Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 50)

The Chamber: Kamar Gas

Goodman memain-mainkan dasinya, menggosok jenggot, lalu berkata, "Nah. Ini terjadi pukul sembilan pagi ini. Kau tahu. Komite Personalia terdiri atas lima belas partner, hampir semuanya partner-partner muda. Komite ini sudah tentu punya beberapa subkomite, satu untuk perekrutan—pencarian tenaga baru, satu untuk disiplin, satu untuk urusan perselisihan, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan seperti mungkin sudah kauduga, ada satu untuk pemutusan hubungan kerja. Subkomite Pemutusan Hubungan Kerja rapat pagi ini, dan terka siapa yang memimpin segalanya."

"Daniel Rosen."

"Daniel Rosen. Rupanya dia telah sepuluh hari menggarap Subkomite Pemutusan Hubungan Kerja, berusaha mengumpulkan cukup suara untuk pemecatanmu."

Adam duduk di kursi di depan meja, Goodman duduk di seberangnya.

"Ada tujuh anggota dalam subkomite itu, dan pagi ini mereka rapat atas permintaan Rosen. Lima anggota hadir, jadi mereka mencapai kuorum. Rosen, tentu saja, tidak memberitahu aku atau yang lainnya. Rapat pemutusan hubungan kerja sepenuhnya rahasia karena alasan-alasan yang jelas, jadi tak ada kewajiban memberitahu orang lain."

"Bahkan aku pun tidak?"

“Tidak, bahkan kau pun tidak. Kau satu-satunya topik dalam agenda, dan rapat itu berlangsung kurang dari satu jam. Rosen sudah bersiap sebelum masuk, tapi dia mengajukan kasusnya dengan kuat. Ingat, dia tukang berkelahi di ruang sidang selama tiga puluh tahun. Mereka mencatat semua rapat pemutusan hubungan kerja, kalau-kalau ada tuntutan di kemudian hari, Rosen membuat catatan lengkap. Dia, tentu saja, menyatakan kau menipu ketika melamar di Kravitz & Bane; menyatakan hal itu menimbulkan conflict of interest dalam firma, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan dia punya copy selusin artikel surat kabar tentang kau dan Sam dan hubungan kakek-cucu. Dia berdalih kau mempermalukan firma. Dia sangat siap. Kupikir Senin kemarin kita telah memandang enteng padanya."

"Dan kemudian mereka ambil suara."

"Empat lawan satu untuk memecatmu."

"Bangsat."

"Aku tahu. Aku sudah pernah melihat Rosen dalam situasi rumit, dan orang itu bisa persuasif secara brutal. Dia biasanya mendapatkan yang diinginkannya. Dia tak bisa lagi pergi ke ruang sidang, maka dia menantang pertempuran di kantor. Dia akan pensiun enam bulan lagi."

"Itu hiburan kecil untuk saat ini."

"Masih ada harapan. Kabar akhirnya merembes ke kantorku sekitar pukul sebelas siang, dan untunglah Emmitt Wycoff ada di tempat. Kami pergi ke kantor Rosen dan bertengkar hebat, lalu kami menelepon. Pokok persoalannya adalah ini—Komite Personalia akan rapat pukul sebelas untuk membahas pemecatanmu. Kau perlu hadir di sana."

"Pukul delapan besok pagi."

“Yeah. Orang-orang ini sibuk. Banyak yang punya janji pukul 09.00 di pengadilan. Beberapa harus memberikan pernyataan di depan sidang sepanjang hari. Di antara lima belas orang, kita akan beruntung kalau bisa mendapatkan kuorum."

"Berapa banyak untuk mencapai kuorum?"

"Dua pertiga. Sepuluh orang. Dan bila kuorum tidak tercapai, kita mungkin akan menghadapi masalah."

"Masalah! Kausebut apa ini?"

"Itu bisa lebih buruk. Bila tidak tercapai kuorum besok pagi, kau berhak meminta pembahasan lagi dalam tiga puluh hari."

"Dalam tiga puluh hari, Sam akan mati."

"Mungkin tidak. Bagaimanapun juga, kurasa rapat itu akan berlangsung besok pagi. Aku dan Emmitt sudah mendapatkan komitmen dari sembilan anggota untuk hadir di sana."

"Bagaimana dengan empat orang yang memberikan suara untuk memecatku pagi ini?”

Goodman menyeringai dan memalingkan wajah. "Coba terka. Rosen memastikan pendukungnya bisa hadir besok pagi."

Adam sekonyong-konyong menepuk meja dengan dua belah tangan. "Aku keluar! Sialan!"

"Kau tak bisa keluar. Kau baru saja dipecat."

"Kalau begitu, aku takkan bertahan. Bajingan!"

"Dengar, Adam..."

''Bajingan!"

