Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 53)

 The Chamber: Kamar Gas

"Pasti dia. Tak seorang pun pernah mengganggu keluarga Cayhall waktu itu. Mereka dikenal separo gila dan luar biasa keji."

Mereka meninggalkan makam keluarga dan terus menyusuri jalan setapak. "Jadi, Adam, pertanyaan bagi kita adalah, di mana kita akan menguburkan Sam?"

"Kurasa kita harus menguburkannya di sana, bersama orang-orang kulit hitam. Itu cocok baginya."

"Kaupikir mereka menghendakinya?"

"Poin bagus."

"Serius."

"Aku dan Sam belum lagi sampai ke titik itu."

"Kaupikir dia ingin dimakamkan di sini? Di Ford County?"

"Entahlah. Kami belum membicarakannya, karena alasan yang jelas. Masih ada harapan."

"Berapa banyak?"

"Setitik. Cukup untuk terus berjuang."

Mereka meninggalkan tempat pemakaman dengan berjalan kaki, menyusuri jalan yang tenang dengan trotoar usang dan pohon-pohon ek tua. Rumah-rumah di sana sudah tua dan dicat indah, dengan teras-teras panjang dan kucing-kucing berbaring di tangga depan. Anak-anak berpacu dengan sepeda dan skateboard, dan orang-orang tua berayun-ayun di ayunan teras sambil berkipas-kipas pelan.

"Ini tempatku dulu bermain, Adam," kata Lee ketika mereka berjalan-jalan tanpa tujuan. Tangannya disisipkan dalam-dalam ke saku celana denim, matanya basah dengan kenangan yang menyedihkan sekaligus menyenangkan. Ia memandang setiap rumah, seolah-olah ia pernah ke sana sebagai kanak-kanak dan bisa mengingat gadis-gadis kecil yang pernah jadi temannya. Ia bisa mendengar suara terkekeh dan tertawa, permainan-permainan konyol dan perselisihan serius di antara bocah-bocah sepuluh tahun.

"Apakah itu saat-saat yang bahagia?" tanya Adam.

"Entahlah. Kami tak pernah tinggal di kota, jadi kami dikenal sebagai bocah-bocah desa. Aku selalu menginginkan salah satu dari rumah-rumah ini, dengan teman-teman di sekitarnya dan toko-toko beberapa blok dari sana. Anak-anak kota menganggap diri mereka sedikit lebih baik dari kami, tapi itu bukan masalah besar. Teman-teman terdekatku tinggal di sini, dan aku menghabiskan banyak waktu bermain di jalan-jalan ini, memanjat pohon-pohon ini. Itu saat yang indah, kurasa. Kenangan dari rumah di desa tidak menyenangkan."

"Karena Sam?"

Seorang wanita tua memakai gaun berbunga-bunga dan topi jerami lebar sedang menyapu tangga depannya ketika mereka mendekati. Ia melirik mereka, kemudian diam membeku dan menatap. Lee memperlambat langkah dan berhenti dekat jalan masuk ke rumah. Ia memandang wanita tua itu, dan wanita tua itu memandang Lee.

"Selamat pagi, Mrs. Langston," kata Lee dengan suara ramah.

Mrs. Langston mencengkeram gagang sapu dan menegakkan punggung, dan tampak puas menatap saja.

"Aku Lee Cayhall. Kau ingat aku," kata Lee lagi.

Ketika nama Cayhall hanyut melintasi halaman rumput sempit itu, Adam mendapati dirinya melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang lain yang mendengarnya, ia siap malu bila nama itu jatuh ke telinga lain. Entah Mrs. Langston ingat atau tidak pada Lee. Ia mengangguk sopan, cuma gerakan naik-turun yang cepat, agak canggung, seolah-olah mengatakan, "Selamat pagi. Sekarang pergilah."

"Senang bertemu denganmu lagi," kata Lee, dan mulai berjalan pergi. Mrs. Langston terburu-buru menaiki tangga dan menghilang ke dalam.

"Aku berpacaran dengan anaknya di sekolah menengah," kata Lee sambil menggelengkan kepala tak percaya.

"Dia tercengang melihatmu."

"Dia selalu agak aneh," kata Lee, tidak begitu yakin. "Atau mungkin dia takut bicara dengan seorang Cayhall. Takut akan apa yang mungkin dikatakan tetangga."

"Kurasa paling baik kita bepergian secara incognito sepanjang hari ini. Bagaimana?"

"Janji.”

Mereka melewati orang-orang lain yang sedang mengurus rumpun bunga dan menunggu tukang pos, tapi mereka tak mengucapkan apa pun. Lee menutupi mata dengan kacamata hitam. Mereka berkelok-kelok menyusuri daerah itu ke arah alun-alun, bercakap-cakap tentang teman-teman lama Lee dan di mana mereka sekarang. Ia tetap berhubungan dengan dua di antara mereka, satu di Clanton dan satu di Texas. Mereka menghindari percakapan tentang sejarah keluarga, sampai berada di sebuah jalan dengan rumah-rumah kayu yang lebih kecil berimpitan. Mereka berhenti di sudut, dan Lee mengangguk pada sesuatu di ujung jalan.

