Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 5)

 The Chamber: Kamar Gas

Dan pada titik ini tak seorang pun akan percaya pada dongeng mendadak tentang adanya teroris baru yang misterius dan tak pernah disebut-sebut sebelumnya, yang datang dan pergi tanpa terlihat. Sam tahu, mengungkapkan Rollie Wedge adalah tindakan sia-sia, jadi ia tak pernah menyebut nama laki-laki itu kepada pengacaranya sendiri.

Pada penutupan sidang tersebut, David McAllister berdiri di hadapan Dewan Juri dalam ruang sidang yang penuh sesak dan menyajikan argumentasi penutupnya. Ia bicara tentang dirinya sebagai pemuda di Greenville yang memiliki sahabat-sahabat Yahudi. Ia tak tahu mereka berbeda. Ia kenal beberapa anggota keluarga Kramer, orang-orang baik yang bekerja keras dan banyak menyumbang pada kota itu. Ia juga bermain dengan anak-anak kecil kulit hitam, dan tahu mereka adalah sahabat-sahabat yang sangat baik. Ia tak pernah mengerti mengapa mereka pergi ke sekolah yang tidak sama dengannya.

Ia menceritakan kisah mencekam ketika merasakan bumi berguncang pada pagi hari tanggal 21 April 1967, dan berlari ke arah pusat kota yang penuh asap melayang-layang ke atas. Selama tiga jam ia berdiri di belakang barikade polisi dan menunggu. Ia melihat regu pemadam kebakaran hilir-mudik ketika mereka menemukan Marvin Kramer. Ia melihat mereka berkerumun di reruntuhan ketika menemukan anak-anak. Air mata menitik ke pipinya ketika tubuh-tubuh kecil itu dibungkus seprai putih lalu perlahan dibawa ke ambulans.

Penampilan McAllister sangat bagus. Setelah ia selesai, ruang sidang itu sunyi senyap. Beberapa anggota juri menyeka mata mereka.

Pada tanggal 12 Februari 1981, Sam Cayhall diputuskan bersalah melakukan dua pembunuhan terencana dan satu percobaan pembunuhan. Dua hari kemudian, dewan juri yang sama dalam sidang itu kembali dengan vonis hukuman mati. Ia dibawa ke penjara negara di Parchman, untuk mulai menunggu janji pertemuannya dengan kamar gas. Pada tanggal 19 Februari 1981, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di penjara penantian hukuman mati.

~ 6 ~

Biro hukum Kravitz & Bane memiliki hampir tiga ratus pengacara yang bekerja bersama dengan damai di bawah satu atap di Chicago. Tepatnya ada 286 orang, meskipun sulit bagi siapa pun untuk mencatat angkanya, sebab setiap saat ada satu-dua lusin yang meninggalkannya karena berbagai macam alasan, dan selalu ada dua atau tiga lusin anggota baru yang segar dan mengilat, dilatih dan dipoles serta begitu gatal bertempur.

Dan meskipun besar, Kravitz & Bane gagal melakukan permainan ekspansi secepat lainnya, dan gagal menelan biro hukum yang lebih lemah di kota-kota lain, terlalu lamban merampas klien dari pesaingnya, dan dengan demikian terpaksa hanya menjadi biro hukum terbesar nomor tiga di Chicago. Mereka punya kantor di enam kota, namun sungguh memalukan bagi partner-partner yang lebih muda karena tidak ada alamat London di kepala suratnya.

Kendati sudah agak melunak, Kravitz & Bane masih dikenal sebagai biro hukum yang ganas dalam mengurus perkara peradilan. Mereka punya departemen-departemen yang lebih jinak untuk urusan real estate, pajak, dan antitrust, tapi uangnya dihasilkan dari membela perkara.

Bila biro hukum itu merekrut orang, mereka mencari mahasiswa tahun ketiga yang paling cemerlang dengan nilai tertinggi dalam sidang simulasi dan debat. Mereka menginginkan laki-laki muda (perempuan sebagai pajangan di sana-sini) yang bisa langsung dilatih gaya pukul dan serang yang sudah disempurnakan bertahun-tahun yang lalu oleh para pembela perkara pidana di Kravitz & Bane.

Ada satu unit yang nyaman tapi kecil untuk menguras korban kecelakaan, bisnis bagus dari mana mereka mengambil lima puluh persen dan memberikan sisanya kepada klien mereka. Ada satu bagian yang cukup besar untuk menangani kejahatan kerah putih, tapi terdakwa kerah putih itu butuh penghasilan cukup besar juga untuk bisa memakai Kravitz & Bane. Kemudian ada dua bagian yang paling besar, satu untuk perkara sengketa dagang dan satu untuk perkara asuransi.

Dengan perkecualian pada pengaduan kepada pihak yang berwajib, dan dalam persentasenya bagian itu nyaris tidak berarti, uang biro hukum itu diperoleh dari tagihan per jam. Dua ratus dolar per jam untuk perkara asuransi; lebih besar lagi bila para kliennya bisa membayar. Tiga ratus dolar untuk pembelaan kasus pidana. Empat ratus dolar untuk bank besar. Bahkan lima ratus dolar per jam untuk perusahaan kaya raya dengan pengacara sendiri yang malas dan tertidur-tidur di dalam kendaraan.

