kuda dan melolong kesakitan.

Kaget Bergola Wungu dan dua orang lainnya bukan olah-olah.

“Sreet”!!

Pemimpin Empat Berewok dari Goa Sanggreng ini segera cabut golok panjangnya. Seta Inging cabut senjatanya yang berupa kelewang sedang Pitala Kuning keluarkan ruyung berdurinya!

“Bocah haram jadah! Siapa kau!?!” bentak Bergola Wungu seraya melintangkan golok di depan dada.

“Aku peringatkan pada kalian,” sahut Wiro Sableng dengan suara datar sedang mulutnya menyunggingkan seringai, “aku tidak ada permusuhan dengan kalian. Sebaiknya tinggalkan tempat ini dengan aman!”

“Keparat betul, “ kertak Pitala Kuning. “Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa saat ini?!”

“Aku tidak perduli siapa kalian! Tinggalkan tempat ini kalau tidak mau susah!”

“Sebaiknya kau berlutut dan minta ampun dihadapan kami, bocah gila!”

“Aku bilang tinggalkan tempat ini, apa kalian tuli semua masih pentang bacot?!”

Mendidihlah darah di kepala Bergola Wungu.

~ 15 ~

Sebagai pendekar yang baru turun gunung dan cemplungkan diri dalam dunia persilatan tentu saja Wiro Sableng buta pengalaman dalam pertempuran. Tapi selama tujuh belas tahun digembleng oleh Eyang Sinto Gendeng maka serangan-serangan yang dahsyat itu sama sekali tidak membuat pendekar muda ini menjadi gugup.

Eyang Sinto Gendeng talah menggemblengnya bukan hanya sekedar memberi pelajaran ilmu silat luar dalam dan melatihnya belaka, tapi latihan-latihan perempuan sakti itu tak ada bedanya dengan pertempuran dahsyat yang benar-benar bisa mencelakakan Wiro sendiri.

Ketika tiga serangan itu datang ke arahnya, Wiro Sableng segera sambar pinggang Nilamsuri. Secepat kilat kemudian dia jatuhkan diri dan sambil berteriak hebat pemuda ini hantamkan tinju kanannya ke kaki seekor kuda lawan yang hampir menendang batok kepala Nilamsuri. Kuda itu meringkik keras dan rubuh karena kakinya itu hancur. Penunggangnya yaitu si mata jereng Pitala Kuning terlempar ke tanah tapi dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh berhasil jatuh dengan kedua kaki menginjak tanah.

Sementara golok panjang Bergola Wungu dan kelewang Seta Inging beradu keras di udara memercikkan bunga api maka sambil bergulingan di tanah, Wiro Sableng tak lupa hantamkan kaki kiri kanannya pada kaki-kaki kuda kedua manusia berewok itu.

Seperti dengan kuda Pitala Kuning tadi maka kedua binatang inipun melemparkan Bergola Wungu dan Seta Inging. Wiro Sableng menyandarkan Nilamsuri pada sebatang pohon dan cepat bersiap-siap ketika dilihatnya tiga manusia berewok itu mendatanginya. Akan Ketut Ireng tak masuk hitungan karena saat itu dia duduk menjelepok di tanah merintih karena kaki kanannya yang hitam gembung dan sakitnya bukan main!

“Aku peringatkan pada kalian untuk penghabisan kali!” kata Wiro Sableng, “Tinggalkan tempat ini!”

“Jangan omong besar bangsat ingusan!” bentak Bergola Wungu dengan sangat geram. “Sebut kau punya nama agar golokku ini tidak penasaran menebas batang lehermu!”

Wiro Sableng mengeluarkan suara bersiul lalu garuk-garuk kepala dan tertawa gelak­gelak. Kemudian menyanyilah murid Eyang Sinto Gendeng ini.

Anak kecil bodoh namanya biang bodoh,
Tua bangka bodoh namanya biang bodoh,
Monyet ingin jadi manusia,
Kenapa manusia piara berewok,
Apa mau jadi monyet….
Tolol, bodoh, bego, geblek!

Marahlah Bergola Wungu mendengar tembang yang kata-katanya ditujukan kepadanya sebagai ejekan itu.

“Bocah gila!” bentaknya, “ terima ujung golokku ini!”

Dengan pergunakan jurus “burung bangau mematuk kodok,” Bergola Wungu tusukkan golok panjangnya ke arah tenggorokan Wiro Sableng. Pendekar Gunung Gede ini segera meringankan badan. Ujung golok hanya lewat setengah jengkal disamping lehernya. Wiro tertawa mengejek.

