Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 52)

The Chamber: Kamar Gas

Karena tak ada seorang pun di rumah, kemungkinan besar sistem itu diaktifkan. Pertanyaan rumitnya adalah sehebat apa kebisingan yang timbul bila ia membuka pintu. Apakah tanda bahaya tanpa suara, ataukah ia akan terperanjat dengan sirene melengking?

Ia menarik napas, lalu perlahan-lahan menggeser pintu itu terbuka. Tak ada sirene menyambutnya.

Ia memandang cepat pada monitor di atas jendela, lalu melangkah ke dalam.

***

Kontak itu langsung menyiagakan Willis, penjaga di gerbang, yang mendengar bunyi "tit rit" riuh meskipun tidak keras dari layar monitornya. Ia melihat lampu merah berkedip-kedip di Nomor 7, rumah Lee Booth, dan menunggunya sampai berhenti.

Mrs. Booth tersandung alarmnya paling sedikit dua kali sebulan, dan itu adalah rata-rata bagi orang-orang yang dijaganya. Ia memeriksa clipboard dan melihat Mrs. Booth pergi pada pukul 09.15. Namun ia kadang-kadang menerima penginap, biasanya laki-laki, dan sekarang keponakannya tinggal bersamanya. Maka Willis mengawasi lampu merah itu selama 45 detik sampai lampu berhenti berkedip, dan kembali pada posisi on permanen.

Ini luar biasa, tapi tak perlu panik. Orang-orang ini tinggal di balik dinding-dinding dan membayar penjaga-penjaga bersenjata 24 jam sehari, jadi mereka tidak serius dengan sistem alarm mereka. Ia cepat-cepat memutar nomor Mrs. Booth. Tak ada jawaban. Ia menekan satu tombol dan mengirimkan berita rekaman ke 911, meminta bantuan polisi.

Ia membuka laci kunci dan memilih anak kunci Nomor 7, kemudian meninggalkan gardu jaga dan berjalan cepat melintasi lapangan parkir, untuk melihat keadaan kondominium Mrs. Booth. Ia membuka sarung pistol, sehingga ia bisa meraih revolvernya seandainya diperlukan.

***

Rollie Wedge melangkah ke dalam gardu jaga dan melihat laci kunci yang terbuka. Ia mengambil satu set, bertanda untuk Unit 7, bersama sehelai kartu dengan kode alarm dan instruksi, dan dengan sengaja mengambil pula kunci serta kartu untuk Nomor 8 dan 13, sekadar untuk membingungkan Willis dan polisi.

~ 26 ~

Mula-mula mereka pergi ke makam, untuk memberikan penghormatan kepada yang telah meninggal. Makam itu meliputi dua bukit kecil di tepi Clanton. Yang satu ditaburi nisan dan monumen rumit, tempat para keluarga terkemuka menguburkan anggota keluarga mereka selama beberapa waktu, dan mengukir nama mereka pada batu granit tebal.

Bukit kedua untuk makam yang lebih baru, dan bersama lewatnya waktu di Mississippi, batu nisan pun jadi lebih kecil. Pohon-pohon ek dan elm besar menaungi sebagian besar tempat pemakaman itu. Rumputnya terpangkas pendek dan semak-semaknya rapi. Bunga azalea tumbuh di tiap sudut Clanton memberi prioritas pada kenang-kenangannya.

Hari itu hari Sabtu yang indah, tak berawan, dan angin berembus pelan sejak malam, mengusir kelembapan. Hujan sudah berhenti beberapa lama, dan punggung bukit tampak lebat menghijau dengan tanaman dan bunga liar. Lee berlutut di samping nisan ibunya dan meletakkan karangan bunga kecil di bawah namanya.

Ia memejamkan mata, sementara Adam berdiri di belakangnya, menatap makam itu. Anna Gates Cayhall. 3 September 1922-18 September 1977. Ia berusia 55 tahun ketika meninggal, Adam menghitung; berarti dirinya berusia tiga belas tahun waktu itu, masih hidup dalam ketidaktahuan yang penuh kebahagiaan di suatu tempat di California Selatan.

Ia dimakamkan sendirian, di bawah nisan tunggal. Ini saja sudah menimbulkan sejumlah masalah. Pasangan hidup biasanya dimakamkan berdampingan, setidaknya di wilayah Selatan, dengan yang pertama menempati tempat pertama di bawah nisan ganda. Setiap berziarah mengunjungi yang meninggal, yang hidup akan melihat namanya sendiri sudah terukir dan menunggu di sana.

"Ayah berumur 56 ketika Ibu meninggal," Lee menerangkan sambil menggandeng tangan Adam dan beringsut menjauhi makam itu. "Aku ingin dia menguburkan Ibu sedemikian rupa, sehingga suatu hari kelak dia bisa bergabung, tapi dia menolak. Kurasa dia memperkirakan masih punya beberapa tahun tersisa, dan dia mungkin akan menikah lagi."

