Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 7)

 The Chamber: Kamar Gas

"Seharusnya kauceritakan hal ini dari semula, sebelum kami mempekerjakanmu."

"Saya tahu. Tapi tak seorang pun menanyakan apakah kakek saya klien biro hukum ini."

"Seharusnya kau mengatakan sesuatu."

"Mereka takkan memecat saya, bukan?"

"Aku meragukannya. Di mana saja kau selama sembilan bulan terakhir?"

"Di sini, bekerja sembilan puluh jam seminggu, tidur di meja kerja, makan di perpustakaan, belajar mati-matian untuk mendapatkan lisensi pengacara. Anda tahu, ujian keras untuk para pelonco yang kalian rancang untuk kami."

"Itu konyol, bukan?"

"Saya tangguh." Adam membuka celah pada tirai untuk melihat danau dengan lebih baik. Goodman mengawasinya.

"Mengapa tidak Anda buka tirai ini?" tanya Adam. "Pemandangannya indah."

"Aku sudah pernah melihatnya."

"Saya bersedia membunuh untuk mendapatkan kantor dengan pemandangan seperti ini. Bilik kerja saya yang sempit letaknya jauh dari jendela mana pun."

"Bekerjalah dengan keras, masukkan tagihan lebih banyak lagi, dan suatu hari kelak ini akan jadi milikmu."

“Tidak."

"Kau akan meninggalkan kami. Mr. Hall?"

"Mungkin, pada akhirnya nanti. Tapi itu rahasia lain, oke? Saya merencanakan bekerja keras satu-dua tahun, lalu pindah. Mungkin buka kantor sendiri, tempat kehidupan tidak berputar menurut jam. Saya ingin melakukan pekerjaan pelayanan masyarakat, Anda tahu, seperti yang Anda lakukan."

"Jadi, sesudah sembilan bulan, kau sudah siap mengecewakan Kravitz & Bane?"

“Tidak. Tapi saya bisa melihat hal itu akan terjadi. Saya tak ingin menghabiskan karier saya untuk mewakili bajingan-bajingan kaya dan perusahaan-perusahaan yang tidak taat hukum."

"Kalau begitu, kau pasti berada di tempat keliru."

Adam meninggalkan jendela dan berjalan ke tepi meja. Ia memandang ke bawah pada Goodman. "Saya memang berada di tempat yang salah, dan saya menginginkan transfer. Wycoff akan setuju mengirim saya ke kantor kecil kita di Memphis untuk beberapa bulan mendatang, supaya saya bisa menggarap kasus Cayhall. Semacam cuti, dengan bayaran penuh tentunya."

"Ada lagi?"

"Itu cukup. Itu akan berhasil. Saya cuma pelonco baru rendahan, bisa dihamburkan untuk apa saja di sini. Tak seorang pun akan kehilangan saya. Persetan, banyak tukang gorok muda yang begitu bersemangat bekerja delapan belas jam sehari dan mencatatkan tagihan dua puluh jam."

Wajah Goodman mengendur dan sebuah senyum hangat muncul. Ia menggelengkan kepala, seolah-olah hal ini mengesankannya. "Kau sudah merencanakan hal ini, bukan? Maksudku, kau memilih biro hukum ini karena mereka mewakili Sam Cayhall, dan karena mereka punya kantor di Memphis."

Adam mengangguk tanpa senyum. "Segalanya berhasil. Saya tidak tahu bagaimana atau kapan saat seperti ini akan tiba, tapi... ya, saya kurang lebih merencanakannya. Jangan tanya saya apa yang akan terjadi selanjutnya."

"Dia akan mati tiga bulan lagi, kalau tidak lebih cepat."

"Tapi saya harus melakukan sesuatu, Mr. Goodman. Kalau biro hukum ini tidak memperkenankan saya menangani kasus ini, saya mungkin akan mengundurkan diri dan mencobanya sendiri."

Goodman menggelengkan kepala dan melompat berdiri. "Jangan lakukan hal itu, Mr. Hall. Akan kita usahakan sesuatu. Aku harus mengajukan masalah ini pada Daniel Rosen, partner pelaksana. Kurasa dia akan setuju."

"Dia punya reputasi mengerikan."

"Memang patut dia dapatkan. Tapi aku bisa bicara dengannya."

"Dia akan mengizinkan kalau Anda dan Wycoff memberikan rekomendasi, bukan?"

