Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 65)

 The Chamber: Kamar Gas

Si pengemudi berbelok ke Poydras Street di samping Superdome, dan mendadak mereka sampai di pusat kota. Ia menerangkan kepada penumpangnya bahwa French Quarter terletak beberapa blok dari sana, tak jauh dari hotel Adam. Mobil berhenti di Camp Street, dan Adam melangkah ke trotoar, di depan sebuah gedung yang disebut Pengadilan Banding Fifth Circuit. Gedung itu mengesankan, dengan kolom-kolom gaya Yunani dan banyak anak tangga menuju pintu depan.

Ia menemukan kantor panitera di lantai utama dan menanyakan orang yang pernah berbicara dengannya, Mr. Feriday. Mr. Feriday orang yang tulus dan sopan, seperti caranya berbicara di telepon. Ia mencatat Adam dalam registrasi dan menjelaskan beberapa peraturan pengadilan itu. Ia bertanya apakah Adam ingin melihat-lihat tempat ini sebentar. Saat itu hampir tengah hari, tempat itu tidak sibuk, dan itu saat yang tepat untuk melihat-lihat. Mereka menuju ruang sidang, melewati berbagai kantor hakim dan staf.

"Pengadilan Fifth Circuit punya lima belas hakim," Mr. Feriday menjelaskan ketika mereka berjalan santai di lantai marmer, "dan kantor mereka ada di sepanjang lorong-lorong ini. Pada saat ini pengadilan punya tiga tempat lowong, dan nominasinya tersangkut di Washington." Koridor-koridor itu gelap dan sepi, seolah-olah pemikir-pemikir besar itu sedang bekerja di balik pintu-pintu kayu lebar tersebut.

Mr. Feriday pertama-tama pergi ke Ruang Sidang En Bane, sebuah pentas besar, angker, dengan lima belas kursi bertengger rapat membentuk setengah lingkaran di depan ruangan. "Sebagian pekerjaan di sini ditangani panel beranggotakan tiga hakim. Tapi sekali-sekali seluruh anggota hadir," ia menjelaskan dengan tenang, seolah-olah masih terpesona oleh ruangan spektakuler itu.

Tempat hakim dinaikkan lebih tinggi dari bagian lain ruangan itu, sehingga para pengacara di podium di bawahnya harus memandang ke atas sewaktu mengajukan pembelaan. Ruangan itu terbuat dari marmer dan kayu gelap, dengan tirai-tirai tebal dan lampu gantung besar. Tempat itu penuh hiasan, tapi tidak mencolok; tua, tapi dipelihara dengan baik, dan sewaktu memeriksanya, Adam agak ngeri.

Sangat jarang seluruh bakim anggota pengadilan itu berkerja bersama di situ, Mr. Feriday menjelaskan lagi, seakan-akan sedang memberikan kuliah kepada mahasiswa hukum tahun pertama. Keputusan-keputusan besar tentang hak-hak sipil pada dasawarsa enam puluhan dan tujuh puluhan diambil di sini, katanya dengan nada bangga yang cukup kentara. Potret hakim-hakim yang sudah almarhum tergantung di belakang tempat hakim.

Meskipun tempat itu indah dan anggun, Adam berharap takkan pernah melihatnya lagi, sedikitnya tidak sebagai pengacara yang mewakili klien. Mereka berjalan menyusuri gang menuju Ruang Sidang Barat yang lebih kecil daripada yang pertama, tapi sama menakutkan. Di sinilah panel dengan tiga hakim anggota bekerja, Mr. Feriday menjelaskan sewaktu mereka berjalan melewati tempat duduk di bagian untuk penonton, melewati jerjak, dan menuju podium. Tempat hakim di sini pun dibuat lebih tinggi, meskipun tidak tinggi angkuh seperti di En Banc.

