Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 58)

 The Chamber: Kamar Gas

~ 29 ~

The Row sunyi sepi, sementara satu hari lagi berjalan lamban menjelang siang. Berbagai kipas angin berdengung dan berderak dalam sel-sel sempit, dengan penuh semangat mencoba mendorong udara yang makin lama makin pengap.

Berita pagi di televisi diisi dengan laporan-laporan seru bahwa Sam Cayhall telah kalah dalam pertempuran hukumnya yang terbaru. Keputusan Slattery dikumandangkan ke seluruh penjuru negara bagian, seolah-olah itu paku terakhir pada peti mati.

Stasiun Jackson meneruskan hitungan mundurnya—tinggal enam belas hari tersisa. Hari keenam belas! Demikian tertulis dalam huruf tebal di bawah foto tua Sam yang sama. Para reporter dengan mata berbinar, makeup tebal, dan tanpa pengetahuan apa pun tentang hukum, menyemburkan kata-kata ke arah kamera dengan ramalan yang tak kenal takut. "Menurut sumber-sumber kami, upaya hukum Sam Cayhall akhirnya habis. Banyak orang percaya eksekusinya akan seperti dijadwalkan, pada tanggal 8 Agustus." Kemudian diteruskan dengan berita olahraga dan prakiraan cuaca.

Di The Row, percakapan lebih jarang terjadi, teriakan ke sana-sini makin berkurang, layang-layang lebih sedikit dikirimkan di antara sel-sel. Akan terjadi eksekusi.

Sersan Packer tersenyum sendiri ketika berlenggang di Tier A. Suara umpatan dan omelan yang sudah menjadi bagian pekerjaan hariannya nyaris lenyap. Sekarang para narapidana itu prihatin memikirkan dalih pembelaan banding dan pengacara mereka. Permintaan paling umum dalam dua minggu terakhir ini adalah memakai telepon untuk menelepon pengacara.

Packer tidak antusias ingin menyaksikan eksekusi lain, tapi ia benar-benar menikmati ketenangan itu. Dan ia tahu itu cuma sementara. Apabila Sam menerima keputusan penundaan eksekusi besok, kebisingan akan langsung meningkat.

Ia berhenti di depan sel Sam. "Jam istirahat di luar, Sam."

Sam sedang duduk di ranjangnya, mengetik dan merokok seperti biasa. "Pukul berapa ini?" ia bertanya, meletakkan mesin tik di sebelahnya dan berdiri.

"Sebelas."

Sam berbalik memunggungi Packer dan mengulurkan pergelangan melalui lubang di pintunya.

Packer dengan hati-hati memborgolnya. “Kau keluar sendiri?" tanyanya. Sam berbalik dengan tangan di belakangnya.

"Tidak. Henshaw ingin keluar juga."

"Aku akan menjemputnya," kata Packer sambil mengangguk pada Sam, lalu mengangguk ke ujung tier. Pintu terbuka, dan Sam perlahan-lahan mengikutinya melewati sel-sel lain. Setiap narapidana bersandar pada jeruji dengan tangan dan lengan bergelantungan ke luar, masing-masing mengawasi Sam dengan cermat ketika ia berjalan lewat.

Mereka berjalan melewati jeruji-jeruji dan lorong-lorong lagi, dan Packer membuka kunci sebuah pintu besi yang tak dicat. Sam benci bagian ini dalam istirahat keluarnya. Ia melangkah ke rumput dan memejamkan mata rapat-rapat ketika Packer membuka borgol, lalu membuka mata perlahan-lahan sampai pandangannya terfokus dan bisa menyesuaikan diri dengan kilau matahari yang menyakitkan.

Packer menghilang ke dalam tanpa sepatah kata pun. Sam berdiri di titik yang sama selama satu menit penuh, sementara cahaya berkilat terang dan kepalanya berdenyut-denyut. Hawa panas tidak mengganggunya, sebab ia sudah terbiasa, namun cahaya matahari menghunjam bagaikan laser dan menimbulkan sakit kepala hebat tiap kali ia diizinkan keluar dari selnya. Ia sebenarnya bisa dengan mudah membeli kacamata hitam, mirip dengan kacamata Packer, tapi tentunya itu terlalu berlebihan. Kacamata hitam tidak termasuk dalam daftar barang-barang yang boleh dimiliki narapidana di sana.

Ia berjalan goyah di rumput yang terpangkas pendek, memandang ke ladang-ladang kapas di balik pagar. Halaman rekreasi itu tak lebih dari lapangan tanah dan rumput berpagar, dengan dua bangku kayu dan sebuah ring bola basket untuk orang-orang Afrika. Tempat itu oleh para penjaga dan narapidana disebut kandang banteng.

