Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 54)

The Chamber: Kamar Gas

"Bagaimana dengan barang-barang pribadi?"

"Sehari sebelum penyitaan, bank mengizinkan aku masuk dan mengemasi segala yang kuinginkan. Aku menyimpan beberapa barang—album foto, tanda mata, buku tahunan, Injil, dan beberapa barang berharga milik Ibu. Barang-barang itu disimpan di Memphis."

"Aku ingin melihatnya."
"Mebelnya tidak cukup berharga untuk disimpan, bukan perabot yang bagus. Ibuku sudah meninggal, adikku baru saja bunuh diri, ayahku baru saja dikirim ke death row, dan aku tidak berselera menyimpan banyak barang kenangan. Sungguh pengalaman mengerikan, masuk ke rumah kecil yang kotor itu dan mencoba menyelamatkan barang-barang yang suatu hari kelak mungkin akan menghadirkan senyum. Aduh, aku ingin membakar segalanya. Nyaris saja aku melakukannya."

"Kau tidak serius."

"Tentu saja aku serius. Sesudah beberapa jam di sini, kuputuskan membakar saja rumah terkutuk ini serta segala isinya. Sering terjadi, bukan? Aku menemukan sebuah lentera tua dengan minyak tanah di dalamnya. Aku duduk di meja dapur dan bicara padanya sambil mengemasi barang-barang. Saat itu tentu mudah melakukannya."

"Mengapa kau tidak melakukannya?"

"Entahlah. Kalau saja aku punya nyali untuk melakukannya. Tapi aku khawatir tentang bank dan penyitaan itu, dan... pembakaran merupakan tindak kejahatan, bukan? Aku ingat tertawa dengan bayangan akan masuk penjara, tempat aku akan tinggal bersama Sam. Itulah sebabnya aku tidak menyalakan korek api. Aku takut akan terlibat kesulitan dan masuk penjara."

Mobil itu panas sekarang, dan Adam membuka pintunya. "Aku ingin melihat-lihat," katanya sambil keluar. Mereka berhati-hati memilih jalan pada jalan pasir itu, melangkahi hibuang-lubang selebar satu meter. Mereka berhenti di depan teras dan memandang papan-papan yang membusuk.

"Aku takkan masuk ke sana," kata Lee tegas, menarik tangannya dari pegangan Adam. Adam mengamati teras yang lapuk dan memutuskan tidak menginjaknya. Ia berjalan menyusuri bagian depan ramah, melihat jendela-jendela pecah dengan tanaman rambat menghilang ke dalam. Ia menyusuri jalan masuk itu mengitari rumah; Lee membuntuti.

Halaman belakangnya diteduhi pohon-pohon ek dan maple tua, serta pada bagian-bagian yang tidak terkena sinar matahari tanahnya gundul. Halaman itu membentang sejauh seperdelapan mil dan menanjak sedikit sampai berhenti pada semak belukar. Tempat itu dikelilingi hutan di kejauhan.

Lee kembali menggandeng tangannya, dan mereka berjalan ke sebatang pohon di samping gudang kayu, yang entah karena apa, kondisinya lebih baik daripada rumahnya. "Ini pohonku," kata Lee, menengadah memandang cabang-cabangnya. "Pohon kemiriku." Suaranya sedikit bergetar.

"Pohon yang bagus."

"Bagus untuk dipanjat. Aku melewatkan berjam-jam di sini, duduk di cabang-cabang itu, mengayun-ayunkan kaki dan menyandarkan dagu pada salah satu cabang. Di musim semi dan panas aku suka memanjat sampai separonya, dan tak seorang pun bisa melihatku. Aku punya dunia kecil sendiri di atas sana."

Tiba-tiba ia memejamkan mata dan menutupi mulut dengan satu tangan. Pundaknya gemetar. Adam memeluknya dengan satu tangan dan mencoba memikirkan sesuatu untuk diucapkan.

