Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 59)

The Chamber: Kamar Gas

Sam menatapnya berapi-api. "Keraguan? Dialah satu-satunya alasan aku ada di sini. Dia sudah tak sabar lagi ingin melihatku dieksekusi."

"Kau mungkin benar, tapi..."

"Kau janji tidak akan bicara dengannya. Kau menandatangani perjanjian denganku, yang dengan tegas melarang kontak apa pun dengan si tolol itu."

"Tenang, Sam. Dia mencegatku di luar kantor hakim."

"Aku heran dia tidak mengadakan jumpa pers untuk membicarakannya."

"Aku mengancamnya, oke? Aku membuatnya berjanji untuk tidak bicara."

"Kalau begitu, kaulah orang pertama dalam sejarah yang berhasil membungkam bangsat itu."

"Dia terbuka dengan gagasan memberikan pengampunan."

"Dia bilang begitu padamu?"

"Ya."

"Kenapa? Aku tidak percaya ini."

"Aku tidak tahu mengapa, Sam. Dan aku sama sekali tak peduli. Tapi bagaimana hal ini bisa merugikan kita? Apa bahaya memohon sidang pemeriksaan untuk mendapatkan pengampunan? Memang fotonya akan terpampang lagi di surat kabar. Memang kamera TV akan mengejarnya lagi. Kalau ada peluang, dia akan mendengarkan. Mengapa kau harus peduli bila dia mendapat sorotan lebih lanjut dari hal ini?"

“Tidak. Jawabnya tidak. Aku takkan memberimu wewenang untuk mengajukan permohonan sidang pemeriksaan pemberian pengampunan. Sama sekali tidak. Seribu kali tidak. Aku kenal dia, Adam. Dia mencoba menyedotmu ke dalam rencana permainannya. Semua itu palsu, pertunjukan untuk masyarakat. Dia akan bersedih atas hal ini sampai akhir, memerah semua yang bisa dia dapatkan. Dia akan mendapatkan perhatian lebih banyak daripada aku, padahal ini eksekusiku."

"Jadi, apa ruginya?"

Sam menepuk meja dengan telapak tangannya. "Sebab itu tidak akan ada gunanya, Adam. Dia takkan berubah pikiran."

Adam menuliskan sesuatu pada buku tulis dan membiarkan beberapa saat lewat. Sam bergeser mundur di kursinya dan menyalakan sebatang rokok lagi. Rambutnya masih basah dan ia menyisirnya ke belakang dengan kuku jari.

Adam meletakkan pena di meja dan memandang kliennya. "Apa yang ingin kaulakukan, Sam? Menyerah? Kaupikir kau tahu banyak tentang hukum. Katakan padaku, apa yang ingin kaulakukan?"

"Ah, selama ini aku sudah memikirkannya."

"Aku yakin kau sudah memikirkannya."

"Pembelaan yang dalam perjalanan ke Fifth Circuit itu memang ada gunanya, tapi tampaknya tidak begitu menjanjikan. Menurut pengamatanku, tak banyak lagi yang tersisa."

"Kecuali Benjamin Keyes."

"Benar. Kecuali Keyes. Dia bekerja dengan baik untukku dalam sidang dan sidang banding, dan dia hampir merupakan sahabat. Aku tak suka mengejarnya."

"Ini tindakan baku dalam kasus hukuman mati, Sam. Kau selalu memburu pengacaramu dalam sidang dan menyatakan telah mendapatkan nasihat hukum yang tidak efektif. Goodman mengatakan padaku ingin melakukannya, tapi kau menolak. Itu seharusnya sudah dilakukan bertahun-tahun yang lalu."

"Dia benar tentang itu. Dia meminta aku melakukannya, tapi aku bilang tidak. Kurasa itu suatu kesalahan."

Adam bertengger di tepi kursinya sambil membuat catatan. "Aku sudah mempelajari catatan, dan kupikir Keyes melakukan kesalahan ketika dia tidak mengajukanmu untuk memberi kesaksian."

"Aku ingin bicara pada Juri, kau tahu. Kupikir aku sudah mengatakan itu padamu. Setelah Dogan memberikan kesaksian, kupikir sangat penting bagiku menjelaskan pada Juri bahwa aku memang benar memasang bom itu, tapi sama sekali tak ada niat membunuh siapa pun. Itulah yang sebenarnya, Adam. Aku tak berniat membunuh siapa pun."

"Kau ingin memberikan kesaksian, tapi pengacaramu bilang tidak."

Sam tersenyum dan memandang ke lantai. "Itukah yang kau ingin aku katakan?"

"Ya."

"Aku tak punya banyak pilihan, kan?"

"Benar."

"Oke. Begitulah kejadiannya. Aku ingin memberikan kesaksian, tapi pengacaraku tak mengizinkan."

"Aku akan mengajukan dalih ini besok pagi-pagi."

"Ini sudah terlambat, kan?"

"Ah, ini jelas terlambat, dan masalah ini seharusnya sudah diajukan dulu. Tapi apa ruginya sekarang?"

"Apakah kau akan menelepon Keyes dan menceritakan hal ini padanya?"

"Kalau aku punya waktu. Saat ini aku sama sekali tak peduli dengan perasaannya."

"Kalau begitu, aku pun tidak. Persetan dengannya. Siapa lagi yang bisa kita serang?"

"Daftarnya agak pendek."

