Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 63)

 The Chamber: Kamar Gas

Rahang wanita itu terkatup rapat dan ia memandang marah melalui kisi-kisi. "Saya ada di sini untuk membantu Anda."

"Anda terlambat, N."

“Panggil saya Dr Stegall.” la melontarkan senyum sepintas, lalu berkata. "Saya diharapkan menanyai Anda pada tahap ini untuk melihat apakah saya bisa membantu. Anda tidak wajib bekerja sama bila Anda tidak menginginkannya. Kalau Anda ingin bicara dengan saya, atau kalau butuh obat-obatan sekarang atau nanti, beritahu saya.”

"Bagaimana dengan wiski?"

"Saya tak bisa memberikan itu."

"Kenapa tidak?"

"Peraturan penjara, saya rasa."

"Apa yang bisa Anda berikan?"

"Penenang. Valium, pil tidur, seperti itulah."

"Untuk apa?"

"Untuk saraf Anda "

"Saraf saya baik-baik saja."

"Apa Anda bisa tidur?"

Sam berpikir sejenak. "Ah, terus terang, saya ada sedikit masalah. Kemarin saya tidur putus-sambung tak lebih dari dua belas jam. Biasanya saya bisa tidur lima belas atau enam belas jam."

"Dua belas jam?"

"Yeah. Berapa sering Anda datang ke death row?”

"Tidak terlalu sering."

"Sudah saya duga. Kalau tahu apa yang Anda kerjakan, Anda akan tahu kami rata-rata tidur enam belas jam sehari."

"Begitu. Dan apa lagi yang mungkin saya pelajari?"

"Oh, banyak. Anda akan tahu Randy Dupm perlahan-lahan jadi gila, dan tak seorang pun di sini peduli padanya. Mengapa Anda tak pernah menjenguknya?"

"Ada lima ribu narapidana di sini, Mr. Cayhall. Saya..."

"Kalau begitu, pergilah. Menyingkirlah. Pergi urus mereka. Saya sudah sembilan setengah tahun di sini dan tak pernah bertemu dengan Anda. Sekarang begitu kalian akan mengegas saya, Anda dalang berlari ke sini dengan satu tas penuh obat untuk menenangkan saraf saya, supaya saya bersikap manis dan lembut ketika kalian membunuh saya. Mengapa Anda harus peduli dengan saraf dan kebiasaan tidur saya? Anda bekerja untuk negara dan negara sedang bekerja mati-matian untuk mengeksekusi saya."

"Saya menjalankan tugas saya, Mr. Cayhall."

"Tugas Anda kotor, Ned. Carilah pekerjaan sejati di mana Anda bisa menolong orang. Anda sekarang ada di sini karena saya punya waktu tiga belas hari dan Anda ingin saya pergi dengan damai. Anda cuma pesuruh pemerintah yang lain."

"Saya tidak datang ke sini untuk dihina."

"Kalau begitu bawa pantat Anda yang besar keluar dari sini. Enyahlah. Pergi dan jangan berbuat dosa lagi."

Ia melompat berdiri dan meraih tasnya. "Anda punya kartu nama saya. Kalau Anda butuh sesuatu, beri tahu saya."

“Tentu, Ned. Tak usah duduk di samping telepon." Sam berdiri dan berjalan ke pintu di sisinya. Ia menggedornya dua kali dengan telapak tangan, dan menunggu dengan memunggungi psikiater itu, sampai Packer membukanya.

***

Adam sedang mengemasi tasnya, bersiap melakukan kunjungan pendek ke Parchman ketika telepon berdering. Darlene mengatakan itu mendesak. Ia benar.

Penelepon itu memperkenalkan diri sebagai panitera dari Pengadilan Banding Fifth Circuit di New Orleans, dan sikapnya ramah luar biasa. Ia mengatakan petisi Cayhall yang menyerang aspek konstitusional kamar gas telah diterima pada hari Senin, sudah dibahas suatu panel dengan tiga hakim, dan panel itu ingin mendengarkan argumentasi lisan dari kedua belah pihak. Bisakah ia berada di New Orleans pukul 13.00 besok, hari Jumat, untuk argumentasi lisan itu?

