Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 12)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Gadis itu cabut pedangnya. Sekali menebas puntunglah sebagian dari mulut buaya yang hendak menerkamnya. Binatang ini menggelepar-gelepar di pasir. Buaya kedua mengalami nasib yang sama. Bau anyirnya darah yang masuk ke dalam air sungai mengundang munculnya beberapa ekor buaya lagi. Binatang-binatang itu menyelusur ke tepi sungai dan berlomba menyergap Nilamsuri. Tapi si gadis dengan permainan pedangnya yang mengagumkan berhasil menewaskan semua buaya itu!

Si pemuda geleng-geleng kepala dan leletkan lidah. “Hebat! Hebat sekali kau saudari!” katanya memuji. “Kau tentu seorang jago silat! Sejak lama aku ingin belajar silat! Bersediakah kau mengambil aku jadi murid?!”

“Jangan ngaco!” bentak Nilamsuri.

“Aku tidak ngaco. Aku bicara sungguhan…”

“Buka lagi mulutmu!” bentak Nilamsuri. Pedangnya masih merah oleh darah buaya­buaya tadi siap ditetakkannya ke kepala pemuda itu. Tentu saja pemuda ini cepat-cepat melompat ke samping.

“Saudari, aku betul-betul ingin belajar silat padamu…”

Nilamsuri pencongkan hidung. “Tidak malu merengek macam anak kecil!” ejeknya.
Si pemuda agaknya jadi kesal, lalu menyahuti. “Kau sendiri tidak malu pakai pakaian laki-laki!”

Memang saat itu Nilamsuri mengenakan baju dan celana laki-laki berwarna putih yakni pakaian yang tadi ditemuinya di atas sebuah kuburan. Dan parasnya menjadi kemerahan. Cepat-cepat dia berlalu dari situ.

“Saudari… Tunggu…!”

“Apalagi?!”

“Kalau kau tak mau ambil aku jadi muridmu, tak apa. Tapi ada satu permintaanku yang lain… Boleh aku tahu namamu?”

“Manusia macammu tak perlu tahu namaku!”

“Ah saudari, kau sombong betul. Beri tahu namamu, nanti kuberi tahu namaku…”
“Siapa sudi tahu namamu segala?!”

“Namaku Wiro Sableng saudari… Harap kau mau kasih tahu kau punya nama…”
“Wiro Sableng?” ujar Nilamsuri.

Pemuda itu mengangguk.

“Pantas,” kata Nilamsuri pula.

“Pantas kenapa?” tanya Wiro.

“Pantas lagakmu seperti orang edan!” dan habis berkata begitu Nilamsuri segera berlalu.

~ 14 ~

Karena merasa sia-sia untuk meneruskan pencariannya maka Nilamsuri akhirnya memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke pekuburan. Sebenarnya, gadis ini telah bertemu dengan orang yang telah menolongnya sewaktu dikeroyok oleh Bergola Wungu dan anak­anak buahnya. Cuma Nilamsuri tidak tahu sama sekali kalau orang yang ditemuinya itulah tuan penolongnya. Dan siapa adanya orang yang menolong Nilamsuri tiada lain dari pada Wiro Sableng itu pemuda yang baru turun gunung yang sikap serta lagaknya begitu lucu sehingga setiap orang akan menduga bahwa dia tentunya seorang yang kurang waras.

Ketika Nilamsuri kembali ke pekuburan itu, yang ditemuinya bukanlah Bergola Wungu dan ketiga orang anak buahnya melainkan Wiro Sableng! Pemuda ini tengah berlutut menepekur di hadapan sebuah makam yang tanahnya hampir rata dan penuh ditumbuhi rumptu-rumput liar serta kotor oleh daun-daun kering.

“Kemana perginya kunyuk-kunyuk berewok itu?” pikir Nilamsuri. Penasaran sekali dia jadinya. Sudah tak berhasil mengejar manusia yang diburunya kini empat musuh besarnya telah lenyap sepeninggal pengejarannya. Dan apa pula urusan pemuda berotak miring yang mengaku bernama Wiro Sableng itu di pekuburan ini? Makam siapa yang tengah ditepekurinya itu?

Kemudian Nilamsuri melilhat Wiro berdiri dari berlututnya. Dan ketika dia memalingkan muka, Nilam melihat pada paras pemuda itu jelas terbayang rasa sedih yang mendalam. Atas banyak kejadian aneh yang tengah dialaminya sampai saat itu diam-diam Nilamsuri ingin sekali tahu siapa adanya pemuda berambut gondrong ini.

