Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 67)

The Chamber: Kamar Gas

~ 34 ~

Penjaga bernama Tiny memborgol Sam dan membawanya meninggalkan Tier A. Sam membawa kantong plastik yang terisi penuh dengan surat penggemar selama dua minggu terakhir. Selama kariernya sebagai narapidana di death row, sebulan ia rata-rata menerima segenggam surat dari pendukung—anggota Klan dan pendukung mereka, pengagung kemurnian ras, anti-Semit, segala macam orang fanatik. Selama satu-dua tahun ia menjawab surat-surat ini, dan dengan berjalannya waktu ia jadi letih dengannya. Apa manfaatnya?

Bagi beberapa orang, ia pahlawan, tapi semakin banyak ia bertukar kata dengan pemujanya, makin sintinglah mereka. Banyak orang edan di luar sana. Pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ia mungkin lebih aman di The Row daripada di dunia bebas.

Surat telah dinyatakan pengadilan federal sebagai suatu hak, bukan keistimewaan. Jadi, itu tak bisa dicabut. Akan tetapi hal itu bisa diatur. Setiap surat dibuka pemeriksa, kecuali jika sampulnya menunjukan itu dari pengacara. Selain seorang narapidana terkena sensor surat, surat-surat itu tidak dibaca. Surat-surat itu dikirim ke The Row pada saatnya dan dibagikan kepada para narapidana. Kardus dan paket juga dibuka dan diperiksa.

Bayangan akan kehilangan Sam terasa menakutkan bagi banyak orang fanatik, dan suratnya meningkat secara dramatis sejak Pengadilan Fifth Circuit mencabut penundaan eksekusi. Mereka menawarkan dukungan teguh dan doa. Beberapa menawarkan uang. Surat-surat mereka cenderung panjang saat mereka tanpa terkecuali mencerca orang Yahudi, orang kulit hitam, kaum liberal, dan begundal lainnya. Beberapa mengomel tentang pajak, pengawasan senjata, dan utang nasional. Beberapa memberikan khotbah.

Sam muak dengan surat. Rata-rata ia menerima enam surat per hari. Ia meletakkannya di counter ketika borgol dilepas, lalu minta penjaga membuka pintu kecil pada kisi-kisi. Penjaga itu mengangsurkan tas plastik tersebut melalui pintu dan Adam mengambilnya di sisi lain. Si penjaga berlalu, mengunci pintu di belakangnya.

"Apa ini?" Adam bertanya sambil memegang tas itu.

"Surat penggemar." Sam duduk di tempat biasanya dan menyalakan sebatang rokok.

"Apa yang harus kulakukan dengannya?"

"Bacalah. Bakarlah. Aku tak peduli. Aku membersihkan selku pagi ini dan barang ini menghalangi. Aku tahu kau ada di New Orleans kemarin. Ceritakan padaku."

Adam meletakkan surat-surat itu di kursi, dan duduk di seberang Sam. Suhu di luar mencapai 39 derajat Celcius, dan di dalam ruang kunjungan pun tak jauh lebih sejuk. Saat itu hari Sabtu, dan Adam memakai jeans, pantofel, dan kemeja polo katun yang sangat ringan. "Fifth Circuit menelepon hari Kamis, dan mengatakan ingin mendengar argumentasiku hari Jumat. Aku pergi ke sana, mencengangkan mereka dengan kecemerlanganku, dan terbang kembali ke Memphis pagi ini."

"Kapan mereka mengambil keputusan?"

"Segera."

"Panel dengan tiga hakim?"

"Ya"

"Siapa?"

"Judy, Robichaux, dan McNeely."

Sam merenungkan nama-nama itu sejenak. "McNeely adalah pejuang tua yang akan membantu kita. Judy adalah bangsat konservatif—ups, maaf—maksudku, perempuan Amerika konservatif, orang yang ditunjuk kaum Republik. Aku sangsi dia akan menolong. Aku tidak begitu mengenal Robicahux. Dari mana asalnya?"

"Louisiana Selatan."

"Ah, seorang Amerika-Cajun."

