Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 6)

The Chamber: Kamar Gas

"Mosi benar-benar?" tanya Goodman, tercengang.

"Ya, Sir."

"Dalam ruang sidang asli?"

"Ya, Sir."

"Di hadapan hakim asli?"

"Benar."

"Siapa yang menang?"

"Hakim memutuskan sidang pengadilan dijalankan, tapi nyaris dibatalkan. Saya benar-benar meringkusnya." Goodman tersenyum mendengar ini, tapi permainan itu dengan cepat berakhir. Ia membuka berkas itu kembali.

"Wycoff mengirimkan surat rekomendasi yang cukup kuat. Ini agak menyimpang dari wataknya."

"Dia mengenali bakat," kata Adam sambil tersenyum.

"Kuasumsikan permintaan ini sangat penting, Mr. Hall. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?"

Adam berhenti tersenyum dan berdeham melonggarkan tenggorokan. Ia mendadak gelisah, dan memutuskan berganti menyilangkan kaki. "Ini... ehm... ini kasus pidana mati."

"Kasus pidana mati?" Goodman mengulangi.

"Ya, Sir."

"Mengapa?"

"Saya menentang hukuman mati."

"Bukankah kita semua begitu, Mr. Hall? Aku pernah menulis buku-buku tentang hal ini. Aku pernah menangani dua lusin kasus terkutuk macam ini. Mengapa kau ingin terlibat?"

"Saya sudah baca buku-buku Anda. Saya cuma ingin membantu."

Goodman kembali menutup berkas itu dan bersandar pada meja kerja. Dua lembar kertas merosot dan melayang-layang ke lantai. "Kau terlalu muda dan terlalu hijau."

"Anda mungkin akan terkejut."

"Dengar, Mr. Hall, pekerjaan ini tidak sama dengan memberi nasihat pada gelandangan di dapur sup. Ini urusan hidup dan mati. Ini pekerjaan bertekanan tinggi, Nak. Bukan untuk bersenang-senang."

Adam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa pun. Matanya terkunci pada mata Goodman, dan ia bertahan tidak berkedip. Telepon berdering di suatu tempat di kejauhan, namun mereka berdua tak menghiraukan.

"Kasus tertentu, atau kau punya klien baru untuk Kravitz & Bane?" tanya Goodman.

"Kasus Cayhall," kata Adam perlahan-lahan.

Goodman menggelengkan kepala dan menarik-narik ujung dasinya. "Sam Cayhall baru saja memecat kita. Pengadilan Fifth Circuit minggu lalu memutuskan dia memang punya hak untuk menghentikan kita sebagai wakilnya."

"Saya sudah membaca keputusannya. Saya tahu apa yang dikatakan Pengadilan Fifth Circuit. Laki-laki itu butuh pengacara."

"Tidak. Dia akan mati tiga bulan lagi, dengan atau tanpa pengacara. Terus terang, aku lega dia menyingkir dari hidupku."

"Dia butuh pengacara," Adam mengulangi.

"Dia mewakili diri sendiri, dan terus terang, dia cukup bagus. Mengetik sendiri mosi dan pleidoinya, menangani riset sendiri. Kudengar dia menasihati beberapa rekannya di tahanan untuk terpidana mati, tapi cuma kepada yang kulit putih."

"Saya sudah mempelajari seluruh berkasnya."

E. Garner Goodman memutar kacamatanya perlahan-lahan dan merenungkan hal ini. "Itu setengah ton kertas. Mengapa kau melakukannya?"

"Saya sangat tertarik pada kasus ini. Sudah bertahun-tahun saya mengamatinya, membaca semua yang ditulis tentang laki-laki ini. Anda tadi bertanya mengapa saya memilih Kravitz & Bane. Nah, alasan sebenarnya adalah saya ingin menggarap kasus Cayhall, dan saya rasa biro hukum ini menanganinya secara pro bono selama... delapan tahun sekarang. Betul?"

"Tujuh, tapi rasanya seperti dua puluh tahun. Mr. Cayhall tidak menyenangkan untuk diajak berurusan."

"Bisa dimengerti, bukan? Maksud saya, dia sudah hampir sepuluh tahun dikurung seorang diri."

