Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 11)

  Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Suara tertawa itu datangnya dari balik pohon-pohon bambu di tepi pekuburan. Untuk kedua kalinya Nilamsuri lepaskan pukulan tangan kosong. Angin deras melanda pohon-pohon bambu. Batang-batang bambu pecah, yang tercerabut dari akarnya segera tumbang sedang daun-daunnya luruh ke tanah. Tapi seperti tadi kali ini juga tidak kelihatan seorang manusia pun dibalik pohon-pohon bambu itu!

Gemas Nilamsuri bukan main.

Terdengar lagi suara tertawa bergelak. Kali ini diiringi dengan ucapan, “Hanya manusia pengecut yang membunuh musuh dalam keadaan tak berdaya!”

Nilamsuri memandang ke atas pohon kamboja merah. Detik itu juga sesosok tubuh kelihatan lenyap berkelebat ke utara laksana gaib!

Nilamsuri kertakkan rahang. Tanpa menunggu lebih lama gadis ini hentakkan kedua kaki dan segera mengejar ke jurusan utara!

Sampai beberapa ratus tombak jauhnya ke utara Nilamsuri masih juga belum berhasil mengejar orang tadi. Jangankan mengejar, melihat bayangannyapun tidak bahkan jejak kakinya sama sekali tidak kelihatan di tanah. Gadis itu menghentikan pengejarannya di tepi sebuah lembah.

Di samping rasa geram hatinya juga heran dan bertanya-tanya. Siapakah manusia itu tadi dan kemanakah lenyapnya? Apakah manusia itu yang telah menolongnya dari perbuatan terkutuk Bergola Wungu dan kawan-kawannya? Sekiranya betul mengapa lantas kemudiannya orang itu menghalangi ketika dia hendak menebas batang leher keempat manusia berewok itu?

Nilamsuri memandang lagi ke dalam lembah. Segala sesuatunya diselimuti kesunyian. Kemudian gadis ini memandang kepada pakaian yang dikenakannya. Pakaian ini ditemuinya di atas sebuah makam. Apakah pakaian ini sengaja pula ditinggalkan untuk dipakainya oleh manusia aneh yang melarikan diri itu?

Nilamsuri memutar tubuhnya hendak kembali ke pekuburan. Tapi dengan serta merta tertahan ketika di belakangnya dari balik sebatang pohon waru terdengar suara orang berkata.

“Hendak kembali membuat kepengecutan? Membunuh musuh yang tak berdaya? Percuma tahu ilmu silat tapi tidak tahu tata peradatan silat!”

Bukan main geramnya Nilamsuri mendengar ejekan itu. Dia melompat ke arah pohon waru. Tapi lebih cepat lagi gerakannya itu orang yang tadi berkata telah berkelebat laksana bayang-bayang dan lari ke dalam lembah.

“Manusia atau setan! Jangan lari!” teriak Nilamsuri. Dan segera pula dia mengejar ke dalam lembah. Tapi seperti tadi, begitu dia sampai di dasar lembah maka orang yang dikejarnya lenyap lagi! Dengan hati penasaran gadis ini loncat ke atas sebatang pohon tinggi dan dari sini memandang ke seantero lembah untuk menyelidik kemana larinya orang tadi. Namun ini juga tidak memberikan hasil.

Nilamsuri turun kembali. Dijelajahinya sebagian dari lembah. Hatinya belum puas kalau belum berhasil menemui orang yang dikejarnya itu. Di tepi sebuah anak sungai akhirnya gadis ini hentikan langkah. Sejurus kemudian dia termangu di tepi sungai ini. Kemudian hidungnya dilanda oleh bau harum dari sesuatu yang dipanggang. Bau ini datang dari arah hulu sungai, membuat tenggorokannya menerbitkan air liur. Gadis ini langkahkan kaki ke hulu sungai.

Belum sampai lima puluh langkah dia berjalan, maka di satu tikungan sungai yang arus airnya lebih cepat mengalir, dilihatnya duduk ditengah sungai, di atas sebuah batu besar yang licin kehitaman, seorang laki-laki. Laki-laki ini duduk membelakanginya dan rambutnya gondrong, berpakain putih-ptuih. Tak tahu Nilamsuri apa yang dibuat orang ini ditengah sungai ini di atas batu itu. Berat kecurigannya bahwa manusia ini adalah orang yang tadi dikejarnya. Tapi anehnya santarnya bau benda yang terpanggang itu datang dari arah laki-laki di tengah sungai ini!

