Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 51)

The Chamber: Kamar Gas

Dua menit dalam presentasinya, ia disela untuk pertama kalinya oleh seorang partner muda yang suka bermotor dengan Emmitt Wycoff. Rosen sedang mondar-mandir, seolah-olah bermain dalam ruang sidang yang penuh sesak di masa jayanya, ketika pertanyaan tersebut menghentikannya. Sebelum ia bisa memikirkan jawaban sarkastis, pertanyaan lain menerpanya. Saat ia bisa memikirkan satu jawaban untuk salah satu dari dua pertanyaan pertama itu, pertanyaan ketiga muncul entah dari mana. Pertempuran itu mulai.

Tiga interogator bekerja bagaikan regu bisbol yang efisien, dan jelas mereka sudah berlatih sebelumnya. Secara bergiliran mereka menghujani Rosen dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kenal belas kasihan, dan dalam semenit ia pun mengumpat dan melontarkan caci maki. Mereka secara keseluruhan bersikap tenang. Masing-masing punya buku tulis dengan sesuatu apa yang tampak seperti daftar panjang berisi pertanyaan.

"Di manakah conflict of interest-nya, Mr. Rosen?"

"Sudah tentu seorang pengacara bisa mewakili seorang anggota keluarga, benar, Mr. Rosen?"

"Apakah dalam wawancara spesifik Mr. Hall ditanya apakah biro hukum ini mewakili salah saru anggota keluarganya?"

"Apakah Anda keberatan terhadap publisitas, Mr. Rosen?"

"Mengapa Anda menganggap publisitas sebagai sesuatu yang negatif?"

"Apakah Anda akan mencoba membantu seorang anggota keluarga yang sedang menunggu hukuman mati?"

"Bagaimana perasaan Anda tentang bukuman mati, Mr. Rosen?"

"Apakah Anda diam-diam menginginkan Sam Cayhall dieksekusi karena dia membunuh orang Yahudi?"

"Menurut Anda, apakah Anda tidak menyergap Mr. Hall?"

Sungguh tak menyenangkan. Sebagian dari kemenangan terbesar di ruang sidang dalam sejarah Chicago belakangan ini milik Daniel Rosen, tapi di sini ia terpaksa menerima mulutnya ditendangi dalam suatu pertarungan tak bermakna di depan sebuah komite. Bukan di hadapan dewan juri. Bukan di hadapan hakim. Komite.

Gagasan untuk mundur tak pernah masuk dalam pikirannya. Ia terus mendesak, makin keras dan makin menyengat. Bantahan dan jawabannya yang kecut jadi makin pribadi, dan ia mengucapkan sesuatu yang keji tentang Adam.

Tindakannya keliru. Yang lain bergabung dalam percekcokan itu, dan dengan cepat Rosen tercabik-cabik bagaikan mangsa yang terluka, cuma beberapa langkah di depan kawanan serigala. Ketika jelas takkan pernah mendapat suara mayoritas dalam komite itu, ia menurunkan suara dan menenangkan sikap.

Ia menutup pembicaraannya dengan kesimpulan tenang tentang pertimbangan etika dan usaha menghindari munculnya sesuatu yang tidak sah, dogma yang dipelajari para pengacara di sekolah hukum dan saling dilontarkan ketika bertarung, tapi tak dihiraukan bila dirasa perlu.

Setelah selesai berbicara, Rosen menghambur keluar dari ruangan, dalam hati mencatat siapa saja yang telah berani melecehkannya. Ia akan menulis nama mereka dalam sebuah berkas begitu sampai ke meja kerja dan suatu hari... nah, suatu hari kelak ia akan melakukan pembalasan.

Kertas-kertas, buku catatan, dan peralatan elektronik menghilang dari meja yang mendadak bersih. Yang ada hanya kopi dan cangkir-cangkir kosong. Ketua melakukan pengambilan suara. Rosen mendapat lima. Adam mendapat enam. Komite Personalia langsung bubar dan menghilang dengan tergesa-gesa.

"Enam lawan lima?" Adam mengulangi saat memandang wajah Goodman dan Wycoff yang lega tapi tidak tersenyum.

"Kemenangan total, seperti biasa," Wycoff melucu.

"Bisa lebih buruk." kata Goodman. "Kau bisa saja dipecat."

"Mengapa aku tidak terlalu gembira? Maksudku, kurang satu suara saja dan aku akan jadi sejarah."

“Tidak begitu," Wycoff menjelaskan. "Penarikan suara itu sudah dihitung sebelum rapat. Rosen mungkin mendapat dua suara tegas, dan yang lain tetap memihaknya, sebab mereka tahu kau akan menang. Kau tidak tahu betapa hebatnya persuasi yang berlangsung tadi malam. Ini akan menghabisi Rosen. Dalam tiga bulan dia akan menyingkir."

"Mungkin lebih cepat," Goodman menambahkan. "Dia meriam yang tak terkendali. Semua sudah muak dengannya."

