Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 48)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam duduk di bangku, menatap patung itu dan membenci kakeknya. Ia merasa bersalah karena berada di Mississippi, mencoba membantu si bangsat tua.

Adam menemukan Hotel Holiday Inn dan membayar satu kamar. Ia menelepon Lee dan melaporkan keadaannya, lalu menyaksikan acara malam di saluran Jackson. Jelas hari itu cuma hari musim panas yang lesu di Mississippi, dengan sedikit kejadian Sam Cayhall dan usaha terakhirnya untuk bertahan hidup menjadi topik hangat.

Setiap stasiun pemancar menayangkan komentar-komentar suram dari Gubernur dan Jaksa Penuntut tentang petisi terbaru untuk meminta keringanan yang diajukan pembela pagi ini. Masing-masing sudah muak dan bosan dengan berbagai pembelaan banding yang tak ada ujungnya, dan masing-masing akan bertempur dengan gagah berani untuk menuntaskan masalah ini sampai keadilan terwujud.

Satu stasiun sudah memulai hitungan mundurnya sendiri—23 hari sampai eksekusi, penyiar mengoceh, seolah-olah menghafalkan hari-hari yang ia temui untuk berbelanja sampai tiba Hari Natal. Angka 23 juga ditempelkan di bawah foto Sam Cayhall yang sudah begitu banyak dipakai.

Adam makan malam di kafe kecil di pusat kota. Ia duduk seorang diri di mejanya, mengunyah daging sapi bakar dan kacang polong, mendengarkan percakapan santai di sekitarnya. Tak seorang pun menyebut-nyebut Sam.

Di waktu senja, ia berjalan menyusuri trotoar di depan toko-toko dan membayangkan Sam mondar-mandir di jalan yang sama, di beton yang sama, menunggu bom meledak dan bertanya-tanya dalam hati apa yang keliru, berhenti di samping sebuah telepon umum, mungkin telepon sama yang hendak dipakai Sam untuk menelepon dan memperingatkan Kramer.

Taman itu sepi dan gelap. Dua lampu jalan berdiri di depan gerbang, menyediakan satu-satunya cahaya. Adam duduk di bawah patung, di bawah anak-anak itu, di bawah pelat kuningan dengan nama dan tanggal lahir serta kematian mereka. Di tempat inilah, pelat itu mengatakan mereka tewas.

Lama ia duduk di sana, tak menyadari kegelapan, memikirkan yang tak terpikirkan, menghamburkan waktu dengan pertimbangan tanpa hasil tentang apa yang mungkin telah terjadi. Bom itu telah menggariskan hidupnya, ia tahu itu. Bom itu telah membawanya pergi dari Mississippi dan menyimpannya di dunia lain dengan nama baru; telah mengubah orangtuanya menjadi pengungsi, melarikan diri dari masa lalu dan bersembunyi dari masa kini.

Kemungkinan besar bom itu pulalah yang telah membunuh ayahnya, meski tak seorang pun dapat memperkirakan apa yang mungkin terjadi pada Eddie Cayhall. Bom tersebut memainkan peran utama dalam keputusan Adam untuk menjadi pengacara, suatu panggilan yang tak pernah ia rasakan sampai ia tahu tentang Sam. Ia dulu bermimpi menerbangkan pesawat.

Dan sekarang bom itu menuntunnya kembali ke Mississippi, dalam usaha melakukan pertolongan dengan dibebani kepedihan dan sedikit harapan. Sangat besar kemungkinan bom itu akan menyeret korban terakhir dalam 23 hari lagi, dan Adam bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah itu.

Apa lagi yang masih tersimpan di balik bom itu untuk dirinya?

~ 23 ~

Kebanyakan pleidoi dalam kasus hukuman mati terseret-seret selama bertahun-tahun dengan kecepatan seperti siput. Siput yang sangat tua. Tak seorang pun bergegas. Masalahnya rumit. Brief, mosi, petisi, dan lain-lain, semuanya tebal dan berat. Berkas perkara pengadilan penuh sesak oleh urusan yang lebih mendesak.

Namun sekali-sekali keputusan bisa turun dengan kecepatan mencengangkan. Keadilan bisa jadi luar biasa efisien. Terutama pada hari-hari yang makin menyusut, ketika tanggal eksekusi telah ditetapkan dan pengadilan sudah muak dengan mosi lain, dalih pembelaan lain. Adam menerima dosis pertama keadilan kilat itu ketika sedang berkelana menyusuri jalanan Greenville Senin sore.

Mahkamah Agung Mississippi menengok sekali pada petisinya yang memohon peringanan hukuman pascavonis, dan menolaknya sekitar pukul 17.00 hari Senin. Adam baru saja tiba di Greenville dan tidak tahu-menahu tentang hal itu. Penolakan itu jelas bukan kejutan, namun kecepatannya benar-benar suatu kejutan. Pengadilan menyimpan petisi itu tak lebih dari delapan jam. Dengan segala keadilan, pengadilan telah berurusan dengan Sam Cayhall putus-sambung selama sepuluh tahun lebih.

