Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 60)

The Chamber: Kamar Gas

Saat itu tengah hari, hawa panas memancar dari aspal jalan raya, dan ladang-ladang dalam keadaan kering dan berdebu, alat-alat pertanian lesu dan lamban, lalu lintas sepi dan lengang. Adam berhenti ke bahu jalan dan menaikkan atap konvertibel mobilnya.

Ia berhenti di toko Cina di Rule-ville dan membeli sekaleng es teh, lalu memacu mobilnya di sepanjang jalan raya yang sepi ke arah Greenville. Ia punya urusan yang hams dikerjakan, mungkin tak menyenangkan, tapi rasanya wajib ia kerjakan. Ia berharap punya keberanian untuk menuntaskannya.

Ia terus mengambil jalan-jalan samping, jalan county yang sempit berlapis paving stone, dan melesat nyaris tanpa tujuan, melintasi Delta. Dua kali ia tersesat, namun berhasil mencari jalan sendiri. Ia tiba di Greenville beberapa menit sebelum pukul 17.00, dan menjelajahi daerah pusat kota dalam mencari sasarannya.

Ia melewati Kramer Park dua kali. Ia menemukan sinagoga di seberang Gereja Baptis Pertama. Ia parkir di ujung Main Street, di tepi sungai, tempat sebuah tanggul membentengi kota tersebut. Ia meluruskan dasi dan berjalan menyusuri Washington Street sejauh tiga blok, menuju sebuah bangunan bata tua dengan tanda Grosir Kramer tergantung dari beranda di atas trotoar di depannya. Pintu kacanya yang berat membuka ke dalam, dan lantai kayu kunonya berkeriut ketika ia berjalan di atasnya.

Bagian bangunan itu dilestarikan menyerupai toko eceran model kuno, dengan counter-counter kaca di depan rak-rak lebar yang tegak sampai ke langit-langit. Rak-rak dan counter-counter itu diisi dengan kardus dan bungkus makanan yang pernah dijual bertahun-tahun lalu, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Ada sebuah cash register kuno sebagai pajangan.

Museum kecil itu dengan cepat menyerah pada perdagangan modern. Sisa bangunan besar itu sudah direnovasi dan penampilannya cukup efisien. Sebuah dinding lempengan kaca memotong serambi depan, lorong lebar berkarpet membentang di tengah bangunan dan, tak diragukan, menuju kantor-kantor serta para sekretaris, dan di suatu tempat di belakang pasti ada gudang.

Adam menikmati barang-barang yang diperagakan di counter depan. Seorang laki-laki muda ber-jeans muncul dari belakang dan bertanya, "Bisa saya bantu?"

Adam tersenyum dan mendadak resah. "Ya, saya ingin menemui Mr. Elliot Kramer."

"Apakah Anda salesman?"

"Bukan."

"Apakah Anda pembeli?"

"Bukan."

Laki-laki muda itu sedang memegang sebatang pensil dan pikirannya penuh dengan banyak hal.

"Kalau begitu, boleh saya tanya apa yang Anda perlukan?"

"Saya perlu menemui Mr. Elliot Kramer. Apakah dia ada di sini?"

"Dia melewatkan sebagian besar waktunya di gudang utama di selatan kota."

Adam maju tiga langkah ke arah laki-laki itu dan mengangsurkan sehelai kartu nama padanya. "Nama saya Adam Hall. Saya pengacara dari Chicago. Saya benar-benar perlu menemui Mr. Kramer."

Laki-laki itu mengambil kartu itu dan mengamatinya beberapa detik, lalu memandang Adam dengan kecurigaan besar. "Tunggu sebentar," katanya, dan berjalan pergi.

Adam bersandar pada sebuah counter dan mengamati cash register tadi. Ia sudah pernah membaca di suatu tempat dalam risetnya yang sangat besar, bahwa keluarga Marvin Kramer pedagang-pedagang kaya raya selama beberapa generasi di Delta. Seorang nenek moyang mereka turun dari kapal uap secara tergesa-gesa di Greenville dan memutuskan tinggal di kota ini. Ia membuka toko kecil yang menjual makanan kering, lalu berkembang ke usaha-usaha lain. Selama masa-masa penuh cobaan dalam persidangan Sam, keluarga Kramer berkali-kali dijelaskan sebagai keluarga kaya.

Setelah dua puluh menit menunggu, Adam sudah siap berlalu, dan cukup lega. ia sudah berusaha. Kalau Mr. Kramer tidak mau menemuinya, tak ada apa pun yang bisa ia lakukan.

