Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 66)

The Chamber: Kamar Gas

Hakim McNeely menyela dan bertanya, "Mr. Hall, mengapa Mississippi beralih dari kamar gas ke suntikan mematikan?"

Hal ini sudah diliput secara mendalam dalam gugatan dan makalah itu, dan Adam langsung merasakan McNeeley adalah teman. "Saya sudah meringkas sejarah legislatif dari undang-undang itu dalam makalah saya, Yang Mulia, tapi pada pokoknya itu dibuat untuk memudahkan eksekusi. Badan pembuat undang-undang mengakui ini cara yang lebih mudah untuk mati, dan dengan demikian mengelak dari tantangan konstitusional seperti sekarang ini, maka metodenya diganti."

"Jadi, negara secara efektif mengakui ada cara yang lebih baik untuk mengeksekusi orang?"

"Ya. Tapi undang-undang itu berlaku tahun 1984, dan hanya diterapkan pada terpidana yang divonis sesudahnya. Itu tidak berlaku bagi Sam Cayhall."

"Saya mengerti itu. Anda meminta kami mencoret kamar gas sebagai suatu cara eksekusi. Apa yang terjadi bila kami melakukannya? Apa yang terjadi pada klien Anda dan orang-orang macam dia yang di vonis sebelum 1984? Apakah mereka akan lolos? Tak ada ketentuan dalam undang-undang itu untuk mengeksekusi mereka dengan suntikan mematikan."

Adam sudah mengantisipasi pertanyaan jelas ini. Sam sudah menanyakannya. "Saya tak dapat menjawab itu, Yang Mulia, kecuali mengatakan saya punya keyakinan besar pada kemampuan dan kesediaan Badan Penyusun Undang-undang Mississippi untuk membuat undang-undang baru yang mencakup klien saya dan mereka yang ada dalam posisinya."

Hakim Judy menyelipkan diri pada titik ini. "Dengan asumsi bahwa mereka membuatnya Mr. Hall, apa yang akan Anda ajukan sebagai dalih bila Anda kembali ke sini tiga tahun lagi?"

Syukurlah, lampu kuning menyala, dan Adam cuma punya satu menit tersisa. "Saya akan memikirkan sesuatu," katanya dengan senyum lebar. "Beri saja saya waktu."

"Kami sudah melihat kasus seperti ini, Mr. Cayhall," kata Robichaux. "Bahkan sebenarnya hal itu Anda kutip dalam makalah Anda. Kasus dari Texas."

"Ya, Yang Mulia. Saya mohon sidang mempertimbangkan kembali keputusannya atas masalah ini. Pada akhirnya setiap negara bagian dengan kamar gas atau kursi listrik telah beralih ke suntikan mematikan. Alasannya jelas."

Ia punya beberapa detik tersisa, tapi memutuskan harus berhenti sekarang. Ia tak menginginkan pertanyaan lain. "Terima kasih," katanya, lalu berjalan mantap kembali ke tempat duduknya. Presentasi itu selesai. Ia telah menunda sarapan pagi, presentasinya itu cukup baik sebagai pelonco. Lain kali akan lebih mudah.

Roxburgh kaku dan metodis, serta siap sepenuhnya. Ia mencoba beberapa lelucon tentang tikus dan kejahatan yang mereka lakukan, tapi hasilnya menyedihkan. McNeely menaburinya dengan pertanyaan-pertanyaan mirip tentang mengapa negara-negara bagian bergegas beralih ke suntikan mematikan.

Roxburgh bertahan pada senjatanya dan menguraikan sederet panjang kasus di mana berbagai pengadilan federal mengesahkan hukuman mati dengan gas, listrik, gantung, dan regu tembak. Undang-undang yang mapan ada di pihaknya, dan ia memanfaatkannya sebaik mungkin. Dua puluh menit jatahnya lewat dengan cepat, dan ia kembali ke tempat duduknya secepat Adam.

Hakim Judy bicara ringkas tentang mendesaknya urusan ini, dan menjanjikan keputusan dalam beberapa hari. Semua orang berdiri bersamaan, dan tiga hakim itu menghilang dari tempat mereka. Pembawa acara mengumumkan bahwa urusan ditunda sampai Senin pagi.

Adam berjabat tangan dengan Roxburgh dan berhasil melewati pintu sebelum seorang wartawan menghentikannya. Ia bekerja untuk sebuah harian di Jackson, dan cuma punya beberapa pertanyaan. Adam bersikap sopan, tapi menolak memberi komentar. Ia kemudian melakukan hal yang sama kepada dua reporter lagi. Roxburgh, seperti biasa, punya beberapa hai untuk dikatakan, dan ketika Adam berjalan pergi, para wartawan mengelilingi sang Jaksa Agung dan menyorongkan alat perekam ke dekat wajahnya.

Adam ingin meninggalkan gedung itu. Ia melangkah ke dalam hawa panas tropis, dan cepat-cepat menutupi mata dengan kacamata hitam.

