Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 9)

The Chamber: Kamar Gas

Sejenak Rosen tampak malu. Adam memandangnya lekat-lekat.

"Aku sendiri menyukai skenario ini," kata Goodman, memutar-mutar dasinya dan mengamati rak buku di belakang Rosen. "Sebenarnya banyak yang harus diucapkan dalam urusan ini. Bisa bagus untuk kami orang-orang pro bono. Pikirkanlah. Pengacara muda ini pergi ke sana untuk bertempur mati-matian guna menyelamatkan pembunuh terkenal yang sedang menunggu eksekusi. Dan dia pengacara kita—Kravitz & Bane. Tentu akan banyak sorotan dari pers, jadi apa jeleknya?"

"Kalau kau tanya aku, gagasan ini luar biasa bagus," Wycoff menambahkan tepat ketika telepon mininya berbunyi di dalam saku. Ia menempelkannya ke rahang dan berbalik dari rapat itu.

"Bagaimana kalau dia mati? Apa kita tidak kelihatan jelek?" tanya Rosen pada Goodman.

"Dia memang seharusnya mati, oke? Itu sebabnya dia ada di sana,'' Goodman menerangkan.

Wycoff berhenti menggumam dan memasukkan telepon ke dalam saku. "Aku harus pergi," katanya, bergerak ke pintu, gelisah sekarang, tergesa-gesa. "Sampai di mana kita?"

"Aku masih tidak menyukainya," kata Rosen.

"Daniel, Daniel, selalu keras kepala," kata Wycoff ketika ia berhenti di ujung meja dan bertelekan dengan dua tangan pada meja tersebut. "Kau tahu ini gagasan bagus, kau cuma marah karena dia tidak memberitahu kita sebelumnya."

"Itu benar. Dia menipu kita, dan sekarang memperalat kita."

Adam menghela napas dalam dan menggelengkan kepala.

"Tenanglah, Daniel. Wawancaranya sudah setahun yang lalu. Itu sudah lewat, sobat. Lupakanlah. Kita punya urusan yang lebih mendesak sekarang. Dia cerdas. Dia bekerja sangat keras. Cekatan. Risetnya rapi. Kita beruntung memilikinya. Lalu keluarganya kacau. Tentu kita takkan menghentikan setiap pengacara di sini yang punya keluarga gila." Wycoff tersenyum lebar pada Adam. "Di samping itu, semua sekretaris berpendapat dia menarik. Kataku, kita kirim dia ke Selatan selama beberapa bulan, lalu tarik dia kembali ke sini secepat mungkin. Aku membutuhkannya. Aku harus pergi sekarang." Ia menghilang dan menutup pintu di belakangnya.

Ruangan itu sunyi senyap ketika Rosen mencoret-coret bukunya, lalu berhenti dan menutup berkas itu. Adam nyaris kasihan padanya. Inilah pejuang hebat itu, Charlie Hustle yang legendaris dalam dunia hukum Chicago, pengacara besar yang tiga puluh tahun lalu membuai juri, menggentarkan lawan, dan mengintimidasi hakim, sekarang duduk di sini sebagai kerani, berusaha mati-matian mempermasalahkan penugasan seorang pelonco dalam melaksanakan proyek pro bono. Adam melihat kelucuan itu, ironinya, dan kepedihannya.

"Aku akan menyetujuinya, Mr. Hall," kata Rosen dengan nada dramatis pada suaranya yang rendah, nyaris berbisik, seakan-akan sangat kesal dengan semua ini. "Tapi ingat, setelah urusan Cayhall selesai dan kau kembali ke Chicago, aku akan merekomendasikan pemecatanmu dari Kravitz & Bane."

"Mungkin tidak perlu," kata Adam cepat.

"Kau melamar pada kami dengan maksud yang tidak jujur," Rosen meneruskan.

"Sudah saya katakan saya menyesal. Takkan terjadi lagi."

"Di samping itu, kau sok pintar."

"Begitu juga Anda, Mr. Rosen. Coba tunjukkan pengacara mana yang tidak sok pintar."

"Sungguh pintar. Nikmatilah kasus Cayhall, Mr. Hall, sebab itu akan jadi pekerjaan terakhirmu untuk biro hukum ini."

"Anda ingin saya menikmati eksekusi?"

"Tenang, Daniel," kata Goodman lembut. "Tenang saja. Tak ada siapa pun yang akan dipecat."

