Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 57)

The Chamber: Kamar Gas

"Tak apa. Apa yang akan kaulakukan dengan Sam hari ini?"

"Bicara, kebanyakan. Pengadilan federal lokal menolak permohonan kami kemarin, jadi kami akan mengajukan dalih lain pagi ini. Sam suka membicarakan strategi hukum."

"Katakan padanya aku memikirkannya."

"Akan kusampaikan."

la mendorong piringnya dan memegang cangkirnya dengari dua tangan. "Dan tanya dia apakah ingin aku datang menengoknya."

"Kau benar-benar ingin melakukannya?" tanya Adam, tak mampu menyembunyikan perasaan kagetnya.

"Aku merasa harus melakukannya. Sudah bertahun-tahun aku tak pernah melihatnya."

"Akan kutanya dia."

"Dan jangan sebut-sebut Joe Lincoln, oke, Adam? Tak pernah kuceritakan pada Daddy apa yang kusaksikan."

"Kau dan Sam tak pernah bicara tentang pembunuhan itu?"

"Tak pernah. Peristiwa itu diketahui luas dalam masyarakat. Aku dan Eddie tumbuh dewasa dengannya dan membawanya sebagai beban, tapi—terus terang, Adam, kejadian itu bukan urusan besar bagi para tetangga. Ayahku membunuh orang kulit hitam. Itu tahun 1950, dan terjadi di Mississippi. Peristiwa itu tak pernah dibicarakan dalam rumah kami."

"Jadi, Sam berhasil sampai ke kuburnya tanpa dihadapkan pada pembunuhan itu?"

"Apa yang kaudapat dengan menghadapkannya pada pembunuhan tersebut? Itu sudah empat puluh tahun yang lalu."

"Entahlah. Mungkin dia akan mengatakan menyesal."

"Kepadamu? Dia minta maaf padamu, dan itu membuat segalanya beres? Aduh, Adam, kau masih muda dan tak mengerti. Biarkan saja urusan ini. Jangan sakiti lagi orang tua itu. Saat ini, kaulah satu-satunya titik cerah dalam hidupnya yang menyedihkan."

"Oke, oke."

"Kau tak berhak menyergapnya dengan kisah Joe Lincoln."

"Kau benar. Aku takkan melakukannya. Janji."

Ia menatap Adam dengan mata merah, sampai Adam memandang ke televisi, lalu cepat-cepat minta diri dan menghilang lewat ruang duduk. Adam mendengar pintu kamar mandi ditutup dan dikunci. Ia berjalan melintasi karpet dan berdiri di gang, mendengarkan sementara Lee muntah-muntah. Toilet diguyur, dan Adam lari ke atas, ke kamarnya, untuk mandi dan berganti pakaian.

***

Pukul 10.00, Adam telah menyempurnakan dalih pembelaan kepada Pengadilan Banding Fifth Circuit di New Orleans. Hakim Slattery sudah mengirim satu copy keputusannya dengan fax kepada panitera di Pengadilan Fifth Circuit, dan Adam mengirimkan pembelaannya dengan fax segera setelah tiba di kantor. Aslinya ia kirimkan dengan Federal Express.

Ia juga bercakap-cakap untuk pertama kalinya dengan Death Clerk, pegawai penuh Mahkamah Agung AS yang tidak mengerjakan apa pun selain memantau dalih-dalih pembelaan terakhir dari semua terpidana mati. Death Clerk kerap kali bekerja 24 jam sehari, bila eksekusi sudah hampir tiba saatnya. E. Garner Goodman telah menjelaskan secara ringkas pada Adam tentang akal bulus Death Clerk dan kantornya, lalu dengan enggan Adam menelepon untuk pertama kalinya.

Nama panitera itu Richard Olander, jenis orang yang efisien dan kedengaran agak letih pada pagi hari Senin. "Kami sudah menunggu ini," katanya pada Adam, seolah-olah urusan terkutuk ini seharusnya sudah diajukan beberapa saat yang lalu. Ia menanyai Adam, apakah ini eksekusinya yang pertama.

"Saya khawatir begitulah," kata Adam. "Dan saya harap ini yang terakhir."

