Rabu, 31 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 56)

 The Chamber: Kamar Gas

Namun profesor hukum itu benar. Sam beruntung. Meskipun Sam tidak menyukai pengacara-pengacara di Kravitz & Bane, mereka telah memberikan karya pembelaan yang luar biasa. Sekarang tak ada lagi yang tersisa kecuali setumpuk mosi putus asa, yang dikenal sebagai banding gangplank.

Ia melemparkan koran itu ke dek kayu dan pergi ke dalam mengambil kopi lagi. Pintu sorong berbunyi, suara baru dari sistem pengaman baru yang dipasang Jumat lalu, setelah yang lama tak berfungsi dan sejumlah kunci hilang secara misterius. Tak ada bukti telah terjadi pembongkaran. Keamanan dijaga ketat di kompleks itu. Dan Willis tak tahu pasti berapa set anak kunci yang disimpannya untuk masing-masing unit. Kepolisian Memphis memutuskan bahwa pintu sorong itu dibiarkan tak terkunci, dan entah bagaimana tergeser membuka. Adam dan Lee tidak mengkhawatirkan hal itu.

Karena kurang hati-hati, ia menyenggol gelas di samping tempat cuci. Gelas itu hancur berkeping-keping ketika menerpa lantai. Kepingan-kepingan kaca bertebaran di sekitar kakinya yang telanjang, dan ia berjingkat hati-hati ke kamar sepen untuk mengambil sapu dan pengki.

Dengan hati-hati ia menyapu pecahan gelas itu menjadi tumpukan rapi, tanpa mengucurkan darah, lalu membuangnya ke keranjang sampah di bawah wastafel. Sesuatu menarik perhatiannya. Perlahan-lahan ia meraih ke dalam kantong sampah dari plastik hitam itu, dan meraba-raba ampas kopi hangat serta pecahan gelas, sampai ia menemukan sebuah botol dan mencabutnya ke luar. Ternyata botol vodka kosong.

Ia mengerik ampas kopi dari botol itu dan mengamati labelnya. Keranjang sampah itu kecil dan biasanya dikosongkan dua hari sekali, kadang-kadang sekali tiap hari. Sekarang keranjang itu setengah penuh. Botol itu belum lama di sana. Ia membuka lemari es dan mencari tiga botol bir yang tersisa dari enam botol kemarin. Lee minum dua dalam perjalanan kembali ke Memphis, lalu satu lagi di kondominium.

Adam tak ingat di mana botol-botol itu disimpan, tapi semuanya tak ada dalam lemari es. Tidak pula dalam keranjang sampah di dapur, ruang duduk, kamar mandi, atau kamar tidur. Semakin mencari, semakin kuat tekadnya untuk menemukan botol-botol tersebut. Ia memeriksa kamar sepen, lemari tempat menyimpan sapu, lemari tempat menyimpan seprai, lemari dapur. Ia menggeledah lemari dan laci-laci Lee, dan merasa dirinya seperti pencuri dan penipu, tapi teras menggeledah, sebab ia ketakutan.

Botol-botol itu ada di bawah ranjangnya, kosong tentu saja, dan disembunyikan dengan hati-hati dalam kotak sepatu Nike lama. Tiga botol Heineken kosong disusun rapi jadi satu, seolah-olah mereka akan dikirim ke suatu tempat sebagai hadiah. Ia duduk di lantai dan memeriksanya. Botol-botol itu masih segar, dengan beberapa tetes bir masih merembes di sekitar dasarnya.

Ia menduga berat badan Lee sekitar 65 kilogram, dan tingginya sekitar 170 sentimeter. Ia ramping tapi tidak terlalu kurus. Tubuhnya tak dapat menahan terlalu banyak minuman keras. Ia tidur cepat, sekitar pukul 21.00, kemudian pada suatu ketika menyelinap di kondominium itu untuk mengambil bir dan vodka.