"Di sinilah peristiwa itu terjadi," katanya setelah beberapa saat. Ia menggigit bibir dan menahan air mata. Adam tak mengucapkan apa-apa.

"Kau pernah menanyaiku tentang suatu kejadian," katanya dengan gigi dikertakkan sambil menyeka pipi dengan punggung tangan. "Kisah Daddy membunuh seorang kulit hitam." Ia mengangguk ke arah rumah. Tangannya gemetar, maka ia menyisipkannya ke dalam saku.

Satu menit berlalu sementara mereka menatap rumah itu, tak seorang pun ingin bicara. Pintu belakang satu-satunya terbuka menuju teras sempit persegi, dengan susuran jerjak di sekelilingnya. Angin lembut mengusik dedaunan di atas mereka dan menimbulkan satu-satunya suara.

Ia menghela napas dalam, lalu berkata, "Namanya Joe Lincoln. Dia tinggal di ujung jalan sana, bersama keluarganya." Ia mengangguk ke jejak jalan setapak yang membentang di tepi ladang, lalu menghilang ke dalam hutan. "Dia punya sekitar selusin anak."

"Quince Lincoln?" tanya Adam.

"Yeah. Bagaimana kau tahu tentang dia?"

"Sam menyebut namanya ketika kami bicara tentang Eddie. Katanya Quince dan Eddie sahabat baik ketika mereka masih anak-anak."

"Dia tidak bicara tentang ayah Quince, bukan?"

"Tidak."

"Sudah kuduga. Joe bekerja pada kami di tanah pertanian ini, dan keluarganya tinggal di ramah bobrok yang juga milik kami. Dia orang baik dengan keluarga besar. Seperti kebanyakan orang kulit hitam miskin saat itu, mereka sekadar bertahan hidup. Aku kenal beberapa anaknya, tapi kami tidak bersahabat seperti Quince dan Eddie. Suatu hari bocah-bocah itu bermain di halaman belakang ini. Saat itu musim panas dan kami tidak bersekolah. Mereka bertengkar tentang mainan kecil prajurit Konfederasi, dan Eddie menuduh Quince mencurinya. Urusan biasa pada anak-anak, kau tahu. Kurasa mereka umur delapan atau sembilan tahun.

“Daddy kebetulan lewat di sana. Eddie berlari padanya dan menceritakan Quince mencuri mainannya. Quince menyangkalnya. Dua anak itu benar-benar marah dan nyaris menangis. Sam, seperti biasa, jadi sangat gusar dan mengumpat Quince, menyebutnya dengan segala macam cacian seperti 'negro maling kecil' dan 'negro haram jadah'.

“Sam meminta prajurit mainan itu dan Quince mulai menangis. Dia terus mengatakan tidak mengambilnya, sedangkan Eddie terus mengatakan dia mengambilnya. Sam mencengkeram bocah itu, mengguncangnya keras-keras, dan mulai memukuli pantatnya. Sam berteriak-teriak, menjerit, dan mengumpat. Quince menangis dan meminta ampun. Mereka berputar-putar di halaman beberapa kali, dengan Sam mengguncang-guncang dan memukulinya. Quince akhirnya lepas dan berlari pulang. Eddie berlari ke dalam rumah, Daddy mengikutinya ke dalam.

“Tak lama kemudian, Sam keluar lagi, membawa tongkat, yang dia letakkan dengan hati-hati di teras. Kemudian dia duduk di tangga, menunggu dengan sabar. Dia merokok dan mengawasi jalan setapak. Rumah keluarga Lincoln tidak jauh, dan seperti sudah diduga, dalam beberapa menit Joe berlari-lari keluar dari pepohonan, diikuti Quince tepat di belakangnya. Sampai di dekat ramah, dia melihat Daddy sedang menunggunya. Dia memperlambat langkah dan berjalan. Daddy berseru, 'Eddie. Ke sini.' Lihat aku menghajar negro ini.”