"Ah, Anda jelas telah memilih seorang pecundang," Mr. Olander berkata, lalu menjelaskan dengan detail berkepanjangan bagaimana pengadilan mengharapkan dalih-dalih pembelaan terakhir ini ditangani. Setiap pengajuan apa pun mulai saat ini sampai selanjutnya, sampai akhir, tak peduli di mana dalih itu diajukan atau apa isinya, harus juga diajukan ke kantornya secara bersamaan, ia menguraikan dengan datar, seolah-olah membaca dari buku teks.

Bahkan ia akan langsung mem-fox-kan kepada Adam copy keputusan Mahkamah, yang semuanya harus diikuti dengan cermat sampai akhir. Kantornya selalu siap, 24 jam sehari, demikian ia mengulangi lebih dari sekali, dan yang sangat penting adalah mereka menerima copy dari segalanya. Itu tentunya bila Adam ingin kliennya mendapatkan sidang pemeriksaan yang adil oleh Mahkamah. Bila Adam tak peduli, nah, ikuti saja peraturan-peraturan dengan ceroboh dan kliennya akan menerima akibatnya.

Adam berjanji akan mengikuti peraturan. Mahkamah Agung jadi sangat letih dengan klaim yang tak ada habisnya dalam kasus-kasus hukuman mati, dan ingin mengumpulkan semua mosi dan dalih pembelaan untuk mempercepat urusan. Dalih pembelaan Adam untuk Pengadilan Fifth Circuit akan diamati dengan teliti oleh para hakim agung dan panitera mereka, jauh sebelum Mahkamah benar-benar menerima kasus tersebut dari New Orleans. Hal yang sama juga berlaku bagi semua pembelaan detik terakhir. Dengan demikian, Mahkamah bisa langsung memberikan keringanan, atau menolaknya dengan cepat.

Begitu efisien dan cepat kerja Death Clerk, sampai baru-baru ini Mahkamah dipermalukan dengan menolak suatu dalih pembelaan sebelum dalih tersebut diajukan secara resmi. Kemudian Mr. Olander menjelaskan kantornya punya checklist dari setiap mosi dan dalih pembelaan menit terakhir yang mungkin diajukan, dan ia bersama stafnya yang cakap memantau setiap kasus, untuk melihat apakah semua pembelaan yang mungkin diajukan telah diajukan. Dan bila seorang pengacara di suatu tempat melewatkan suatu pokok yang potensial, mereka akan memberi tahu pengacara itu bahwa ia harus meneliti klaim yang terlupakan tersebut. Apakah Adam menginginkan copy checklist mereka?

Tidak, Adam menerangkan sudah punya satu copy. E. Garner Goodman telah menulis buku tentang banding gangplank.

Baik, kata Mr. Olander. Mr. Cayhall punya waktu enam belas hari, dan—sudah tentu—banyak hal bisa terjadi dalam enam belas hari. Tapi, menurut pendapatnya, kepentingan hukum Mr. Cayhall telah diwakili dengan baik, dan urusan itu telah diperiksa dengan cermat. Ia akan terkejut, demikian ia berkomentar, kalau ada penundaan lebih lanjut. Terima kasih atas komentar itu, pikir Adam.

Mr. Olander dan stafnya sedang mengawasi suatu kasus di Texas dengan ketat, ia menjelaskan. Eksekusinya ditetapkan sehari sebelum eksekusi Sam, tapi, menurut pendapatnya, kemungkinan besar akan ada penundaan. Florida punya satu yang dijadwalkan akan dilaksanakan dua hari sesudah eksekusi Mr. Cayhall, Georgia punya dua yang dijadwalkan seminggu sesudahnya, tapi, nah, siapa tahu. Ia dan seseorang dalam stafnya akan berada di tempat setiap saat, dan ia sendiri akan berada di samping telepon selama dua belas jam terakhir sebelum eksekusi.

Teleponlah kapan saja, katanya, lalu mengakhiri percakapan dengan janji tegas akan membuat segalanya semudah mungkin bagi Adam dan klien.