"Kau pernah bercerita padaku dia tak menyukai Sam."

"Aku yakin dia mencintainya dengan caranya sendiri. Mereka hampir empat puluh tahun bersama-sama. Namun mereka tak pernah dekat. Setelah lebih dewasa, aku menyadari dia tak suka berada di sekitar Sam. Kadang-kadang dia mengungkapkan perasaannya padaku. Dia gadis desa sederhana yang menikah pada usia muda, punya anak, tinggal di rumah bersama mereka, dan diharapkan mematuhi suaminya. Ini bukan sesuatu yang luar biasa pada saat itu. Kupikir dia sangat tertekan."

"Mungkin dia tak ingin Sam berada di sampingnya selama-lamanya."

"Aku pernah memikirkan hal itu. Sebenarnya Eddie menginginkan mereka terpisah dan dimakamkan di ujung berseberangan di pemakaman ini."

"Sungguh bagus gagasan Eddie."

"Dia pun tidak bergurau."

"Berapa banyak yang dia ketahui tentang Sam dan Klan?"

"Aku tak tahu. Kami tak pernah membicarakan itu. Aku ingat dia sangat terhina setelah penangkapan Sam. Dia bahkan tinggal bersama Eddie dan kalian beberapa lama, sebab para reporter terus mengusiknya."

"Dan dia tak pernah menghadiri pengadilannya?"

"Tidak. Sam tak ingin dia menyaksikannya. Dia punya masalah tekanan darah tinggi, dan Sam memakai itu sebagai dalih untuk menjauhkannya dari pengadilan."

Mereka berbalik dan berjalan menyusuri jalan sempit, melintasi bagian lama pemakaman itu. Mereka bergandengan tangan dan melewati nisan-nisan. Lee menunjuk ke sederet pepohonan di seberang jalan di bukit yang lain. "Di sanalah orang-orang kulit hitam dimakamkan," katanya. "Di bawah pohon-pohon itu. Pemakaman itu sempit."

"Kau bercanda? Bahkan sampai hari ini?"

"Benar, kau tahu, taruh mereka di tempat mereka. Orang-orang ini tidak tahan dengan gagasan ada seorang negro berbaring di antara nenek moyang mereka."

Adam menggelengkan kepala dengan tercengang. Mereka menaiki bukit dan beristirahat di bawah pohon ek. Berderet-deret makam terbentang damai di bawah mereka, kubah Gedung Pengadilan Ford County berkilauan di bawah cahaya matahari beberapa blok dari sana.

"Ketika masih kecil, aku suka bermain-main di sini," katanya pelan. Ia menunjuk ke kanan, ke utara. "Setiap tanggai 4 Juli, kota merayakannya dengan pesta kembang api, dan tempat duduk terbaik adalah di pemakaman ini. Ada sebuah taman di bawah sana, dan di sanalah mereka menembakkan kembang api. Kami naik sepeda dan datang ke kota untuk menyaksikan pawai, berenang di kolam kota, dan bermain dengan teman-teman kami. Dan tepat setelah gelap, kami semua akan berkumpul di sini, di tengah orang-orang mati, duduk di nisan-nisan ini untuk menyaksikan kembang api. Laki-laki dewasa bergerombol di samping truk mereka, tempat bir dan wiski disembunyikan, dan para perempuan berbaring di kasur serta merawat bayi. Kami berlarian, bermain-main gembira, dan mengendarai sepeda ke segala penjuru tempat ini."

"Eddie?"

“Tentu saja. Eddie adik yang normal, kadang-kadang nakal luar biasa, tapi benar-benar menyenangkan. Aku merindukannya, kau tahu. Aku sangat merindukannya. Hubungan kami selama bertahun-tahun tidak begitu dekat, tapi bila kembali ke kota ini, aku memikirkan adikku."

"Aku pun merindukannya."

"Aku dan dia datang ke sini, tepat di tempat ini, pada malam dia lulus sekolah menengah. Aku sudah dua tahun tinggal di Nashville, dan aku kembali sebab dia ingin aku menyaksikannya. Kami membawa sebotol anggur murahan, dan kurasa itulah pertama kali dia minum minuman keras. Aku takkan pernah melupakannya. Kami duduk di sini, di atas nisan Emil Jacob, dan meneguk anggur sampai botol itu kosong."

“Tahun berapa itu?"

"1961, kurasa. Dia ingin bergabung dengan Angkatan Bersenjata, sehingga bisa meninggalkan Clanton dan menyingkir dari Sam. Aku tak ingin adikku masuk ketentaraan, dan kami membicarakannya sampai matahari muncul.”

