Sabtu, 20 Mei 2017

Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 10)

 Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng

Ketut Ireng ambil bagian kini, “Kau tahu siapa itu manusia rambut gondrong yang tadi makan di sini?!”

“Tidak tahu, Den. Sungguh tidak tahu...”

“Sudah pergi sana!” bentak Bergola Wungu.

Orang tua itu berlalu dengan cepat. Tak lama kemudian Bergola Wungu dan ketiga anak buahnya meninggalkan kedai tanpa membayar satu peser tengikpun atas apa yang telah mereka makan dan mereka minum!

~ 12 ~

Dia masih juga mencabuti rerumputan yang bertumbuhan di makam itu. Dia sama sekali tak mengacuhkan derap kaki kuda yang menggeru di belakangnya karena menyangka bahwa itu adalah kuda-kuda yang biasa lalu lalang di tempat tersebut. Tapi tangannya yang halus itu berhenti mencabuti rerumputan ketika di belakangnya terdengar suara tertawa seseorang.

“Ha… ha… inikah manusia yang menjadi anak tunggal keparat Kalingundil?!”

Gadis enam belas tahun yang berlutut di muka makam itu putar kepala. Empat orang penunggang kuda dilihatnya berjejer di belakangnya. Penunggang kuda yang paling depanlah yang tadi tertawa dan buka suara. Tubuhnya jangkung, berewoknya lebih lebat dari berewok tiga manusia lainnya, tampangnyapun lebih angker.

“He… he… cantik juga parasnya huh?!”, kata laki-laki ini yang tak lain dari Bergola Wungu adanya.

“Tapi sayang, kepalanya musti kita pisahkan dari badannya. Bukankah demikian, Bergola Wungu?!”

“Betul, tapi tak perlu cepat-cepat. Agaknya dia bisa memuaskan seleraku dan kalian semua!”

Keempat orang itu tertawa bekakakan.

“Kunyuk-kunyuk hitam berewok! Kalian siapa?!” bentak gadis berbaju biru. Dengan enteng dia berdiri. Tangan kanan memegang hulu pedang yang tersisip di pinggang.
“Eh, galak juga betina ini!” kata Ketut Ireng.

“Tapi kalau kau mau kenal kami, aku tak keberatan untuk memperkenalkan diri. Namaku Ketut Ireng… Ini Bergola Wungu. Yang ini, yang gemuk pendek Seta Inging dan ini yang matanya jereng Pitala Kuning. Nah… nah… sekarang kau tak keberatan kasih tahu namamu…?” Keempat orang itu tertawa lagi.

“Manusia edan! Berlalulah dari hadapanku! Kecuali kalau mau rasa tebasan pedangku!”

“Ah, besar mulutnya sama saja sama bapaknya!” kata Bergola Wungu sambil usap­usap berewoknya. “Ketahuilah kami datang untuk mengirim bapakmu ke liang kubur. Itupun kalau ada liang kubur yang masih mau menerimanya!”

“Mulutmu terlalu besar monyet berewok!” hardik gadis itu. “Aku mau lihat apakah juga cukup besar untuk menerima ujung pedangku ini?!”

Diiringi dengan pekik yang membising maka berkiblatlah sebatang pedang ke arah kepala Bergola Wungu! Kejut keempat orang itu, terutama Bergola Wungu sendiri tidak terkirakan. Kalau tidak cepat dia buang diri dari punggung kuda pastilah kepalanya akan terbelah dua.

Tapi selagi tubuhnya melayang di udara, maka saat itu pula pedang di tangan si gadis sekali lagi membabat sebat. Bergola Wungu membentak keras dan jungkir balik ke samping kiri. Pedang si gadis yang seharusnya membabat kutung pinggangnya kini menemui sasarannya di leher kuda tunggangan Bergola Wungu.

Kuda itu meringkik dahsyat sebelum meregang nyawa. Menggelepar-gelepar dengan leher hampir putus. Kuda-kuda yang lainnya latah meringkik dan menjadi binal melihat muncratan darah. Untung saja tiga penunggangnya sudah melompat lebih dahulu. Kalau tidak pastilah mereka akan dilempar mental! Tiga ekor kuda itu seperti gila kemudian lari menghambur menerjangi batu-batu nisan pekuburan!

“Iblis betina!”, kertak Bergola Wungu. “Meski kau punya tampang cantik dan tubuh mulus, apa kau sangka aku ragu-ragu untuk menebas kau punya batang leher?!”

“Jangan jual bacot kunyuk berewok! Lihat pedang!” pedang di tangan si gadis itu berkelebat lagi lebih cepat dan sebat.

“Sreet!” Bergola Wungu cabut golok panjangnya.

Dan…

“Trang!”