Dibukanya pembicaraan denga bertanya, “Saudara, waktu mula-mula kau datang ke sini apa ada melihat empat orang laki-laki berewok?”

Bayangan kesedihan pada paras Wiro Sableng segera sirna. Dan pemuda ini tersenyum. “Kau lucu sekali saudari,” kata Wiro. “Pertama kali jumpa, ditepi sungai tadi kau tanya satu orang laki-laki. Kalau jumpa ketiga kali nanti, kira-kira berapa orang laki-laki yang bakal kau tanyai padaku?!”

Mau tak mau paras Nilamsuri menjadi merah oleh ucapan Wiro Sableng itu. “Saudara,” katanya, “Kau siapakah sebenarnya?”

“Siapa aku bukankah aku sudah kasih tahu tadi di hulu sungai? Kenapa tanya lagi? Kau sendiri tidak mau kasih tahu nama.”

Nilamsuri terdiam. Kemudian diputarnya pembicaraan dengan bertanya, “Makam siapa itu?”

“Kau bisa baca sendiri pada batu nisan…” jawabnya.

Penuh rasa ingin tahu Nilamsuri melangkah dan mendekati nisan makam tua itu. Nisan itu terbuat dari batu. Barisan kalimat yang terukir pada batu yang sudah retak-retak itu tak jelas lagi. Tapi Nilam masih bisa membacanya. Dan pada batu nisan itu tertulis:

“DISINI TELAH DIMAKAMKAN SUCI BANTARI”

Melihat Wiro yang masih muda, Nilamsuri tahu kalau orang yang bernama Suci Bantari itu bukanlah isteri Wiro Sableng.

“Ibumu…?” tanyanya.

Pemuda itu mengangguk perlahan. Dia teringat pada keterangan Eyang Sinto Gendeng ketika dia masih digembleng di puncak Gunung Gede dulu. Menurut perempuan sakti itu dia telah dipelihara sejak masih orok. Kini sesudah belasan tahun, sesudah menjadi seorang dewasa, sesudah sekian lama tiada mengenal kasih sayang ayah bunda, maka yang ditemuinya hanyalah dua onggok makam yang tiada terawat sepantasnya. Makam ayah dan makam ibunya.

“Kalau begitu kau adalah penduduk sini….?”

Wiro Sableng mengangguk lagi. “Aku tak pernah mengenal mereka.”

“Maksudmu ayah dan ibumu?”

“Ya… Keduanya menemui ajal karena kebiadaban seseorang…”

“Dibunuh…?”

Wiro Sableng mengangguk. Matanya yang biasanya bersinar lucu itu kini kelihatan kuyu dan kedua matanya itu memandang pada bangkai kuda yang lehernya hampir puntung terbabat pedang Nilamsuri sewaktu terjadi pertempuran antara gadis itu dengan Bergola Wungu dan anak-anak buahnya. Wiro menggeram dalam hati. Nasib ayahnya tidak lebih baik dari kuda itu!

Nilamsuri sementara itu tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Tadipun Bergola Wungu mengatakan bahwa orang tuanya mati dibunuh, dibunuh ayahnya Kalingundil, ayahnya sendiri. Apakah orang tua pemuda ini ayahnya juga yang telah membunuhnya? Kalau benar maka pastilah pemuda ini datang untuk mencari urusan. Untuk menuntut balas sebagaimana kemunculan Bergola Wungu dan anak buahnya. Jadi manusia ini tak lebih dari seorang musuh pula baginya!

Tapi untuk meyakinkan maka bertanyalah Nilamsuri. “Siapakah manusianya yang membunuh kedua orang tuamu, Saudara?”

“Ah panjang kisahnya. Kalaupun kuberi tahu kau tak akan kenal mungkin. Dan lagi semua itu bukan urusanmu…”

“Apakah pembunuh itu bernama Kalingundil?” memancing Nilamsuri dengan hati berdebar.

Dadanya lega ketika dilihatnya Wiro Sableng menggeleng.

“Kau sendiri perlu apa datang ke pekuburan ini?” bertanya Wiro.

“Sama dengan kau. Untuk menyambangi makam ibuku…” Dan Nilamsuri menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya ketika dia tengah mencabuti rumput­rumput di makam ibunya. Tapi tidak diterangkannya mengapa sampai Bergola Wungu hendak merusak kehormatannya dan hendak membunuhnya!