Adam membanting telepon dan berputar-putar sekeliling kantornya. Pintunya terkunci, seperti biasa, dan gang di luar sibuk dengan gosip Senin pagi yang penuh semangat. Wajahnya kemarin muncul lagi di surat kabar, dan ia tak ingin dilihat. Ia menelepon Auburn House dan minta bicara dengan Lee Booth, tapi Lee tidak masuk. Ia menelepon kondominiumnya. Tak ada jawaban. Ia menelepon Parchman dan memberi tahu petugas di gerbang depan untuk menunggunya sekitar pukul 13.00.

Ia pergi ke komputernya dan menemukan salah satu proyek terakhirnya—sejarah kronologis singkat dari kasus Sam.

Dewan Juri Lakehead County memutuskan Sam bersalah pada tanggal 12 Februari 1981, dan dua hari kemudian menyampaikan vonis hukuman mati kepadanya. Ia langsung naik banding ke Mahkamah Agung Mississippi, mengajukan segala macam keberatan terhadap sidang pengadilan dan tuntutannya, tapi sama sekali mengecualikan fakta bahwa sidang itu terjadi hampir empat belas tahun setelah pengeboman.

Pengacaranya, Benjamin Keyes, berdebat dengan penuh semangat bahwa Sam tidak mendapatkan sidang secepatnya, dan mengalami risiko berganda karena diadili tiga kali atas tindak kejahatan yang sama. Keyes mengajukan argumentasi yang sangat kuat. Mahkamah Agung Mississippi dengan pahit terbelah pendapatnya tentang masalah ini, dan pada tanggal 23 Juli 1982 menurunkan keputusan kontroversial yang mengukuhkan vonis Sam. Lima hakim tinggi memberikan suara untuk mengukuhkan, tiga menolak, dan satu abstain.

Keyes kemudian mengajukan petisi peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung AS, yang meminta Mahkamah untuk meninjau kembali kasus Sam. Biasanya Mahkamah Agung jarang memberikan peninjauan ulang pada suatu kasus, karenanya menjadi suatu kejutan ketika pada tanggal 4 Maret 1984 Mahkamah setuju melakukan peninjauan kembali atas vonis Sam.

Mahkamah Agung AS juga terpecah nyaris sama hebatnya dengan Mahkamah Mississippi tentang masalah tuntutan berganda, namun mereka sampai pada kesimpulan yang sama. Dua juri Sam yang pertama sama sekali macet, tak dapat mengambil keputusan, digantung oleh permainan Clovis Brazelton. Dengan demikian, Sam tidak dilindungi oleh klausa tuntutan ganda dari Amandemen Kelima.

Ia tak pernah dinyatakan bebas oleh satu pun di antara dua dewan juri pertama. Masing-masing tak dapat mencapai keputusan bulat, jadi tuntutan ulang merupakan sesuatu yang konstitusional. Pada tanggal 21 September 1983, Mahkamah Agung AS memutuskan dengan enam suara banding tiga bahwa vonis Sam harus dikukuhkan. Keyes langsung mengajukan beberapa mosi, meminta sidang pemeriksaan ulang, tapi sia-sia.

Sam menyewa Keyes untuk mewakilinya selama sidang pengadilan dan sidang banding di Mahkamah Agung Mississippi, bila diperlukan. Pada saat Mahkamah Agung AS mengukuhkan vonisnya, Keyes sudah bekerja tanpa bayaran. Kontraknya untuk mewakili kepentingan hukum Sam sudah habis, dan ia menulis surat panjang kepada Sam, menerangkan sekarang tiba saatnya bagi Sam untuk mengambil cara lain. Sam memahami hal ini.

Keyes juga menulis surat kepada seorang rekan pengacara ACLU di Washington, yang kemudian menulis surat kepada sahabatnya, E. Garner Goodman, di Kravitz & Bane Chicago. Surat tersebut mendarat di meja kerja Goodman pada saat yang amat tepat. Sam sedang kehabisan waktu dan putus asa. Goodman sedang mencari proyek pro bono. Mereka bertukar surat, dan pada tanggai 18 Desember 1983, Wallace Tyner, seorang partner di bagian pembelaan kejahatan kerah putih di Kravitz & Bane mengajukan petisi untuk mendapatkan keringanan vonis dari Mahkamah Agung Mississippi.