Goodman mundur sejenak untuk memberi kesempatan kepada Adam agar tenang. Ia meluruskan dasi dan memeriksa jenggotnya. Ia mengetukkan jari pada meja, lalu berkata, "Dengar, Adam, kita akan baik-baik saja besok pagi, oke? Emmitt berpendapat demikian. Aku berpendapat demikian. Firma kita mendukungmu dalam urusan ini. Kami yakin pada apa yang kaulakukan, dan, teras terang, kita telah menikmati publisitasnya. Banyak kisah bagus di koran Chicago."

"Firma ini tampaknya tidak mendukung.”

"Dengar saja kataku. Kita bisa batalkan urusan ini besok. Aku yang akan bicara. Wycoff sedang membujuk orang-orang sekarang. Kita punya orang lain yang juga sedang memuntir tangan."

"Rosen tidak tolol, Mr. Goodman. Dia ingin menang, itu saja. Dia tak peduli denganku, tak peduli dengan Sam, atau kau, atau siapa pun lainnya yang terlibat. Dia pokoknya ingin menang. Ini suatu pertandingan, dan aku berani bertaruh dia sekarang sedang menelepon untuk mencari dukungan suara "

"Kalau begitu, mari kita lawan dia, oke? Mari kita hadiri rapat besok dengan dada tegak. Mari kita buat Rosen jadi si jahat. Adam, orang itu tak punya banyak teman.”

Adam berjalan ke jendela dan mengintip melalui tirai. Lalu lintas pejalan kaki sangat padat di Mall di bawah. Saat itu hampir pukul 17.00. Ia punya hampir lima ribu dolar dalam tabungan. Bila ia berhemat dan mengubah gaya hidup tertentu, uang itu mungkin akan bertahan sampai enam bulan. Gajinya 62.000 dolar, dan akan sulit mencari gantinya dalam waktu dekat. Namun ia bukan orang yang sering mengkhawatirkan uang, dan ia tak mau memulainya sekarang. Ia jauh lebih prihatin dengan tiga minggu berikutnya. Setelah sepuluh hari berkarier sebagai pengacara yang menangani kasus hukuman mati, ia tahu dirinya butuh bantuan.

"Bagaimana kemungkinan akhirnya?" ia bertanya setelah keheningan yang berat.

Goodman perlahan-lahan bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela lain. "Cukup gila. Kau takkan tidur banyak dalam empat hari terakhir. Kau akan berlarian ke segala penjuru. Pengadilan tak dapat diterka. Sistem ini tak dapat diterka. Kau terus mengajukan petisi dan dalih pembelaan dan tahu benar semua itu takkan berhasil. Pers akan memburumu. Dan, yang paling penting, kau harus menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama klienmu. Itu pekerjaan gila dan semuanya gratis."

"Jadi, aku akan butuh bantuan?"

"Oh ya. Kau tak dapat melakukannya seorang diri. Ketika Maynard Tole dieksekusi, kami punya seorang pengacara dari Jackson dipasang di kantor Gubernur, satu di kantor panitera Mahkamah Agung di Jackson, satu di Washington, dan dua di death raw. Itulah sebabnya kau harus bertempur besok, Adam. Kau butuh biro hukum ini dan sumber dayanya. Kau tak dapat melakukannya seorang diri. Butuh suatu tim."

"Ini benar-benar pukulan telak."

"Aku tahu. Setahun yang lalu kau masih kuliah, sekarang kau dipecat. Aku tahu ini menyakitkan. Tapi percayalah padaku, Adam, ini cuma kebetulan. Ini takkan bertahan. Sepuluh tahun dari sekarang, kau akan jadi partner di biro hukum ini, dan kau akan meneror para associate muda,"

"Jangan bertaruh itu akan terjadi."

"Mari kita ke Chicago. Aku sudah punya dua tiket untuk penerbangan pukul tujuh seperempat. Kita akan tiba di Chicago pukul setengah sembilan, dan kita cari restoran yang bagus."

"Aku perlu mengambil pakaian."

"Baiklah. Temui aku di airport pukul setengah tujuh."

***

Urusan itu diselesaikan dengan efektif sebelum rapat mulai. Sebelas anggota Komite Personalia hadir, jumlah yang memadai untuk mencapai kuorum. Mereka berkumpul dalam perpustakaan tertutup di lantai enam puluh, mengelilingi meja panjang dengan bergalon-galon kopi di tengahnya. Mereka membawa berkas-berkas tebal, dictaphone portabel, dan agenda saku yang sudah penuh.

Salah satu membawa sekretarisnya; sekretaris itu duduk di gang dan bekerja mati-matian. Mereka orang-orang sibuk, cuma punya waktu kurang dari satu jam sebelum memasuki hari yang sibuk dengan konferensi tanpa akhir, rapat, brifing, deposition, sidang, telepon, dan jamuan makan siang penting. Sepuluh laki-laki, satu wanita, semua pada akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan, semua partner di K&B, semua tergesa-gesa untuk kembali ke meja kerja mereka yang penuh sesak.