Ia mendengar langkah kaki pada lantai kayu, dan berbalik. Seorang laki-laki tua berdiri dengan sehelai kartu nama di tangannya. Ia tinggi dan kurus, dengan rambut beruban yang berombak, mata cokelat tua dengan bayang-bayang gelap di bawahnya, wajah ramping, wajah kuat yang saat itu tidak tersenyum. Ia berdiri tegak, tanpa tongkat untuk membantunya berdiri, tanpa kacamata untuk membantunya melihat. Ia bersungut memandang Adam, tapi tak mengucapkan apa pun.

Seketika itu juga Adam berharap sudah berlalu lima menit yang lalu. Kemudian ia bertanya pada diri sendiri, mengapa ada di sana. Kemudian ia memutuskan, bagaimanapun ia akan meneruskan niatnya. "Selamat sore," katanya, ketika jelas laki-laki itu takkan bicara. "Mr. Elliot Kramer?"

Mr. Kramer mengangguk mengiyakan, tapi anggukannya begitu lambat, seolah-olah tertantang oleh pertanyaan tersebut.

"Nama saya Adam Hall. Saya pengacara dari Chicago. Sam Cayhall kakek saya, dan saya mewakilinya." Jelas Mr. Kramer sudah memperkirakan hal ini, sebab ucapan Adam tidak mempengaruhinya. "Saya ingin bicara dengan Anda."

"Bicara tentang apa?" Mr. Kramer berkata dengan suara terseret lamban.

“Tentang Sam."

"Aku berharap dia membusuk di neraka," katanya, seolah-olah sudah yakin akan tempat tujuan abadi Sam. Matanya begitu cokelat, nyaris hitam.

Adam memandang lantai, menghindari mata itu, dan berusaha memikirkan sesuatu yang tidak menimbulkan ledakan. "Ya, Sir," katanya, sangat menyadari ia berada di Deep South, tempat sopan santun masih dipegang erat. "Saya mengerti bagaimana perasaan Anda. Saya tidak menyalahkan Anda, tapi saya cuma ingin bicara beberapa menit dengan Anda."

"Apakah Sam menyampaikan permintaan maaf?" tanya Mr. Kramer. Fakta bahwa ia memanggil dengan Sam saja terasa aneh bagi Adam. Bukan Mr. Cayhall, bukan Cayhall, cuma Sam, seolah-olah mereka berdua sahabat lama yang dulu berselisih dan sekarang tiba saatnya untuk rujuk. Katakan saja kau menyesal, Sam, dan segalanya akan beres.

Pikiran untuk berbohong melintas cepat dalam benak Adam. Ia bisa saja mengarang, mengatakan betapa pedih perasaan Sam pada hari-hari terakhir ini, dan betapa ia menginginkan pengampunan. Namun Adam tak dapat memaksa diri melakukannya. "Apakah ada bedanya?" ia bertanya.

Mr. Kramer dengan hati-hati menyisipkan kartu dalam saku kemejanya, dan menatap lama kepada Adam, menembus jendela depan. "Tidak," katanya, "takkan ada bedanya. Mestinya itu sudah dilakukan sejak dulu." Kata-katanya mengandung aksen berat dari daerah Delta, dan meskipun artinya tidak menyenangkan, suaranya kedengaran sangat menghibur. Kata-kata itu lambat dan hati-hati, diucapkan seolah-olah waktu tak berarti apa-apa. Ucapan itu juga mencerminkan penderitaan bertahun-tahun, dan tanda bahwa hidup sudah berhenti sejak lama.

"Tidak, Mr. Kramer. Sam tidak tahu saya ada di sini, jadi dia tidak mengirimkan permintaan maafnya. Tapi saya akan menyampaikannya."

Tatapan menerawang melalui jendela dan menuju masa lampau itu tidak goyah atau bergeser. Tapi ia mendengarkan.

Adam meneruskan, "Saya merasa wajib, bagi diri saya sendiri dan putri Sam, untuk setidaknya mengatakan kami sangat menyesal atas semua yang terjadi."

"Mengapa Sam tidak mengatakannya bertahun-tahun yang lalu?"

"Saya tak dapat menjawab itu."

"Aku tahu. Kau baru."

Ah, kekuatan pers. Sudah tentu Mr. Kramer membaca koran seperti semua orang lain.

"Ya, Sir, Saya mencoba menyelamatkan nyawanya."

"Mengapa?"

"Ada banyak alasan. Membunuhnya takkan mengembalikan cucu Anda, tidak pula anak Anda. Dia salah, tapi pemerintah juga salah bila membunuhnya."

"Begitu. Dan kaupikir aku belum pernah mendengar ini?"