"Jangan menguliahi aku tentang kehidupan penjara, Mr. Hall. Pernahkah kau melihat bagian dalam penjara?"

“Tidak."

"Nah, aku sudah. Aku sudah pernah mengunjungi penjara untuk terpidana mati di enam negara bagian. Aku pernah diumpati Sam Cayhall ketika dia dirantai ke kursinya. Dia bukan orang yang menyenangkan. Dia seorang rasis yang tak bisa lagi diperbaiki dan membenci hampir setiap orang, dan dia akan membencimu bila kau bertemu dengannya."

"Saya rasa tidak."

"Kau pengacara, Mr. Hall. Dia lebih membenci pengacara daripada orang kulit hitam dan Yahudi. Sudah hampir sepuluh tahun dia menghadapi kematian, dan dia yakin dirinya korban persekongkolan pengacara. Persetan, dia mencoba memecat kita selama dua tahun. Biro hukum ini sudah menghamburkan waktu yang setara dengan tagihan senilai dua juta dolar lebih dalam usaha mempertahankan hidupnya, dan dia lebih mengkhawatirkan bagaimana cara memecat kita. Entah sudah berapa kali dia menolak bertemu dengan kami, sesudah kami susah payah pergi ke Parchman. Dia gila, Mr. Hall. Carilah proyek lain. Bagaimana dengan anak-anak teraniaya atau lainnya?"

"Tidak, terima kasih. Minat saya adalah kasus hukuman mati, dan saya agak terobsesi dengan cerita tentang Sam Cayhall."

Dengan hati-hati Goodman mengembalikan kacamatanya ke ujung hidung, lalu perlahan-lahan mengayunkan kaki ke sudut meja. Ia melipat tangan pada kemeja terkanji itu. "Kalau boleh kutanya, mengapa kau terobsesi dengan Sam Cayhall?"

"Ah, kasus ini memesona, bukan? Ku Klux Klan, gerakan perjuangan hak sipil, pengeboman, tempat penyiksaan. Latar belakangnya adalah periode yang begitu kaya nuansa dalam sejarah Amerika."

Kipas angin berputar perlahan-lahan di langit-langit di atas. Satu menit berlalu.

Goodman menurunkan kaki ke lantai dan menyandarkan siku. "Mr. Hall, aku menghargai minatmu pada bagian pro bono, dan kujamin ada banyak pekerjaan yang bisa digarap. Tapi kau perlu mencari proyek lain. Ini bukan pertandingan sidang simulasi."

"Dan saya bukan mahasiswa hukum."

"Sam Cayhall sudah menghentikan jasa pelayanan kita secara efektif, Mr. Hall. Rupanya kau tidak menyadari hal ini."

"Saya ingin mendapat kesempatan bertemu dengannya."

"Untuk apa?"

"Saya rasa saya bisa meyakinkannya agar membiarkan saya mewakilinya."

"Oh, benarkah?"

Adam menghela napas dalam, lalu berdiri dan berjalan dengan tangkas di antara tumpukan kertas, menuju jendela. Menghela napas dalam lagi. Goodman mengawasi dan menunggu.

"Saya punya rahasia untuk Anda, Mr. Goodman. Tak ada orang lain yang tahu selain Emmitt Wycoff, dan saya terpaksa bercerita padanya. Anda harus merahasiakannya, oke?"

"Aku mendengarkan."

"Apakah Anda berjanji?"

"Ya, kau boleh pegang kata-kataku," kata Goodman sambil menggigit gagang kacamata.

Adam mengintip melalui sebuah celah pada tirai, melihat perahu layar di atas Danau Michigan. Ia bicara pelan, "Saya punya hubungan keluarga dengan Sam Cayhall."

Goodman tak bergerak. "Begitu. Hubungan bagaimana?"

"Dia punya seorang putra, Eddie Cayhall. Eddie Cayhall meninggalkan Mississippi dengan muka tercoreng setelah ayahnya ditahan karena pengeboman tersebut. Dia kabur ke California, ganti nama, dan mencoba melupakan masa lalunya. Namun dia tersiksa aib keluarganya. Dia bunuh diri tak lama sesudah ayahnya dinyatakan bersalah pada tahun 1981."