"Kurasa begitu. Dia keras. Dia takkan membantu."

"Kalau begitu, kita akan kalah dua lawan satu.”

“Kupikir kau tadi mengatakan kau memesona mereka dengan kecemerlanganmu."

"Kita belum lagi kalah." Adam terperanjat mendengar Sam bicara dengan sikap begitu mengenal masing-masing hakim. Tapi ia memang sudah bertahun-tahun mempelajari pengadilan itu.

"Di mana klaim tentang bantuan hukum tidak efektif itu?" tanya Sam.

"Masih di pengadilan distrik di sini. Itu diajukan beberapa hari di belakang yang lain."

"Mari kita ajukan sesuatu yang lain, oke?"

"Aku sedang mengerjakannya."

"Kerjakanlah cepat. Aku cuma punya sebelas hari. Ada kalender di dindingku, dan sedikitnya tiga jam kuhabiskan untuk menatapnya. Saat bangun pagi kubuat tanda X pada tanggal sebelumnya. Tanggai 8 Agustus kulingkari. Tanda X-nya makin dekat ke lingkaran. Lakukanlah sesuatu."

"Aku sedang bekerja, oke? Sebenarnya aku sedang mengembangkan teori serangan baru."

"Bocah hebat."

"Kupikir kita bisa membuktikan bahwa secara mental kau tak seimbang."

"Selama ini aku sudah mempertimbangkan itu."

"Kau sudah tua. Kau pikun. Kau terlalu tenang menghadapi semua ini. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kau tak mampu memahami alasan eksekusimu."

"Kita sudah membaca kasus-kasus yang sama."

"Goodman kenal seorang ahli yang bersedia mengatakan apa saja untuk sejumlah bayaran. Kami sedang mempertimbangkan akan membawanya ke sini untuk memeriksamu."

"Bagus. Aku akan mencabuti rambut dan mengejar kupu-kupu sekeliling ruangan."

"Kupikir kita bisa berjuang keras dengan klaim ketidakmampuan mental."

"Aku setuju. Kerjakanlah. Mari kita ajukan dalih sebanyak-banyaknya."

"Aku akan melakukannya."

Sam mengepul-ngepulkan rokok dan berpikir selama beberapa menit. Mereka berdua berkeringat, dan Adam butuh udara segar. Ia harus ke mobilnya yang berjendela tertutup dan menyalakan AC pada posisi high.

"Kapan kau kembali?" tanya Sam.

"Senin. Dengar, Sam, ini bukan pembicaraan yang menyenangkan, tapi kita perlu mengemukakannya. Kau akan mati hari-hari ini. Mungkin tanggal 8 Agustus, atau mungkin lima tahun dari sekarang. Dengan kecepatanmu merokok sekarang, kau takkan bertahan lama."

"Merokok bukan masalah kesehatanku yang paling mendesak."

"Aku tahu. Tapi keluargamu, Lee dan aku, perlu mempersiapkan penguburan. Itu tak dapat dikerjakan dalam semalam."

Sam menatap deretan segi tiga pada kisi-kisi. Adam mencoret-coret buku. AC menyembur dan mendesis, tak banyak membantu.

"Nenekmu wanita yang baik, Adam. Sayang kau tak mengenalnya. Dia layak mendapatkan yang lebih baik daripada aku."

"Lee membawaku ke makamnya."

"Aku menyebabkan banyak penderitaan baginya, dan dia menanggungnya dengan tabah. Kuburlah aku di sampingnya, dan mungkin aku bisa mengatakan padanya aku menyesal."

"Aku akan mengurusnya."

"Kerjakanlah. Bagaimana kau akan membayar tempatnya?"

"Aku bisa mengurusnya, Sam."

"Aku tak punya uang, Adam. Aku menghabiskannya bertahun-tahun yang lalu, karena alasan yang mungkin jelas. Aku kehilangan tanah dan rumah, jadi tak ada yang tersisa."

"Apakah kau punya surat wasiat?"

"Ya. Aku menyiapkannya sendiri."

"Kita akan melihatnya minggu depan."

"Kau janji akan ke sini hari Senin?"