Lee mulai berjalan sangat perlahan-lahan ke rumah, lalu berhenti beberapa meter dari teras. "Ketika Joe sampai kira-kira di sini, dia berhenti dan memandang Sam. Dia mengucapkan sesuatu seperti, 'Quince bilang Anda memukulnya, Mr. Sam.' Ayahku menjawab, 'Quince adalah negro kecil pencuri, Joe. Kau harus mengajari anakmu untuk tidak mencuri.'

“Mereka mulai bertengkar, dan jelas akan terjadi perkelahian. Sam mendadak melompat dari teras dan melontarkan pukulan pertama. Mereka jatuh ke tanah, kurang-lebih di sini, dan berkelahi bagaikan kucing. Joe beberapa tahun lebih muda dan lebih kuat, tapi Daddy begitu kejam dan marah, sehingga perkelahian itu cukup seimbang. Mereka saling memukul wajah, mengumpat, dan menendang seperti sepasang binatang."

Lee menghentikan narasi itu dan memandang sekeliling halaman, lalu menunjuk ke pintu belakang. "Pada suatu titik, Eddie melangkah ke teras menyaksikannya, Quince sedang berdiri beberapa meter darinya, berteriak pada ayahnya. Sam berlari cepat ke teras dan meraih tongkat, lalu urusan jadi tak terkendali. Dia memukul wajah dan kepala Joe sampai Joe jatuh berlutut, lalu dia menusuk perutnya sampai Joe nyaris tak dapat bergerak. Joe memandang Quince dan berteriak kepadanya agar lari mengambil senapan. Quince kabur. Sam berhenti memukuli dan menoleh pada Eddie. 'Pergi ambil senapanku!' katanya.

“Eddie membeku dan Daddy berteriak lagi kepadanya. Joe tergeletak di tanah, tengkurap, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ketika dia baru akan berdiri, Sam memukulnya lagi dan menjatuhkannya. Eddie masuk ke dalam dan Sam berjalan ke teras. Eddie kembali dalam beberapa detik dengan senapan, dan Daddy menyuruhnya masuk. Pintu ditutup."

Lee berjalan ke teras dan duduk di tepinya. Ia membenamkan wajah dalam tangannya dan menangis lama. Adam berdiri beberapa meter darinya, menatap tanah, mendengarkan suara isakan. Ketika Lee akhirnya memandangnya, matanya berkaca-kaca, maskaranya luntur, hidungnya basah. Ia menyeka wajah dengan tangan, lalu menggosokkan tangannya pada jeans. "Maaf," bisiknya.

"Tolong selesaikan," kata Adam cepat.

Lee menarik napas dalam sejenak, lalu kembali menyeka mata. "Joe ada di sana," katanya, menuding ke suatu titik di rerumputan tak jauh dari Adam. "Dia berhasil berdiri, lalu berbalik dan melihat Daddy dengan senjata. Dia melibat sekeliling, ke arah rumahnya, tapi tak ada tanda-tanda Quince dan senapannya. Dia berbalik kembali pada Daddy yang berdiri tepat di sini, di tepi teras. Kemudian ayahku tersayang mengangkat senapan perlahan-lahan, sangsi sejenak, memandang sekeliling untuk memastikan tak ada orang lain yang melihat, lalu menarik pelatuk. Begitu saja, Joe terjengkang keras dan tak bergerak lagi."

"Kau melihat ini terjadi, bukan?"

"Ya."

"Di mana kau?"

"Di sana." Lee mengangguk, tapi tak menunjuk, "Di pohon kemiriku. Tersembunyi dari dunia."

"Sam tak bisa melihatmu?"

“Tak seorang pun bisa melihatku. Aku menyaksikan semuanya." Ia kembali menutupi mata dan berusaha menahan air mata. Adam bergeser ke teras dan duduk di sebelahnya.

Lee berdeham dan berpaling. "Dia melihat Joe selama semenit, siap menembak lagi bila diperlukan. Namun Joe tak pernah bergerak. Dia sudah mati. Ada darah di rumput di sekitar kepalanya, dan aku bisa melihatnya dari pohon. Aku ingat mencengkeramkan kuku jari ke kulit pohon agar tidak terjatuh, dan aku ingat ingin menangis, tapi terlalu ketakutan. Aku tak ingin dia mendengarku.