Rosen menudingkan satu jari kegusaran pada Goodman. "Aku bersumpah akan merekomendasikan pemecatannya."

"Baiklah. Kau cuma bisa merekomendasikan, Daniel. Aku akan membawanya pada komite, dan kita akan bertarung hebat, oke?"

"Aku sudah tak sabar menunggu," bentak Rosen sambil melompat berdiri. "Aku akan mulai melobi dari sekarang. Akan kudapatkan suara mereka akhir minggu ini. Selamat siang!" Ia menghambur keluar dari ruangan dan membanting pintu.

***

Mereka duduk berdampingan tanpa bicara, hanya menatap ke seberang meja di balik punggung kursi kosong, pada deretan buku hukum tebal yang dijajarkan dengan rapi menutupi dinding, mendengarkan gema pintu dibanting.

"Terima kasih," akhirnya Adam berkata.

"Dia sebenarnya bukan orang jahat, sungguh," kata Goodman.

"Menawan. Pangeran sejati."

"Aku sudah lama mengenalnya. Sekarang dia menderita, benar-benar frustrasi dan tertekan. Kami tak tahu pasti, apa yang harus dilakukan terhadapnya."

"Bagaimana dengan pensiun?"

"Itu sudah dipertimbangkan, tapi tak pernah ada partner yang dipaksa pensiun. Karena alasan yang jelas, preseden itu ingin kami hindari."

"Apakah dia serius ingin memecat saya?"

"Jangan khawatir, Adam. Itu takkan terjadi. Aku janji. Kau memang salah karena tidak mengungkapkan jati dirimu, tapi itu dosa kecil. Dan sepenuhnya bisa dimengerti. Kau masih muda, ketakutan, naif, dan ingin membantu. Jangan khawatir dengan Rosen. Aku sangsi dia masih di posisi ini setelah tiga bulan nanti."

"Jauh di dalam hati, saya pikir dia menyukai saya."

"Itu cukup jelas."

Adam menghela napas dalam dan berjalan mengelilingi meja. Goodman membuka tutup pena dan mulai membuat catatan. "Waktunya tidak banyak lagi, Adam," katanya.

"Saya tahu."

"Kapan kau bisa berangkat?"

"Besok. Saya akan berkemas malam ini. Itu sepuluh jam perjalanan."

"Bobot berkasnya ada setengah kuintal. Saat ini sedang dicetak. Aku akan mengirimkannya besok.”

"Coba ceritakan tentang kantor kita di Memphis."

"Aku bicara dengan mereka sekitar satu jam yang lalu. Partner pelaksananya Baker Cooley, dan dia sedang menunggumu. Mereka akan menyiapkan kantor kecil dan seorang sekretaris untukmu, dan mereka akan membantu kalau bisa. Mereka tidak terlalu cakap kalau menyangkut perkara pidana."

"Ada berapa pengacara di sana?"

"Dua belas. Kantor itu dulu biro hukum kecil yang kita telan sepuluh tahun yang lalu, dan tak seorang pun ingat tepat apa sebabnya. Tapi mereka orang-orang baik. Pengacara-pengacara yang baik. Tempat itu merupakan reruntuhan biro hukum tua yang pernah jaya menangani pedagang kapas dan gandum di sana, dan kupikir itulah hubungannya dengan Chicago. Tapi pokoknya kantor itu membuat kop surat kita kelihatan bagus. Kau pernah ke Memphis?"

"Saya lahir di sana, ingat?"

"Oh ya."

"Saya pernah sekali ke sana. Saya mengunjungi bibi saya di sana, beberapa tahun yang lalu."

"Sebuah kota tua di tepi sungai. Cukup indah. Kau akan menyukainya."

Adam duduk di depan meja di seberang Goodman. "Bagaimana saya bisa menikmati beberapa bulan berikut?"

"Poin bagus. Kau harus pergi ke The Row secepat mungkin."

"Saya akan ke sana lusa."

"Aku akan menelepon kepala penjaranya. Namanya Phillip Naifeh, yang anehnya orang Lebanon. Ada cukup banyak orang Lebanon di Delta Mississippi. Bagaimanapun, dia teman lama. Aku akan memberitahukan kedatanganmu."

"Kepala penjaranya sahabat Anda?"

