Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 12)

  Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Habis berkata begitu ditariknya saja ujung bawah kain yang dikenakan Rara Murni. Dan dengan ujung jari tangannya, dengan mempergunakan tenaga dalam tentunya, maka dituliskannya tiga rentetan angka 212. Rara Murni memperhatikan angka itu.

“Dua satu dua…” desisnya. Diangkatnya kepalanya hendak mengatakan sesuatu pada pemuda itu. Namun dia terkejut dan tak habis heran. Si pemuda sudah tak ada lagi di hadapannya, seakan-akan gaib lenyap ditelan bumi. Rara Murni memandang berkeliling. Tapi pendekar 212 tetap saja tidak kelihatan. Gadis itu menghela nafas panjang.

“Pemuda aneh… agak ceriwis… tapi berhati polos…” kata Rara Murni dalam hati. Dicambuknya sapi-sapi penarik gerobak. Gerobak itu pun bergeraklah menuju pintu gerbang Kotaraja. Tentu saja Prabu Kamandaka sangat terkejut ketika mendapat keterangan dan mengetahui apa yang telah terjadi atas diri adiknya. Sepasukan prajurit kerajaan segera dikirim ke lembah Limanaluk.

Tapi mereka datang terlambat karena saat itu pengkhianat Kalasrenggi sudah tak bernafas lagi, mati tergantung dengan darah bercucuran dari hidung, mata serta telinga! Rara Murni sendiri, secara diam-diam menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mencari jejak Wiro Sableng si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, namun usaha mereka siasia belaka.

Hari itu juga di seluruh Kerajaan diadakan pembersihan, termasuk di dalam istana. Tapi hasilnya tidak memuaskan sama sekali. Bahkan biang racun pengkhianat yaitu Raden Werku Alit tetap tenang-tenang saja di tempatnya di dalam gedungnya yang mewah di lingkungan istana. Siapa yang menduga kalau saudara sepenyusuan dari Sang Prabu sendiri yang menjadi tokoh pengkhianat terbesar?

Satu-satunya orang yang ditangkap dalam pembersihan yang diadakan ialah petani yang menggagahi Rara Murni di tengah jalan sewaktu naik gerobak. Namun sebelum dibawa ke hadapan Sang Prabu, petani ini berhasil merampas pedang seorang perajurit dan menghunjamkannya ke batang lehernya. Tak ampun lagi manusia itu meregang nyawa di situ juga.

Siapakah petani ini sesungguhnya? Siapa pula kawannya yang telah ditamatkan riwayatnya oleh pendekar 212 sebelumnya? Mengapa pula petani yang satu itu memutuskan untuk membunuh diri sendiri? Dia dan kawannya tiada lain adalah mata-mata kaki tangan kaum pemberontak yang dikirimkan oleh Mahesa Birawa untuk menemui Raden Werku Alit dan menyelidiki suasana di Pajajaran menjelang saat-saat penyerangan total diadakan!

Seperti yang diceritakan di atas, dalam perjalanan menuju ibu kota kerajaan yaitu Pakuan, mereka telah bertemu dengan Rara Murni, adik Sang Prabu, bersama seorang laki-laki gondrong yang mereka sangkakan hamba sahaya Rara Murni. Maka saat itu timbullah niat mereka untuk menculik gadis itu dan membawanya ke tempat persembunyian kaum pemberontak di kaki Gunung Halimun.

Namun maksud mereka itu membawa celaka kepada diri mereka sendiri. Yang satu mati dihajar pendekar 212. Yang satu lagi roboh pingsan di tengah jalan kemudian ditangkap oleh serdadu-serdadu kerajaan tapi berhasil bunuh diri sebelum dibawa ke hadapan Sang Prabu, sebelum dipaksa untuk memberikan keterangan!

