Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 61)

The Chamber: Kamar Gas

"Jadi, ini terserah padaku," katanya, akhirnya bergerak. Ia berjalan di depan Adam dan berhenti dekat jendela. "Kau bukan saja putus asa, Mr. Hall, kau juga naif."

"Saya takkan menyangkal itu."

"Rasanya menyenangkan mengetahui aku punya kekuatan demikian besar. Seandainya sejak dulu aku tahu hal ini, kakekmu tentu sudah mati bertahun-tahun yang lalu."

"Dia tak layak mati, Mr. Kramer," Adam berkata seraya berjalan ke pintu. Ia tak berharap akan mendapatkan simpati. Yang penting hanyalah agar Mr. Kramer melihatnya dan tahu ada hidup orang lain yang terpengaruh.

“Tidak pula cucuku, tidak pula anakku."

Adam membuka pintu dan berkata, "Maaf atas gangguan ini, dan saya berterima kasih atas waktu Anda. Saya punya seorang adik perempuan, seorang sepupu, dan seorang bibi—anak perempuan Sam. Saya cuma ingin Anda tahu Sam punya keluarga, seperti inilah. Kami akan menderita bila dia mati. Bila tidak dieksekusi, dia takkan pernah meninggalkan penjara. Dia akan layu begitu saja dan dalam waktu dekat akan meninggal karena sebab alami."

"Kau akan menderita?"

"Ya, Sir. Keluarga ini sungguh menyedihkan, Mr. Kramer, penuh dengan tragedi. Saya mencoba menghindarkan satu tragedi lagi."

Mr. Kramer berbalik dan memandangnya. Wajahnya tanpa ekspresi. "Kalau begitu, aku turut menyesal bagi kau."

"Sekali lagi terima kasih," kata Adam.

"Selamat siang," Mr. Kramer berkata tanpa senyum.

Adam meninggalkan bangunan itu dan menyusuri jalan yang teduh sampai berada di tengah kota. Ia menemukan taman peringatan itu dan duduk di bangku yang sama, tak jauh dari patung perunggu anak-anak itu. Namun setelah beberapa menit ia muak dengan perasaan bersalah dan kenangan masa lalu, kemudian berjalan pergi.

Ia pergi ke kafe yang sama satu blok dari sana, minum kopi, dan bermain dengan keju bakar. Ia mendengar percakapan tentang Sam Cayhall beberapa meja darinya, tapi tak dapat menangkap tepat apa yang dikatakan.

Ia menyewa kamar di sebuah motel dan menelepon Lee. Lee kedengaran segar, dan mungkin sedikit lega karena Adam takkan berada di sana malam itu. Ia janji akan kembali besok malam. Saat hari gelap, Adam tertidur selama setengah jam.

~ 31 ~

Adam mengemudikan mobil melintasi pusat kota Memphis sebelum fajar, dan pada pukul 07.00 mengunci diri dalam kantornya. Pukul 08.00 ia sudah tiga kali bicara dengan E. Garner Goodman. Rasanya Goodman resah dan juga sulit tidur. Mereka membicarakan panjang-lebar masalah pembelaan Keyes dalam sidang. Berkas Cayhall diisi dengan memo dan hasil riset tentang apa yang keliru dalam sidang itu, tapi hanya sedikit yang menimpakan kesalahan pada Benjamin Keyes.

Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu, ketika kamar gas serasa terlalu jauh untuk dikhawatirkan. Goodman senang mendengar Sam sekarang merasa seharusnya memberikan kesaksian dalam sidang dan Keyes telah melarangnya. Pada titik ini Goodman merasa skeptis dengan kebenarannya, namun percaya pada ucapan Sam.

Baik Goodman maupun Adam tahu masalah itu seharusnya sudah dikemukakan bertahun-tahun yang lalu, dan berbuat demikian pada saat ini merupakan upaya coba-coba dengan kemungkinan berhasil yang kecil. Buku-buku hukum jadi makin tebal setiap minggu dengan keputusan-keputusan Mahkamah Agung yang menyisihkan klaim absah karena tidak diajukan pada saatnya. Namun ini masalah penting, sesuatu yang selalu diperiksa pengadilan, Adam merasa tegang dan bergairah ketika mengonsep dan mengonsep ulang klaim tersebut serta bertukar fax dengan Goodman.