"Lazimnya semua argumentasi lisan diadakan di pagi hari, mulai pukul sembilan," kata Mr. Feriday. "Kasus Anda sedikit berbeda sebab ini kasus hukuman mati yang sudah sangat dekat." Ia menuding dengan jari dibengkokkan ke arah tempat duduk di belakang. "Anda harus duduk di sana beberapa menit sebelum pukul satu, dan panitera akan memanggil kasusnya. Lalu Anda melewati jerjak dan duduk di meja pembela di sini. Anda yang harus mulai lebih dulu dan Anda punya waktu dua puluh menit."

Adam tahu tentang hai ini, tapi sudah tentu senang ditunjuki semua ini.

Mr. Feriday menunjuk sebuah alat di podium yang menyerupai lampu lalu lintas. "Ini penunjuk waktu," katanya serius. "Dan ini sangat penting. Dua puluh menit, oke? Ada cerita-cerita menyedihkan tentang pengacara yang bicara berkepanjangan dan mengabaikan ini. Bukan pemandangan yang bagus. Lampu hijau menyala sewaktu Anda bicara. Lampu kuning akan menyala bila Anda menginginkan peringatan—dua menit, lima menit, tiga puluh detik, terserah. Bila yang merah menyala, Anda harus berhenti di tengah kalimat dan duduk. Begitu saja. Ada pertanyaan?"

"Siapa saja hakim-hakimnya?"

"McNeely, Robichaux, dan Judy." jawabnya seolah-olah Adam mengenal mereka bertiga. "Ada ruang tunggu di sana, dan perpustakaan ada di lantai tiga. Datanglah ke sini sekitar sepuluh menit sebelumnya. Ada pertanyaan lagi?"

"Tidak, Sir. Terima kasih."

"Saya ada di kantor bila Anda membutuhkan saya. Selamat." Mereka berjabatan tangan. Mr. Feriday meninggalkan Adam berdiri di podium.

***

Pukul 12.50, untuk kedua kalinya Adam berjalan melewati pintu kayu ek tebal Ruang Sidang Barat, dan menemukan pengacara-pengacara lain bersiap menghadapi pertempuran. Pada deretan pertama di belakang jerjak, Jaksa Agung Steve Roxburgh dan kelompok asistennya berkerumun menyusun taktik. Mereka diam ketika Adam melangkah masuk, beberapa orang mengangguk dan mencoba tersenyum. Adam duduk sendirian di pinggir gang, tidak menghiraukan mereka.

Lucas Mann duduk di ruang sidang itu pada sisi mereka, beberapa deret di belakang Roxburgh dan anak buahnya. Ia membaca koran dengan tak acuh dan melambaikan tangan kepada Adam ketika mata mereka bertemu. Rasanya menyenangkan bertemu dengannya. Dari kepala sampai ujung kaki ia memakai pakaian khaki berkerut, dan dasinya cukup mencolok, sehingga menyala dalam kegelapan.

Tampak jelas Mann tidak gentar pada Pengadilan Fifth Circuit dan keangkerannya, dan jelas ia menjaga jarak dari Roxburgh. Dialah satu-satunya pengacara bagi Parchman, hanya melaksanakan tugasnya. Bila Fifth Circuit memberikan penundaan dan Sam tidak mati, Lucas Mann akan senang. Adam mengangguk dan tersenyum padanya.

Roxburgh dan kelompoknya berkerumun kembali. Morris Henry—Dr.Death—ada di tengahnya, menjelaskan berbagai hal kepada orang-orang yang tidak secakap dirinya. Adam menarik napas dalam. Parutnya bergolak dan kakinya berkedut, dan ia terus mengatakan pada diri sendiri bahwa urusan ini hanya akan berlangsung dua puluh menit. Ia bisa menahan apa pun selama dua puluh menit.

Ia melihat catatannya, dan untuk menenangkan diri ia mencoba memikirkan Sam— bukan Sam si rasis, pembunuh, bajingan anggota gerombolan pembantai, tapi Sam sang klien, orang tua yang hidup percuma di death row, yang berhak mati dengan tenang dan bermartabat. Sam akan mendapatkan waktu dua puluh menit yang berharga dalam sidang ini, jadi pengacaranya harus berbuat sebaik mungkin.