Adam bersandar ke dinding, pikirannya ke mana-mana, Lee telah memikirkan tempat penyembunyian botol-botol hijau itu, namun tahu akan tertangkap. Ia tahu Adam nanti akan mencarinya. Mengapa ia tidak lebih hati-hati dengan botol vodka kosong itu? Mengapa botol itu disembunyikan di tempat sampah, dan botol-botol bir diselipkan di bawah ranjang?

Kemudian Adam menyadari sedang mengikuti jalan pikiran yang rasional, bukan pikiran yang mabuk. Ia memejamkan mata dan mengetukkan belakang kepala pada dinding. Ia telah membawa Lee ke Ford County; mereka melihat makam-makam dan menghidupkan kembali suatu mimpi buruk, dan Lee harus memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan wajah. Sekarang sudah dua minggu ia menuntut berbagai rahasia keluarga, dan kemarin beberapa kali ia pedih mendengar beberapa fakta. Ia perlu tahu, katanya pada diri sendiri. Tidak jelas mengapa, tapi ia merasa harus tahu mengapa keluarganya begitu aneh, kejam, dan penuh kebencian.

Dan sekarang, untuk pertama kali disadarinya hal ini mungkin jauh lebih rumit daripada kisah keluarga biasa. Mungkin ini menyakitkan bagi setiap orang yang terlibat. Mungkin minatnya pada rahasia-rahasia keluarga tidak sepenting stabilitas Lee. Ia mendorong kotak sepatu itu ke posisi semula, lalu melemparkan botol vodka tadi ke keranjang sampah untuk kedua kalinya. Ia cepat-cepat berpakaian dan meninggalkan kondominium itu. Ia menanyakan Lee kepada penjaga gerbang. Menurut catatan pada clipboard-nya, Lee pergi hampir dua jam yang lalu, pukul 08.10.

***

Sudah menjadi kebiasaan para pengacara di Kravitz & Bane Chicago menghabiskan hari Minggu di kantor, tapi jelas praktek seperti itu tak disukai di Memphis. Seluruh kantor itu sepenuhnya untuk Adam, tapi ia tetap mengunci pintunya, dan dengan segera tenggelam dalam praktek dunia hukum habeas corpus federal yang keruh.

Namun pikirannya sulit dipusatkan. Ia mengkhawatirkan Lee dan membenci Sam. Akan sulit untuk memandangnya lagi, mungkin besok, melalui kisi-kisi besi di The Row. Sam rapuh, pucat, dan penuh kerut-merut. Dari segala segi, ia berhak mendapatkan simpati orang. Pembicaraan terakhir mereka adalah tentang Eddie, dan sesudahnya Sam memintanya agar meninggalkan urusan keluarga di luar The Row. Saat ini sudah cukup banyak yang mengisi pikirannya. Tidaklah adil menyiksa seorang terhukum dengan dosa-dosa lamanya.

Adam bukan penulis biografi, bukan pula sejarawan. Ia tak pernah dididik dalam sosiologi atau psikiatri, dan—terus terang—pada saat ini, ia cukup khawatir dengan ekspedisi lebih lanjut ke dalam sejarah remang-remang keluarga Cayhall. Ia hanya pengacara yang masih agak hijau, tapi bagaimanapun juga dibutuhkan kliennya.

Sudah tiba saatnya untuk praktek hukum dan melupakan kisah sejarah.

Pukul 11.30 ia menelepon nomor Lee dan mendengarkan telepon berdering. Ia meninggalkan pesan pada alat perekam, memberitahukan di mana ia berada dan meminta Lee menelepon kembali. Ia menelepon lagi pada 13.00, dan 14.00. Tak ada jawaban. Ia sedang menyiapkan surat pembelaan ketika telepon berdering.

Bukan suara Lee yang menyenangkan yang didengarnya, melainkan kata-kata pendek Hakim F. Slattery.