"Tentu. Apa kau lapar?" Goodman meraih jasnya.

"Sedikit."

"Mari keluar makan sandwich."

***

Gerombolan orang banyak belum lagi tiba di kedai sudut itu untuk makan siang. Sang partner dan sang pelonco memilih sebuah meja kecil di jendela depan yang menghadap ke trotoar. Lalu lintas bergerak lamban dan ratusan pejalan kaki hilir-mudik, cuma beberapa meter dari mereka. Pelayan menyajikan sandwich Reuben yang berminyak untuk Goodman dan semangkuk sup ayam untuk Adam.

"Berapa banyak terpidana mati yang menghuni penjara di Mississippi?" tanya Goodman.

"Empat puluh delapan, menurut hitungan bulan lalu. Dua puluh lima hitam, dua puluh tiga putih. Eksekusi terakhir terjadi dua tahun yang lalu—Willie Partis. Sam Cayhall mungkin akan jadi yang berikut, kecuali ada keajaiban kecil."

Goodman mengunyah satu gigitan besar dengan cepat. Ia menyeka mulut dengan lap kertas. "Keajaiban besar, kalau boleh kukatakan. Dari segi hukum, tidak banyak hal lain yang bisa dilakukan."

"Ada berbagai macam mosi upaya terakhir."

"Mari kita tunda pembicaraan tentang strategi untuk nanti. Kurasa kau belum pernah ke Parchman."

"Belum. Sejak tahu peristiwa sebenarnya, saya selalu tergoda kembali ke Mississippi, tapi itu belum terjadi."

"Itu merupakan tanah pertanian luas di tengah Delta Mississippi, yang ironisnya tidak jauh dari Greenville. Sekitar 17.000 ekar. Mungkin tempat paling panas di dunia. Letaknya di Highway 49, mirip dusun kecil di barat. Banyak bangunan dan rumah. Bagian depannya untuk administrasi, dan tempat itu tidak ditutup pagar. Ada sekitar tiga puluh kamp yang berlainan bertebaran di seluruh lahan ini, semuanya dipagari dan dijaga. Masing-masing kamp sepenuhnya terpisah. Beberapa di antaranya terpisah beberapa mil. Kau melewati berbagai kamp, semuanya dikelilingi pagar kawat dan kawat duri, semuanya dengan ratusan narapidana berkeliaran, menganggur. Mereka memakai pakaian dengan warna berlainan, tergantung klasifikasi mereka. Tampaknya mereka semua pemuda kulit hitam, berkeliaran, beberapa main bola basket, beberapa cuma duduk di teras-teras bangunan. Ada satu-dua wajah putih. Kau lewat dalam mobilmu, seorang diri dan sangat perlahan-lahan, menyusuri jalan tanah, melewati kamp-kamp dan kawat duri, sampai kau tiba di bangunan kecil beratap datar yang tampaknya tidak membahayakan. Bangunan dikelilingi pagar tinggi dengan para penjaga mengawasi dari menara-menara. Fasilitas itu cukup modem. Punya nama resmi, tapi semua orang menyebutnya The Row."

"Kedengarannya tempat itu menyenangkan."

"Tadinya kupikir tempat itu penjara bawah tanah. Kau tahu, gelap dan dingin, dengan air menetes-netes dari atas. Tapi penjara itu cuma bangunan kecil yang datar di tengah ladang kapas. Sebenarnya tempat itu tidak seburuk penjara terpidana mati di negara bagian lain."

"Saya ingin melihat The Row."

"Kau belum siap melihatnya. Tempat itu mengerikan dan penuh dengan orang-orang menjengkelkan yang menunggu ajal. Aku pertama kali melihatnya ketika berumur enam puluh tahun, dan sesudahnya aku tak bisa tidur seminggu penuh. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaanmu bila kau pergi ke sana. The Row sudah cukup mengerikan bila kau mewakili orang yang sama sekali tak kaukenal."

"Dia sama sekali tidak saya kenal."

"Bagaimana kau hendak menceritakan..."

"Entahlah, saya tidak tahu. Akan saya pikirkan sesuatu. Saya yakin itu akan terjadi."

Goodman menggelengkan kepala. "Ini aneh."

"Seluruh keluarga ini aneh."

"Sekarang aku ingat Sam punya dua anak, rasanya yang satu perempuan. Itu sudah lama. Tyner yang kebanyakan menggarap pekerjaan ini, kau tahu."