Sekali lagi klaim tersebut pertama kali akan diajukan di bawah undang-undang postconviction relief di pengadilan negara bagian. Ia mengharapkan penolakan cepat di sana, agar bisa langsung lari ke pengadilan federal.

Pukul 10.00 ia mengirimkan konsep akhirnya dengan fax kepada panitera Mahkamah Agung Mississippi, dan juga mem-fax-kan satu copy kepada Breck Jefferson di kantor Slattery. Fax-fax juga dikirimkan kepada panitera Pengadilan Fifth Circuit di New Orleans. Kemudian ia menelepon Death Clerk di Mahkamah Agung, dan mengatakan apa yang dilakukannya. Mr. Olander memerintahkannya agar langsung mem-fax-kan satu copy ke Washington.

Darlene mengetuk pintu dan Adam membuka kuncinya. Ada tamu sedang menunggunya di tempat resepsionis—Mr. Wyn Lettner. Adam mengucapkan terima kasih kepadanya, dan beberapa menit kemudian berjalan menyusuri gang dan menyapa Lettner yang sedang sendirian dan berpakaian seperti laki-laki yang memiliki dok pemancingan ikan trout—sepatu lars, topi memancing. Mereka saling berbasa-basi—ikannya mulai makan. Irene baik-baik saja, kapan dia kembali ke Calico Rock.

"Aku berada di kota untuk urusan bisnis, dan aku ingin menemuimu sebentar," katanya dengan bisikan rendah, dengan punggung menghadap resepsionis.

“Tentu," Adam berbisik. "Kantorku di ujung gang sana."

“Tidak. Mari kita jalan-jalan."

Mereka naik lift menuju lobi, dan melangkah dari gedung itu ke mall pejalan kaki. Lettner membeli sekantong kacang panggang dari penjaja berkereta dorong, dan menawarkan segenggam kepada Adam. Adam menolak. Mereka berjalan perlahan-lahan ke utara, ke arah balai kota dan gedung federal. Lettner bergantian memakan kacang dan melemparkannya kepada burung-burung dara.

"Bagaimana keadaan Sam?" akhirnya ia bertanya.

"Dia punya dua minggu. Bagaimana perasaanmu seandainya kau punya waktu dua minggu?"

"Kurasa aku akan banyak-banyak berdoa."

"Dia belum lagi sampai ke titik itu, tapi itu takkan lama."

"Itu akan terjadi?"

"Yang pasti eksekusi itu sedang direncanakan. Tak ada apa pun dalam bentuk tertulis untuk menghentikannya."

Lettner melemparkan segenggam kacang ke dalam mulut. "Nah, selamat untukmu. Sejak kau datang menemuiku, ternyata aku terus memikirkan kau dan Sam."

“Terima kasih. Dan kau datang ke Memphis untuk memberi selamat padaku?"

"Bukan begitu. Setelah kau pergi, aku banyak berpikir tentang Sam dan pengeboman Kramer. Aku melihat-lihat berkas-berkas dan catatan pribadiku—barang-barang yang tak pernah kupikirkan selama bertahun-tahun. Itu membawa kembali banyak kenangan. Aku menelepon beberapa sobat lamaku dan kami bertukar kisah perang tentang Klan. Itu adalah zamannya."

"Sayang aku tidak mengalaminya."

"Omong-omong, aku memikirkan beberapa hal yang mungkin seharusnya kuceritakan padamu."

"Misalnya?"

"Ada lebih banyak lagi dalam kisah Dogan. Kau tahu dia mati setahun setelah memberikan kesaksian?"

"Sam menceritakannya padaku."

"Dia dan istrinya tewas ketika rumah mereka meledak. Ada kebocoran gas propan pada alat pemanas. Rumah itu penuh dengan gas, dan sesuatu menyalakannya. Meledak seperti bom, bola api besar. Menguburkan mereka dalam kantong sandwich."

"Menyedihkan, tapi bagaimana lagi?"

"Kami tak pernah percaya itu kecelakaan. Orang-orang laboratorium kriminal di sana mencoba merekonstruksi alat pemanas itu. Sebagian besar sudah hancur, tapi mereka berpendapat benda itu dibor sampai bocor."