"Ya, Mr. Hall, Hakim Slattery di sini. Saya sudah mempertimbangkan masalah ini dengan hati-hati, dan saya menolak memberikan segala keringanan, termasuk permohonan Anda akan penundaan eksekusi," kata sang Hakim, nyaris dengan nada riang. "Ada banyak alasan, tapi kita takkan membahasnya. Panitera saya akan mengirimkan keputusan saya dengan fax sekarang juga, jadi Anda akan mendapatkannya sebentar lagi."

"Ya. Sir," kata Adam.

"Anda perlu mengajukan dalih lain secepat mungkin, Anda tahu. Saya sarankan Anda melakukannya besok pagi."

"Saya sedang menggarapnya sekarang, Yang Mulia. Sebenarnya sudah hampir selesai."

"Bagus. Jadi, Anda sudah memperkirakan hal ini?"

"Ya, Sir. Saya mulai menggarap dalih lain segera setelah meninggalkan kantor Anda pada hari Selasa." Rasanya sangat menggoda untuk mengejek Slattery satu atau dua kali. Lagi pula ia berada dua ratus mil dari sana. Namun orang ini hakim federal. Adam menyadari benar bahwa suatu hari, dalam waktu dekat ini, ia mungkin membutuhkan hakim itu lagi.

"Selamat siang, Mr. Hall." Slattery menggantung telepon.

Adam berjalan mengelilingi meja selusin kali, lalu menyaksikan cahaya menghujani Mall di bawah. Diam-diam ia menyumpahi hakim-hakim federal pada umumnya dan Slattery pada khususnya, lalu kembali ke komputer, menatap layarnya, dan menunggu inspirasi.

Ia mengetik dan membaca, meriset dan mencetak, melihat-lihat ke luar jendela, serta memimpikan terjadinya mukjizat sampai hari gelap. Ia menghabiskan waktu beberapa jam dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh, dan salah satu alasan ia bekerja sampai pukul 20.00 adalah memberikan banyak kesempatan kepada Lee untuk kembali ke kondominium.

Tak ada tanda-tanda dari Lee. Satpam mengatakan ia belum kembali. Tak ada pesan lain dalam mesin perekam, kecuali darinya tadi. Sebagai santap malam, ia makan popcorn microwave dan menonton dua film video. Gagasan menelepon Phelps Booth begitu menjijikkan, sampai ia nyaris menggigil memikirkannya.

Ia pikir-pikir akan tidur di sofa di ruang duduk, agar bisa mendengar bila Lee pulang, tapi setelah film terakhir ia kembali ke kamarnya di lantai atas dan menutup pintu.

~ 28 ~ 

Penjelasan tentang hilangnya Lee kemarin muncul dengan lambat, tapi kedengaran masuk akal pada saat ia menceritakannya. Ia berada di rumah sakit sehari penuh bersama salah satu anak asuhnya dari Auburn House, katanya sambil bergerak perlahan-lahan sekeliling dapur. Gadis kecil yang malang itu baru tiga belas tahun, bayi pertama, tapi pasti akan ada lainnya, dan ia harus melahirkan sebulan lebih awal. Ibunya ada di penjara, bibinya pergi menjual obat bius, dan ia tak punya siapa pun untuk mengadu. Lee terus memegangi tangannya selama persalinan yang rumit. Gadis itu baik-baik saja dan bayinya sehat, dan sekarang ada satu lagi anak yang tak diinginkan di ghetto Memphis.

Suara Lee parau, matanya sembap dan merah. Ia mengatakan kembali beberapa menit setelah pukul 01.00, dan seharusnya menelepon lebih pagi, tapi mereka berada enam jam di dalam kamar pasien dan dua jam lagi di kamar bersalin. Rumah Sakit St. Peter's Charity seperti kebun binatang, terutama pada bagian bersalinnya, dan... yah, ia tak berhasil mendapatkan telepon.