Kravitz & Bane mencetak uang tiap jam dan membangun sebuah dinasti di Chicago. Kantor-kantor mereka bergaya, tapi tidak mewah. Mereka menempati lantai-lantai teratas gedung tertinggi nomor tiga di pusat kota.

Seperti kebanyakan biro hukum besar, mereka memperoleh uang begitu banyak, sehingga merasa wajib membentuk satu bagian pro bono kecil untuk memenuhi tanggung jawab moral kepada masyarakat. Mereka cukup bangga mempunyai partner full-time untuk bagian pro bono ini, seorang eksentrik yang baik hati bernama E. Garner Goodman, yang memiliki kantor luas dengan dua sekretaris di lantai 61.

Ia dibantu seorang paralegal yang juga bekerja untuk partner litigasi. Brosur biro hukum itu, yang dicetak timbul dengan tinta emas, menonjolkan fakta bahwa pengacara-pengacaranya didorong untuk mendapatkan proyek-proyek pro bono.

Brosur itu menyatakan bahwa tahun lalu, 1989, para pengacara Kravitz & Bane menyumbangkan 60.000 jam dari waktu mereka yang berharga kepada klien-klien yang tak mampu membayar. Anak-anak telantar, terpidana mati, pendatang asing ilegal, pecandu obat bius, dan sudah tentu biro hukum itu sangat prihatin dengan nasib buruk para tunawisma.

Brosur itu bahkan mencantumkan foto dua pengacara muda, tanpa jas, dengan lengan kemeja tergulung, dasi dikendurkan di sekitar leher, keringat di ketiak, mata penuh belas kasih sewaktu mereka melakukan pekerjaan kasar di tengah sekelompok anak golongan minoritas di tempat yang tampak seperti tempat pembuangan sampah kota. Pengacara menyelamatkan masyarakat.

***

Adam Hall membawa satu brosur itu dalam berkas tipisnya ketika berjalan perlahan-lahan di gang lantai 61, menuju kantor E. Garner Goodman. Ia mengangguk dan bicara dengan seorang pengacara muda lain yang belum pernah dijumpainya sebelumnya. Pada pesta Natal biro hukum itu, tanda pengenal dibagikan di depan pintu. Beberapa partner nyaris tidak kenal satu sama lain. Sejumlah associate cuma bertemu sekali-dua kali setahun.

Ia membuka pintu dan memasuki sebuah ruangan sempit. Seorang sekretaris berhenti mengetik dan nyaris tersenyum. Ia minta bertemu dengan Mr. Goodman, dan sang sekretaris mengangguk sopan pada sederet kursi tempat ia harus menunggu. Ia lima menit terlalu pagi untuk janji pertemuan pukul 10.00, seolah-olah hal itu penting. Ini bagian pro bono. Lupakan jam. Lupakan tagihan. Lupakan bonus prestasi. Bertentangan dengan seluruh bagian lain dari biro hukum itu, Goodman tidak memasang jam pada dinding-dindingnya.

Adam membalik-balik berkasnya. Ia tertawa kecil melihat brosur itu. Ia membaca lagi resumenya—college di Pepperdine, sekolah hukum di Michigan, editor buletin hukum, artikel tentang hukuman yang kejam dan luar biasa, komentar-komentar tentang kasus hukuman mati terakhir. Resume ini agak pendek, tapi bagaimanapun juga ia baru 26 tahun. Ia sudah bekerja di Kravitz & Bane selama sembilan bulan sekarang.

Ia membaca dan membuat catatan dari amar keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang panjang-lebar tentang eksekusi di California. Ia melirik jam tangan dan membaca lebih lanjut. Sekretaris itu akhirnya menawarkan kopi, yang ditolaknya dengan sopan.

***

Kantor E. Garner Goodman kacau-balau dan mencengangkan. Kantor itu luas, tapi penuh sesak dengan rak-rak buku yang melengkung pada setiap dinding; tumpukan berkas berdebu menutupi lantai. Tumpukan-tumpukan kecil kertas segala macam ukuran menutupi meja di tengah kantor tersebut. Surat penolakan, sampah, dan surat-surat hilang menutupi permadani di bawah meja kerja itu. Kalau tirai kayunya tidak tertutup, jendela besarnya bisa menampilkan pemandangan Danau Michigan yang indah, tapi jelas Mr. Goodman tak pernah menghabiskan waktu di depan jendelanya.

Ia seorang laki-laki tua dengan jenggot kelabu yang rapi dan rambut kelabu lebat. Kemeja putihnya dikanji kaku. Sebuah dasi kupu sutra, ciri khasnya, diikatkan tepat di bawah dagu. Adam memasuki ruangan dan dengan hati-hati berkelok-kelok di antara tumpukan kertas. Goodman tidak berdiri, tapi mengangsurkan tangan dengan salam dingin.