Nilamsuri terus melangkah beberapa jauhnya ke hulu sungai, melewati laki-laki itu, untuk dapat melihat apa yang tengah dilakukannya. Nilamsuri masih belum dapat melihat paras laki-laki berambut gondrong itu. Tapi dari tempatnya berdiri saat itu dapat disaksikannya bahwa bau harum yang membuat titik seleranya itu disebabkan oleh seekor ikan besar yang dipanggang oleh laki-laki itu dan kini tengah digerogotinya dengan lahap! Ikan panggang itu masih mengepulkan hawa hangat.

Yang tidak dimengerti sama sekali oleh Nilamsuri ialah bahwa di atas batu itu di mana laki-laki itu duduk atau ditepi sungai sama sekali tidak dilihatnya bekas-bekas perapian untuk membakar ikan yang kini tengah dimakan dengan lahap oleh si rambut gondrong!

Nilamsuri berpikir sejurus. Kemudian berserulah dia ke tengah sungai.

“Saudara! Apa kau melihat seseorang lewat sekitar sini?!”

Laki-laki di tengah sungai tidak menjawab. Malah menoleh pun tidak dan dengan lahapnya terus saja dia makan ikan panggang itu.

“Saudara!” seru Nilamsuri sekali lagi.

Kali ini orang itu palingkan kepala. Dan Nilamsuri terkesiap sejenak karena tak menyangka kalau si rambut gondrong ini nyatanya adalah seorang pemuda bertampang keren!

Meski keren tapi paras itu membayangkan pula paras anak-anak dan lucu!

“Eh… kau bicara sama aku?” tanya pemuda yang asyik menggerogoti ikan panggang itu.

“Ya! Aku tanya apa kau lihat seseorang lewat di sini?!” kata Nilamsuri pula.

“Laki-laki atau perempuan?” tanya si rambut gondrong.

“Laki-laki…”

“Orangnya sudah tua apa masih muda…?”

“Kurang jelas. Cuma dia berpakaian putih-putih…”

Si rambut gondrong melemparkan kerangka ikan yang habis dimakannya ke dalam sungai. Kemudian dipandanginya pakaiannya sendiri. “Eh, aku juga berpakaian putih­ putih…” katanya. “Kalau begitu pastilah aku yang kau cari!” Pemuda ini garuk rambutnya dan tertawa.

Sikap dan ucapan pemuda ini agak mengesalkan Nilamsuri. Hatinya bimbang untuk memastikan bahwa orang yang dikejarnya adalah pemuda itu. Karena tampangnya meski keren tapi seperti kanak-kanak.

“Eh, kenapa diam?!” tanya pemuda itu. “Aku tahu… aku tahu…” katanya.

“Tahu apa?”

“Aku tahu kau sampai ke sini karena mencium harumnya bau ikan panggangku! Lalu kau berpura-pura tanya seseorang! Kenapa musti pura-pura dan malu-malu? Kalau doyan ikan panggang silahkan datang kemari. Aku masih ada seekor lagi!”

“Saudara! Jangan bicara seenaknya!”

“Seenaknya bagaimana?!”

“Aku betul-betul mencari seseorang! Dan aku tidak butuh sama ikan panggangmu!”

“Oh… begitu…?” Pemuda itu manggut-manggut. Lalu katanya, “Kalau aku tahu tentang orang yang kau cari itu, kau mau persen aku apa?”

“Apa saja yang kau maui…” jawab Nilamsuri tanpa pikir panjang karena dia betul­betul ingin lekas-lekas dapat mengejar orang yang dicarinya tadi.

Si pemuda tertawa mengekeh dan tercekik serta batuk-batuk ketika ikan panggang yang dimakannya menyekat tenggorokannya.

“Kalau begitu…” kata pemuda rambut gondrong itu dengan masih tertawa serta batuk-batuk, “aku mau dirimu saja saudari.”

“Pemuda ceriwis! Kutampar kau punya mulut baru rasa!”

“Lho…” pemuda itu melongo macam orang bodoh. “Kenapa kau jadi marah?!” tanyanya.

Benar-benar kesal jadinya Nilamsuri. Dikatupkannya mulutnya rapat-rapat menahan rasa kesal itu.

“Eh, sekarang kau tutup mulut. Lucu! Kau toh belum jawab pertanyaanku, saudari. Aku minta dirimu. Boleh…?”