Adam duduk di depan meja dengan piama, menghirup kopi, dan mengamati surat kabar ketika Lee bicara. Ia tidak meminta penjelasan itu. Ia mencoba sebaik mungkin berlagak tidak khawatir. Lee bersikeras akan menyiapkan makan pagi: telur goreng dan biskuit kalengan. Ia menyibukkan diri di dalam dapur sambil bicara dan menghindari kontak mata.

"Siapa nama bocah itu?" tanya Adam serius, seolah-olah ia benar-benar prihatin mendengar cerita Lee.

"Uh, Natasha. Natasha Perkins."

"Dan dia baru tiga belas tahun?"

"Ya. Ibunya 29 tahun. Bisakah kau percaya? Seorang nenek umur 29 tahun."

Adam menggelengkan kepala tercengang. Ia kebetulan sedang melihat bagian kecil Memphis Press yang memuat catatan penting di county itu. Akte perkawinan. Perkara perceraian. Kelahiran. Penahanan. Kematian. Ia memeriksa daftar kelahiran kemarin, seolah-olah sedang memeriksa angka-angka, dan tidak menemukan catatan tentang ibu baru bernama Natasha Perkins.

Lee menyelesaikan pergulatannya dengan biskuit kalengan. Ia meletakkannya di piring kecil bersama telur dan menyajikannya, lalu duduk di ujung lain meja itu, sejauh mungkin dari Adam. "Bon appetit," katanya dengan senyum dipaksakan.

Masakannya sudah merupakan sumber humor yang kaya.

Adam tersenyum, seolah-olah segalanya baik-baik saja. Mereka butuh humor saat ini, tapi tak dapat bercanda. "Cubs kalah lagi," katanya sambil menggigit sepotong telur dan melirik koran yang terlipat itu.

"Cubs selalu kalah, kan?"

"Tidak selalu. Kau mengikuti bisbol?"

"Aku benci bisbol. Phelps membuatku membenci setiap olahraga yang pernah dikenal manusia."

Adam menyeringai dan membaca koran. Beberapa menit mereka makan tanpa bicara, dan keheningan itu jadi berat. Lee memencet tombol remote control; televisi di atas counter menyala dan menimbulkan kebisingan. Mereka berdua mendadak tertarik pada prakiraan cuaca yang kembali panas dan kering. Lee memain-mainkan makanannya, mengorek-ngorek biskuit yang separo terpanggang dan mendorong telur di sekitar piringnya. Adam curiga saat ini perut Lee sedang lemah.

Ia menghabiskan sarapan cepat-cepat dan membawa piringnya ke bak cuci dapur, lalu duduk kembali di depan meja menyelesaikan membaca surat kabar. Lee menatap televisi, apa saja untuk menghindari kontak mata dengan keponakannya.

"Aku mungkin akan pergi menemui Sam hari ini," kata Adam. "Sudah seminggu aku tidak menjenguknya."

Tatapan mata Lee jatuh pada suatu titik di tengah meja. "Seandainya saja kita tidak pergi ke Clanton Sabtu kemarin."

"Aku tahu."

"Itu bukan gagasan yang bagus."

"Maaf, Lee. Aku bersikeras pergi, dan itu bukan gagasan yang bagus. Selama ini aku telah mendesakmu dengan banyak hal, dan mungkin aku keliru."

"Itu tidak adil...."

"Aku tahu ini tidak adil. Sekarang kusadari bahwa mengungkapkan sejarah keluarga ini bukan urusan sederhana."

"Itu tidak adil baginya, Adam. Rasanya kejam menghadapkannya dengan hal-hal ini saat dia cuma punya waktu dua minggu untuk hidup."

"Kau benar. Dan salah membuatmu membayangkannya kembali."

"Aku akan baik-baik saja." Ia mengucapkan ini seolah-olah ia sama sekali kurang baik sekarang, tapi mungkin ada sekeping harapan di masa depan.

"Maaf, Lee. Aku sungguh menyesal."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 57)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.