Urusan mengenai Adam Hall merupakan gangguan menjengkelkan bagi mereka. Komite Personalia ini, sebenarnya merupakan gangguan menjengkelkan bagi mereka. Komite ini bukan salah satu di antara panel yang menyenangkan, tapi mereka telah terpilih sebagai anggotanya dan tak seorang pun berani menolak. Semuanya demi biro hukum ini. Bekerjasamalah!

Adam tiba di kantor pukul 07.30. Sudah sepuluh hari ia meninggalkannya, paling lama selama ini. Emmitt Wycoff telah menyerahkan pekerjaan Adam kepada associate muda lain. Tak pernah ada kekurangan pelonco di Kravitz & Bane.

Pukul 08.00 ia bersembunyi di ruang konferensi sempit yang tak terpakai di dekat perpustakaan lantai enam puluh. Ia gelisah, tapi berusaha keras menyembunyikannya. Ia meneguk kopi dan membaca koran pagi. Parchman ada di dunia lain. Ia mempelajari daftar lima belas nama dalam Komite Personalia, dan tak satu pun dikenalnya. Sebelas orang asing yang akan mempermainkan masa depannya selama satu jam mendatang, lalu cepat-cepat mengambil suara dan beranjak pada urusan lain yang lebih penting.

Wycoff muncul dan mengucapkan halo beberapa menit sebelum pukul 08.00. Adam mengucapkan terima kasih kepadanya untuk segalanya, minta maaf karena telah menimbulkan begitu banyak masalah, dan mendengarkan ketika Emmitt menjanjikan hasil yang cepat dan memuaskan.

Garner Goodman membuka pintu pada pukul 08 05. "Kelihatannya cukup bagus," katanya, nyaris berbisik. "Saat ini ada sebelas orang hadir. Kita mendapatkan komitmen sedikitnya dari lima orang. Tiga di antara pemihak Rosen ada di sini, tapi kelihatannya dia akan mendapatkan satu atau dua suara abstain."

"Apakah Rosen di sini?" tanya Adam, tahu jawabannya, tapi berharap mungkin bangsat tua itu mati dalam tidurnya

"Ya, tentu saja. Dan kupikir dia khawatir. Emmitt masih menelepon ke sana kemari pukul sepuluh tadi malam. Kita sudah mendapatkan suara, dan Rosen tahu itu." Goodman beranjak ke pintu dan menghilang.

Pada pukul 08.15, ketua membuka rapat dan mengumumkan kuorum. Pemecatan Adam Hall adalah satu-satunya pokok bahasan dalam agenda, sebenarnya satu-satunya alasan rapat istimewa ini diadakan. Emmitt Wycoff yang pertama bicara, dan dalam sepuluh menit berhasil menceritakan dengan bagus betapa hebatnya Adam. Ia berdiri di salah satu ujung meja di depan sederet rak buku dan berbicara santai, seolah-olah mencoba membujuk suatu dewan juri. Sedikitnya separo dari sebelas orang itu tak mendengarkan sepatah kata pun. Mereka memeriksa dokumen dan berkutat dengan kalender.

Garner Goodman yang berikutnya berbicara. Dengan cepat ia menyampaikan ringkasan kasus Sam Cayhall dan memberikan penilaian jujur bahwa dari segala sudut, Sam kemungkinan besar akan dieksekusi tiga minggu lagi. Kemudian ia membual tentang Adam, mengatakan ia mungkin keliru tidak mengungkapkan hubungannya dengan Sam, tapi peduli amat. Itu kejadian dulu, sekarang adalah sekarang. Saat ini jauh lebih penting bila klienmu cuma punya waktu tiga minggu untuk hidup.

Tak satu pun pertanyaan diajukan kepada Wycoff maupun Goodman. Pertanyaan-pertanyaan itu jelas disimpan untuk Rosen.

Pengacara punya ingatan panjang. Kau bisa menggorok leher seseorang hari ini, dan ia akan menunggu dengan sabar di tengah semak-semak selama bertahun-tahun, sampai ia bisa membalas hal itu. Daniel Rosen punya banyak jasa bertebaran di lorong-lorong Kravitz & Bane, dan sebagai pelaksana dia sedang dalam proses mengumpulkannya. Ia telah menginjak orang, orang-orangnya sendiri, selama bertahun-tahun. Ia penganiaya pembohong, bajingan keji.

Pada hari-hari kejayaannya, ia adalah jantung dan jiwa biro hukum itu, dan ia tahu itu. Tak seorang pun akan menantangnya. Ia mencerca associate-associate muda dan menyiksa sesama partner. Ia kasar terhadap komite-komite, tak mengindahkan kebijaksanaan firma, mencuri klien dari pengacara lain di Kravitz & Bane, dan sekarang dalam masa surut kariernya ia sedang menuai hasil perbuatannya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 51)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.