"Apa kau sudah makan siang?" sebuah suara bertanya dekat di belakang. Lucas Mann, dengan kacamata pilot. Mereka bersalaman di antara tiang-tiang.

"Aku tak bisa makan," Adam mengaku.

"Ini cukup mengguncang saraf, kan?"

"Benar. Mengapa kau ada di sini?"

"Ini bagian dari pekerjaanku. Kepala Penjara memintaku terbang ke sini, menyaksikan perdebatan ini. Kami akan menunggu sampai ada keputusan sebelum kami mulai bersiap. Mari kita pergi makan."

Sopir Adam menghentikan mobil di tepi jalan, dan mereka masuk.

"Apa kaukenal kota ini?" tanya Mann.

“Tidak. Ini kunjungan pertamaku."

"Bon Ton Cafe," kata Mann kepada pengemudi.

Itu restoran tua yang bagus di balik sudut sana.

“Mobil bagus."

"Beginilah untungnya bekerja di biro hukum yang kaya."

Makan siang mulai dengan sesuatu yang sangat baru—tiram mentah dengan separo tempurungnya. Adam sudah pernah mendengar tentang makanan ini, tapi tak pernah tertarik. Mann dengan indah mendemonstrasikan cara mencampur saus horseradish, jeruk nipis, Tabasco, dan saus koktail, lalu menjatuhkan tiram pertama ke dalam campuran, tersebut. Tiram itu kemudian diletakkan dengan hati-hati di atas sepotong biskuit asin dan dimakan dengan sekali gigitan. Tiram pertama Adam tergelincir dari biskuit dan jatuh ke meja, tapi yang kedua meluncur sempurna ke dalam kerongkongan.

“Jangan dikunyah," Mann menginstruksikan. "Biarkan saja bergeser turun sendiri." Enam tiram berikutnya bergeser turun dan tidak cukup cepat bagi Adam. Ia senang ketika selusin kerang di piringnya telah kosong. Mereka meneguk bir Dixie dan menunggu remoulade udang.

"Aku lihat kau mengajukan klaim akan bantuan hukum yang tak memadai," kata Mann. Menggigit-gigit sepotong biskuit.

"Aku yakin kami akan mengajukan apa saja mulai sekarang."

"Mahkamah Agung tidak menghamburkan waktu dengannya."

“Tidak. Rasanya mereka sudah muak dengan Sam Cayhall. Aku akan mengajukannya di Pengadilan distrik hari ini, tapi aku tak mengharap keringanan dari Slattery."

"Aku pun tidak."

"Bagaimana peluangku dengan dua belas hari yang tersisa?"

"Makin tipis saja tiap hari, tapi urusan ini sama sekali tak bisa diramalkan. Mungkin masih sekitar fifty-fifty. Beberapa tahun yang lalu kami sudah sangat dekat dengan Stockholm Turner. Dengan dua minggu tersisa, eksekusi itu tampaknya pasti. Dengan satu minggu tersisa, sebenarnya tak ada dalih apa pun untuk diajukan. Dia punya pengacara yang cakap, tapi upaya hukumnya sudah habis. Dia diberi makanan terakhir dan..."

"Dan kunjungan suami-istri, dengan dua pelacur."

"Bagaimana kau tahu?"

"Sam menceritakan semua ini."

"Itu benar. Dia mendapatkan penundaan pada menit terakhir, dan sekarang dia masih bertahun-tahun dari kamar gas. Kau tak pernah tahu."

“Tapi bagaimana firasatmu?"

Mann minum bir dalam satu tegukan panjang dan bersandar ke belakang ketika dua piring besar berisi remoulode udang diletakkan di hadapan mereka. "Aku tak punya firasat apa pun kalau urusan sampai pada eksekusi. Apa pun bisa terjadi. Tapi teruslah mengajukan dalih dan banding. Ini jadi suatu maraton. Kau tak bisa menyerah. Pengacara jumbo Parris tumbang ketika masih ada dua belas jam tersisa, dan berada di ranjang rumah sakit ketika kliennya dieksekusi."

Adam mengunyah udang rebus, lalu minum bir. "Gubernur ingin aku bicara dengannya. Haruskah aku melakukannya?"

"Apa yang diinginkan klienmu?"

"Bagaimana menurutmu? Dia benci Gubernur. Dia melarangku bicara dengannya."

"Kau harus memohon sidang pemberian pengampunan. Itu praktek baku."

"Sebaik apa kau mengenal McAllister?"

"Tidak terlalu baik. Dia binatang politik dengan ambisi besar, dan aku takkan mempercayainya semenit pun. Tapi dia memang punya kekuasaan untuk memberikan pengampunan. Dia bisa mengubah hukuman mati. Dia bisa menjatuhkan hukuman seumur hidup, atau bisa membebaskan terpidana. Undang-undang memberikan kekuasaan luas kepada Gubernur untuk mengambil keputusan. Dia mungkin akan menjadi harapanmu yang terakhir."