~ 15 ~ 

Malam itu untuk kesekian kalinya di dalam kemah besar diadakan pertemuan kali ini sangat penting sekali rupanya karena di luar kemah itu dijaga dengan ketat oleh para pengawal. Pertemuan ini bukan saja penting karena datangnya dua tokoh sekutu dari kaum pemberontak yaitu Adipati Warok Gluduk dari Rajasitu dan Adipati Tapak Ireng dari Ratujaya, tapi juga karena kabar yang dibawa oleh seorang kurir Raden Werku Alit dari Kotaraja.

Sebagaimana biasa pertemuan penting ini dipimpin oleh Mahesa Birawa yang duduk di kepala meja. Setelah mempersilahkan kelima Adipati meneguk minuman masing-masing maka Mahesa Birawa segera membuka pembicaraan.

“Pertama sekali perkenankanlah saya atas nama Adipati-Adipati yang terdahulu datang ke sini dan juga atas nama Raden Werku Alit, mengucapkan selamat datang pada Adipati Warok Gluduk dan Adipati Tapak Ireng. Kemudian kami juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas tekad Adipati-Adipati berdua untuk bersedia membantu dan bersekutu dalam perjuangan mencapai cita-cita kita yang besar yaitu menggulingkan Pajajaran, menumbangkan Kamandaka dari takhta kerajaannya karena sesungguhnya selama Raden Werku Alit masih hidup maka Kamandaka tidak punya hak sama sekali untuk menjadi Raja Pajajaran….”

Mahesa Birawa memuntir-muntir kumisnya yang melintang dua tiga kali lalu melanjutkan bicaranya: “Kedua kalinya, pertemuan ini adalah juga untuk membahas keterangan yang telah disampaikan kurir dari Kotaraja. Diterangkan bahwa dua orang mata-mata kita tertangkap. Yang satu terbunuh dan yang satu lagi bunuh diri. Mayat mereka dibuang ke kali. Mengenai peristiwa ini ada sedikit keterangan yang bersimpang siur sehingga belum dapat saya menarik satu kesimpulan bagaimana sampai kedua matamata kita itu mengalami nasib demikian rupa. Kabar keterangan yang paling buruk ialah bahwa salah seorang pembantu utama kita yaitu kepala pasukan Kalasrenggi juga telah menemui kematiannya. Dia digantung di sebuah kuil tua di lembah Limanaluk. Mengenai kematian Kalasrenggi ini ada hal-hal aneh dan keterangan yang agak bersimpang siur. Menurut kurir Raden Werku Alit, ketika pasukan kerajaan datang ke kuil itu, Kalasrenggi sudah tidak bernafas, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan pada keningnya tertera guratan-guratan yang membentuk tiga buah angka yaitu angka 212…”

Mahesa Birawa memandang berkeliling dan melihat paras-paras Adipati itu keheran-heranan.

“Sukar diduga siapa sebenarnya yang membunuh Kalasrenggi dan juga tak dapat ditafsirkan apa arti angka 212 itu! Di samping itu, sesudah kejadian itu Sang Prabu memerintahkan pembersihan besar-besaran di kerajaan. Namun semua orang kita sudah menyingkir. Dan menurut Raden Werku Alit sampai saat dia mengirimkan kurir itu masih belum ada kecurigaan terhadap dirinya. Namun demikian dalam sehari dua ini dia akan segera berangkat ke sini untuk berunding terakhir kali, menentukan kapan penyerangan dilakukan terhadap Pajajaran. Raden Werku Alit berharap agar kita terus dalam kesiap siagaan…..”

Sunyi sebentar, Adipati Lanabelong dari Kendil yang berkepala sulah meneguk tuaknya, mengumur-ngumurkan minuman itu dalam mulutnya beberapa lama, lalu bertanya: “Sampai saat ini berapakah kekuatan balatentara Pajajaran?”