Tyner menyatakan banyaknya kesalahan dalam sidang Sam, termasuk diterimanya foto-foto mayat John dan Josh Kramer yang penuh darah sebagai bukti. Ia menyerang pemilihan anggota juri dan menuduh McAllister secara sistematis memilih orang-orang kulit hitam di atas orang kulit putih. Ia menyatakan sidang yang adil tak mungkin terlaksana, sebab lingkungan sosial pada tahun 1981 sudah jauh berbeda dari tahan 1967.

Ia berdalih tempat pengadilan yang dipilih Hakim tidak adil. Ia mengangkat lagi masalah tuntutan ganda dan pengadilan secepatnya. Secara keseluruhan, Wallace Tyner dan Garner Goodman mengangkat delapan pokok masalah yang terpisah dalam petisi tersebut. Tetapi mereka tidak mempersoalkan Sam telah dirugikan dengan pembelaan yang tidak efektif—klaim utama dari semua terpidana mati. Mereka ingin melakukannya, tapi Sam tak mengizinkan. Pada mulanya ia menolak menandatangani petisi tersebut, sebab petisi itu menyerang Benjamin Keyes, pengacara yang sangat disukai Sam.

Pada tanggal 1 Juni 1985, Mahkamah Agung Mississippi menolak semua keringanan pascavonis yang diminta. Tyner kembali mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada Mahkamah Agung AS, tapi ditolak. Ia kemudian mengajukan petisi Sam pertama mengenai writ of habeas corpus—agar narapidana dihadapkan ke sidang dalam jangka waktu 24 jam setelah ditahan, untuk menghindari penahanan ilegal—serta memohon penundaan eksekusi di Pengadilan Federal Mississippi. Seperti biasanya, petisi itu cukup tebal dan berisi setiap pokok persoalan yang sudah diangkat di pengadilan negara bagian.

Dua tahun kemudian, pada tanggal 3 Mei 1987, pengadilan distrik menolak segala keringanan, dan Tyner naik banding ke Pengadilan Fifth Circuit di New Orleans, yang pada gilirannya mengukuhkan penolakan pengadilan di bawahnya.

Pada tanggal 20 Maret 1988, Tyner mengajukan petisi untuk sidang pemeriksaan ulang dengan Pengadilan Fifth Circuit, yang juga ditolak. Pada tanggal 3 September 1989, Tyner dan Goodman kembali berpaling pada Mahkamah Agung dan memohon agar Mahkamah memerintahkan peninjauan kembali keputusan pengadilan di bawahnya. Seminggu kemudian Sam menulis surat pertama di antara banyak lainnya kepada Goodman dan Tyner, berisi ancaman memecat mereka.

Mahkamah Agung AS memberi Sam penundaan terakhir pada tanggal 14 Mei 1989, sesuai dengan keputusan Mahkamah yang memberikan peninjauan ulang kepada sebuah kasus dari Florida. Tyner berdebat dengan sukses bahwa kasus Florida tersebut menimbulkan persoalan serupa, dan Mahkamah Agung memberikan penundaan pada beberapa lusin kasus hukuman mati lain di seluruh negeri.

Tak ada apa pun yang diajukan dalam kasus Sam, sementara Mahkamah Agung menunda keputusan dan berdebat tentang kasus Florida itu. Akan tetapi Sam memulai usahanya sendiri untuk melepaskan diri dari Kravitz & Bane. Ia mengajukan sendiri beberapa mosi konyol, yang semuanya dengan cepat ditolak. Tapi ia berhasil mendapatkan surat keputusan dari Pengadilan Fifth Circuit yang secara efektif menghentikan pelayanan pro bono dari pengacaranya. Pada tanggal 29 Juni 1990, Pengadilan Fifth Circuit mengizinkannya mengurus kepentingan hukumnya sendiri. Garner Goodman menutup berkas Sam dan berkas itu tidak ditutup lama.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 58)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.