"Ya. Kami bersahabat beberapa tahun yang lalu, ketika menangani Maynard Tole, seorang bocah jahat yang merupakan bencana pertama bagiku dalam perang ini. Dia dieksekusi pada tahun 1986, kurasa, dan kemudian aku dan si kepala penjara jadi bersahabat. Dia menentang hukuman mati, kalau kau bisa percaya."

"Saya tidak percaya."

"Dia membenci eksekusi. Kau akan belajar sesuatu, Adam. Hukuman mati mungkin sangat populer di negara kita, tapi orang-orang yang terpaksa melaksanakannya bukanlah pendukungnya. Kau akan menjumpai orang-orang ini: para penjaga yang jadi dekat dengan penghuni penjara; administrator yang harus menyusun rencana pembunuhan secara efisien; pegawai penjara yang harus berlatih sebulan sebelumnya. Tempat itu suatu sudut kecil yang aneh di dunia ini, dan sangat menekan."

"Saya sudah tak sabar menunggu."

"Aku akan bicara dengan kepala penjara, dan minta izin kunjungan. Mereka biasanya memberimu beberapa jam. Tapi kalau Sam tidak menginginkan pengacara, kau hanya butuh lima menit."

"Dia akan bicara dengan saya, tidakkah begitu menurut Anda?"

"Aku yakin demikian. Aku tak bisa membayangkan reaksi orang itu, tapi dia akan bicara. Mungkin butuh beberapa kunjungan sebelum dia setuju, tapi kau bisa melakukannya."

"Kapan terakhir kali Anda menemuinya?"

"Beberapa tahun yang lalu. Aku dan Wallace Tyner yang menangani. Kau perlu mempelajari garis besarnya dari Tyner. Dia ujung tombak dalam kasus ini selama enam tahun terakhir."

Adam mengangguk dan bergerak ke pikiran berikutnya. Selama sembilan bulan terakhir ini ia sudah mengorek isi pikiran Tyner. "Apa yang pertama kita ajukan ke pengadilan?"

"Kita bicarakan hal ini nanti. Aku akan rapat dengan Tyner besok pagi untuk membahas kasus ini. Tapi semuanya akan ditunda sampai kami mendengar kabar darimu. Kita tidak bisa bergerak kalau tidak mewakilinya."

Adam sedang memikirkan foto-foto surat kabar itu, foto hitam-putih dari tahun 1967 ketika Sam ditahan, foto berwarna dari majalah saat sidang ketiga pada tahun 1981, dan potongan siaran berita yang disusunnya menjadi sebuah video tentang Sam Cayhall sepanjang tiga puluh menit. "Bagaimana tampangnya?"

Goodman meletakkan penanya di meja dan memain-mainkan dasinya. "Tinggi rata-rata. Kurus. Tapi memang jarang ada narapidana gemuk di The Row, karena ketegangan dan makanan tanpa lemak. Dia perokok berantai, dan ini umum, sebab tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan, lagi pula mereka toh akan segera mati. Mereknya aneh, Montclair, kurasa, dalam bungkus biru. Seingatku rambutnya beruban dan berminyak. Tidak setiap hari mereka bisa mandi. Agak panjang di belakang, tapi itu dua tahun yang lalu. Tak banyak yang rontok. Jenggot kelabu. Dia cukup keriput, tapi sudah hampir tujuh puluh. Ditambah merokok terus-menerus. Kau akan melihat orang-orang kulit putih di The Row tampak lebih parah keadaannya daripada yang berkulit hitam. Dua puluh tiga jam sehari mereka terkurung, jadi mereka seperti dikelantang. Sangat pucat, putih, nyaris kelihatan sakit. Sam bermata biru, raut mukanya bagus. Kurasa dulu Sam tampan."

"Sesudah kematian ayah saya, dan saya tahu tentang Sam, saya mengajukan banyak pertanyaan kepada ibu saya. Dia tak punya banyak jawaban, tapi dia pernah mengatakan tidak banyak kemiripan fisik antara Sam dan ayah saya."

"Tidak pula antara kau dan Sam, kalau itu yang kaumaksud."

"Yeah, saya rasa begitu."

"Dia tak pernah melihatmu sejak balita, Adam. Dia takkan mengenalimu. Itu takkan mudah. Kau harus mengatakan padanya."

Adam menatap kosong ke meja. "Anda benar. Apa yang akan dikatakannya?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.