“Menurut keterangan Kalasrenggi sebelum menemui kematiannya tempo hari sekitar dua ribu lebih. Memang jumlah kekuatan mereka lebih dari kita. Kita cuma sekitar seribu enam ratusan. Tapi janganlah itu menjadi kekhawatiran para Adipati sekalian. Mengapa aku katakan tak usah khawatir sebabnya begini.

“Pertama, dalam peperangan itu jumlah yang besar tidak selamanya menentukan untuk mencapai kemenangan. Sering pasukan yang lebih sedikit sanggup mengalahkan pasukan yang lebih besar. Ini adalah disebabkan bahwa sesungguhnya unsur kekuatan atau jumlah tidak terlalu menentukan tapi unsur taktiklah yang lebih menentukan. Dengan taktik yang tinggi serta matang, dengan mengetahui di mana kelemahankelemahan pertahanan pasukan Pajajaran, pasti kita dalam sekejapan mata bisa mengobrakabrik mereka!

“Kedua, dalam peperangan kecepatan tempur atau waktu penyerangan yang tepat adalah sangat menentukan. Bila lawan sedang lengah, meskipun jumlahnya besar, sanggup dikacau balaukan dan disapu bersih oleh sepasukan kecil saja. Demikian pula dengan kita. Kita akan menyerang dengan tiba-tiba, dengan menyergap! Pajajaran hanya baru akan mengetahui bila balatentara kita sudah berada di depan mata hidung mereka!

“Dan saat itu mereka tak akan ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri. Aku rasa dengan berpegang teguh pada dua hal itu, tidak sukar bagi kita untuk membereskan Pajajaran. Apalagi para Adipati di sini bukan pula manusia-manusia berilmu rendah. Sedikit banyaknya adalah murid-murid dari perguruanperguruan silat yang ternama juga, bukankah demikian?”

Kelima Adipati itu sama mengulum senyum. Memang rata-rata mereka dalah pewaris ilmu-ilmu silat dari pelbagai cabang dan aliran dan ilmu-ilmu mereka tidaklah dapat dianggap ilmu pasaran yang rendah belaka!

“Di samping itu,” kata Mahesa Birawa pula, “Jangan pula kita lupakan bantuan yang akan diberikan oleh seorang tokoh dunia persilatan yang terkenal yakni Begawan Sitaraga…”

“Oh, jadi Begawan sakti yang diam di puncak Gunung Halimun itu membantu kita pula?” tanya Warok Gluduk, Adipati dari Rajasitu.

“Ya,” sahut Mahesa Birawa.

“Bagaimana sampai Begawan ini mau membantu perjuangan kita?” tanya Tapak Ireng.

“Setahuku dia mempunyai pertikaian dengan Toa Kamandaka…” jawab Mahesa Birawa pula.

“Kalau benar begitu, satu hari saja Pajajaran pasti sudah sama rata dengan tanah….” kata Warok Gluduk sambil mengusap-usap dagunya. Dan dibayangkannya kedudukan yang bakai diterimanya bila pemberontakan mereka berhasil nanti!

***

Waktu itu hari hujan rintik-rintik. Angin malam bertiup kencang dan dingin. Sosok tubuh itu berjalan dengan acuh tak acuh. Tidak perduli hujan rintik-rintik, tidak perduli angin kencang, tidak perduli segala rasa dingin yang menyembilui tulang-tulang sumsum. Dia berjalan terus bahkan sambil bersiul-siul. Sesampainya di ujung jalan itu maka disusurinya tembok tinggi dan sekali-sekali, dalam jarak-jarak tertentu dilewatinya seorang pengawal bersenjata lengkap.

Di hadapan sebuah pintu gerbang yang dikawal oleh delapan orang perajurit berhentilah pemuda itu. Dia memandang ke kiri dan ke kanan, memandang ke atas pintu gerbang lalu memandang pada barisan pengawal dengan pandangan orang bodoh. Pengawal-pengawal pintu gerbang mula-mula memandang saja dengan penuh curiga namun kemudian salah seorang daripadanya membentak: “Pemuda gondrong! Ada apa kau celangak celinguk di sini?!” Dibentak malahan pemuda itu tersenyum.

