Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 64)

The Chamber: Kamar Gas

"Cuma bila aku bertanya. Kami sudah bicara tentang Eddie, tapi aku berjanji kami takkan melakukannya lagi."

"Dialah penyebab kematian Eddie. Apakah dia menyadari ini?"

"Mungkin."

"Apa kau mengatakannya padanya? Apa kau menyalahkannya karena Eddie?"

"Tidak."

"Kau seharusnya melakukannya. Kau terlalu lunak terhadapnya. Dia perlu tahu apa yang telah dia perbuat."

"Kurasa dia tahu. Tapi kau sendiri mengatakan tak adil menyiksanya pada titik ini."

"Bagaimana dengan Joe Lincoln? Apa kau bicara tentang Joe Lincoln dengannya?"

"Kuceritakan pada Sam bahwa aku dan kau pergi ke rumah lama milik keluarga. Dia menanyaiku apakah aku tahu tentang Joe Lincoln. Kukatakan aku tahu."

"Apakah dia menyangkalnya?"

"Tidak. Dia menunjukkan penyesalan hebat."

"Dia pembohong."

"Tidak. Kurasa dia sungguh-sungguh."

Kembali berlangsung keheningan panjang, sementara Lee duduk tak bergerak. Lalu, "Apakah dia bercerita tentang pembunuhan semena-mena itu?"

Adam memejamkan mata dan meletakkan siku pada lutut. "Tidak," gumamnya.

"Sudah kuduga."

"Aku tak ingin mendengarnya, Lee."

"Ya, kau ingin. Kau datang ke sini penuh dengan pertanyaan tentang keluarga dan masa lalumu. Dua minggu yang lalu kau tidak cukup tahu tentang kesengsaraan keluarga Cayhall. Kau menginginkan semua lumuran darah itu."

"Aku sudah mendengar cukup," kata Adam.

"Hari apa ini?" tanya Lee.

"Kamis, Lee. Kau sudah menanyakannya satu kali."

"Salah satu gadis asuhanku melahirkan hari ini. Anak kedua. Aku tidak menelepon ke kantor, gara-gara obat-obat ini."

"Dan alkohol."

"Baiklah, sialan. Aku pecandu alkohol. Siapa bisa menyalahkan aku? Kadang-kadang aku ingin punya nyali untuk bertindak seperti Eddie."

"Sudahlah, Lee. Biarkan aku menolongmu."

"Oh, kau memang sudah menolong banyak, Adam. Aku baik-baik saja, sehat dan bebas alkohol sampai kau datang."

"Oke. Aku keliru. Maaf. Aku cuma tidak menyadari..." Suaranya mengecil, lalu berhenti.

la bergerak sedikit dan Adam menyaksikannya minum seteguk lagi. Keheningan berat melingkupi mereka, sementara menit-menit berlalu. Bau busuk memancar dari ujung ranjang tempat ia duduk.

“Ibu menceritakan kisah itu padaku," katanya pelan, nyaris berbisik. "Dia mengatakan sudah bertahun-tahun mendengar desas-desus tentang itu. Lama sebelum mereka menikah, dia tahu Sam pernah membantu membunuh seorang laki-laki muda kulit hitam."

"Sudahlah, Lee."

"Aku tak pernah menanyakan hal itu padanya, tapi Eddie pernah. Sudah bertahun-tahun kami berbisik-bisik membicarakan hal itu, dan akhirnya suatu hari Eddie menanyakannya langsung. Mereka bertengkar hebat, tapi Sam mengakui itu benar. Itu sama sekali tak mengusik perasaannya, katanya. Bocah kulit hitam itu, kata orang, telah memerkosa seorang wanita kulit putih, tapi perempuan itu sampah dan banyak orang meragukan apakah itu benar-benar pemerkosaan. Ini menurut versi Ibu. Sam berumur sekitar lima belas tahun saat itu, dari segerombolan laki-laki pergi ke penjara, mengambil bocah hitam itu dan membawanya ke hutan. Ayah Sam sudah tentu menjadi pemimpin gerombolan; saudara-saudaranya juga terlibat."

"Cukup, Lee."

"Mereka melecutnya dengan cambuk, lalu menggantungnya pada sebatang pohon. Ayahku tercinta berada tepat di tengah-tengahnya. Dia sama sekali tak bisa menyangkalnya, kau tahu, sebab seseorang memotretnya."