"Apa pengaruh hal ini pada Sam?"

"Ini tidak ada pengaruhnya bagi Sam."

"Kalau begitu, mengapa kita membicarakannya?"

"Ini mungkin bisa mempengaruhimu."

"Aku tidak benar-benar mengerti."

"Dogan punya satu anak laki-laki, seorang bocah yang bergabung dalam ketentaraan pada tahun 1979. Pada suatu hari di musim panas 1980, Dogan dan Sam kembali dituntut pengadilan ciraat di Greenville, dan tak lama sesudahnya diketahui luas Dogan setuju bersaksi memberatkan Sam. Itu berita besar. Pada bulan Oktober 1980, putra Dogan melakukan AWOL di Jerman. Hilang."

Ia mengupas kacang dan melemparkan kulitnya pada segerombolan merpati. "Kami juga tak pernah menemukannya. Angkatan Bersenjata mencari ke mana-mana. Berbulan-bulan lewat, lalu setahun. Dogan mati tanpa mengetahui apa yang terjadi pada anaknya."

"Apa yang terjadi pada dirinya?"

"Entahlah. Sampai hari ini, dia tak pernah muncul.”

"Dia tewas?"

"Mungkin. Tak ada tanda-tanda darinya."

"Siapa yang membunuhnya?"

"Mungkin sama dengan orang yang membunuh orangtuanya."

"Dan siapa kira-kira orang itu?"

"Kami punya satu teori, tapi tak ada tersangka. Waktu itu kami mengira si anak diculik sebelum sidang, sebagai peringatan kepada Dogan. Mungkin Dogan tahu beberapa rahasia."

"Kalau begitu, mengapa Dogan dibunuh sesudah sidang?"

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon peneduh dan duduk di bangku di Court Square.

Adam akhirnya mengambil kacang.

"Siapa yang tahu detail pengeboman itu?" tanya Lettner. "Seluruh detailnya."

"Sam. Jeremiah Dogan."

"Benar. Dan siapa pengacara mereka dalam dua sidang pertama?"

"Clovis Brazelton."

"Apakah aman mengasumsikan Brazelton tahu detail tersebut?"

"Kurasa begitu. Dia aktif dalam Klan, kan?"

"Ya, dia anggota Klan. Jumlahnya jadi tiga—Sam, Dogan, dan Brazelton. Siapa lagi?"

Adam berpikir sedetik. "Mungkin asisten misterius itu."

"Mungkin. Dogan sudah mati. Sam tak mau bicara. Dan Brazelton mati bertahun-tahun yang lalu."

"Bagaimana dia meninggal?'

"Kecelakaan pesawat terbang. Kasus Kramer membuatnya jadi pahlawan di sana, dan dia dapat memanfaatkan ketenarannya dalam praktek hukum yang sangat berhasil. Dia suka terbang, maka dia membeli sebuah pesawat terbang dan terbang ke mana-mana menguras gugatan pengadilan. Orang hebat. Suatu malam dia terbang kembali dari Coast ketika pesawat itu menghilang dari radar. Mereka menemukan mayatnya pada sebatang pohon. Cuaca cerah. FAA mengatakan ada kerusakan mesin."

"Satu lagi kematian misterius."

"Ya. Jadi, semua sudah mati kecuali Sam, dan saatnya makin dekat."

"Apakah ada kaitan antara kematian Dogan dan kematian Brazelton?"

"Keduanya terpisah selama bertahun-tahun. Tapi menurut teori kematian mereka merupakan hasil kerja orang yang sama."

"Jadi, siapa pelakunya di sini?"

"Orang yang sangat memprihatinkan rahasia itu. Bisa jadi asisten Sam yang misterius, si John Doe."

"Teori itu cuma hasil rekaan."

"Ya, benar, dan sama sekali tanpa bukti untuk menunjangnya, tapi sudah kukatakan padamu di Calico Rock bahwa kami selalu curiga Sam punya asisten. Atau mungkin Sam cuma sekadar asisten bagi John Doe. Bagaimanapun kejadiannya, ketika Sam mengacaukan urusan dan tertangkap, si John Doe menghilang. Barangkali dia bekerja melenyapkan para saksi."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 62)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.