Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 55)

The Chamber: Kamar Gas

"Apakah kalian pernah bercerita?"

Lee menggelengkan kepala lama-lama.

"Sam tak pernah tahu kau ada di pohon itu?” tanya Adam.

"Tidak. Aku tak pernah menceritakannya pada ibuku. Sekali-sekali aku dan Eddie membicarakannya selama bertahun-tahun itu, dan dengan lewatnya waktu, kami seperti menguburkannya. Ketika kami kembali ke rumah, orangtua kami sedang bertengkar hebat. Ibu histeris, Sam bermata liar dan gila. Kurasa dia memukul Ibu beberapa kali. Ibu menarik kami dan menyuruh kami masuk ke mobil.

“Sewaktu kami mundur di jalan masuk, sheriff datang. Kami berputar-putar sebentar, Ibu di jok depan, sedangkan aku dan Eddie di belakang. Kami berdua terlalu takut untuk bicara. Sam tak tahu apa yang harus dikatakan. Kami kira dia akan dibawa ke penjara, tapi ketika kami parkir di jalan masuk, dia sedang duduk di teras depan, seolah-olah tak ada apa pun yang terjadi."

"Apa yang dilakukan sheriff!''

"Tidak ada, sunggguh. Dia dan Sam bicara sebentar. Sam memperlihatkan senapan Joe kepadanya dan menjelaskan kejadian itu sekadar masalah bela diri. Cuma satu negro lain binasa."

"Dia tidak ditahan?"

“Tidak, Adam. Ini Mississippi pada awal dasawarsa lima puluhan. Aku yakin sheriff itu tertawa mendengarnya, menepuk punggung Sam, dan menyuruhnya menjadi anak baik, lalu pergi. Dia bahkan membiarkan Sam menyimpan senapan Joe."

"Luar biasa."

"Kami berharap dia akan masuk penjara beberapa tahun."

"Apa yang dilakukan keluarga Lincoln?"

"Apa yang bisa mereka perbuat? Siapa yang bakal mendengarkan mereka? Sam melarang Eddie menemui Quince, dan untuk memastikan anak-anak itu tidak berkumpul lagi, dia mengusir mereka keluar dari rumah mereka."

"Astaga!"

"Dia memberi mereka waktu satu minggu untuk keluar, dan sheriff datang menunaikan tugas tersumpahnya dengan memaksa mereka keluar dari rumah. Pengusiran itu legal dan sah, demikian Sam meyakinkan Ibu. Kupikir Ibu akan meninggalkan Sam. Aku berharap dia melakukannya.''

"Apakah Eddie pernah menemui Quince?"

"Bertahun-tahun kemudian. Ketika Eddie mulai bisa mengemudikan mobil, dia mulai mencari keluarga Lincoln. Mereka pindah ke pemukiman kecil di sisi lain kota Clanton, dan Eddie menemukan mereka di sana. Dia minta maaf dan beratus kali mengatakan menyesal. Namun mereka tak pernah bersahabat lagi. Ruby memintanya menyingkir. Dia bercerita padaku bahwa mereka tinggal di gubuk bobrok tanpa listrik."

Lee berjalan ke pohon kemirinya dan duduk bersandar ke batangnya. Adam mengikuti dan bersandar di sana. Ia memandang Lee, membayangkan tahun-tahun yang dilaluinya dengan memikul beban tersebut. Dan ia memikirkan ayahnya, tentang kepedihan dan penderitaannya, tentang luka yang tak terhapuskan sampai kematiannya.

Adam sekarang mendapatkan petunjuk pertama penyebab kehancuran ayahnya, dan bertanya-tanya dalam hati, apakah kepingan-kepingan ini suatu hari nanti akan tersusun utuh. Ia memikirkan Sam, dan ketika melirik ke teras, ia bisa membayangkan seorang laki-laki yang lebih muda dengan senapan dan kebencian di wajahnya. Lee terisak-isak pelan.

"Apa yang dilakukan Sam sesudahnya?"

Lee bergulat mengendalikan diri. "Rumah ini begitu sunyi selama seminggu, mungkin sebulan, entahlah. Tapi rasanya baru bertahun-tahun kemudian kami bercakap-cakap saat makan malam. Eddie bermain dalam kamarnya, dengan pintu terkunci. Aku mendengarnya menangis di waktu malam, dan dia mengatakan padaku berkali-kali, betapa benci dia pada ayahnya. Dia menginginkannya mati. Dia ingin lari dari rumah. Dia menyalahkan diri sendiri untuk segala hal.

“Ibu jadi prihatin dan menghabiskan banyak waktu bersamanya. Sedangkan aku, mereka pikir aku sedang bermain-main di hutan ketika hal itu terjadi. Tak lama setelah aku dan Phelps menikah, aku diam-diam menemui psikiater. Aku berusaha menanggulanginya dengan terapi, dan aku ingin Eddie berbuat sama. Tapi dia tak mau. Terakhir kali aku bicara dengan Eddie sebelum dia meninggal, dia menyebut-nyebut pembunuhan itu. Dia tak pernah bisa mengatasinya."