"Potret?"

"Yeah. Beberapa tahun kemudian foto itu dimasukkan dalam sebuah buku tentang keadaan orang negro di Deep South. Buku itu diterbitkan tahun 1947. Ibuku menyimpan satu copy selama bertahun-tahun. Eddie menemukannya di loteng."

"Dan Sam ada dalam foto itu?"

"Benar. Tersenyum lebar. Mereka berdiri di bawah pohon. Kaki orang kulit hitam itu bergelantungan di atas kepala mereka. Semua orang bergembira. Cuma pembunuhan orang negro. Tak ada tulisan pada foto itu, tak ada nama. Foto itu berbicara sendiri, menjelaskan pembunuhan tanpa pemeriksaan di daerah pedesaan Mississippi tahun 1936."

"Di mana buku itu?"

"Di dalam laci. Aku menyimpannya bersama harta lain milik keluarga sejak penyitaan itu. Kemarin dulu aku mengeluarkannya. Kupikir kau mungkin ingin melihatnya."

“Tidak. Aku tak ingin melihatnya."

"Lihatlah. Kau ingin tahu tentang keluargamu. Nah, inilah dia. Kakek, buyut, dan segala macam warga Cayhall dalam keadaan puncaknya. Tertangkap basah dalam perbuatan itu, dan cukup bangga dengannya."

"Hentikan, Lee."

"Ada juga pembunuhan lain, kau tahu?"

"Diamlah, Lee. Oke? Aku tak ingin mendengarkan lagi"

Ia memiringkan tubuh ke samping dan meraih meja.

"Apa yang kauminum, Lee?"

"Sirap obat batuk."

"Omong kosong!" Adam melompat berdiri dan berjalan dalam kegelapan, menuju meja kecil. Lee cepat-cepat meneguk sisa cairan itu. Adam meraih gelas itu dari tangannya dan mengendus bagian atasnya. "Ini bourbon."

"Masih ada lagi di sepen. Maukah kau mengambilkannya untukku?"

"Tidak! Kau sudah minum lebih dari cukup."

"Kalau ingin, aku akan mengambilnya."

"Tidak, Lee. Kau takkan minum lagi malam ini. Besok aku akan mengantarmu ke dokter, dan kita minta bantuan."

"Aku tidak butuh bantuan. Aku butuh senapan."

Adam meletakkan gelas di atas lemari rias dan menyalakan lampu. Lee menutupi matanya selama beberapa detik, lalu memandangnya. Matanya merah dan sembap. Rambutnya acak-acakan, kotor, dan tak tersisir.

"Bukan pemandangan yang bagus, ya?" katanya, menyeret ucapannya, dan memalingkan wajah.

“Tidak, tapi kita akan cari pertolongan, Lee. Kita akan melakukannya besok."

"Ambilkan aku minuman, Adam. Please."

"Tidak."

"Kalau begitu, tinggalkan aku sendiri. Semua ini salahmu, kau tahu. Sekarang pergilah, please. Pergilah tidur."

Adam meraih bantal dari tengah ranjang dan melemparkannya ke pintu. "Aku akan tidur di sini malam ini," katanya sambil menunjuk ke bantal tadi. "Pintunya akan kukunci, dan kau takkan meninggalkan ruangan ini."

Lee memandang Adam dengan berapi-api, tapi tak mengucapkan apa pun. Adam memadamkan lampu, ruangan itu sepenuhnya gelap. Ia menekan kunci pada kenop pintu dan menarik karpet ke pintu. "Sekarang tidurlah, Lee."

"Pergilah ke ranjangmu, Adam. Aku janji takkan meninggalkan ruangan ini."

"Tidak. Kau mabuk, dan aku takkan bergeser. Bila kau mencoba membuka pintu ini, akan kukembalikan kau ke ranjang."

"Kedengarannya romantis."

"Hentikanlah, Lee. Tidurlah."

"Aku tak bisa tidur."

"Cobalah."

"Mari kita cerita tentang keluarga Cayhall, oke, Adam? Aku tahu beberapa kisah pembunuhan semena-mena lainnya."