"Kaulihat rumah ketiga di sebelah kanan, yang kecil cokelat di sana?"

"Ya."

"Di sanalah kau dulu tinggal. Kita bisa berjalan ke sana, tapi kulihat ada orang mondar-mandir di sana."

Dua anak kecil bermain-main dengan senapan mainan di halaman depan dan seseorang sedang berayun-ayun di teras depan yang sempit. Rumah itu persegi, kecil, rapi, sempurna untuk pasangan muda dengan bayi.

Adam hampir berumur tiga tahun ketika Eddie dan Evelyn menghilang. Ketika berdiri di sudut, ia berusaha keras mengingat sesuatu tentang rumah ini, tapi tak dapat.

"Waktu itu catnya putih, dan tentu saja pepohonannya lebih kecil. Eddie menyewanya dari agen real estate lokal."

"Apakah rumah itu nyaman?"

"Cukup nyaman. Mereka belum lama menikah. Mereka cuma bocah-bocah dengan bayi yang baru lahir. Eddie bekerja di toko suku cadang mobil, kemudian di departemen jalan raya negara bagian. Lalu dia mengambil pekerjaan lain."

"Kedengaran biasa."

"Evelyn bekerja paro waktu di toko permata di alun-alun. Kurasa mereka bahagia. Evelyn tidak berasal dari sini, kau tahu, jadi dia tidak kenal banyak orang. Mereka menyendiri."

Mereka berjalan melewati rumah itu. Salah satu dari anak-anak tersebut mengarahkan senapan mesin oranye ke arah Adam. Tak ada kenangan apa pun tentang tempat tersebut untuk diingat saat itu. Ia tersenyum pada anak kecil itu dan berpaling. Mereka kemudian sampai di jalan lain dengan alun-alun kelihatan.

Lee mendadak jadi pemandu wisata dan sejarawan. Kaum Yankee pernah membakar Clanton pada tahun 1863, bajingan-bajingan itu, dan sesudah perang, Jenderal Clanton, seorang pahlawan Konfederat yang keluarganya memiliki county ini, kembali dengan satu kaki, kaki satunya lagi hilang di medan pertempuran di Shiloh.

Ia merancang gedung pengadilan baru dan jalan-jalan di sekelilingnya. Gambar aslinya tertempel pada dinding lantai atas gedung pengadilan. Ia ingin banyak peneduh, maka ia menanam pohon ek dalam barisan sempurna di sekeliling gedung pengadilan. Ia orang yang punya visi dan dapat melihat kota kecil itu bangkit dari abu dan menjadi makmur, maka ia merancang jalan-jalannya dalam bentuk persegi sempurna di sekeliling gedung pengadilan.

Mereka telah berjalan melewati makam orang besar tersebut beberapa saat yang lalu, kata Lee, dan ia akan menunjukkannya pada Adam nanti.

Ada sebuah pusat perbelanjaan yang kembang-kempis di utara kota dan sederet supermarket discount di sebelah timur, namun penduduk Ford County masih menikmati berbelanja di sekeliling alun-alun di pagi hari Sabtu, kata Lee ketika mereka berjalan menyusuri trotoar di sebelah Washington Street; lalu lintas lamban dan para pejalan kaki lebih lamban lagi.

Gedung-gedung di sana sudah tua dan saling menempel, penuh dengan pengacara dan agen asuransi, bank-bank dan kafe, toko-toko peralatan dan pakaian. Trotoarnya ditutupi payung-payung besar, awning, serta beranda kantor dan toko-toko. Kipas angin yang berkeriat-keriut tergantung rendah dan berputar malas. Mereka berhenti di depan sebuah apotek tua dan Lee melepaskan kacamata hitamnya.

"Ini tempat bersantai," ia menerangkan. "Ada mesin soda di belakang, dengan sebuah jukebox dan rak-rak buku komik. Dengan seperempat dolar kau bisa membeli cherry sundae banyak-banyak, dan butuh waktu berjam-jam untuk memakannya. Butuh waktu lebih lama lagi kalau bocah-bocah ada di sini."

Seperti adegan di film, pikir Adam. Mereka berhenti di depan sebuah toko perkakas, dan entah kenapa memeriksa sekop, bajak, dan garu yang bersandar pada jendela. Lee memandang pintu ganda yang sudah usang, terbuka dan diganjal dengan bata, dan memikirkan sesuatu dari masa kecilnya. Tapi ia menyimpannya untuk diri sendiri.

Mereka menyeberangi jalan, bergandengan tangan, melewati sekelompok orang tua yang sedang meraut kayu dan mengunyah tembakau di sekeliling monumen peringatan perang. Lee mengangguk pada sebuah patung dan dengan pelan memberi-tahu Adam bahwa inilah Jenderal Clanton, dengan dua kaki. Gedung pengadilan buka pada hari Sabtu. Mereka membeli cola dari sebuah mesin di luar dan meneguknya di gazebo di halaman depan.