Panas pemimpin Empat Berewok dari Gua Sanggreng ini tidak terkirakan. Baru hari ini ilmu golok yang sangat dibanggakannya itu dikelit dengan demikian mudah bahkan sambil tertawa mengejek dan menantang!

Dengan kertakkan rahang Bergola Wungu balikkan mata pedang dan babatkan senjata itu. Kali ini maksudnya untuk menebas batang leher si pemuda.

Kedua kaki Wiro Sableng bergerak sedikit, tangan kirinya menepis lengan yang memegang golok sedang telapak tangan kanan dihantamkan ke dada Bergola Wungu!

Kepala rampok Empat Berewok dari Goa Sanggreng itu mengeluarkan jerit tertahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang hampir jatuh duduk di tanah. Ketika dia memandang ke dadanya yang dihantam telapak tangan lawan, parasnya dengan serta merta menjadi pucat!

Baju hitamnya robek hangus. Pada kulit dada yang tadi kena dihantam terlukis memutih telapak tangan dan jari-jari tangan Wiro Sableng! Pada tengah-tengah lukisan itu tertera angka hitam 212. Dan sakitnya dada yang bertanda telapak tangan kanan berikut angka 212 itu bukan olah-olah. Meski Bergola Wungu sudah alirkan seluruh tenaga dalamnya, rasa sakit itu hanya sedikit saja berhasil dikuranginya!

Pitala Kuning dan Seta Inging tidak kurang pula pucat tampang-tampang mereka melihat apa yang terjadi dengan pemimpin mereka. Tidak dinyana pemuda belia berparas macam anak-anak itu lihay sekali. Apa arti angka 212 yang membekas hitam di kulit Bergola Wungu itu?

Pukulan “telapak 212” yang dilancarkan oleh Wiro Sableng tadi itu hanya mempergunakan seperlima bagian saja dari tenaga dalamnya! Kalau saja pendekar muda ini pergunakan setengah saja bagian dari seluruh tenaga dalamnya maka pastilah Bergola Wungu akan meregang nyawa dengan dada remuk!

Luapan amarah Bergola Wungu membuat pemimpin rampok yang malang melintang di sungai Cimandilu ini lupakan kenyataan bahwa pemuda yang dicapnya sebagai “pemuda gila” “bocah ingusan” itu sesungguhnya bukanlah tandingannya!

Bergola Wungu majukan kaki kanan dan surutkan kaki kiri. Golok panjang dipegang lurus ke muka.

“Bocah sedeng! Kau telah bikin cacad dadaku! Aku Bergola Wungu akan berbaik hati untuk membalasnya! Kau tahu jurus apa yang bakal aku lancarakan ini?!”

Pendekar kapak maut naga geni menjawab dengan tertawa bergelak sambil garuk­garuk kepalanya yang berambut gondrong.

“Lucu!” kata Wiro Sableng pula. “Bertempur ya bertempur. Kenapa musti pakai pidato segala!”

Bergola Wungu merasa tubuhnya seperti terbakar oleh kobaran amarahnya yang menggelegak. “Kau boleh tertawa dan mengejek sepuas hatimu bocah gila! Bila golokku berkiblat dalam jurus: merobek langit, kau akan tahu rasa nanti!”

Adapun jurus ilmu golok yang disebut “merobek langit” itu adalah jurus yang telah dipergunakan oleh Bergola Wungu untuk “menelanjangi” tubuh Nilamsuri yaitu dengan merobek-robek pakaian gadis itu dengan ujung goloknya.

“Jurus merobek langit memang hebat kedengarannya!” kata Wiro Sableng. “Tapi coba buktikan. Jangan-jangan cuma jurus kosong belaka!”

Tanpa banyak bicara Bergola Wungu segera putar goloknya dengan sebat. Angin menderu dahsyat keluar dari sambaran golok. Demikian hebatnya seakan-akan golok itu berubah menjadi ratusan banyaknya! Dalam sekejapan mata saja tubuh Wiro Sableng sudah terbungkus gulungan golok!

Yang anehnya, diserang hebat demikian rupa tidak serambutpun Wiro Sableng bergerak. Dan lebih aneh lagi adalah karena golok Bergola Wungu sama sekali tidak dapat mendekati bagian tubuh manapun dari Wiro Sableng! Manusia berewok ini mencak-mencak sendirian macam monyet terbakar ekor! Seta Inging dan Pitala Kuning yang saksikan kejadian itu mau tak mau jadi leletkan lidah!