Goodman duduk dengan tegang di tepi kursi.

"Eddie Cayhall adalah ayah saya."

Goodman bimbang sejenak. "Sam Cayhall kakekmu?"

"Ya. Saya tak mengetahuinya sampai saya hampir tujuh belas tahun. Bibi saya menceritakannya sesudah kami menguburkan ayah saya."

"Wah!"

"Anda janji takkan cerita."

"Tentu." Goodman memindahkan pantatnya ke tepi meja kerja dan meletakkan kakinya di kursi. Ia menatap tirai. "Apakah Sam tahu..."

"Tidak. Saya dilahirkan di Ford County, Mississippi, di kota kecil bernama Clanton, bukan Memphis. Saya selalu diberitahu saya lahir di Memphis. Nama saya waktu itu Alan Cayhall, tapi saya baru mengetahui hal ini lama sesudahnya. Saya umur tiga tahun ketika kami meninggalkan Mississippi, dan orangtua saya tak pernah bicara tentang tempat itu. Ibu saya yakin tak pernah ada kontak antara Eddie dan Sam sejak kami pergi, sampai dia mengirimi Sam surat ke penjara dan menceritakan putranya telah meninggal. Dia tidak membalas."

"Terkutuk, terkutuk, terkutuk," Goodman bergumam pada diri sendiri.

"Ada banyak hal dalam kisah ini, Mr. Goodman. Keluarga ini agak gila."

"Bukan salahmu."

"Menurut ibu saya, ayah Sam anggota Klan yang aktif, ikut berperan serta dalam pembunuhan tanpa pengadilan dan segala kegiatan macam itu. Jadi, saya berasal dari bibit yang lemah."

"Ayahmu beda."

"Ayah saya bunuh diri. Tak perlu saya uraikan perinciannya, tapi saya menemukan jenazahnya, dan saya membereskannya sebelum ibu dan adik saya pulang."

"Dan waktu itu kau tujuh belas tahun?"

"Menjelang tujuh belas. Saat itu tahun 1981. Sembilan tahun yang lalu. Sesudah bibi saya, adik Eddie, menceritakan peristiwa sebenarnya pada saya, saya jadi terpesona dengan sejarah kotor Sam Cayhall. Saya menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk menggali berita surat kabar dan majalah lama; bahannya cukup banyak. Saya sudah membaca transkrip dari tiga persidangan tersebut. Saya sudah mempelajari amar bandingnya. Di sekolah hukum saya mulai mengamati kerja biro hukum ini dalam mewakili Sam Cayhall. Anda dan Wallace Tyner telah melakukan pekerjaan yang patut dicontoh."

"Aku senang kau setuju."

"Saya sudah membaca ratusan buku dan ribuan artikel tentang Amandemen Kedelapan dan perkara hukuman mati. Anda pernah menulis empat buku, saya rasa. Dan sejumlah artikel. Saya tahu saya cuma pemula, tapi penelitian saya tak tercela."

"Dan kaupikir Sam Cayhall akan mempercayaimu sebagai pengacaranya."

"Saya tidak tahu. Tapi dia kakek saya, suka atau tidak, dan saya harus menemuinya."

"Tidak pernah ada kontak..."

"Tidak. Saya umur tiga tahun ketika kami pergi, dan saya pasti tidak ingat padanya. Beribu kali saya pernah mulai menulis surat padanya, tapi itu tak pernah terjadi. Saya tak dapat mengatakan apa sebabnya."

"Itu bisa dimengerti."

"Tak ada yang bisa dimengerti, Mr. Goodman. Saya tak mengerti bagaimana atau mengapa saya berdiri di sini, dalam kantor ini, pada saat ini. Saya selalu ingin jadi pilot, tapi saya kuliah hukum, sebab saya merasakan panggilan samar-samar untuk membantu masyarakat. Seseorang membutuhkan saya, dan saya pikir saya merasa seseorang itu kakek saya yang gila. Saya mendapat empat tawaran kerja, dan saya memilih biro hukum ini, sebab biro ini punya nyali untuk mewakilinya secara cuma-cuma."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.