Sam sudah beribu kali melangkah di sana, dan sudah membandingkan pengukurannya dengan narapidana-narapidana lain. Lapangan itu panjangnya lima belas meter dan lebarnya sebelas meter. Pagarnya setinggi tiga meter dan dimahkotai kawat duri setinggi 45 senti. Di balik pagar terbentang lapangan rumput sejauh kurang-lebih tiga puluh meter ke pagar utama, yang diawasi para penjaga di menara.

Sam berjalan mengikuti garis lurus di samping pagar, lalu berbalik sembilan puluh derajat dan meneruskan kegiatan rutinnya, menghitung setiap langkah sepanjang jalan. Lima belas kali sebelas meter. Selnya berukuran hampir dua kali tiga meter. The Twig, perpustakaan hukum, berukuran lima setengah kali empat setengah meter. Bagian dalam ruangan pengunjung adalah dua kali sembilan meter. Ia pernah diberitahu bahwa kamar gas berukuran empat setengah kali tiga setengah meter, dan biliknya sendiri hanya berupa kubus selebar satu seperempat meter.

Selama tahun pertama pengurungannya, ia berlari mengelilingi lapangan itu di tepinya, mencoba mengeluarkan keringat dan melatih jantungnya. Ia juga melemparkan bola ke ring bola basket, tapi berhenti setelah berhari-hari tidak berhasil memasukkan bola. Akhirnya ia berhenti berlatih dan selama bertahun-tahun memakai satu jam istirahat ini tanpa berbuat apa-apa, kecuali menikmati kebebasan dari selnya.

Suatu ketika ia jatuh dalam kebiasaan berdiri di depan pagar dan menatap pepohonan di seberang ladang. Di situ ia membayangkan segala hal. Kebebasan. Jalan raya. Memancing. Makanan. Seks sekali-sekali. Ia hampir bisa membayangkan tanah pertaniannya yang kecil di Ford County tak jauh di sebelah sana, di antara dua petak hutan. Ia memimpikan Brazil, Argentina, atau tempat persembunyian sunyi lain, tempat ia seharusnya hidup dengan nama baru.

Dan kemudian ia berhenti bermimpi. Ia berhenti menatap ke balik pagar seolah-olah suatu mukjizat akan membawanya pergi. Ia berjalan dan merokok, hampir selalu sendirian. Kegiatan utamanya adalah bermain checker.

Pintu kembali terbuka dan Hank Henshaw berjalan melewatinya. Packer membuka borgolnya sementara ia menyipitkan mata dan melihat ke tanah. Ia menggosok pergelangan begitu dibebaskan, lalu meregangkan punggung dan kaki. Packer berjalan ke salah satu bangku dan meletakkan kardus tua di atasnya.

Dua narapidana itu mengawasi Packer sampai meninggalkan halaman tersebut, lalu mereka berjalan ke bangku dan mengambil posisi masing-masing, menunggangi papan kayu dengan kardus di antara mereka. Sam dengan hati-hati meletakkan papan checker di atas bangku, sementara Henshaw menghitung buah checker.

"Giliranku main merah," kata Sam.

"Yang lalu kau main merah," kata Henshaw, menatapnya.

"Yang lalu aku main hitam."

"Tidak, terakhir aku main hitam. Sekarang giliranku main merah."

"Dengar, Hank. Aku cuma punya enam belas hari, dan kalau aku ingin main merah, aku harus main merah.”

Henshaw mengangkat pundak dan menyerah. Mereka mengatur buah checker dengan sangat rapi.

"Kurasa kau yang pertama melangkah," kata Henshaw.

"Tentu." Sam menggeser sebuah biji checker ke petak kosong, dan pertandingan itu mulai. Matahari tengah hari memanggang tanah di sekeliling mereka, dan dalam beberapa menit pakaian terusan merah mereka sudah melekat pada punggung. Mereka berdua memakai sepatu mandi karet tanpa kaus kaki.

Hank Henshaw berumur 41 tahun, sekarang sudah tujuh tahun jadi penghuni The Row, tapi diperkirakan takkan pernah melihat kamar gas. Ada dua kekeliruan penting terjadi dalam sidang, dan Henshaw punya cukup peluang untuk mendapatkan pembatalan vonis dan dibebaskan dari The Row.

"Kabar buruk kemarin," katanya, sementara Sam memikirkan langkah selanjutnya.

"Ya, segalanya tampak agak suram, bukan begitu menurutmu?"

"Yeah. Apa kata pengacaramu?" Tak satu pun di antara mereka mengangkat wajah dari papan checker.

"Dia mengatakan kita punya peluang bertempur."

"Apa artinya?" tanya Henshaw sambil melangkah.

"Kupikir itu berarti mereka akan mengegas aku, tapi aku akan mengelak."

"Apakah bocah itu tahu apa yang dia lakukan?"