Lee menceritakan kisah pengadilan paling terkenal dalam sejarah Ford County, sidang pembunuhan Carl Lee Hailey pada tahun 1984. Ia laki-laki kulit hitam yang menembak dan membunuh dua redneck kulit putih yang telah memerkosa anak perempuan kecilnya. Ada pawai-pawai dan protes oleh orang-orang kulit hitam di satu sisi dan para anggota Klan di sisi lain, dan pasukan National Guard benar-benar berkemah di sini, di sekeliling gedung pengadilan, untuk menjaga keamanan. Lee datang dari Memphis untuk menyaksikan keramaian itu. Carl Lee divonis bebas oleh dewan juri yang semuanya kulit putih.

Adam ingat sidang pengadilan itu. Waktu itu ia masih mahasiswa junior di Pepperdine, dan mengikuti kasus tersebut di surat kabar, sebab sidang itu terjadi di kota kelahirannya.

Ketika Lee masih kanak-kanak, hiburan sangat langka, dan sidang pengadilan selalu dikunjungi orang. Suatu ketika Sam pernah membawanya bersama Eddie ke sini, untuk menyaksikan pengadilan seorang laki-laki yang dituduh membunuh anjing pemburu. Ia dinyatakan bersalah dan melewatkan satu tahun dalam penjara. County itu terbelah—orang-orang kota menentang pidana atas kejahatan yang begitu sepele, sementara orang-orang county memberikan nilai lebih tinggi pada anjing beagle yang bagus. Sam sangat senang melihat laki-laki itu dikirim ke penjara.

Lee ingin memperlihatkan sesuatu kepadanya. Mereka berjalan mengitari gedung pengadilan, ke pintu belakang tempat dua pancuran air minum berdiri terpisah sejauh tiga meter. Tak satu pun pernah dipakai selama bertahun-tahun. Yang satu untuk orang kulit putih, yang lain untuk orang kulit hitam. Ia teringat pada kisah Rosia Alfie Gatewood, yang dikenal sebagai Miss Allie, orang kulit hitam pertama yang minum dari pancuran untuk orang kulit putih dan lolos tanpa cedera. Tak lama setelah itu pipa airnya diputus.

Mereka mendapatkan meja di sebuah kafe yang penuh sesak dan terkenal dengan nama The Tea Shoppe, di sisi barat alun-alun. Lee terus bercerita, semuanya menyenangkan dan sebagian besar lucu, sementara mereka makan BLT dan kentang goreng. Ia terus memakai kacamata hitam, dan Adam melihatnya mengawasi orang-orang.

Mereka meninggalkan Clanton sesudah makan siang, dan kemudian setelah berjalan-jalan santai, kembali ke tempat pemakaman. Adam mengemudi dan Lee menunjuk ke sana-sini, sampai mereka berada di jalan county yang menerobos sejumlah tanah pertanian kecil dan rapi dengan sapi-sapi merumput di punggung bukit. Sekali-sekali mereka melewati kumpulan hunian orang kulit putih miskin—trailer-trailer doublewide bobrok dengan mobil-mobil butut berserakan—dan rumah-rumah bobrok yang masih dihuni orang-orang kulit hitam. Namun sebagian besar pemandangan daerah pedesaan yang berbukit-bukit itu indah; hari itu pun indah.

Lee menunjuk lagi, dan mereka berbelok ke jalan batu yang lebih sempit dan lebih dalam, ke pedusunan. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu bercat putih yang tak dihuni, dengan rumput liar mencuat dari teras dan tanaman rambat menyerbu sampai ke jendela-jendela. Letaknya lima puluh meter dari jalan. Jalan masuk berkerikil ke rumah itu berlubang-lubang dan tak dapat dilewati. Halaman depannya penuh ditumbuhi rumput Johnsongrass dan zonthium. Kotak suratnya nyaris tak terlihat dalam selokan di samping jalan.

"Inilah tanah keluarga Cayhall," Lee bergumam. Mereka duduk lama di dalam mobil, memandang rumah kecil yang menyedihkan itu.

"Apa yang terjadi pada rumah ini?" tanya Adam akhirnya.

"Oh, rumah ini dulu bagus. Tapi tak punya banyak peluang. Orang-orangnya sungguh mengecewakan." Ia perlahan-lahan melepaskan kacamata hitam dan menyeka mata. "Delapan belas tahun aku tinggal di sini, dan aku tak sabar meninggalkannya."

"Mengapa rumah ini tak dihuni?"

Lee menarik napas dalam, berusaha menyusun kisahnya. "Kurasa rumah ini sudah lunas bertahun-tahun yang lalu, tapi Daddy menggadaikannya untuk membayar pengacara dalam sidangnya yang terakhir. Sudah tentu dia tak pernah pulang lagi, dan pada suatu titik bank menyitanya. Tanah di sekitarnya ada delapan puluh ekar, dan segalanya hilang. Aku tak pernah kembali ke sini sejak penyitaan itu. Aku minta Phelps agar membelinya, dan dia bilang tidak. Aku tak bisa menyalahkannya. Aku sendiri tidak benar-benar ingin memilikinya. Kelak aku mendengar dari beberapa teman di sini rumah ini disewakan beberapa kali, dan kurasa akhirnya tidak dihuni. Aku tidak tahu rumah ini masih berdiri."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 54)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.