Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 8)

 The Chamber: Kamar Gas

"Sepertinya saya menyukai hal itu."

"Sebenarnya tidak jelek. Hal itu akan menarik perhatian kepada biro hukum kecil kita tercinta."

"Dan akan menimbulkan persoalan lain yang tak menyenangkan."

"Kurasa tidak. Tak ada pengecut dalam Kravitz & Bane, Adam. Kami telah bertahan hidup dan makmur di tengah dunia hukum Chicago yang keras dan jungkir balik. Kita dikenal sebagai bajingan paling keji di kota ini. Kita punya kulit paling tebal. Jangan khawatir dengan biro hukum ini."

"Jadi, Anda setuju dengan ini."

Goodman meletakkan lap di meja dan menghirup kopinya seteguk lagi. "Oh, ini gagasan bagus, dengan asumsi kakekmu menyetujuinya. Kalau kau bisa mendapatkannya, atau harus kukatakan mendapatkannya kembali, kita akan kembali bekerja. Kau jadi orang terdepan. Kami bisa memasokmu dengan apa yang kauperlukan dari sini. Aku akan selalu berada di belakangmu. Ini akan berhasil. Kemudian mereka akan membunuhnya dan kau takkan pernah melupakan hal itu. Aku sudah menyaksikan tiga klienku tewas, Mr. Hall, termasuk satu di Mississippi. Kau takkan jadi orang yang sama sesudahnya."

Adam mengangguk dan tersenyum, memandang para pejalan kaki di trotoar.

Goodman meneruskan, "Kami akan hadir untuk memberikan dukungan padamu saat mereka membunuhnya. Kau tak perlu menanggungnya seorang diri."

"Kasus ini bukannya tanpa harapan, bukan?"

"Nyaris. Kita bicarakan strateginya nanti. Pertama, aku akan rapat dengan Daniel Rosen. Dia mungkin ingin berunding panjang denganmu. Kedua, kau harus menemui Sam dan mengadakan reuni kecil. Itulah bagian terberat. Ketiga, kalau dia setuju, kita mulai bekerja."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih padaku, Adam. Aku sangsi kita akan berbicara baik-baik sesudah hal ini selesai."

"Bagaimanapun juga, terima kasih."

***

Rapat itu diatur cepat. E Garner Goodman yang pertama menelepon, dan dalam satu jam para peserta yang diperlukan telah diundang. Dalam empat jam mereka hadir di ruang rapat sempit yang jarang digunakan, di samping kantor Daniel Rosen. Tempat ini benteng Rosen, dan Adam amat tak nyaman karenanya.

Menurut legenda, Daniel Rosen seorang monster, meskipun dua kali serangan jantung sudah merontokkan beberapa duri dan sedikit melunakkannya. Selama tiga puluh tahun ia pengacara bengis, paling keji, paling kejam, dan tak diragukan lagi salah satu petarung ruang sidang paling efektif di Chicago. Sebelum serangan jantung itu.

Ia terkenal karena jadwal kerjanya yang brutal—sembilan puluh jam seminggu, pesta pekerjaan sampai tengah malam dengan asisten dan paralegal menggali-gali dan mengambil barang. Beberapa istri telah meninggalkannya. Tak kurang dari empat sekretaris pada saat yang sama bekerja mati-matian untuk mengikuti iramanya. Dulu Daniel Rosen adalah jantung dan jiwa Kravitz & Bane, tapi sekarang tidak lagi. Dokternya membatasi agar ia bekerja lima puluh jam seminggu di kantor, dan melarangnya melakukan pekerjaan di ruang sidang.

Sekarang, Rosen berumur 65 tahun dan makin gemuk. Secara aklamasi ia dipilih rekan-rekannya tercinta untuk merumput di padang yang lebih mudah, mengurus manajemen kantor. Ia bertanggung jawab atas birokrasi bertele-tele yang menggerakkan Kravitz & Bane. Itu suatu kehormatan, demikian partner-partner lain menjelaskan dengan lemah ketika mereka melimpahkan tanggung jawab itu kepadanya.

Sampai sejauh ini, kehormatan tersebut merupakan bencana. Setelah tersisih dari medan tempur yang dicintai dan dibutuhkannya setengah mati, Rosen mengelola manajemen biro hukum itu dengan cara yang amat mirip dengan persiapan menghadapi perkara pengadilan yang mahal.

Ia melakukan pemeriksaan silang terhadap para sekretaris dan asisten untuk urusan-urusan remeh. Ia berdebat dengan partner-partner lain dan mencaci mereka selama berjam-jam mengenai masalah yang tidak jelas tentang kebijaksanaan biro hukum tersebut. Karena terkurung dalam penjara kantornya, ia memanggil associate-associate muda untuk datang mengunjunginya, lalu bertengkar dengan mereka untuk mengukur ketangguhan mereka di bawah tekanan.

