Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 62)

The Chamber: Kamar Gas

"Mengapa dia membunuh istri Dogan?"

"Sebab dia kebetulan berada di ranjang bersama Dogan ketika rumah itu meledak."

"Mengapa dia membunuh putra Dogan?"

"Untuk membungkam Dogan. Ingat, ketika Dogan memberikan kesaksian, anaknya sudah empat bulan menghilang."

"Aku tak pernah membaca apa pun tentang anak itu."

"Hal itu tak banyak diketahui. Kejadiannya di Jerman. Kami menyarankan agar Dogan tidak meributkannya."

"Aku bingung. Dogan tidak menuding orang lain dalam sidang. Hanya Sam. Mengapa si John Doe membunuhnya juga sesudah itu?"

"Sebab dia masih tahu beberapa rahasia. Dan sebab dia memberikan kesaksian memberatkan terhadap sesama anggota Klan."

Adam mengupas dua kacang dan menjatuhkan bijinya ke depan seekor merpati gemuk. Lettner menghabiskan isi kantong dan melemparkan segenggam kulit lagi ke trotoar dekat pancuran air. Saat itu hampir tengah hari, berpuluh-puluh karyawan bergegas melewati taman itu untuk mengejar setengah jam waktu makan siang mereka.

"Kau lapar?" tanya Lettner, melirik jam tangan.

"Tidak."

"Haus? Aku perlu bir."

“Tidak. Bagaimana John Doe mempengaruhiku?"

"Sam satu-satunya saksi yang tersisa, dan dijadwalkan akan dibungkam dua minggu lagi. Bila dia mati tanpa membuka mulut, John Doe dapat hidup tenteram. Bila Sam tidak mati dalam dua minggu, John Doe masih cemas. Bila Sam mulai bicara, seseorang mungkin akan celaka."

"Aku?"

"Kaulah orang yang berusaha menemukan kebenaran."

"Kaupikir dia ada di luar sana?"

"Bisa jadi. Atau mungkin dia sedang mengemudikan taksi di Montreal. Atau mungkin tak pernah ada."

Adam melirik dengan pandangan takut yang dilebih-lebihkan. "Aku tahu ini kedengaran gila," kata Lettner.

"Sam takkan bicara."

"Ada bahaya potensial, Adam. Aku cuma ingin kau tahu."

"Aku tidak takut. Seandainya saat ini Sam memberiku nama John Doe, aku akan meneriakkannya di jalanan dan mengajukan mosi satu truk penuh. Dan itu tak akan ada gunanya. Sudah terlambat untuk mengajukan teori baru tentang salah atau tidak."

"Bagaimana dengan Gubernur?"

"Aku meragukannya."

"Nah, aku ingin kau berhati-hati."

"Terima kasih, aku mengerti."

"Mari kita beli bir."

Aku harus menjauhkan orang ini dari Lee, pikir Adam. "Sekarang baru lima menit menjelang tengah hari. Tentu kau tidak mulai sepagi ini."

"Oh, kadang-kadang aku mulai saat makan pagi."

***

John Doe duduk di bangku taman dengan sebuah surat kabar di depan wajah dan merpati di sekeliling kaki. Jaraknya 24 meter dari mereka, jadi ia tak dapat mendengar apa yang mereka katakan. Ia pikir ia mengenali laki-laki tua yang bersama Adam itu sebagai agen FBI yang wajahnya pernah muncul di surat kabar bertahun-tahun yang lalu. Ia akan mengikuti laki-laki ini dan mencari tahu siapa dia dan di mana dia tinggal.

Wedge sudah bosan dengan Memphis, tapi ini bukan masalah. Bocah itu bekerja di kantor, pergi ke Parchman, dan tidur di kondominium, serta rasanya bekerja keras. Wedge mengikuti berita dengan cermat. Namanya tak pernah disebut. Tak seorang pun tahu tentang dirinya.

~ 32 ~

Layang-layang pertama pagi itu tiba tak lama setelah sarapan, ketika Sam berdiri dalam celana pendek baggy-nya dan bersandar di antara jeruji dengan sebatang rokok. Layang-layang ini dari si Preacher Boy, dan berisi kabar buruk. Bunyinya demikian:

Dear Sam,

Mimpi itu selesai. Tuhan bekerja padaku tadi malam dan akhirnya menunjukkan sisanya padaku. Aku berharap Dia tak melakukannya. Ada banyak hal dalam mimpi ini, dan aku akan menjelaskan semuanya kalau kau mau. Intinya, tak lama lagi kau akan bersama-Nya. Dia menyuruhku memberitahu agar kau bersiap bertobat. Dia sedang menunggu. Perjalanannya akan berat, tapi ganjarannya akan setimpal. Aku menyayangimu.

Brother Randy.

Bon voyage, Sam bergumam pada diri sendiri sambil meremas kertas itu dan melemparkannya ke lantai. Bocah itu makin memburuk keadaannya dan tak ada jalan apa pun untuk menolongnya. Sam sudah menyiapkan serangkaian mosi untuk diajukan pada suaru saat, entah kapan, pada saat Brother Randy sepenuhnya gila.

Ia melihat tangan Gullit keluar di antara jeruji di sebelah.