"Dia bingung?"

"Dia umur delapan belas, mungkin sebingung kebanyakan anak-anak yang baru saja lulus sekolah menengah. Eddie ngeri kalau tetap tinggal di Clanton akan terjadi sesuatu pada dirinya, cacat genetik akan muncul pada dirinya lalu dia akan jadi seperti Sam. Satu Cayhail lagi dengan kerudung. Dia setengah mati ingin lari dari tempat ini."

"Tapi kau lari begitu bisa."

"Aku tahu, tapi aku lebih tangguh daripada Eddie, setidaknya pada umur delapan belas tahun. Aku tak bisa melihatnya meninggalkan rumah semuda itu. Jadi, kami meneguk anggur dan mencoba mendapatkan pegangan hidup."

"Apakah ayahku pernah mendapatkan pegangan hidup?"

"Aku menyangsikannya, Adam. Kami berdua disiksa ayah kami dan kebencian keluarganya. Ada beberapa hal yang kuharap kau tak pernah tahu, kisah-kisah yang kudoakan tetap tak pernah diceritakan. Kurasa aku berhasil menyingkirkannya, sedangkan Eddie tak bisa."

Ia kembali menggandeng tangan Adam. Mereka berjalan di bawah cahaya matahari, menyusuri jalan setapak, menuju bagian baru pemakaman itu. Ia berhenti dan menunjuk sederet nisan kecil. "Di sinilah kakek buyutmu, bersama para bibi, paman, dan anggota Cayhail lain."

Adam menghitung semuanya. Delapan. Ia membaca nama-nama dan tanggalnya, dan mengucapkan dengan keras puisi serta ayat Kitab Suci serta kata-kata perpisahan yang terpahat pada granit.

"Ada banyak lainnya di desa," kata Lee. "Kebanyakan marga Cayhall berasal dari sekitar Karaway, lima belas mil dari sini. Mereka orang-orang desa, dan dikubur di belakang gereja-gereja desa."

"Apakah kau datang ke sini menghadiri semua pemakaman ini?"

"Beberapa di antaranya. Keluarga ini tak punya hubungan erat, Adam. Sebagian dari orang-orang ini sudah mati bertahun-tahun sebelum aku tahu."

"Mengapa ibumu tidak dimakamkan di sini?"

"Sebab dia tidak menginginkannya. Dia tahu akan meninggal, dan dia memilih tempat. Dia tak pernah menganggap dirinya seorang Cayhall. Dia menganggap dirinya marga Gates."

"Wanita cerdik."

Lee mencabut segenggam rumput liar dari makam neneknya dan menggosokkan jari pada nama Lydia Newsome Cayhall, yang meninggal pada tahun 1961 pada usia 72 tahun. "Aku ingat betul padanya," kata Lee, berlutut di rumput. "Seorang wanita Kristen yang baik. Dia akan berbalik dalam kuburnya bila tahu putra ketiganya sedang menanti hukuman mati."

"Bagaimana dengannya?" tanya Adam, menunjuk suami Lydia, Nathaniel Lucas Cayhail, yang meninggal tahun 1952 pada usia 64 tahun. Kemesraan meninggalkan wajah Lee.

"Dia laki-laki tua yang jahat," katanya. "Aku yakin dia akan bangga dengan Sam. Nat, begitulah dia biasa dipanggil, terbunuh dalam upacara pemakaman."

"Upacara pemakaman?"

"Ya. Secara tradisi, pemakaman merupakan peristiwa sosial di sini. Upacara itu didahului dengan berjaga, dengan banyak kunjungan dan makan-makan. Dan minum-minum. Di pedesaan Selatan kehidupan amat berat, dan kerap kali pemakaman berubah menjadi perkelahian mabuk-mabukan. Nat sangat kasar, dan dia berkelahi dengan orang yang salah, tepat sesudah upacara pemakaman. Mereka memukulinya sampai mati dengan sepotong kayu."

"Di mana Sam saat itu?"

"Tepat di tengahnya. Dia pun dipukuli, tapi selamat. Aku masih kecil, dan aku ingat pemakaman Nat. Sam ada di rumah sakit dan tak bisa hadir."

"Apakah dia balas dendam?"

"Tentu saja."

"Bagaimana?"

"Tak ada bukti apa pun, tapi beberapa tahun kemudian dua laki-laki yang memukuli Nat dibebaskan dari penjara. Mereka muncul sebentar di sini, lalu menghilang. Satu mayat ditemukan berbulan-bulan kemudian, di daerah sebelah di Milburn County. Dianiaya, tentu saja. Laki-laki lainnya tak pernah ditemukan. Polisi menanyai Sam dan saudara-saudaranya, tapi tak ada bukti apa pun."

"Menurutmu dia yang melakukannya?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 53)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.