Ia sengaja mengambil tempat duduk di seberang meja rapat kecil itu, tepat di depan Adam, dan memegang sebuah berkas tipis seolah-olah berkas itu berisi rahasia mematikan. E. Garner Goodman duduk dalam-dalam di kursi di samping Adam, memutar-mutar dasi dan menggaruk-garuk jenggot. Ketika ia menelepon Rosen untuk membicarakan permintaan Adam dan mengungkapkan silsilah keturunan Adam, Rosen bereaksi dengan ketololan yang sudah bisa diduga.

Emmitt Wycoff berdiri di salah satu ujung ruangan dengan telepon seluler seukuran kotak korek api tertempel di telinga. Ia hampir lima puluh tahun, tampak jauh lebih tua, dan menjalani hidup setiap hari dalam kepanikan dan telepon terus-menerus.

Dengan hati-hati Rosen membuka berkas di depan Adam dan mengambil sebuah buku tulis kuning. "Mengapa kau tidak memberi tahu kami tentang kakekmu ketika kami mewawancaraimu tahun lalu?" Ia memulai dengan suara cepat dan tatapan ganas.

"Sebab kalian tidak menanyakan," jawab Adam. Goodman sudah membisiki bahwa rapat itu mungkin akan keras, tapi ia dan Wycoff akan menang.

"Jangan berlagak,” Rosen menggeram.

"Sudahlah, Daniel," Goodman berkata dan memutar mata ke arah Wycoff yang menggelengkan kepala dan memandang ke langit-langit.

"Mr. Hall, tidakkah kau seharusnya memberitahukan bahwa kau punya hubungan keluarga dengan salah satu klien kami? Tentunya kau setuju kami punya hak untuk mengetahui hal ini, bukan, Mr. Hall?" Nada suaranya yang mengejek biasanya disimpannya untuk menanyai saksi yang berbohong dan terperangkap.

"Kalian menanyai saya tentang berbagai hal lain," Adam menjawab, sangat terkendali. "Ingat pemeriksaan kelakuan baik itu? Sidik jari? Bahkan pernah ada pembicaraan untuk memakai poligraf."

"Ya, Mr. Hall, tapi kau tahu berbagai hal yang tidak kami ketahui. Dan kakekmu klien biro hukum ini ketika kau melamar, dan sudah tentu kau seharusnya memberi tahu kami." Suara Rosen berirama, bergerak naik-turun dengan keahlian aktor hebat. Matanya tak pernah lepas dari Adam.

"Bukan kakek seperti umumnya," kata Adam pelan.

"Dia masih tetap kakekmu, dan kau tahu dia klien ketika kau melamar pekerjaan di sini."

"Kalau begitu, saya minta maaf," kata Adam. "Biro hukum ini punya ribuan klien, semuanya berada dan membayar dalam jumlah besar untuk jasa kita. Saya tak pernah membayangkan satu kasus pro bono yang sepele akan menimbulkan masalah."

"Kau licik, Mr. Hall. Kau dengan sengaja memilih biro hukum ini pada saat kami mewakili kakekmu. Dan sekarang, sekonyong-konyong, kau mengemis kasus itu di sini. Ini menempatkan kami pada posisi sulit."

"Posisi sulit apa?" Emmitt Wycoff bertanya sambil melipat telepon dan menjejalkannya ke dalam saku. "Dengar, Daniel, kita bicara tentang orang yang sedang menunggu hukuman mati. Dia buruh pengacara, sialan!"

"Cucunya sendiri?" tanya Rosen.

"Siapa peduli itu cucunya sendiri? Orang itu sudah menapakkan satu kaki ke liang kubur, dan dia butuh pengacara."

"Dia sudah memecat kita, ingat?" balas Rosen.

"Yeah, dan dia selalu bisa memakai kita lagi. Ini patut dicoba. Tenanglah."

"Dengar, Emmitt, sudah jadi tugasku untuk memikirkan citra biro hukum ini. Gagasan mengirim salah satu associate baru ke Mississippi agar dia kalah dan kliennya dieksekusi tidak menarik bagiku. Teras terang, kupikir Mr. Hall harus dipecat dari Kravitz & Bane."

"Oh, hebat, Daniel," kata Wycoff. "Tanggapan keras yang khas untuk masalah peka. Kalau begitu, siapa yang akan mewakili Cayhall? Pikirkanlah dia sejenak. Orang itu butuh pengacara! Mungkin Adam peluang satu-satunya."