"Diam, Lee!" Adam berseru, dan Lee mendadak terdiam. Ranjang berkeriut ketika ia bergoyang dan berbalik, mengatur posisi. Setelah lima belas menit, ia tertidur. Sesudah tiga puluh menit, lantai jadi terasa tak nyaman dan Adam berguling dari satu sisi ke sisi yang lain.

Tidurnya terputus-putus, disela dengan saat-saat panjang menatap ke langit-langit, mengkhawatirkan Lee, dan Pengadilan Fifth Circuit. Suatu saat pada malam itu ia duduk dengan punggung bersandar pintu dan menatap kegelapan, ke arah laci. Apakah buku itu benar-benar ada di sana? Ia tergoda untuk menyelinap dan mengambilnya, lalu pergi ke kamar mandi mencari foto itu. Namun ia tak bisa ambil risiko akan membangunkan Lee, dan ia tak ingin melihatnya.

~ 33 ~

Ia menemukan sebuah botol bourbon isi setengah liter tersembunyi di belakang sekaleng biskuit asin dalam sepen, dan mengosongkannya ke dalam wastafel. Di luar gelap. Matahari masih satu jam lagi. Ia membuat kopi kental dan menghirupnya di sofa, sambil melatih kembali argumentasi yang akan dipresentasikannya beberapa jam lagi di New Orleans.

Ia memeriksa kembali catatannya di serambi waktu fajar, dan pada pukul 07.00 ia ada di dapur, membuat roti panggang. Tak ada tanda-tanda dari Lee. Ia tak menginginkan konfrontasi, namun hal itu perlu dilakukan. Ia punya beberapa hal untuk dikatakan, dan Lee harus mengajukan permintaan maaf. Ia membunyikan piring serta garpu di counter. Volume TV dibesarkan untuk mendengarkan berita pagi.

Tapi tak ada gerakan apa pun dari bagian kondominium tempat Lee berada. Sesudah mandi dan berpakaian, perlahan-lahan ia memutar kenop pintu kamar Lee. Pintu itu terkunci. Lee sedang mengurung diri dalam guanya, mencegah percakapan menyakitkan pada pagi berikutnya. Adam menulis pesan dan menjelaskan ia akan berada di New Orleans siang dan malam ini, dan mereka akan membicarakannya nanti. Ia meminta agar Lee tidak minum.

Catatan itu diletakkan di atas counter. Lee pasti melihatnya. Adam meninggalkan kondominium dan menuju bandara.

Penerbangan langsung ke New Orleans butuh waktu 55 menit. Adam minum sari buah dan mencoba duduk dengan nyaman untuk melemaskan punggungnya yang kaku. Ia tidur kurang dari tiga jam di lantai di samping pintu, dan bersumpah takkan melakukannya lagi.

Menurut pengakuan Lee sendiri, selama bertahun-tahun itu ia telah tiga kali menjalani pengobatan terhadap kecanduannya, dan bila ia tak dapat menghindarkan diri dari mabuk-mabukan, tentu tak ada apa pun yang dapat dilakukan Adam untuk membantu. Ia akan tinggal di Memphis sampai kasus menyedihkan ini selesai, dan bila bibinya tak dapat menghindarkan diri dari alkohol, ia bisa menangani urusannya dari kamar hotel.

Selama beberapa jam berikutnya ia bergulat untuk melupakan bibinya. Ia perlu memusatkan pikiran pada urusan hukum, bukan pembunuhan semena-mena, foto-foto, dan kisah-kisah horor masa silam; bukan pada bibinya tercinta dan masalahnya.

Pesawat mendarat di New Orleans, dan sekonyong-konyong konsentrasinya jadi lebih tajam. Dalam hati ia memilah-milah nama berpuluh-puluh kasus hukuman mati terbaru dari Pengadilan Fifth Circuit dan Mahkamah Agung AS.

***

Mobil sewaan itu sebuah sedan Cadillac. Urusan sewanya ditangani Darlene dan tagihannya dimasukkan ke Kravitz & Bane. Mobil itu datang dengan seorang pengemudi, dan ketika duduk santai di jok belakang, Adam mengakui bahwa hidup di biro hukum besar memang punya keuntungan-keuntungan tertentu. Adam belum pernah ke New Orleans, dan perjalanan dari bandara rasanya sama dengan perjalanan di kota mana pun. Cuma lalu lintas dan jalan raya bebas hambatan.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 65)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.