Demikianlah hebatnya ilmu “benteng topan melanda samudra” yang dikeluarkan Wiro Sableng sehingga setiap sambaran tusukan dan sabetan golok sama sekali tidak dapat mengenai tubuh Wiro Sableng. Tubuh golok dilanda terus-terusan oleh gulungan angin dahsyat yang membungkus tubuh murid Sinto Gendeng itu!

Bergola Wungu membentak keras dan percepat permainan goloknya. Tapi sampai dua puluh jurus dimuka tetap saja goloknya tak dapat membentur sasarannya di tubuh Wiro! Pakaian dan tubuhnya sudah mandi keringat. Pegangan pada hulu golok sudah licin. Keletihan membuat gerakannya mulai menjadi lamban!

“Seta Inging! Pitala Kuning! Jangan jadi patung! Bantu aku!” teriak Bergola Wungu dengan sangat beringas.

Mendengar perintah ini Pitala Kuning dan Seta Inging segera menyerbu dengan senjata di tangan. Sebatang golok panjang, sebuah ruyung berduri dan sebuah kelewang dengan dahsyatnya menyambar-nyambar ke tubuh Wiro Sableng. Tapi ilmu “benteng topan melanda samudera” membuat ketiga senjata itu tak ada arti sama sekali.

Wiro Sableng tertawa bergelak. Tawa gelak yang disertai tenaga dalam ini menambah hebat perbawa ilmu “benteng topan melanda samudera!”

Sepuluh jurus berlalu.

“Ciaatt!!” tiba tiba pendekar kapak maut Naga Geni membentak keras. Tiga manusia berewok keluarkan seruan tertahan dan lompat dari kalangan pertempuran. Mata mereka melotot besar memandang ke tangan Wiro Sableng yang saat itu telah merampas dan menggenggam senjata mereka!! Ketut Ireng yang duduk menjelepok merintih kesakitan, juga tak ketinggalan terbeliak dan terlongong-longong!

Nama Empat Berewok dari Goa Sanggreng bukan nama baru dalam dunia persilatan pada masa itu mereka terkenal sebagai komplotan rampok yang berilmu tinggi dan ditakuti di sepanjang sungai Cimandilu. Terutama pemimpin mereka Bergola Wungu diakui kehebatan permainan goloknya oleh kalangan persilatan! Mereka tahu, kalau pemuda itu inginkan nyawa mau mencelakakan mereka maka sudah sejak tadi hal itu bisa dilakukannya!

“Kalau hari ini kami diberi sedikit pelajaran,” kata Bergola Wungu dengan suara bergetar, “maka ketahuilah bahwa kami tak akan melupakan kejadian ini. Suatu hari kami akan datang untuk meneruskna apa yang terjadi hari ini!”

Wiro Sableng tertawa bergelak, “Bagus, bagus! Kau masih bisa pidato huh!! Ini terima kembali senjata kalian!”

Sekali tangan kanan Wiro Sableng bergerak maka ketiga senjata lawan yang tadi dirampasnya kini melesat ke arah ketiga orang itu masing-masing pada pemiliknya, Bergola Wungu menangkap hulu golok, Seta Inging menangkap gagang kelewang sedang Pitala Kuning menyambuti tangkai ruyung berdurinya.

Tanpa banyak bicara ketiga orang itu dengan membawa kawan mereka yang menderita sakit pada kakinya, segera hendak angkat kaki. Tapi sebelum mereka berlalu Wiro Sableng berkata:

“Satu hal kalian harus ingat baik-baik manusia-manusia berewok. Jika kalian berani lagi ganggu ini gadis, berarti kalian ingin cepat-cepat masuk liang kubur!”

~ 16 ~

Begitu Empat Berewok dari Goa Sanggreng lenyap dikejauhan maka Wiro Sableng segera lepaskan totokan di leher Nilamsuri. Gadis ini memandang berkeliling dengan terheran-heran. Dia seperti orang yang baru bangun dari mimpi. Tapi jelas dilihatnya bekas­bekas pertempuran di sekelilingnya.

“Apa yang terjadi?” bertanya gadis itu.

Wiro tertawa. “Tak satupun,” jawabnya.

“Aku tak percaya. Tadi kudengar suara derap kaki kuda menuju ke sini…”

“Ah, kau ini ada-ada saja. Aku tak dengar suara apa-apa…”

Nilamsuri berpikir-pikir dan mengingat-ingat. Parasnya mendadak berubah. Matanya memandang lekat-lekat pada Wiro Sableng. “Tadi… kau melompatiku dan…” gadis ini raba urat besar di pangkal lehernya. “Ya… kau menotok urat besar di leherku ini?”

Habis berkata demikian Nilamsuri segera cabut pedang! “Apa yang kau telah perbuat terhadap diriku?” tanyanya membentak.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.