"Aku janji, Sam. Bisakah kubawakan sesuatu untukmu?"

Sam sangsi sedetik dan nyaris kelihatan malu. "Kau tahu apa yang benar-benar kusukai?" ia bertanya dengan senyum kekanak-kanakan.

"Apa? Apa saja, Sam."

"Ketika aku masih kanak-kanak, aku senang sekali makan Eskimo Pie."

"Eskimo Pie?"

"Yeah, es krim batangan kecil. Vanila, dengan lapisan cokelat. Aku makan es krim itu sampai tiba di tempat ini. Kupikir mereka masih membuatnya."

"Eskimo Pie?" Adam mengulangi.

"Yeah. Aku masih bisa merasakannya. Es krim terhebat di dunia. Bisakah kaubayangkan betapa nikmat rasanya saat ini dalam oven ini?"

"Kalau begitu, Sam, kau akan mendapatkan Eskimo Pie."

"Bawakan lebih dari satu."

"Akan kubawa selusin. Kita akan memakannya di sini, sambil berkeringat."

***

Pengunjung Sam yang kedua pada hari Sabtu itu tidak terduga. Ia berhenti di gardu penjaga di gerbang depan dan mengeluarkan SIM North Carolina dengan fotonya tertempel di sana. Ia menerangkan kepada penjaga bahwa ia saudara Sam Cayhall, dan telah diberitahu bisa menjenguk Sam Cayhall di death row kapan saja antara sekarang dan saat eksekusi yang sudah dijadwalkan. Ia sudah bicara dengan seorang Mr. Holland di bagian Administrasi kemarin, dan Mr. Holland meyakinkannya bahwa peraturan kunjungan untuk Sam Cayhall memang dikendurkan. Ia bisa berkunjung kapan saja antara pukul 08.00 sampai pukul 17.00, hari apa saja. Penjaga melangkah ke dalam dan menelepon.

Lima menit berlalu sementara si pengunjung duduk dengan sabar dalam mobil sewaannya. Penjaga itu menelepon dua kali lagi, lalu menyalin nomor registrasi mobil tersebut pada clipboard-nya. Ia menginstruksikan pengunjung itu untuk parkir beberapa meter dari sana, mengunci mobilnya, dan menunggu di samping gardu penjaga. Tamu itu melakukan seperti diinstruksikan, dan dalam beberapa menit sebuah van putih milik penjara muncul. Seorang penjaga bersenjata dan berseragam ada di belakang kemudi, dan ia memberi tanda kepada tamu itu untuk masuk.

Van itu dipersilakan lewat melalui gerbang ganda di MSU, dan dikemudikan ke pintu depan, tempat dua penjaga lain menunggu. Mereka menggeledahnya di tangga. Ia tak membawa tas atau bungkusan apa pun.

Mereka membawanya mengitari sudut, masuk ke dalam ruang pengunjung yang kosong. Ia duduk dekat bagian tengah kisi-kisi. "Kami akan menjemput Sam," salah satu penjaga itu berkata. "Perlu sekitar lima menit."

Sam sedang mengetik surat ketika penjaga itu berhenti di pintunya. "Ayo, Sam. Kau ada tamu."

Sam berhenti mengetik dan menatap mereka. Kipas anginnya sedang meniup keras dan televisinya menyala menangkap siaran bisbol. "Siapa?" tukasnya.

"Saudaramu."

Sam perlahan-lahan meletakkan mesin tik di atas rak buku dan meraih pakaian terusannya. "Saudara yang mana?"

"Tidak kami tanya, Sam. Pokoknya saudaramu. Sekarang ayolah."

Mereka memborgolnya dan ia mengikuti mereka sepanjang tier. Sam punya tiga saudara laki-laki, tapi yang tertua sudah meninggal karena serangan jantung sebelum Sam dikirim ke penjara. Donnie, yang termuda, berumur 61 tahun, sekarang tinggal dekat Durham, North Carolina. Albert, 67 tahun, kesehatannya buruk dan tinggal jauh di tengah hutan di pedesaan Ford County.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 68)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.