"Dan kau bisa mengatasinya?"

"Aku tidak berkata begitu. Terapi menolong, tapi aku masih bertanya-tanya, apa yang mungkin terjadi seandainya aku berteriak pada Daddy sebelum dia menarik pelatuk. Apakah dia tetap akan membunuh Joe sementara putrinya menyaksikan? Kurasa tidak."

"Sudahlah, Lee. Itu sudah empat puluh tahun yang lalu. Kau tak dapat menyalahkan diri sendiri."

"Eddie menyalahkan aku. Dia menyalahkan diri sendiri, dan kami saling menyalahkan sampai dewasa. Kami masih kanak-kanak ketika itu terjadi, dan kami tak dapat berlari pada orangtua kami. Kami tak berdaya."

Adam ingin mengajukan seratus pertanyaan tentang pembunuhan Joe Lincoln. Persoalan ini tampaknya tak mungkin diungkit lagi dengan Lee, dan ia ingin tahu segala yang terjadi, setiap detail kecil. Di mana Joe dikuburkan? Apa yang terjadi pada senapannya? Apakah penembakan itu dilaporkan di surat kabar lokal? Apakah kasus itu diajukan pada grand jury? Apakah Sam pernah menyebutnya di depan anak-anaknya? Di mana ibu mereka saat terjadi perkelahian? Apakah dia mendengar pertengkaran dan tembakan itu? Apa yang terjadi pada keluarga Joe? Apakah mereka masih tinggal di Ford County?

"Mari kita bakar rumah ini, Adam," kata Lee tegas sambil menyeka wajah dan menatapnya tajam.

"Kau tidak serius."

"Ya, aku serius! Mari kita bakar seluruh tempat terkutuk ini, rumahnya, gudangnya, pohon ini, rumput dan ilalangnya. Tidak sulit. Cuma beberapa korek di sana dan di sini. Ayolah."

"Tidak, Lee."

"Ayolah."

Adam membungkuk pelan dan menggandeng lengannya. "Mari kita pergi, Lee. Aku sudah mendengar cukup untuk satu hari."

Lee tidak menolak. Ia pun sudah menderita cukup untuk sehari. Adam membantunya melewati ilalang, mengelilingi rumah, melewati reruntuhan jalan masuk, dan kembali ke mobil.

Mereka meninggalkan rumah Cayhall tanpa sepatah kata pun. Jalan berubah menjadi jalan batu, lalu berhenti pada persimpangan jalan raya. Lee menunjuk ke kiri, lalu memejamkan mata, seakan-akan mencoba tidur. Mereka berhenti di toko kecil, Lee mengatakan butuh cola.

"Apa ini?" tanya Adam.

"Cuma beberapa," kata Lee. "Sarafku tegang. Jangan biarkan aku minum lebih dari dua botol oke? Cuma dua."

"Kurasa kau tidak seharusnya minum, Lee."

"Aku baik-baik saja," ia bersikeras sambil mengernyit, lalu minum.

Adam tak ingin minum dan memacu mobil meninggalkan toko itu. Lee mengeringkan dua botol dalam lima belas menit, lalu tertidur. Adam memindahkan kotak bir ke jok belakang dan memusatkan perhatian pada jalan.

Sekonyong-konyong ia ingin meninggalkan Mississippi dan merindukan lampu-lampu di Memphis.

~ 27 ~

Tepat seminggu sebelumnya ia terbangun dengan sakit kepala hebat dan perut lemah, serta dipaksa menghadapi babi asin berlemak dan telur berminyak sajian Irene Lettner. Dan dalam tujuh hari terakhir ia sudah ke ruang sidang Hakim Slattery, pergi ke Chicago, Greenville, Ford County, dan Parchman. Ia sudah berjumpa dengan Gubernur dan Jaksa Agung. Ia sudah bicara dengan kliennya selama enam hari.

Persetan dengan kliennya. Adam duduk di beranda, menyaksikan lalu lintas sungai dan menghirup kopi tanpa kafein sampai pukul 02.00. Ia menepuki nyamuk dan bergulat dengan bayangan Quince Lincoln memeluk tubuh ayahnya, sementara Sam Cayhall berdiri di teras dan mengagumi hasil kerjanya. Ia bisa mendengar suara tawa tertahan Sam dan teman-temannya di teras sempit itu, sementara Ruby Lincoln dan anak-anaknya mengelilingi mayat dan akhirnya menyeretnya melintasi halaman, ke bawah naungan pohon.

Ia bisa melihat Sam di halaman depan dengan dua senapan, memberikan penjelasan kepada sheriff bagaimana negro gila itu akan membunuhnya, dan bagaimana ia bertindak sepantasnya untuk tujuan bela diri. Sang sheriff sudah tentu tahu maksud Sam dengan cepat. Ia bisa mendengar bisikan anak-anak yang tersiksa itu, Eddie dan Lee, saat mereka menyalahkan diri sendiri dan bergulat dengan perbuatan Sam yang mengerikan. Dan ia mengutuk masyarakat yang bersedia mengabaikan kekerasan terhadap golongan tersisih.