"Tidak, Sir. Saya yakin Anda sudah pernah mendengar semuanya ini. Anda sudah menyaksikan semuanya. Anda sudah merasakan semuanya. Saya tak bisa membayangkan apa yang telah Anda alami. Saya cuma mencoba menghindari hal itu terjadi pada saya."

"Apa lagi yang kauinginkan?"

"Bisakah Anda memberi waktu lima menit?"

"Kita sudah tiga menit bicara, kau punya dua menit lagi." Ia melirik jam tangannya, seolah-olah mengatur pencatat waktu, lalu menyelipkan jemarinya yang panjang ke dalam saku celana. Matanya kembali ke jendela dan jalan di luarnya.

"Surat kabar Memphis mengutip Anda mengatakan ingin hadir saat mereka mengikat Sam Cayhall dalam kamar gas; Anda ingin menatap matanya."

"Itu kutipan yang akurat. Tapi aku tak percaya itu akan terjadi."

"Mengapa tidak?"'

"Sebab kita punya sistem peradilan pidana yang busuk. Sudah hampir sepuluh tahun sekarang dia dimanja dan dilindungi dalam penjara. Pembelaan bandingnya berlarut-larut. Kau mengajukan berbagai macam pembelaan dan berupaya keras agar dia tetap hidup. Sistem ini sakit. Kami tidak mengharapkan keadilan."

"Saya beri Anda jaminan bahwa dia tidak dimanja. Death raw tempat yang mengerikan. Saya baru saja meninggalkannya."

"Yeah, tapi dia hidup. Dia hidup, bernapas, menonton televisi, dan membaca buku. Dia bicara denganmu. Dia mengajukan gugatan. Bila dan ketika kematian mendekat, dia akan punya banyak waktu untuk menyusun rencana menghadapinya. Dia bisa mengucapkan selamat tinggal. Memanjatkan doa. Cucuku tak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal, Mr. Hall. Mereka tak bisa memeluk orangtua mereka dan memberikan cium perpisahan. Mereka meledak begitu saja sampai berkeping-keping saat sedang bermain."

"Saya mengerti itu, Mr. Kramer. Tapi membunuh Sam takkan mengembalikan mereka."

"Tidak. Tapi itu akan membuat kami merasa jauh lebih lega. Itu akan meredakan banyak kepedihan. Sudah sejuta kali aku berdoa agar bisa hidup cukup panjang untuk menyaksikannya mati. Lima tahun lalu aku mendapat serangan jantung. Dua minggu mereka mengikatku pada mesin, dan satu hal yang membuatku tetap hidup adalah keinginan untuk hidup lebih lama dari Sam. Aku akan ada di sana, Mr. Hall, kalau dokterku mengizinkan. Aku akan ada di sana menyaksikannya mati, lalu aku akan pulang dan menghitung hari."

"Saya menyesal Anda merasa seperti ini.”

"Aku pun menyesal aku seperti ini. Aku menyesal pernah mendengar nama Sam Cayhall."

Adam mundur selangkah dan bersandar pada counter dekat cash register. Ia menatap lantai dan Mr. Kramer menatap ke luar jendela. Matahari sedang turun ke barat, di belakang gedung itu, museum kecil yang tua dan menarik itu jadi makin redup.

"Saya kehilangan ayah saya gara-gara ini," kata Adam lembut.

"Maaf. Aku membaca bahwa dia bunuh diri tak lama setelah sidang ketiga."

"Sam juga sudah menderita, Mr. Kramer. Dia menghancurkan keluarganya, dan dia menghancurkan keluarga Anda. Dan dia memikul perasaan bersalah lebih dari yang bisa Anda atau saya bayangkan."

"Mungkin dia takkan begitu terbebani bila mati."

"Mungkin. Tapi mengapa tidak kita hentikan pembunuhan ini?"

"Bagaimana kau mengharapkan aku menghentikannya?"

"Saya membaca entah di mana bahwa Anda dan Gubernur adalah sahabat lama."

"Mengapa itu jadi urusanmu?"

"Itu benar, bukan?"

"Dia orang setempat. Sudah bertahun-tahun aku mengenalnya."

"Minggu lalu saya bertemu dengannya untuk pertama kali. Dia punya kekuasaan memberikan pengampunan, Anda tahu."

"Aku takkan mengandalkan itu."

"Saya tidak mengandalkannya. Saya tak punya pilihan, Mr. Kramer. Sampai titik ini tak ada kerugian apa pun, kecuali kakek saya. Bila Anda dan keluarga Anda bersikeras mendesakkan eksekusi, Gubernur pasti akan mendengarkan Anda."

"Kau benar."

"Dan bila Anda memutuskan tak ingin eksekusi, saya pikir Gubernur mungkin juga akan mendengarkan itu."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 61)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.