“Quince muncul sesudah beberapa menit. Dia mendengar tembakan itu dan menangis saat aku melihatnya. Dia berlari seperti orang gila dan menangis. Ketika melihat ayahnya di tanah, dia mulai menjerit seperti yang bakal dilakukan bocah mana pun. Ayahku mengangkat senjata lagi, dan selama sedetik aku yakin dia akan menembak bocah itu. Namun Quince melemparkan senapan Joe ke tanah dan berlari menghampiri ayahnya. Dia melolong dan menangis keras. Dia memakai kemeja berwarna terang, dan dengan cepat kemeja itu tertutup darah. Sam bergeser ke samping dan mengambil senapan Joe, lalu masuk ke dalam dengan kedua senapan."

Lee bangkit perlahan-lahan dan mengambil beberapa langkah terukur. "Quince dan Joe ada tepat di sini," katanya, memberi tanda dengan tumit. "Quince menyangga kepala ayahnya di samping perut, darah ada di mana-mana, dan dia mengeluarkan lolongan aneh, seperti lengking binatang yang sedang sekarat." Ia berbalik dan memandang pohonnya. "Dan aku ada di sana, duduk di atas bagaikan burung kecil, menangis juga. Aku sangat membenci ayahku saat itu."

"Di mana Eddie?"

"Di dalam rumah, dalam kamarnya yang terkunci." Ia menunjuk ke sebuah jendela dengan daun-daun pecah dan tak bertirai. "Itulah kamarnya. Kelak dia bercerita padaku dia melihat ke luar ketika mendengar tembakan, dan dia melihat Quince memeluk ayahnya. Dalam beberapa menit, Ruby Lincoln berlari mendatangi, diiringi anak-anak di belakangnya. Mereka semua tersungkur di sekeliling Quince dan Joe. Oh, Tuhan, sungguh mengerikan. Mereka menjerit dan menangis, berteriak pada Joe agar bangun, agar jangan meninggalkan mereka.

"Sam masuk ke dalam dan memanggil ambulans. Dia juga menelepon salah satu saudaranya, Albert, dan beberapa tetangga. Tak lama kemudian orang sudah berkerumun di halaman belakang. Sam dan gerombolannya berdiri di teras dengan senapan mereka, menyaksikan orang-orang yang sedang berdukacita, yang menyeret mayat ini ke bawah pohon di sana." Ia menuding ke sebatang pohon ek besar. "Ambulans tiba tak lama kemudian dan membawa jenazah itu. Ruby dan anak-anaknya berjalan kembali ke rumah mereka, ayahku dan teman-temannya tertawa-tawa di teras."

"Berapa lama kau tinggal di pohon itu?"

"Entahlah. Begitu semua orang pergi, aku turun dan berlari ke hutan. Aku dan Eddie punya tempat favorit di tepi sungai kecil, dan aku tahu dia akan datang mencariku. Dia benar datang. Dia ketakutan dan kehabisan napas. Dia menceritakan segalanya tentang penembakan itu padaku. Kukatakan padanya aku sudah melihatnya. Pada matanya dia tak mempercayaiku, tapi kuceritakan detailnya. Kami berdua ketakutan setengah mati.

“Dia merogoh ke dalam saku dan mencabut sesuatu. Ternyata mainan prajurit Konfederasi yang menyebabkan dia dan Quince berkelahi. Dia menemukannya di bawah ranjang, maka langsung memutuskan di tempat semua ini kesalahannya. Kami bersumpah untuk menyimpan rahasia. Dia berjanji takkan bercerita pada siapa pun bahwa aku menyaksikan pembunuhan itu, dan aku berjanji takkan bercerita pada siapa pun bahwa dia menemukan prajurit mainan itu. Dia melemparkannya ke dalam sungai."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 55)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.