Ia tidur dengan resah, dan pada suatu titik ia duduk di tepi ranjang, dan mengatakan pada dirinya Sam bisa mencari pengacara lain, hukuman mati sebenarnya cocok bagi sejumlah orang, termasuk kakeknya, dan ia akan langsung kembali ke Chicago untuk ganti nama lagi.

Namun impian itu pergi, dan ketika ia terbangun untuk terakhir kali, sinar matahari sudah merembes melalui tirai, melontarkan garis-garis rapi di seberang ranjangnya. Ia merenung memandangi langit-langit dan panel-panel sepanjang dinding selama setengah jam, sambil mengingat perjalanan ke Clanton. Ia berharap hari ini akan menjadi hari Minggu santai dengan surat kabar tebal dan kopi kental. Ia akan pergi ke kantor nanti siang. Kliennya punya waktu tujuh belas hari.

Lee menghabiskan bir ketiga setelah mereka tiba di kondominium, kemudian tidur. Adam mengawasinya dengan hati-hati, separo bersiaga kalau-kalau bibinya pesta minum gila-gilaan atau pingsan mendadak karena alkohol. Tapi Lee sangat tenang dan terkendali, dan Adam tidak mendengar apa pun sepanjang malam.

Ia mandi, tidak bercukur, dan berjalan ke dapur, tempat sisa kopi kental pertama sudah menunggu. Lee ternyata sudah beberapa lama bangun. Adam memanggilnya, lalu berjalan ke kamar tidurnya. Ia cepat-cepat memeriksa serambi, lalu menjelajahi kondominium itu. Lee tak ada di sana. Koran Minggu tertumpuk rapi di meja kopi di ruang duduk.

Ia membuat kopi baru dan roti panggang, dan menikmati makan pagi di serambi. Saat itu hampir pukul 09.30, dan syukurlah langit tidak berawan dan suhu tidak mencekik. Hari Minggu yang bagus untuk bekerja di kantor. Ia membaca koran, mulai dengan bagian depan.

Mungkin Lee pergi ke toko atau entah apa. Mungkin ia pergi ke gereja. Mereka belum sampai pada tahap saling meninggalkan catatan. Tapi tak pernah ada pembicaraan bahwa Lee akan pergi ke suatu tempat pagi ini.

Adam baru makan sepotong roti panggang dengan selai strawberry ketika seleranya mendadak lenyap. Pada halaman depan, bagian Metro mencantumkan kisah Sam Cayhall, dengan foto sama sepuluh tahun yang lalu. Artikel itu merupakan ringkasan pendek tentang perkembangan minggu terakhir ini, lengkap dengan diagram kronologis yang mencantumkan tanggal-tanggal penting dalam sejarah kasus tersebut.

Satu tanda tanya yang lucu dibiarkan tergantung pada tanggal 8 Agustus 1990. Apakah akan terjadi eksekusi pada saat itu? Rupanya jelas Todd Marks diberi ruang kolom tak terbatas oleh editor, sebab kisah itu nyaris tak memuat apa pun yang baru. Bagian yang merisaukan adalah beberapa kutipan dari dosen hukum di Ole Miss, pakar dalam masalah konstitusional yang sudah menangani banyak kasus hukuman mari.

Profesor pintar itu sangat murah hati dalam memberikan pendapat, dan inti uraiannya menyatakan kasus Sam sudah cukup matang. Ia sudah mempelajari berkasnya cukup lama, bahkan sudah mengikutinya selama bertahun-tahun, dan berpendapat bahwa pada dasarnya tak ada hal lain yang bisa dilakukan Sam. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kasus hukuman mati, mukjizat kadang-kadang bisa terjadi pada detik terakhir, sebab biasanya si narapidana mendapatkan pembelaan pengacara yang kurang bagus, bahkan selama pengajuan bandingnya.

Dalam kasus-kasus itu, pakar seperti dirinya kerap kali bisa menarik kelinci dari topi, seperti tukang sulap, sebab mereka begitu cemerlang dan dapat menggali persoalan-persoalan yang diabaikan pengacara yang kurang pandai. Tapi, patut disesalkan, kasus Sam berbeda, sebab ia telah diwakili secara kompeten oleh pengacara-pengacara yang sangat cakap dari Chicago. Pengajuan banding Sam telah ditangani dengan terampil, dan sekarang kesempatan mengajukan dalih sudah habis. Sang profesor, jelas seorang penjudi, memberikan peluang lima banding satu bahwa eksekusi itu akan terlaksana pada tanggal 8 Agustus. Dan untuk semua ini, segala pendapat dan ramalannya, ia menampangkan fotonya di surat kabar.

Adam mendadak gelisah. Ia sudah membaca berpuluh-puluh kasus hukuman mati. Pada detik terakhir pengacara-pengacaranya meraih tali yang sebelumnya tak pernah dipegang, dan meyakinkan para hakim agar mendengarkan argumentasi baru. Tradisi perkara besar penuh dengan kisah masalah hukum laten yang tak ditemukan dan tak tergali, sampai seorang pengacara yang berbeda dengan mata segar memasuki arena dan berhasil mendapatkan penundaan.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 56)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.