“Termasuk aku," kata Adam.

Wycoff melirik jam tangan. Saat itu pukul 08.45, dan ia harus hadir di pengadilan pukul 09.00. "Dengar, Adam, aku harus bergegas," katanya sambil mengancingkan jas. "Kapan kau akan kembali ke Memphis?"

"Hari ini, kurasa."

"Bisakah kita makan siang bersama? Aku ingin bicara denganmu."

“Tentu."

Ia membuka pintu dan berkata, "Bagus. Sekretarisku akan meneleponmu. Aku harus bergegas. Sampai jumpa." Dan ia menghilang.

Goodman mendadak melirik jam tangan juga. Jamnya berjalan lebih lamban daripada pengacara-pengacara asli di biro hukum tersebut, tapi ia pun punya janji pertemuan yang harus ditepati. "Aku harus menemui seseorang di kantorku. Aku akan ikut makan siang bersama kalian."

"Satu suara keparat," Adam mengulangi, menatap ke dinding.

"Sudahlah, Adam. Sebenarnya tidak setipis itu."

"Rasanya benar-benar tipis."

"Dengar, kita harus melewatkan beberapa jam bersama-sama sebelum kau berangkat. Aku ingin dengar tentang Sam, oke? Mari makan siang."

~ 25 ~

Baker Cooley dan pengacara-pengacara lain di kantor Memphis mungkin tahu sesuatu tentang pemecatan Adam yang mendadak dan pembatalannya yang seketika, namun hal itu tidak kentara. Mereka memperlakukannya dengan cara sama, yang berarti mereka sibuk dengan urusan sendiri dan menjauh dari kantornya.

Mereka tidak kasar kepadanya, sebab—bagaimanapun juga, ia dari Chicago. Mereka tersenyum bila terpaksa, dan merelakan waktu beberapa saat untuk percakapan singkat di gang bila Adam sedang berselera. Namun mereka pengacara corporate, dengan kemeja terkanji licin dan tangan lembut yang tidak terbiasa dengan kotoran dan debu dalam pembelaan kasus pidana.

Mereka tidak pergi ke rumah tahanan atau penjara atau berkotor-kotor mengunjungi klien. Mereka terutama bekerja di belakang meja dan di sekeliling meja rapat dari kayu mahoni. Waktu mereka dihabiskan untuk bicara dengan klien yang mampu membayar beberapa ratus dolar sejam untuk mendapatkan nasihat, dan bila tidak bicara dengan klien, mereka bertelepon atau makan siang bersama pengacara lain, bankir, dan eksekutif perusahaan asuransi.

Sudah cukup banyak berita di surat kabar untuk menimbulkan kegeraman di kantor. Sebagian pengacara di sana malu melihat nama biro hukum mereka dikaitkan dengan seorang tokoh macam Sam Cayhall. Sebagian besar di antara mereka tidak tahu-menahu bahwa selama tujuh tahun ia telah diwakili kantor Chicago. Sekarang teman-teman mengajukan pertanyaan. Beberapa pengacara lain melontarkan jawaban lucu dan mengena. Para istri dicemoohkan dalam jamuan minum teh di garden club. Para ipar mendadak tertarik pada karier hukum mereka.

Sam Cayhall dan cucunya dengan cepat menjadi duri dalam daging bagi kantor Memphis, tapi tak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu.

Adam bisa merasakan hal ini, tapi tak memedulikannya. Ini kantor sementara, cocok untuk tiga minggu, dan mudah-mudahan tidak sehari lebih lama. Jumat pagi ia melangkah keluar dari lift, tidak menghiraukan resepsionis yang mendadak sibuk mengatur majalah. Ia bicara dengan sekretarisnya, seorang wanita muda bernama Darlene, yang mengangsurkan pesan telepon dari Todd Marks di Memphis Press.

Ia membawa pesan telepon merah jambu itu ke kantornya dan melemparkannya ke keranjang sampah. Ia menggantungkan jasnya dan mulai menutupi meja dengan kertas. Ada beberapa halaman catatan yang ia buat dalam penerbangan ke dan dari Chicago, dan pleidoi-pleidoi yang mirip yang dipinjamnya dari berkas Goodman, serta puluhan copy keputusan terakhir pengadilan federal.

Dengan cepat ia tenggelam dalam dunia teori dan strategi hukum. Chicago jadi kenangan yang memudar.

***

Rollie Wedge memasuki gedung Brinkley Plaza melalui pintu depan ke Mall. Ia sudah menunggu dengan sabar pada sebuah meja di kafe tepi jalan, sampai Saab hitam itu muncul lalu berbelok ke tempat parkir di dekatnya. Ia memakai kemeja putih dengan dasi, celana panjang katun keriput, dan pantofel santai. Ia meneguk es teh sambil mengawasi Adam berjalan menyusuri trotoar dan memasuki gedung itu.