Adam mengangsurkan berkas itu kepada Goodman dan duduk di satu-satunya kursi kosong. Ia menunggu dengan gelisah sementara berkas itu diteliti. Goodman membelai jenggotnya pelan, dasinya dipegang-pegang sembarangan.

"Mengapa kau ingin melakukan pekerjaan pro bono?” Goodman bergumam sesudah keheningan yang panjang. Ia tak mengangkat muka dari berkas itu. Musik gitar klasik mengalun lembut dari speaker di ceruk langit-langit.

Adam bergeser tidak nyaman. "Uh, ada beberapa alasan."

"Coba kuterka. Kau ingin mengabdi demi kemanusiaan, memberikan bakti kepada masyarakatmu, atau mungkin kau merasa bersalah menghabiskan begitu banyak waktu di tempat pemeras keringat yang menagih berdasarkan kerja per jam, sehingga kau ingin membersihkan jiwamu, mengotori tanganmu, melakukan pekerjaan jujur, dan membantu orang lain." Mata Goodman yang biru memandang Adam tajam dari atas kacamata baca berbingkai hitam yang bertengger di ujung hidungnya yang mancung. "Salah satu di antara tadi?"

"Bukan."

Goodman melanjutkan memeriksa berkas itu. "Jadi selama ini kau ditugaskan di bawah Emmitt Wycoff?" Ia membaca sepucuk surat dari Wycoff, partner pembimbing Adam.

"Ya, Sir."

"Dia pengacara bagus. Aku tidak begitu memperhatikannya, tapi dia punya otak kriminal yang hebat, kau tahu? Salah satu di antara tiga bocah kerah putih kita yang paling top. Tapi orangnya agak kasar, bukan begitu menurutmu?"

"Dia baik."

"Berapa lama kau bekerja padanya?"

"Sejak saya mulai. Sembilan bulan yang lalu."

"Kau sudah sembilan bulan di sini?"

"Ya, Sir."

"Bagaimana pendapatmu tentang firma ini?" Goodman menutup berkas dan menatap Adam. Perlahan-lahan ia menanggalkan kacamata bacanya dan memasukkan satu batangnya ke dalam mulut.

"Sejauh ini, saya menyukainya. Menantang."

"Tentu saja. Mengapa kau memilih Kravitz & Bane? Maksudku, dengan catatan prestasimu, kau sebenarnya bisa pergi ke mana saja. Mengapa ke sini?"

"Perkara pidana. Itulah yang saya inginkan, dan biro hukum ini punya reputasi."

"Berapa banyak penawaran yang kaudapatkan? Ayolah, aku cuma ingin tahu."

"Beberapa."

"Dan dari mana tawaran itu?"

"Terutama dari D.C. Satu dari Denver. Saya tidak berwawancara dengan biro hukum dari New York."

"Berapa besar gaji yang kami tawarkan kepadamu?"

Adam bergeser lagi. Goodman, bagaimanapun juga, adalah seorang partner. Sudah tentu ia tahu berapa yang dibayarkan biro hukum itu kepada associate baru. "Enam puluh lebih. Berapa yang dibayarkan kepada Anda?"

Ini membuat laki-laki tua itu geli, dan untuk pertama kalinya ia tersenyum. "Mereka membayarku 400.000 dolar setahun untuk membagikan waktu mereka, sehingga mereka bisa menepuk pundak sendiri dan berkhotbah tentang pengacara dan tanggung jawab sosial. Empat ratus ribu, bisa kaupercaya?"

Adam sudah mendengar kabar angin. "Anda tidak mengeluh, bukan?"

"Tidak. Aku pengacara paling beruntung di kota ini, Mr. Hall. Aku mendapat setumpuk uang untuk melakukan pekerjaan yang kusukai, dan aku tidak mencatat waktu kerja, juga tidak khawatir mengajukan tagihan. Ini impian pengacara. Itulah sebabnya aku masih bekerja enam puluh jam seminggu. Aku sudah hampir tujuh puluh, kau tahu."

Menurut legenda di seputar biro hukum itu, Goodman selagi muda pernah jatuh di bawah tekanan dan nyaris bunuh diri dengan minuman keras dan pil. Ia menghentikan kebiasaan minum selama setahun ketika istrinya membawa anak-anaknya dan meninggalkannya, kemudian ia meyakinkan para partner bahwa dirinya cukup berharga untuk dipertahankan. Ia cuma butuh sebuah kantor tempat kehidupan tidak berputar sekitar jam.

"Pekerjaan apa yang kaulakukan untuk Emmitt Wycoff?" tanya Goodman.

"Banyak penelitian. Saat ini dia membela segerombolan kontraktor, dan itu menghabiskan sebagian besar waktu saya. Saya memperdebatkan sebuah mosi di pengadilan minggu lalu." Adam mengucapkan ini dengan nada bangga. Orang baru biasanya dirantai di meja kerja mereka selama dua belas bulan pertama.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.