Adam nyaris menjatuhkan telepon. Besok. Tentu saja, katanya setelah ragu sejenak. Pukul 13.00 tepat, kata panitera itu, lalu menerangkan bahwa pengadilan biasanya tidak mendengarkan argumentasi lisan di siang hari, tapi karena mendesaknya urusan ini, pengadilan telah menjadwalkan sidang istimewa. Ia menanyai Adam apakah pernah berdebat di Pengadilan Fifth Circuit sebelum ini.

Apa kau bercanda, pikir Adam. Setahun yang lalu aku masih belajar untuk menempuh ujian sebagai ahli hukum. Ia mengatakan tidak, sama sekali belum, dan panitera itu mengatakan akan langsung memerlukan satu copy peraturan pengadilan tentang presentasi lisan. Adam mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, lalu meletakkan telepon.

Ia duduk di tepi meja dan mencoba mengumpulkan pikirannya. Darlene membawakan fax itu kepadanya, dan ia memintanya untuk memeriksa penerbangan ke New Orleans.

Apakah ia menarik perhatian pengadilan dengan pokok masalah ini? Apakah ini kabar baik atau cuma formalitas? Dalam kariernya yang pendek sebagai pengacara, ia hanya pernah satu kali berdiri di hadapan hakim untuk memperdebatkan posisi seorang klien. Tapi Emmitt Wycoff duduk di dekat situ, berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu. Dan hakimnya sudah dikenalnya. Dan hal itu terjadi di tengah kota Chicago, tak jauh dari kantornya. Besok ia akan berjalan memasuki ruang sidang asing di kota asing, mencoba membela dalih detik terakhir di depan panel hakim yang belum pernah didengarnya.

Ia menelepon E. Garner Goodman dengan berita itu. Goodman sudah berkali-kali ke Pengadilan Fifth Circuit, dan ketika ia bicara, Adam bersantai. Menurut pendapat Goodman, itu bukan kabar baik atau buruk. Pengadilan jelas tertarik pada gugatan itu, tapi mereka sudah pernah mendengar semuanya sebelum ini. Baik Texas dan Louisiana telah mengirimkan klaim konstitusional yang serupa kepada Pengadilan Fifth Circuit pada tahun-tahun terakhir ini.

Goodman meyakinkannya ia bisa menangani perdebatan ini. Tapi bersiaplah, katanya. Dan cobalah santai. Mungkin ia bisa terbang ke New Orleans dan berada di sana, tapi Adam bilang tidak. Ia mengatakan bisa mengerjakannya sendiri. Teruslah memberi kabar, kata Goodman.

Adam mengecek Darlene, lalu mengunci diri di kantornya. Ia menghafalkan peraturan-peraturan untuk argumentasi lisan, mempelajari gugatan yang menyerang pemakaian kamar gas, membaca berbagai makalah dan kasus, menelepon Parchman dan meninggalkan pesan untuk Sam bahwa ia takkan ke sana hari ini.

Ia bekerja sampai gelap, lalu melakukan perjalanan yang menakutkan ke kondominium Lee. Catatan yang sama bertengger di atas counter, tak tersentuh dan masih menyatakan ia ada di ranjang karena flu. Ia mengitari apartemen itu dan tak melihat tanda-tanda gerakan atau kehidupan selama siang itu.

Pintu kamar tidur Lee terbuka sedikit. Ia mengetuknya sambil mendorong. "Lee," ia berseru pelan ke dalam kegelapan. "Lee, kau tidak apa-apa?"

Ada gerakan di ranjang, meskipun ia tak dapat melihat gerakan apa itu. "Ya, Sayang," kata Lee. "Masuklah."

Perlahan-lahan Adam duduk di tepi ranjang dan mencoba memusatkan pandangan padanya. Satu-satunya cahaya adalah seberkas sinar dari gang. Lee mendorong dirinya bangkit dan bersandar pada bantal. "Aku sudah lebih baik," katanya dengan suara serak. "Bagaimana keadaanmu, Sayang?"

"Aku baik-baik saja, Lee. Aku mengkhawatirkanmu."

"Aku akan sembuh. Ini cuma virus kecil yang jahat."