"Oh, yeah. Dia cerdas. Sudah keturunan, kau tahu."

"Tapi dia masih begitu muda."

"Dia bocah yang pandai. Pendidikannya hebat. Nomor dua di kelasnya di Michigan, kau tahu. Editor buletin hukum."

"Apa artinya?"

"Artinya dia cemerlang. Dia akan memikirkan suatu jalan keluar."

"Kau serius, Sam? Kaupikir itu akan terjadi?"

Sam mendadak melompati dua biji checker hitam dan Henshaw mengumpat.

"Kasihan kau," kata Sam sambil menyeringai.

Henshaw mengambil langkah hati-hati, dan Sam melompatinya lagi. Lima menit kemudian, permainan itu selesai dengan Sam kembali meraih kemenangan. Mereka membenahi papan.

Tengah hari, Packer dan satu penjaga lain muncul dengan borgol, dan kegembiraan itu selesai. Mereka digiring ke sel; makan siang sedang disiapkan. Kacang, kacang polong, kentang pure, dan beberapa potong roti kering. Sam cuma menghabiskan sepertiga makanan lunak di piringnya, dan menunggu dengan sabar sampai seorang penjaga menjemputnya, memegang celana pendek dan sepotong sabun.

Penjaga tiba dan menggiring Sam ke pancuran kecil di ujung tier. Menurut keputusan pengadilan, para terpidana mati diizinkan mandi cepat-cepat sebanyak lima kali seminggu, tak peduli mereka membutuhkannya atau tidak, demikian kata para penjaga.

Sam mandi dengan cepat, mencuci rambutnya dua kali dengan sabun, dan membasuh tubuhnya cukup bersih.

Setelah lima menit, air berhenti mengalir, dan Sam berbasah-basah selama beberapa menit lagi sambil menatapi dinding keramik yang berlumut. Ada beberapa hal di The Row yang takkan ia rindukan.

Dua puluh menit kemudian ia dinaikkan ke sebuah van penjara dan dibawa sejauh setengah mil ke perpustakaan hukum.

Adam sedang menunggu di dalam, menanggalkan jas dan menggulung lengan kemeja ketika penjaga membuka borgol Sam dan meninggalkan ruangan. Mereka saling memberi salam dan berjabat tangan. Sam cepat-cepat duduk dan menyalakan sebatang rokok. "Ke mana saja kau?” tanyanya.

"Sibuk," kata Adam, duduk di seberang meja. "Aku mendadak terpaksa pergi ke Chicago Rabu dan Kamis lalu."

"Ada hubungannya dengan urusanku?"

"Boleh kaukatakan demikian. Goodman ingin menelaah kasus ini dan ada beberapa urusan lain."

"Jadi, Goodman masih terlibat?"

"Goodman bosku saat ini, Sam. Aku harus melapor kepadanya kalau aku ingin mempertahankan pekerjaanku. Aku tahu kau membencinya, tapi dia sangat prihatin denganmu dan kasusmu. Percaya atau tidak, dia tak ingin melihatmu digas."

"Aku tidak lagi membencinya."

"Mengapa hatimu berubah?"

"Entahlah. Bila kau sampai sedekat ini pada ajal, kau banyak berpikir."

Adam sangat ingin mendengar lebih banyak, tapi Sam menghentikannya. Adam memandanginya merokok dan berusaha tidak berpikir tentang Joe Lincoln. Ia berusaha tidak memikirkan ayah Sam dipukuli dalam perkelahian mabuk-mabukan pada suatu pemakaman, dan mencoba mengabaikan segala kisah menyedihkan lain yang diceritakan Lee padanya di Ford County. Ia mencoba menepis hal-hal ini dari pikirannya, namun tak dapat melakukannya.

la sudah berjanji pada Lee takkan menyebut-nyebut lagi mimpi buruk masa lalu. "Kurasa kau sudah dengar tentang kekalahan terakhir kita," katanya sambil menarik berkas-berkas dari tas.

"Tidak lama, kan?"

"Benar. Kekalahan yang agak cepat, tapi aku sudah mengajukan dalih lain kepada Pengadilan Fifth Circuit."

"Aku tak pernah menang di Fifth Circuit."

"Aku tahu. Tapi pada titik ini kita tak bisa memilih pengadilan peninjau kasus kita."

"Apa yang bisa kita lakukan pada titik ini?"

"Beberapa hal. Aku kebetulan bertemu dengan Gubernur Selasa kemarin, setelah rapat dengan hakim federal. Dia ingin bicara empat mata. Dia memberiku nomor telepon pribadinya dan mengundangku untuk menelepon dan bicara tentang kasus ini. Katanya dia punya beberapa keraguan tentang sejauh mana kesalahanmu."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 59)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.