Pintu yang berat berdetak tertutup di suatu tempat dan Adam terlonjak di tempat duduknya. Petugas pembawa acara muncul di belakang tempat hakim dan mengumumkan sidang yang mulia ini sekarang akan dimulai. Ia diikuti tiga sosok dalam jubah hitam berkibaran—McNeely, Robichaux, dan Judy, yang masing-masing membawa berkas dan tampak sama sekali tanpa humor atau niat baik.

Mereka duduk di kursi besar berjok kulit, di atas tempat hakim dari kayu ek berwarna tua, mengilat, dan memandang ruang sidang di bawah. Kasus Negara Bagian Mississippi vs. Sam Cayhall diumumkan, dan para pengacara dipanggil dari belakang ruangan. Adam dengan gelisah berjalan melewati pintu ayun pada jerjak, diikuti Steve Roxburgh. Para asisten Jaksa Agung tepat di tempat duduk mereka, seperti juga Lucas Mann dan sekelompok kecil penonton. Adam mengetahui sesudahnya bahwa kebanyakan dari mereka reporter.

Hakim pemimpinnya adalah Judy—Yang Mulia T. Eileen Judy—seorang wanita muda dari Texas. Robichaux berasal dari Louisiana, dan berumur akhir lima puluhan. McNeeley tampak seperti sudah berumur 120 tahun, dan juga berasal dari Texas. Judy memberikan pernyataan pendek tentang kasus tersebut, lalu bertanya kepada Mr. Adam Hall dari Chicago apakah sudah siap.

Adam berdiri cemas, lututnya bagaikan karet, perutnya bergejolak, suaranya tinggi dan gelisah, dan ia mengatakan, ya, ia memang sudah siap mulai. Ia menuju podium di tengah ruangan dan memandang ke atas, rasanya jauh ke atas, pada panel di belakang tempat hakim.

Lampu hijau di sampingnya menyala dan ia mengasumsikan dengan tepat bahwa ini berarti tanda untuk mulai. Ruangan itu sunyi. Para hakim memandang tajam kepadanya. Ia berdeham melonggarkan tenggorokan, memandang potret mendiang para hakim yang tergantung di dinding, dan mulai terjun menyerang kamar gas sebagai alat eksekusi.

Ia menghindari kontak mata dengan mereka bertiga, dan selama sekitar lima menit dibiarkan mengulangi apa yang sudah ia masukkan dalam makalah tertulisnya. Saat itu sudah lewat jam makan siang, dalam hawa panas musim panas, dan para hakim itu perlu beberapa menit untuk menepiskan jaring labah-labah dalam kepala mereka.

"Mr. Hall, saya pikir Anda cuma mengulangi apa yang sudah Anda uraikan dalam makalah," kata Judy tak sabar. "Kami cukup mampu membaca Mr. Hall."

Mr. Hall menerimanya dengan baik, berpikir bahwa ini dua puluh menitnya, bila ingin berlambat-lambat dan mengeja setiap huruf, ia seharusnya diizinkan berbuat demikian. Selama dua puluh menit. Meskipun masih hijau dan belum berpengalaman, Adam sudah pernah mendengar komentar macam ini dari hakim pengadilan banding. Itu terjadi ketika ia masih kuliah dan menyaksikan suatu kasus sedang diperdebatkan. Komentar-komentar itu adalah baku dalam argumentasi lisan.

"Ya, Yang Mulia," kata Adam, hati-hati untuk tidak memakai panggilan yang menunjukkan jenis kelamin. Ia kemudian pindah membahas efek gas sianida pada tikus laboratorium, suatu penelitian yang tidak tercantum dalam makalahnya. Eksperimen itu dilakukan bertahun-tahun yang lalu oleh beberapa ahli kimia di Swedia, dengan tujuan membuktikan bahwa manusia tidak mati seketika bila mereka menghirup racun. Penelitian itu didanai suatu organisasi Eropa yang bekerja untuk menghapuskan hukuman mati di Amerika.