"Semoga Tuhan membantunya," gumam Rosen.

E. Garner Goodman memutuskan berbicara. Ia menangkupkan tangan di atas meja dan menatap tajam pada Rosen. "Citra biro hukum ini? Sejujurnya, apa kau merasa kita segerombolan pekerja sosial yang kurang bayaran dan membaktikan diri untuk membantu orang?"

"Atau bagaimana kalau segerombolan biarawati yang menggarap proyek-proyek ini?" Wycoff menambahkan dengan nada mengejek.

"Mengapa kauanggap hal ini bisa merusak citra biro hukum kita?" tanya Goodman.

Konsep mundur tak pernah masuk dalam pikiran Rosen. "Sangat sederhana, Garner. Kita tidak mengirimkan orang baru menangani terpidana mati. Kita boleh menganiaya mereka, mencoba membunuh mereka, menuntut mereka bekerja dua puluh jam sehari, tapi kita tidak mengirim mereka ke medan tempur, sampai mereka siap. Kau tahu bagaimana beratnya proses peradilan yang melibatkan hukuman mati. Nah, kau pernah menulis buku tentang itu. Bagaimana kau bisa mengharapkan Mr. Hall efektif?"

"Aku akan mengawasi semua yang dikerjakannya," jawab Goodman.

"Dia benar-benar bagus," Wycoff menambahkan lagi. "Dia sudah menghafalkan seluruh berkas itu, kau tahu, Daniel."

"Ini akan lancar," kata Goodman. "Percayalah padaku, Daniel, aku sudah cukup banyak melewati kesulitan macam ini. Aku akan terus mengawasi."

"Dan aku akan menyisihkan beberapa jam untuk membantu," Wycoff menambahkan. "Bahkan kalau diperlukan, aku akan terbang ke sana."

Goodman terenyak dan menatap Wycoff. "Kau! Pro bono?"

"Tentu saja. Aku punya nurani."

Adam tidak menghiraukan olok-olok itu dan menatap Daniel Rosen. Teruskan dan pecatlah aku, ingin ia berkata begitu. Teruskan, Mr. Rosen, pecatlah aku sehingga aku bisa pergi menguburkan kakekku, lalu bisa terus menjalani sisa hidupku.

"Dan kalau dia dieksekusi?" tanya Rosen ke arah Goodman.

"Kita sudah pernah mengalaminya, Daniel, kau tahu itu. Tiga kali, sejak aku menangani bagian pro bono."

"Bagaimana peluangnya?"

"Cukup tipis. Saat ini dia belum dieksekusi karena penundaan yang diberikan Pengadilan Fifth Circuit. Penundaan ini bisa dicabut setiap saat sekarang, dan tanggal eksekusi yang baru akan ditetapkan. Mungkin akhir musim panas."

"Kalau begitu, tak lama lagi."

"Benar. Sudah tujuh tahun kita menangani perkara bandingnya, dan sekarang waktunya sudah habis."

"Dari semua terpidana mati, bagaimana kita bisa mewakili bajingan ini?" tanya Rosen kasar.

"Ceritanya panjang, dan saat ini hal itu sama sekali tidak relevan."

Rosen menuliskan sesuatu yang kelihatan seperti catatan penting pada buku tulisnya. "Kalian tentu tidak berpikir untuk meredam kehebohan, bukan?"

"Mungkin."

"Mungkin apa! Tepat sebelum membunuhnya, mereka akan membuatnya jadi orang terkenal. Media akan mengerumuni seperti segerombolan serigala. Jati dirimu akan terungkap, Mr. Hall."

"Jadi?"

"Jadi, itu akan jadi berita hebat, Mr. Hall. Tidak bisakah kaulihat judul beritanya? CUCU YANG LAMA HILANG KEMBALI UNTUK MENYELAMATKAN KAKEKNYA."

"Sudahlah, Daniel," kata Goodman.

Namun ia meneruskan, "Tidakkah kaulihat pers akan melahapnya, Mr. Hall? Mereka akan menyorotimu dan bicara betapa gila keluargamu."

"Tapi kita menyukai pers, bukan, Mr. Rosen?" tanya Adam tenang. "Kita pengacara. Bukankah selayaknya kita beraksi untuk kamera? Anda tak pernah..."

"Poin yang sangat bagus," Goodman menyela. "Daniel, mungkin tidak seharusnya kau menasihati pemuda ini untuk mengabaikan pers. Kita bisa menceritakan beberapa penampilanmu."

"Ya, Daniel, kuliahi bocah ini tentang segala hal lain, tapi singkirkan segala sampah tentang media itu," kata Wycoff sambil menyeringai licik. "Kau yang menulis bukunya."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.