Dua senjata beradu keras di udara memercikkan bunga api yang menyilaukan mata. Tangan Bergola Wungu tergetar kesemutan sedang si gadis baju biru terpental beberapa langkah ke belakang. Pedang di tangannya hampir saja terlepas!

Meski tahu kalau tenaga dalam dan ilmu silat manusia berewok itu lebih tinggi dari padanya, namun gadis yang keras hati ini tidak menjadi kecut. Dengan lengkingan dahsyat yang keluar dari tenggorokannya maka berubahlah tubuhnya menjadi bayang-bayang. Sinar pedang menggebubu membungkus tubuh Bergola Wungu!

Tapi Bergola Wungu bukan manusia hijau dalam dunia persilatan. Bukan anak kemarin. Percuma dia malang melintang belasan tahun menjadi pemimpin dari Empat Berewok dari Goa Sanggreng. Sekali dia enjot kedua kaki maka tubuhnyapun lenyap dari pemandangan.

“Breet… breet… breet… breet…!!!”

Gadis baju biru terpekik dan keluar dari kalangan pertempuran. Mukanya merah gelap ketika menyadari bagaimana ujung golok Bergola Wungu telah membuat lebih dari sepuluh robekan pada pakaiannya sehingga gadis itu kini hampir berada dalam keadaan setengah telanjang!

“Manusia binatang!” rutuk gadis baju biru. “Hari ini aku mengadu nyawa terhadapmu!” Dengan segala kekalapan dia menyerbu ke muka. Pedangnya menderu laksana topan. Bergola Wungu berkelit ke samping. Pedang si gadis hantam batu nisan sehingga terkutung dua! Dia kembali membabat ke arah pinggang. Tapi pada saat itu lengan kiri Bergola Wungu telah menghantam pergelangan tangan kanannya, membuat pedangnya terlepas dan mental jauh.

“Ha… ha… hari ini tamatlah riwayatmu sebagai anak Kalingundil!”

Golok panjang di tangan Bergola Wungu kembali mebabat kian kemari. Kembali terdengar suara: breet… breet… breet…! Dan kini celana biru si gadis yang menjadi sasaran ujung golok. Dalam waktu setengah jurus saja boleh dikatakan gadis itu sudah hampir telanjang. Pakaiannya yang robek-robek besar tiada sanggup menutupi keputihan buah dada, perut, punggung serta pahanya!

Dengan andalkan kecepatan gerak bahkan dengan gulingkan diri di tanah anak perempuan Kalingundil ini berusaha untuk selamatkan diri. Namun ujung golok Bergola Wungu benar-benar telah mengurungnya dari pelbagai jurusan. Tak mungkin baginya untuk lari, tak mungkin baginya untuk selamatkan nyawa!

“Sreet…!”

Ujung rambut gadis itu terbabat putus.

“Sreet…!”

Tali celana biru si gadis terkutung putus sehingga celana itu jatuh dari pinggangnya dan auratnya benar-benar tiada tertutup kini!

“Bedebah! Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak gadis itu.

Bergola Wungu tertawa mengakak.

“Bunuh soal mudah!”, katanya sambil tekankan ujung golok ke tenggorokan gadis itu. “tapi apa kau tahu bahwa dulu sebelum membunuh ibuku, kau punya bapak lebih dulu memperkosanya?! Ha… ha… Hukum karma kini berlaku! Hukum karma!”

Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa si gadis sorongkan batang lehernya ke muka. Tapi gerakan Bergola Wungu lebih cepat lagi. Ujung golok digesernya ke samping. Begitu si gadis terdorong ke muka maka tangan kirinya dengan sigap menyambar rambut si gadis.

Gadis yang hampir tak berdaya itu masih berusaha menendangkan kakinya ke muka. Serangan yang tak berarti itu tidak mengenai sasarannya. Bergola Wungu melemparkan gadis itu ke tanah kemudian menyergapnya dengan ganas. Keduanya bergulung-gulung. Yang satu berusaha untuk mempertahankan kehormatannya, yang satu sengaja untuk menghancurkan kehormatan itu!

“Kawan-kawan!”, teriak Bergola Wungu. “Jangan diam saja! Gadis ini adalah bagian kita semua! Ayo tunggu apa lagi?!”

Serentak dengan itu tiga orang anak buah Bergola Wungu segera menyerbu pula. Seorang gadis, empat laki-laki bergulung-gulung di tanah pekuburan! Menjerit, berteriak, menendang dan menerjang. Seakan-akan mereka semua sudah sinting kemasukan setan-setan kuburan!

~ 13 ~

Pembalasan dendam kesumat memang dahsyat. Apalagi kini disertai dengan dorongan nafsu hewan yang meluap-luap. Keadaan Nilamsuri benar-benar sudah kepepet. Tenaganya sudah hampir habis. Empat pasang tangan manusia menggerayang di seluruh tubuh yang tertelentang di atas sebuah makam tua.