Tikus-tikus itu kejang dan menggelepar-gelepar. Paru-paru dan jantung mereka berhenti dan mulai bekerja lagi dengan kacau selama beberapa menit. Gas itu memecahkan pembuluh darah pada seluruh tubuh, termasuk otak mereka. Otot-otot mereka gemetar tak terkendali. Ludah mereka menetes-netes dan mereka mencicit-cicit.

Inti yang jelas dalam penelitian itu adalah tikus tidak mati dengan cepat, tapi sebenarnya menderita luar biasa. Pengujian-pengujian tersebut dilaksanakan dengan integritas ilmiah. Binatang-binatang kecil itu menerima dosis yang sesuai. Rata-rata dibutuhkan waktu sepuluh menit sampai kematian terjadi. Adam bekerja keras menguraikan detailnya, dan saat ia menghangat dalam presentasinya, sarafnya sedikit mengendur. Para hakim bukan hanya mendengarkan, tapi tampaknya menikmati uraian tentang tikus-tikus sekarat itu.

Adam menemukan penelitian itu dalam catatan kaki sebuah kasus baru dari North Carolina. Penelitian itu tercetak baik dan belum dilaporkan secara luas.

"Sekarang, coba saya tegaskan," Robichaux menyela dengan suara tinggi. "Anda tak ingin klien Anda mati dalam kamar gas, sebab itu cara yang kejam untuk mati, tapi apakah Anda mengatakan pada kami bahwa Anda tidak keberatan bila dia dieksekusi dengan suntikan mematikan?"

"Tidak, Yang mulia. Bukan itu yang saya katakan. Saya tak ingin klien saya dieksekusi dengan metode apa pun."

"Tapi suntikan mematikan adalah yang paling tidak kejam?"

"Semua cara kejam, tapi suntikan mematikan rasanya yang paling tidak kejam. Tak disangsikan lagi bahwa kamar gas merupakan cara mengerikan untuk mati.''

"Lebih buruk daripada dibom? Diledakkan dengan dinamit?"

Keheningan yang berat turun menyelimuti ruang sidang itu saat kata-kata Robicahux mengendap, ia menekankan kata "dinamit" dan Adam bergulat mencari sesuatu yang pantas diucapkan. McNeely melontarkan pandangan tak senang kepada rekannya di sisi lain tempat hakim.

Itu komentar murahan, dan Adam geram, ia mengendalikan kegusarannya dan berkata tegas, "Kita sedang membicarakan metode eksekusi, Yang Mulia, bukan tindak kejahatan yang mengirim orang pada hukuman mati."

"Mengapa Anda tak ingin bicara tentang tindak kejahatan itu?"

"Sebab hal itu bukan pokok pembicaraan di sini. Sebab saya cuma punya dua puluh menit, dan klien saya cuma punya dua belas hari."

"Mungkin seharusnya klien Anda tidak memasang bom?"

"Sudah tentu tidak. Tapi dia sudah dinyatakan bersalah atas kejahatannya, dan sekarang dia menghadapi kematian dalam kamar gas. Pokok persoalannya, kamar gas adalah cara yang kejam untuk mengeksekusi orang."

"Bagaimana dengan kursi listrik?"

"Argumentasi yang sama juga berlaku di situ. Ada beberapa kasus mengerikan tentang orang-orang yang menderita hebat di kursi listrik sebelum mereka mati."

"Bagaimana dengan regu tembak?"

"Kedengaran keji bagi saya."

"Dan hukum gantung?"

"Saya tidak tahu banyak tentang hukum gantung, tapi itu pun kedengaran keji luar biasa."

"Tapi Anda menyukai gagasan suntikan mematikan?"

"Saya tidak mengatakan menyukainya. Saya yakin mengatakan itu tidak sekejam metode lain."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 66)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.