“Apa kau tidak tahu berada di mana saat ini?!” bentak prajurit pengawal yang lain.

“Ah… itulah yang aku mau tanya, saudara. Apakah ini istananya Sang Prabu Raja Pajajaran?” Delapan pasang mata prajurit pengawal memandang dari atas ke bawah. Tak ada kesimpulan lain bagi mereka daripada berpendapat bahwa tentulah pemuda berambut gondrong itu seorang yang kurang ingatan. Seorang prajurit yang agak berumur maju ke muka.

“Orang muda, ini memang istana Raja Pajajaran. Siapapun tak diperkenankan berdiri lama-lama di sekitar sini…” Pemuda itu garuk-garuk kepalanya.

“Kalau berdiri di sini tidak boleh… tentu masuk lebih tidak boleh lagi…” katanya perlahan seperti pada dirinya sendiri.

“Berlalulah dari sini,” kata prajurit tadi.

“Tapi, aku mau bertemu dengan Rara Murni….” kata si pemuda. Prajurit tua itu tertawa.

“Tak seorang pun yang diizinkan bertemu dengan Tuan Puteri, apalagi kau…”

“Ini urusan penting sekali, Saudara!” desak si pemuda.

Salah seorang prajurit yang lain, yang sudah tak sabaran berkata: “Pemuda gila, berlalulah dari sini. Atau pangkal tombakku akan membenjutkan kepalamu!”

Tapi si pemuda tidak memperdulikan ancaman itu. “Saudara pengawal, dengarlah,” katanya. “Aku pernah kenal dengan Rara Murni. Mungkin aku lebih kenal padanya dari kalian semua di sini. Aku musti ketemu dengan dia. Katakan saja bahwa ada seorang pemuda berambut gondrong bernama 212 mau bertemu dengan dia. Pasti dia tahu dan mengizinkan aku masuk…”

Kedelapan prajurit pengawal itu tertawa membahak. Beberapa di antaranya malah mencibir. Dan seseorang di antara mereka berkata: “Kau salah alamat, kawan. Mustinya kau datang ke rumah dukun Gendong di kampung Andawa, minta obat kepadanya agar otakmu yang geblek sinting itu bisa diperbaikinya!”

“Siapa bilang aku sinting?!” radang si pemuda rambut gondrong.

“Kau memang tidak sinting! Tapi berotak miring atau setengah gila!” Dan gelak membahak terdengar lagi di depan pintu gerbang istana itu!

“Kalau kalian tidak mau kasih aku masuk, tak apa,” kata si pemuda yang tiada lain daripada pendekar 212 Wiro Sableng.

“Tapi satu hal aku katakan, aku tidak gila. Kalianlah semua yang gila tertawa tiada pangkal sebab!” Habis berkata begini pemuda itu berlalu, melangkah sambil bersiul-siul. Rara Murni seperti tidak percaya pada pemandangannya ketika melihat pintu terbuka dan dua sosok tubuh masuk ke dalam. Yang seorang adalah inang pengasuhnya, seorang perempuan tua, sedang yang satu lagi adalah pemuda rambut gondrong yang pernah menolongnya tempo hari.

“Kita bertemu lagi, Rara,” kata Wiro Sableng.

“Di pintu gerbang aku tak diperbolehkan masuk, terpaksa lompat lewat tembok dan memaksa perempuan tua ini untuk memberitahukan kamarmu…”

“Ada apakah kau datang ke sini, Saudara 212?” tanya Rara Murni.

“Ah… rupanya kau masih belum melupakan angka itu. Bagus sekali! Mengapa aku datang ke sini… Untuk bertemu dengan kau tentunya.” kata pendekar 212 pula seraya menyandarkan punggungnya ke pintu yang tadi ditutupkannya.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.