“Sungguh aneh cerita tentang manusia yang telah menolongmu itu saudari,” kata Wiro Sableng pula dengan menahan rasa gelinya. “Pastilah dia seorang manusia sakti luar biasa. Mungkin juga dia seorang malaikat….!”

Nilamsuri hanya termangu. Tapi diam-diam matanya melirik pada Wiro Sableng. Kalau tadi memang dia kagum akan paras pemuda yang keren ini tapi karena bicaranya yang usil serta lucu tapi kurang ajar itu, maka kini bicara secara baik-baik nyatanya pemuda itu bukanlah seorang yang kurang ingatan.

“Kalau sekiranya kau menemui pembunuh orang tuamu itu,” bertanya Nilamsuri, “apakah kau juga akan membunuhnya?”

Wiro Sableng tertawa, “Itu tak perlu musti dijelaskan lagi saudari,” sahutnya.

Nilamsuri ingat pada nasib buruknya yang tadi hendak menimpanya. Lalu berkatalah perempuan ini, “Dunia ini penuh dengan ketidakadilan!”

“Ketidakadilan macam mana maksudmu saudari?” tanya Wiro Sableng pula.

Nilamsuri hendak membuka mulutnya. Tapi cepat-cepat mulut itu dikatupkannya kembali. Hampir saja terluncur rahasia mengapa Bergola Wungu hendak membunuhnya. Gadis ini kemudian hanya gelengkan kepala. “Nanti kau bakal mengalami sendiri mungkin,” katanya. “Sekurang-kurangnya melihat dengan nyata ketidakadilan berlangsung di depan matamu.”

Wiro Sableng tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Nilamsuri karena merasa diejek.

“Berapa umurmu, saudari…?”

Dalam hatinya gadis itu berpikir si pemuda hendak mulai lagi dengan keusilannya.

Wiro masih juga tertawa lalu berkata, “Kau masih sangat muda tapi bicaramu sudah seperti orang tua…”

Mau tak mau Nilamsuri tertawa juga. Tapi tertawa cemberut. Diam-diam hatinya yang tadi tertarik kini semakin senang pada pemuda itu.

Tiba-tiba kedua orang itu saling pandang. Di kejauhan terdengar derap suara kaki kuda.

“Ah… hanya suara kaki-kaki kuda, kenapa terkejut?” tanya Wiro Sableng meskipun hatinya sendiri terasa tidak enak.

“Mungkin sekali, itu adalah manusia-manusia laknat yang tadi mengeroyokku!” kata Nilamsuri.

“Kalau begitu mari cepat-cepat menyingkir!”

Si gadis enam belas tahun gelengkan kepala.

“Lebih baik mati daripada lari….!”

Wiro Sableng menggerendeng. “Keberanianmu tidak pakai pikiran saudari!” katanya. Wiro Sableng melompat ke muka dan menotok bahu kanan Nilamsuri. Gadis itu rebah dalam keadaan kaku tapi sebelum jatuh ke tanah Wiro sudah membopongnya. Segera gadis itu dilarikannya namun kasip. Empat penunggang kuda sudah mengurungnya. Keempatnya tiada lain daripada Bergola Wungu dan anak-anak buahnya.

“Ha… ha… ruapanya ada juga culik kesiangan yang inginkan mangsa kita kawan­kawan!” kata Bergola Wungu.

“Tikus busuk!” kata Ketut Ireng. “Turunkan gadis itu!”

“Masih ingusan sudah tahu perempuan!” memaki Pitala Kuning, anak buah Bergola Wungu yang bermata jereng. “Ayo turunkan gadis itu cepat!”

Perlahan-lahan Wiro Sableng menurunkan tubuh Nilamsuri. Dipandanginya keempat manusia berewok itu seketika. “Saudara-saudara kita tidak saling kenal satu sama lain, mengapa bicara memaki begitu?!”

“Bocah geblek! Terima ini!” bentak Ketut Ireng pergunakan kaki kanannya untuk menendang dada pemuda itu.

“Buuk”!!

Kaki kanan Ketut Ireng mendarat di dada Wiro Sableng. Tidak serambutpun tubuh pendekar dari Gunung Gede ini bergerak.

Sebaliknya dari mulut Ketut Ireng terdengar lolong kesakitan setinggi langit!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.