"Bagaimana keadaanmu, Sam?" Gullit akhirnya bertanya.

“Tuhan murka kepadaku," kata Sam.

"Benarkah?"

"Yeah. Preacher Boy menyelesaikan mimpinya tadi malam."

"Syukurlah."

"Itu lebih menyerupai mimpi buruk."

"Aku takkan khawatir terlalu banyak dengannya. Bangsat gila itu bermimpi saat sedang bangun. Mereka mengatakan sudah seminggu dia menangis."

"Bisakah kau mendengarnya?"

“Tidak. Syukurlah."

"Bocah malang. Aku sudah membuat beberapa mosi untuknya, cuma berjaga-jaga kalau aku meninggalkan tempat ini. Aku ingin meninggalkannya padamu."

"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan."

"Akan kutinggalkan instruksi. Mosi-mosi itu harus dikirimkan kepada pengacaranya."

Gullit bersiul pelan, "Aduh, aduh, Sam. Apa yang harus kulakukan kalau kau pergi? Sudah setahun aku tak pernah bicara dengan pengacaraku."

"Pengacaramu orang pandir."

"Kalau begitu, bantulah aku memecatnya, Sam. Tolonglah. Kau baru saja memecat pengacaramu. Bantu aku memecat pengacaraku. Aku tak tahu bagaimana melakukannya."

"Kalau begitu, siapa yang akan mewakilimu?"

"Cucumu. Katakan padanya dia bisa mengurus kasusku."

Sam tersenyum, lalu terkekeh. Kemudian ia tertawa dengan gagasan mengumpulkan sobat-sobatnya di The Row dan menyerahkan kasus mereka yang tanpa harapan kepada Adam.

"Apa yang lucu?" Gullit mendesak.

"Kau. Apa yang membuatmu berpikir dia menginginkan kasusmu?"

"Ayolah, Sam. Bicaralah pada bocah itu untukku. Dia pasti pandai kalau cucumu."

"Bagaimana bila mereka mengegas aku? Apakah kau menginginkan pengacara yang baru saja kehilangan klien death row-nya yang pertama?"

"Peduli amat. Aku tak bisa serewel itu saat ini."

"Tenang, J.B. Kau masih punya waktu bertahun-tahun untuk dijalani."

"Berapa tahun?"

"Sedikitnya lima, mungkin lebih."

"Kau sumpah?"

"Kau boleh pegang kata-kataku. Aku akan menulisnya hitam di atas putih. Kalau aku keliru, kau boleh memperkarakan aku."

"Sungguh lucu, Sam. Sungguh lucu."

Pintu berdetak terbuka di ujung lorong, dan langkah-langkah berat mendekati ke arah mereka. Itu Packer, ia berhenti di depan nomor enam. "Pagi, Sam," katanya.

"Pagi, Packer."

"Pakai seragam merahmu. Ada tamu untukmu."

"Siapa?"

"Seseorang ingin bicara denganmu."

"Siapa?" Sam mengulangi sambil cepat-cepat memakai pakaian terusan merah. Ia meraih rokoknya. Ia tak peduli siapa pengunjung itu atau apa yang ia inginkan. Kunjungan merupakan pembebasan dari sel yang selalu disambut.

"Bergegaslah, Sam," kata Packer.

"Apakah pengacaraku?" Sam bertanya sambil memasukkan kaki ke dalam selop mandi karet.

"Bukan." Packer memborgolnya melalui jeruji, dan pintu selnya terbuka. Mereka meninggalkan Tier A dan menuju ruangan kecil yang sama, tempat para pengacara biasa menunggu.

Packer melepaskan borgol dan membanting pintu di belakang Sam, yang memusatkan pandangan pada seorang wanita gemuk yang duduk di balik kisi-kisi. Ia menggosok pergelangannya dan mengambil beberapa langkah ke tempat duduk di depan wanita itu. Ia tidak mengenal wanita itu. Ia duduk, menyalakan rokok, dan menatap tajam padanya.

Wanita itu maju di kursinya, dan dengan gelisah berkata, "Mr. Cayhall, nama saya Dr. Stegall." Ia menggeser sehelai kartu nama melalui lubang. "Saya psikiater untuk State Department of Corrections."

Sam mengamati kartu di counter di depannya. Ia memungutnya dan memeriksanya dengan curiga. "Di sini tertulis nama Anda N. Stegall. Dr. N. Stegall."

"Benar."

"Itu nama yang aneh, N. Saya belum pernah bertemu dengan wanita bernama N."

Senyum kecil dan gelisah itu menghilang dari wajahnya dan tulang punggungnya menegak. "N cuma inisal, oke?”

"Apa kepanjangannya?"

"Itu sama sekali bukan urusan Anda."

"Nancy? Nelda? Nona?"

"Kalau saya ingin Anda tahu, saya tentu sudah mencantumkannya pada kartu nama, bukan?"

"Entahlah. Pasti sesuatu yang mengerikan, apa pun nama itu. Nick? Ned? Saya tak bisa membayangkan diri saya bersembunyi di balik suatu singkatan."

"Saya tidak bersembunyi, Mr. Cayhall."

"Panggil saya S saja, oke?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 63)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.