Lobinya kosong ketika Wedge mengamati dengan cepat denah petunjuk gedung itu. Kravitz & Bane menempati lantai tiga dan empat. Ada empat lift yang serupa, dan ia masuk ke salah satu, menuju lantai delapan. Ia melangkah ke dalam serambi sempit. Di sebelah kanan ada pintu dengan nama perseroan pengawas harta terpampang dalam huruf kuningan, dan di sebelah kiri ada lorong yang berhubungan dengan pintu-pintu dari segala macam perusahaan. Di samping pancuran air ada pintu ke tangga.

Dengan santai ia turun delapan tingkat, memeriksa pintu-pintu sambil berjalan. Tak seorang pun berpapasan dengannya di tangga itu. Ia masuk kembali ke lobi, lalu naik lift lain, seorang diri, ke lantai tiga. Ia tersenyum kepada resepsionis yang masih sibuk dengan majalah, dan akan menanyakan jalan ke perseroan pengurus harta tadi ketika telepon berdering dan sekretaris itu sibuk dengannya.

Satu set pintu ganda kaca memisahkan tempat menerima tamu dari jalan masuk ke lift. Ia naik ke lantai empat dan menemukan satu set pintu yang sama, tapi tanpa resepsionis. Pintu-pintu itu terkunci. Pada dinding di sebelah kanan ada panel masuk berkode dengan sembilan tombol bernomor.

Ia mendengar suara-suara, dan melangkah ke ruang tangga. Pada pintu itu tak ada kunci dari kedua sisinya. Ia menunggu sejenak, lalu melewati pintu itu dan minum air lama-lama. Satu lift terbuka, seorang laki-laki muda bercelana khaki dan berblazer biru melangkah keluar dengan kardus dijepit pada satu tangan dan sebuah buku tebal di tangan kanan. Ia beranjak ke pintu Kravitz & Bane.

Ia bersenandung keras, tidak memperhatikan Wedge menyelinap di belakangnya. Ia berhenti dan dengan hati-hati menyeimbangkan buku hukum tadi di atas kardus, membebaskan tangan kanan untuk memencet kode. Tujuh, tujuh, tiga. Panel itu berbunyi pada setiap nomor. Wedge cuma beberapa senti di belakangnya, mengintip dari atas pundak dan mencatat kode itu.

Laki-laki muda itu cepat-cepat memegang buku, baru akan berbalik ketika Wedge menubruknya sedikit dan berkata, "Sialan! Maaf! Saya tidak..." Wedge mundur selangkah dan memandang tulisan di atas pintu. "Ini bukan Riverbend Trust," katanya, tercengang dan bingung.

"Bukan. Ini Kravitz & Bane."

"Lantai berapa ini?" tanya Wedge.

Sesuatu berdetak dan kunci pintu terbuka. "Empat. Riverbend Trust ada di lantai delapan."

"Maaf," Wedge berkata lagi, sekarang malu dan nyaris mengundang kasihan. "Saya pasti keluar di lantai yang salah."

Laki-laki muda itu mengernyit dan menggelengkan kepala, lalu membuka pintu.

"Maaf," kata Wedge untuk ketiga kalinya sambil mundur. Pintu tertutup dan bocah itu menghilang. Wedge naik lift ke lobi utama dan meninggalkan gedung itu.

Ia meninggalkan pusat kota, mengemudi ke timur dan utara selama sepuluh menit, sampai ke bagian kota yang penuh dengan perumahan pemerintah. Ia berhenti di jalan masuk di samping Auburn House dan dihentikan seorang penjaga berseragam. Ia cuma berputar, katanya, tersesat lagi, dan ia sangat menyesal. Sewaktu mundur ke jalan, ia melihat Jaguar merah anggur milik Lee Booth diparkir di antara dua bangunan.

Ia menuju sungai, ke arah pusat kota lagi, dan dua puluh menit kemudian parkir di sebuah serambi kayu yang sebagian bergantung tiga meter di udara, sementara tebing itu menurun curam di bawahnya. Ia berhenti di kondominium ketujuh dan menyelinap cepat ke serambi.

Ia beristirahat sejenak di kursi anyaman dan bermain dengan kabel telepon di luar, seolah-olah sedang melakukan servis rutin. Tak seorang pun melihatnya. Keleluasaan pribadi amat penting bagi orang-orang kaya ini; mereka membayar mahal, dan setiap teras kecil di sana ditutupi dari teras sebelahnya dengan papan-papan dekoratif dan segala macam tanaman gantung. Kemejanya sekarang sudah basah dan lengket ke punggung.

Pintu geser kaca yang menghubungkan serambi luar ke dapur terkunci, tentu saja. Kuncinya cukup sederhana, menghambatnya selama hampir satu menit. Ia mengoreknya tanpa meninggalkan kerusakan atau jejak, lalu melirik sekitarnya untuk memeriksa sekali lagi sebelum masuk. Ini bagian yang rumit. Ia perkirakan di sana ada sistem pengamanan, mungkin sistem pengaman dengan kontak pada setiap jendela dan pintu.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 52)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.