"Anak perempuannya adalah bibi saya, Lee Cayhall Booth, tapi dia berusaha melupakan nama gadisnya. Dia menikah dengan laki-laki Memphis kaya raya. Suaminya memiliki satu atau dua bank, dan mereka tidak bercerita tentang ayahnya kepada siapa pun."

"Di mana ibumu?"

"Portland. Dia menikah lagi beberapa tahun yang lalu, dan kami bicara kira-kira dua kali setahun. Istilah halusnya adalah penyimpangan fungsional."

"Bagaimana kau bisa membiayai kuliahmu di Pepperdine?"

"Asuransi jiwa. Ayah saya tak pernah kerasan bekerja di mana pun, tapi cukup bijaksana untuk beli asuransi jiwa. Masa tunggunya sudah habis bertahun-tahun sebelum dia bunuh diri."

"Sam tak pernah bicara tentang keluarganya?"

"Dan keluarganya tak pernah bicara tentang dia. Istrinya, nenek saya, meninggal dunia beberapa tahun sebelum dia dipidana. Tentu saja saya tidak tahu tentang hal ini. Sebagian penelitian asal-usul saya didapatkan dan ibu saya, yang telah berhasil dengan baik melupakan masa lalu. Saya tidak tahu bagaimana caranya dalam keluarga normal, Mr. Goodman, tapi keluarga saya jarang berkumpul, dan bila dua atau lebih di antara kami kebetulan bertemu, kami jarang membicarakan masa lain. Ada banyak rahasia gelap."

Goodman mengiris sepotong kentang goreng dan mendengarkan dengan penuh perhatian. "Kau menyebutkan punya adik perempuan."

"Ya, saya punya adik perempuan—Carmen. Dia umur 23 tahun, gadis yang cerdas dan cantik, sedang kuliah di Berkeley. Dia dilahirkan di LA, jadi tidak perlu ganti nama seperti kami. Kami masih berhubungan."

"Dia tahu?"

"Ya, dia tahu. Bibi saya, Lee, menceritakannya pada saya lebih dulu, tepat sesudah penguburan Ayah, lalu seperti biasa. Ibu meminta saya menceritakannya pada Carmen. Dia baru empat belas tahun saat itu. Dia tak pernah kelihatan tertarik pada Sam Cayhall. Terus terang, seluruh keluarga mengharapkannya berlalu begitu saja dengan tenang."

"Harapan mereka akan segera terlaksana."

"Tapi itu takkan terjadi dengan tenang, bukan, Mr. Goodman?"

"Tidak. Eksekusi macam itu tak pernah tenang. Selama beberapa saat yang singkat tapi mengerikan, Sam Cayhall akan menjadi orang yang paling banyak dibicarakan di negeri ini. Kita akan menyaksikan kembali potongan film sesudah pengeboman itu, dan sidang pengadilan dengan Ku Klux Klan berpawai sekeliling gedung pengadilan. Perdebatan panjang tentang hukuman mati akan meletup. Pers akan turun membanjiri Parchman. Lalu mereka akan membunuhnya, dan dua hari kemudian semua itu akan dilupakan. Itu terjadi tiap kali."

Adam mengaduk supnya dan dengan hati-hati menyendok sepotong ayam. Ia mengamatinya sejenak, lalu mengembalikannya ke dalam kaldu. Ia tidak lapar. Goodman menghabiskan kentang goreng lagi dan menyekakan lap pada sudut mulutnya.

"Mr. Hall, kurasa kau tidak tahu kau akan bisa meredam semua ini agar berlangsung tenang."

"Saya pernah memikirkannya."

"Lupakanlah."

"Ibu memohon agar saya tidak melakukannya. Adik saya tak mau membicarakannya. Dan bibi saya di Memphis yakin sekali dengan kemungkinan kecil bahwa kami semua akan dikenali sebagai keluarga Cayhall dan hancur untuk selamanya."

"Kemungkinan itu tidak kecil. Bila pers selesai denganmu, mereka akan memajang foto hitam-putih dirimu di pangkuan kakekmu. Itu akan tercetak bagus. Mr. Hall. Coba pikirkan. Cucu yang terlupakan menyerbu pada detik-detik terakhir, melakukan upaya heroik untuk menyelamatkan kakeknya yang malang, sementara jam terus berdetak."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.