"Semoga Tuhan membantu kita."

"Bagaimana remoulode-nya?" tanya Mann dengan mulut penuh.

"Lezat."

Mereka menyibukkan diri dengan makanan selama beberapa saat. Adam berterima kasih atas kehadiran Mann dan percakapan itu, namun memutuskan untuk membatasi pembicaraan tentang strategi pembelaan. Ia menyukai Lucas Mann, tapi kliennya tidak. Seperti kata Sam, Mann bekerja untuk negara dan negara bekerja untuk mengeksekusi dirinya.

Penerbangan sore sebenarnya dapat membawanya kembali ke Memphis pukul 18.30, lama sebelum hari gelap. Dan begitu tiba di sana, ia bisa menghabiskan satu-dua jam di kantor sebelum kembali ke apartemen Lee. Tapi ia tak berniat melakukannya. Ia punya kamar nyaman di sebuah hotel modern di tepi sungai, dibayar tanpa banyak tanya oleh orang-orang di Kravitz & Bane. Semua biaya ditutup. Ia belum pernah melihat French Quarter.

Dan ia terbangun pada pukul 06.00 sesudah tiga jam tidur akibat tiga bir Dixie dan malam yang kurang istirahat. Ia berbaring melintang di ranjang dengan sepatu masih terpasang, mengamati kipas angin di langit-langit selama setengah jam sebelum bergerak. Tidurnya tadi sangat lelap.

Lee tidak menjawab telepon. Ia meninggalkan pesan pada alat perekamnya, dan berharap bibinya tidak minum-minum. Dan seandainya ia minum, Adam berharap ia mengunci diri di kamarnya, tempat ia tak dapat mencelakakan orang lain. Ia menggosok gigi dan menyisir rambut, dan naik lift ke lobi luas, tempat sebuah band jazz sedang mengadakan pertunjukan untuk happy hour. Tiram dalam tempurungnya dijajakan seharga lima sen di sebuah bar di sudut.

Ia berjalan di bawah terik matahari sepanjang Canal Street, sampai tiba di Royal Street. Ia berbelok ke kanan dan langsung hilang di tengah kerumunan turis. Suasana Jumat malam di Quarter terasa hidup. Ia melotot memandangi klub-klub tari telanjang, sia-sia mencoba mengintip sedikit ke dalam. Ia dihentikan oleh pintu terbuka yang memperlihatkan sederet penari telanjang pria di atas panggung—laki-laki yang tampak seperti wanita cantik.

Ia makan sate telur gulung dari sebuah kedai Cina. Ia berjalan mengitari seorang gelandangan yang muntah-muntah di jalan. Ia menghabiskan satu jam di sebuah meja kecil di sebuah klub jazz, mendengarkan combo yang menggembirakan dan meneguk bir seharga empat dolar.

Ketika hari gelap, ia berjalan ke Jackson Square, menyaksikan para pelukis mengemasi kuda-kuda dan berlalu. Pemusik dan penari jalanan keluar dengan kekuatan penuh di depan sebuah katedral tua, bertepuk tangan menyaksikan kuartet musik gesek beranggotakan mahasiswa Tulane. Orang ada di mana-mana, makan, minum, dan menari, menikmati kemeriahan French Quarter.

Ia membeli seporsi es krim vanila, dan menuju Canal Street. Pada malam lain dan dalam situasi yang jauh berbeda, ia mungkin akan tergoda menyaksikan pertunjukan tari telanjang, tentu saja duduk di belakang, tempat tak seorang pun bisa melihatnya, atau mungkin duduk-duduk di bar trendi mencari wanita-wanita cantik kesepian. Tapi tidak malam ini. Para pemabuk mengingatkannya pada Lee, dan ia menyesal tidak kembali ke Memphis untuk menjenguknya.

Musik dan suara tawa mengingatkannya pada Sam, yang pada saat ini sedang duduk dalam oven panas, menatap jeruji dan menghitung hari, berharap dan mungkin saat ini berdoa agar pengacaranya membuat mukjizat. Sam takkan pernah melihat New Orleans, tak pernah lagi makan tiram atau kacang merah dan nasi, tak pernah mencicipi bir dingin atau kopi yang enak.

Ia takkan pernah mendengar jazz atau menyaksikan seniman melukis. Ia takkan pernah lagi terbang dengan pesawat terbang atau tinggal di hotel bagus. Ia takkan pernah memancing, mengemudikan mobil, atau melakukan seribu hal yang diabaikan saja oleh orang bebas.

Bahkan seandainya hidup melewati tanggal 8 Agustus, Sam hanya akan meneruskan proses menghampiri kematian sedikit demi sedikit tiap hari.

Adam meninggalkan Quarter dan bergegas ke hotelnya. Ia butuh istirahat. Maraton akan dimulai.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 67)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.