Rasa kesal di diri Nilamsuri kini berubah menjadi amarah yang meluap. Parasnya kelihatan merah. Sekali lompat dia sudah berada di hadapan pemuda itu, di atas batu besar.

“Pemuda edan, kau mau mampus?!”

Si gondrong garuk-garuk kepala. “Aku tidak mengerti saudari, aku benar-benar tidak mengerti. Menapa kau jadi marah-marah begini samaku?!”

“Bicaramu terlalu kurang ajar, tahu?!”

Pemuda itu goleng kepala dan angkat bahu. Lalu tertawa sambil memandangi paras Nilamsuri. “Kau tahu saudari…,” katanya, “kalau kau marah-marah dan membentak macam tadi hem… parasmu tambah cantik!”

“Plak!”

Tamparan tangan kiri Nilamsuri mendarat di pipi si pemuda. Pemuda itu meringis kesakitan. Penyesalan timbul di hati Nilamsuri melihat bagaimana pipi yang ditamparnya itu kelihatan menjadi sangat merah.

“Kau jahat sekali!” kata si pemuda pula. “Aku tanya sama kau, kau mau persen aku apa kalau aku tahu orang yang kau cari itu. Dan kau jawab apa saja mauku! Lantas aku bilang mau dirimu! Apa aku salah…?!”

Nilamsuri menggigit bibirnya. Dia tahu ucapan pemuda itu betul. Dia tahu kalau tadi dia telah ketelepasan bicara.

“Saudara…,” kata Nilamsuri.

Tapi si pemuda memotong. “Sudahlah. Aku tak sudi bicara sama kau. Orang mau menolong dikasih tamparan. Baru mau menolong. Kalau sudah ditolong aku akan dapat tendangan!”

Dan Nilamsuri menggigit bibir lagi. Tanpa berkata apa-apa dia melompat ke tepi sungai kembali.

“Hai saudari! Tunggu dulu!” seru si pemuda.

Nilamsuri balikkan badan.

”Sebenarnya ada apa kau mencari laki-laki itu?!”

”Itu urusanku sendiri!” jawab Nilamsuri.

”Laki-laki itu kekasihmu agaknya?”

”Kau mau tamparan sekali lagi?!”

Si pemuda tertawa. ”Dunia serba aneh,” katanya seakan-akan pada diri sendiri. “Mustinya laki-laki yang cari perempuan. Ini perempuan yang cari laki-laki….!” Dan digaruknya kepalanya.

Dalam pikiran Nilamsuri terbit prasangka bahwa tentunya pemuda itu seorang yang berotak miring. Karenanya tanpa ambil perduli lagi dia segera tinggalkan tempat itu.

”Hai saudari! Kau tidak mau ikan panggang ini?!”

Nilamsuri terus saja menyusuri sungai menuju ke hulu. Dia hampir keluar dari kelokan sungai ketika didengarnya lagi suara pemuda itu berseru. Jarak antara mereka saat itu sudah puluhan tombak. Kalau saja Nilamsuri mau berpikir sejenak dia akan segera tahu kalau pemuda itu bukan berteriak biasa tapi dengan menggunakan tenaga dalam. Karena dalam jarak sejauh itu bagaimanapun kerasnya seseorang berteriak namun apa yang diucapkannya tak akan terdengar dengan jelas.

“Saudari! Jangan pergi ke sana! Saudari, kembalilah!”

Nilamsuri melangkah terus.

“Saudari! Hai! Disebelah sana banyak buayanya! Kembalilah!”

Tapi Nilamsuri jalan terus. Si pemuda goleng-goleng kepala lalu turun ke air. Nyatanya sungai itu dalamnya hanya sebatas lutut. Begitu sampai di seberang si pemuda cepat lari menyusul Nilamsuri.

“Saudari kau mau kemana?!” tanya pemuda itu seraya pegang bahu Nilamsuri.

“Kau jangan kurang ajar, saudara!” bentak Nilamsuri karena marah sekali bahunya dipegang seenaknya.

“Kau mau kemana?”

“Perduli apa kau?!”

“Jangan kesana saudari. Banyak buaya lagi berjemur…” dan belum habis pemuda ini bicara tahu-tahu dua ekor buaya besar menyeruak dari belakang semak belukar di tepi sungai.

“Aku bilang apa! Celaka…! Saudari larilah!” Pemuda itu melompat ke belakang. Sementar itu kedua ekor buaya dengan cepat meluncur menyerang Nilamsuri.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.