Sam melompat berdiri dan mulai mondar-mandir sepanjang meja dengan langkah terukur. Panjang ruangan itu lima setengah meter. Ia berjalan mengelilingi meja di belakang Adam dan sepanjang tiap-tiap dinding, menghitung sambil berjalan. Ia berhenti dan bersandar pada sebuah rak buku.

Adam menyelesaikan sejumlah catatan dan mengawasinya dengan cermat. "Lee ingin tahu apakah bisa datang berkunjung," katanya.

Sam menatapnya, lalu perlahan-lahan kembali ke tempat duduknya di seberang meja. "Dia ingin datang?"

"Kurasa begitu."

"Aku harus memikirkannya."

"Nah, bergegaslah."

"Bagaimana keadaannya?"

"Lumayan, kurasa. Dia menyampaikan cinta dan doanya, dan dia banyak memikirkanmu akhir-akhir ini."

"Apakah orang-orang di Memphis tahu dia anakku?"

"Kurasa tidak. Itu belum muncul di surat kabar."

"Kuharap mereka tetap tidak membicarakannya."

"Aku dan dia pergi ke Clanton Sabtu kemarin."

Sam memandangnya dengan sedih, lalu menerawang ke langit-langit. "Apa yang kaulihat?" tanyanya.

"Banyak. Dia menunjukkan makam nenekku dan kuburan anggota Cayhall lainnya."

"Dia tak ingin dikuburkan bersama keluarga Cayhall, apakah Lee menceritakan itu padamu?"

"Ya. Lee menanyaiku di mana kau ingin dikuburkan."

"Aku belum lagi memutuskan."

"Baiklah. Beritahu aku bila kau sudah mengambil keputusan. Kami berjalan-jalan di kota, dan dia memperlihatkan rumah tempat kami tinggal. Kami pergi ke alun-alun dan duduk dalam gazebo di halaman gedung pengadilan. Kota itu sangat sibuk. Orang-orang berkerumun di sekitar alun-alun."

"Kami biasa menyaksikan kembang api di kuburan."

"Lee menceritakan semua itu padaku. Kami makan siang di Tea Shoppe dan bermobil ke pinggir kota. Dia membawaku ke rumah masa kecilnya."

"Apa rumah itu masih ada?"

"Yeah, tak dihuni. Rumah itu rusak dan rumput tumbuh dengan liar merajalela. Kami berjalan mengelilingi tempat itu. Dia menceritakan banyak kisah masa kanak-kanaknya. Bicara banyak tentang Eddie."

"Apa dia punya kenangan indah?"

"Tidak."

Sam menyilangkan tangan dan memandang meja. Satu menit lewat tanpa sepatah kata. Akhirnya Sam bertanya, "Apa dia bercerita tentang Quince Lincoln, bocah Afrika kecil sahabat Eddie?"

Adam mengangguk perlahan-lahan, mata mereka saling terkunci. "Ya"

"Dan tentang ayahnya, Joe?"

"Dia menceritakan kisah itu padaku."

"Apakah kau mempercayainya?"

"Aku percaya. Haruskah aku percaya?"

"Itu benar. Semua itu benar."

"Kupikir begitu."

"Bagaimana perasaanmu ketika dia menceritakan kisah itu padamu? Maksudku, bagaimana reaksimu?"

"Aku benci padamu.''

"Dan bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Lain."

Sam bangkit perlahan-lahan dari tempat duduk dan berjalan ke ujung meja. Ia berhenti dan berdiri dengan punggung menghadap Adam. "Itu empat puluh tahun yang lalu," ia bergumam, nyaris tak terdengar.

"Aku tidak datang ke sini untuk bicara tentang ini," kata Adam, sudah merasa bersalah.

Sam berbalik dan bersandar pada rak buku yang sama. Ia berdekap tangan dan menatap dinding. "Aku berharap seribu kali itu tak pernah terjadi."

"Aku berjanji pada Lee takkan mengungkitnya, Sam. Maaf."

"Joe Lincoln orang yang baik. Aku sering bertanya dalam hati, apa yang terjadi pada Ruby, Quince, dan anak-anaknya yang lain."

"Lupakanlah, Sam. Mari kita bicara tentang hal lain."

"Kuharap mereka bahagia saat aku mati."

~ 30 ~

Ketika Adam mengemudikan mobil melewati pos keamanan di gerbang utama, penjaga itu melambaikan tangan, seolah-olah saat ini ia sudah jadi pelanggan tetap. Ia balas melambai sambil mengurangi kecepatan dan menekan tombol untuk membuka bagasi. Tidak dibutuhkan administrasi apa pun bagi pengunjung yang akan pergi, cuma pemeriksaan sepintas pada bagasi untuk memastikan tak ada narapidana yang membonceng.

Ia berbelok ke jalan raya bebas hambatan, menuju selatan, menjauh dari Memphis, dan menghitung ini kunjungannya yang kelima ke Parchman. Lima kunjungan dalam dua minggu. Ia merasa tempat ini akan jadi rumahnya yang kedua selama enam belas hari mendatang. Sungguh pikiran yang menyebalkan.

Ia tidak berselera berurusan dengan Lee malam ini. Ia merasa ikut bertanggung jawab atas kekambuhannya kecanduan alkohol, tapi menurut pengakuan Lee sendiri ini sudah menjadi cara hidupnya selama bertahun-tahun. Ia pecandu alkohol, dan bila ia memilih minum, tak ada apa pun yang bisa dilakukan Adam untuk menghentikannya. Ia akan ke sana besok malam, untuk membuat kopi dan bercakap-cakap. Malam ini ia butuh istirahat.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 60)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.