Bau tajam pertama mengembus dari seprai dan selimut, dan Adam ingin menangis. Bau itu adalah bau busuk vodka basi atau gin atau pure asam, atau mungkin kombinasi segalanya. Ia tak dapat melihat mata Lee dalam bayang-bayang keruh itu, cuma sosok kabur wajahnya. Lee memakai kemeja warna gelap, entah apa.

"Apa obatnya?" tanya Adam.

"Entahlah. Cuma beberapa pil. Dokter mengatakan ini akan berlangsung beberapa hari, lalu menghilang dengan cepat. Aku sudah merasa baik sekarang."

Adam mulai mengucapkan sesuatu tentang keganjilan virus semacam flu pada akhir bulan tapi membatalkannya. "Apa kau bisa makan?"

“Tak ada selera, sungguh."

"Adakah yang bisa kulakukan?"

“Tidak, Sayang. Bagaimana keadaanmu belakangan ini? Hari apa ini."

"Kamis."

"Aku merasa seperti sudah seminggu berada dalam gua."

Adam punya dua pilihan. Ia bisa mengikuti permainan pura-pura percaya akan virus jahat itu dan berharap Lee berhenti minum sebelum keadaan jadi lebih parah. Atau ia bisa menghadapinya sekarang dan membuatnya sadar bahwa ia tak dapat mengecohnya. Mungkin mereka akan bertengkar, dan mungkin inilah yang seharusnya dilakukan terhadap pemabuk yang sudah parah. Bagaimana ia tahu apa yang harus dilakukan?

"Apa doktermu tahu kau minum?" ia bertanya sambil menahan napas.

Mereka terdiam lama. "Aku tidak minum," katanya, nyaris tak terdengar.

"Sudahlah, Lee. Aku menemukan botol vodka itu di keranjang sampah. Aku tahu tiga botol bir lainnya menghilang hari Sabtu kemarin. Baumu seperti penyulingan alkohol sekarang. Kau tak membohongi siapa pun, Lee. Kau banyak minum, dan aku ingin menolong."

Ia duduk lebih tegak dan menarik kakinya ke dada. Lalu ia diam beberapa lama. Adam melihat bayangannya. Menit-menit berlalu. Apartemen itu sunyi senyap.

"Bagaimana keadaan ayahku?" ia bergumam. Kata-katanya lamban, tapi masih pahit.

"Aku tidak menemuinya hari ini."

"Apa kaupikir kita takkan lebih baik bila dia mati?"

Adam memandang sosoknya, "Tidak, Lee, aku takkan lebih baik. Kau?"

Ia bungkam dan tak bergerak sedikitnya selama satu menit. "Kau kasihan padanya, kan?" ia akhirnya berkata.

"Ya."

"Apakah dia menyedihkan?"

"Ya."

"Bagaimana tampangnya?"

"Sangat tua, dengan banyak uban yang selalu berminyak dan ditarik ke belakang. Jenggotnya pendek kelabu. Banyak kerut-merut. Kulitnya sangat pucat."

"Apa pakaiannya?"

"Terusan merah. Semua terpidana mati memakai pakaian yang sama."

Keheningan panjang kembali ketika ia memikirkan hal ini. Lalu ia berkata, "Mudahkah merasa kasihan padanya?"

"Bagiku mudah."

"Tapi kaulihat, Adam, aku tak pernah melihatnya dalam keadaan seperti yang kaulihat. Aku melihat orang yang berbeda."

"Apa yang kaulihat?"

Lee membetulkan letak selimut di sekitar kakinya, lalu terdiam lagi. "Ayahku adalah orang yang kupandang hina."

"Apa kau masih memandangnya hina?"

"Ya. Sangat. Kupikir dia harus mati. Tuhan tahu dia layak mendapatkannya."

"Mengapa dia layak mendapatkannya?"

Ini menimbulkan keheningan lagi. Ia bergerak sedikit ke kiri dan mengambil sebuah cangkir atau gelas dari meja samping. Ia meneguk isinya perlahan-lahan, sementara Adam memandang bayang-bayangnya. Ia tidak bertanya apa yang diminum Lee.

"Apakah dia bicara tentang masa lampau denganmu?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 64)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.