“Ha… ha… ha! Tulang belulang kau punya ibu akan menyaksikan pelaksanaan hukum karma ini!” kata Bergola Wungu.

Nilamsuri hantamkan lututnya ke perut laki-laki itu ketika Bergola Wungu hendak mendatanginya dari atas. Tapi hantaman lutut yang tiada bertenaga sama sekali itu tiada terasa oleh manusia berewok itu!

“Keparat! Bunuh saja aku! Bunuh!” teriak Nilamsuri.

“Kehormatanmu dulu, baru nyawamu!” Bergola Wungu mengekeh. Disaksikan oleh tiga anak buahnya yang juga menggerayangi tubuh gadis enam belas tahun itu, Bergola Wungu mulai melaksanakan niat terkutuknya. Runtuhlah harapan Nilamsuri untuk bisa selamatkan diri. Air mata meleleh di pipinya.

Namun nasib Nilamsuri tidak seburuk yang dibayangkannya saat itu. Satu bayangan putih berkelebat dari sebelah timur pekuburan yang tanahnya agak membukit. Dan tahu-tahu keempat orang yang mengerumuni Nilamsuri menjadi kaku tegang laksana patung batu!

Nilamsuri yang hanya merasakan sambaran angin serta gerayangan-gerayangan tangan pada tubuhnya berhenti dengan mendadak, membuka kedua matanya yang berkaca-kaca itu. Terkejut sekali dan hampir tak percaya dia melihat bagaimana keempat manusia berewok itu masih berjongkok di sekelilingnya tapi mata mereka semua melotot dan tubuh mereka tegang kaku!

Gadis ini bangkit dengan cepat. Apakah yang telah terjadi dengan keempat manusia itu? Dia ingat pada desiran angin tadi. Mungkin ada manusia yang telah menolongnya? Manusia yang mempunyai kesaktian luar biasa? Diperhatikannya keempat laki-laki itu. Ternyata mereka tertotok urat besar di pangkal leher masing-masing. Atau mungkin keempatnya telah dicekik oleh setan kuburan?!

Peristiwa yang sangat aneh itu membuat Nilamsuri lupa akan keadaan dirinya sendiri saat itu. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur segulung benda putih yang tergeletak di atas batu nisan sebuah kuburan. Benda ini adalah sehelai baju dan celana putih. Dan memandang pakaian itu sekaligus mengingatkan Nilamsuri pada keadaan dirinya.

Tanpa perduli lagi siapa pemilik pakaian itu, tanpa ambil pusing lagi bagaimana pakaian itu bisa berada di atas kuburan tersebut si gadis langsung saja melompat, menyambar pakaian itu dan lari ke balik serumpun semak-semak. Dikenakannya pakaian itu cepat-cepat. Meski agak kebesaran sedikit, tapi pakaian itu memberi banyak pertolongan bagi Nilamsuri dan si gadis merasa sangat bersyukur.

Dia keluar dari balik semak-semak itu. Dan ketika terpandang olehnya keempat manusia yang masih berjongkok kaku di seberang sana maka meluaplah amarahnya. Mendidih darahnya. Disambarnya pedangnya yang tergeletak di tanah. Sinar pedang berkiblat sekaligus menyambar ke arah kepala Bergola Wungu dan anak-anak buahnya.

“Tring!”

Sebutir kerikil sebesar ujung jari telunjuk membentur pertengahan pedang yang hendak merenggut nyawa keempat manusia berewok itu. Dan benturan batu kerikil ini membuat pedang di tangan Nilamsuri terdorong setengah tombak ke atas, lewat satu jengkal di atas kepala Bergola Wungu dan tiga orang lainnya itu!

Terkejut anak gadis Kalingundil ini bukan kepalang. Serentak dengan itu dia membentak dan memandang berkeliling. “Manusia atau setan yang jadi biang kerok jangan sembunyi! Unjukkan diri!”

Tak ada yang menyahut. Tapi rerumpunan semak belukar di dekat pohon kamboja kelihatan bergerak. Dan Nilamsuri hantamkan pukulan tangan kosong ke arah semak belukar itu. Semak belukar tercabut dari akarnya dan berhamburan jauh, tapi tak ada siapapun kelihatan di belakang sana.

Dengan gemas Nilamsuri balikkan tubuh. Pedangnya kembali membabat ke arah empat kepala manusia di hadapannya. Namun sekali lagi sebutir kerikil membentur senjata itu!

“Kurang ajar betul!” maki Nilamsuri. “Jika berani cari urusan, berani unjukkan diri!!”

Terdengar suara tawa bergelak.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian 11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.