Pada hari-hari terakhir dalam kasus hukuman mati, pengadilan saling mengawasi dengan cermat. Copy pengajuan pleidoi dan keputusan dikirim dengan fax, sehingga pengadilan yang lebih tinggi tahu apa yang bakal datang. Penolakan Mahkamah Agung Mississippi secara rutin dikirim dengan fax kepada pengadilan distrik federal di Jackson, forum berikutnya bagi Adam. Pleidoi itu dikirimkan kepada Hakim F. Flynn Slattery, hakim federal muda yang baru saja menjabat sebagai hakim. Ia belum terlibat dalam pleidoi perkara Cayhall.

Kantor Hakim Slattery mencoba mencari Adam Hall antara pukul 17.00 dan 18.00 hari Senin, tapi ia sedang duduk-duduk di Kramer Park. Slattery menelepon Jaksa Agung, Steve Roxburgh, dan pada pukul 20.30 sebuah rapat pendek berlangsung di kantor Hakim. Sang Hakim kebetulan pecandu kerja, dan ini kasus hukuman mati pertama baginya. Ia dan paniteranya mempelajari petisi itu sampai tengah malam.

Seandainya menyaksikan berita malam hari Senin, Adam tentu tahu petisinya telah ditolak Mahkamah Agung. Tapi ia sudah tertidur lelap.

Selasa pagi pukul 06.00, dengan santai ia mengambil koran Jackson dan mengetahui Mahkamah Agung telah menolak petisinya, dan urusan itu sekarang sudah sampai ke pengadilan federal, diserahkan pada tanggung jawab Hakim Slattery, Jaksa Agung maupun Gubernur menyatakan akan memperoleh kemenangan lagi.

Aneh, pikirnya, sebab ia belum lagi mengajukan apa pun secara resmi ke pengadilan federal. Ia melompat ke dalam mobil dan memacunya ke Jackson, dua jam dari sana. Pukul 09.00 ia memasuki gedung pengadilan federal di Capitol Street di tengah kota, dan sejenak menemui Breck Jefferson, seorang laki-laki muda tanpa senyum, baru saja lepas dari sekolah hukum dan menduduki posisi penting sebagai panitera Slattery. Adam diperintahkan kembali pukul 11.00 untuk rapat dengan sang Hakim.

Meskipun ia tiba di kantor Slattery pukul 11.00 tepat, jelas ada rapat yang sudah berlangsung beberapa lama. Di tengah kantor Slattery yang luas ada meja rapat dari kayu mahoni yang panjang dan lebar, dengan delapan kursi kulit di setiap sisi. Singgasana Slattery terletak di salah satu ujung, dekat meja kerjanya, dan di meja di hadapannya ada tumpukan dokumen, buku-buku, dan kertas-kertas lain. Di sebelah kanannya ada kerumunan laki-laki muda kulit putih dalam jas biru tua, semuanya berkerumun di sepanjang meja, bersama sederet ksatria lain yang penuh semangat duduk dekat di belakangnya.

Sisi ini milik negara, dengan Yang Mulia, sang Gubernur, Mr. David McAllister, duduk paling dekat dengan Slattery. Yang Mulia, Jaksa Agung, Steve Roxburgh, tersisih ke tengah meja, jelas kalah dalam perebutan kedudukan. Setiap abdi masyarakat terkemuka itu membawa pemikir dan ahli hukum paling terpercaya ke meja itu, dan satu skuadron perancang strategi ini jelas telah berapat dengan sang Hakim dan menyusun rencana jauh sebelum Adam tiba.

Breck, sang panitera, membuka pintu dan menyambut Adam dengan cukup ramah, kemudian memintanya masuk. Ruangan itu langsung sepi ketika Adam perlahan-lahan mendekati meja Slattery dengan enggan bangkit dari kursi dan memperkenalkan diri pada Adam. Jabatan tangannya dingin dan ringan.

"Silakan duduk," katanya tak ramah, mengibaskan tangan kirinya ke arah delapan kursi kulit di sisi meja untuk pembela. Adam sangsi, lalu memilih yang terletak tepat di seberang wajah yang dikenalinya sebagai Roxburgh. Ia meletakkan tas kerjanya di meja, dan duduk. Di sebelah kanannya, ke arah Slattery, ada empat kursi kosong dan di sebelah kirinya ada tiga kursi. Ia merasa dirinya bagaikan pelanggar wilayah orang lain yang kesepian.

"Saya kira Anda sudah mengenal Gubernur dan Jaksa Agung," kata Slattery, seolah-olah setiap orang sudah pernah bertemu secara pribadi dengan dua orang ini.

"Tak satu pun," kata Adam, menggelengkan kepala sedikit.

"Saya David McAllister, Mr. Hall, senang berjumpa dengan Anda," kata Gubernur cepat-cepat, seperti layaknya politisi ramah bertangan terbuka, dengan kilatan luar biasa cepat dari gigi tanpa cacat.

"Senang berjumpa dengan Anda," kata Adam, hampir tidak menggerakkan bibir.

"Dan saya Steve Roxburgh," kata Jaksa Agung. Adam cuma mengangguk kepadanya. Ia sudah pernah melihat wajahnya di surat kabar.

Roxburgh mengambil inisiatif. Ia mulai bicara dan menunjuk orang-orang itu. "Ini para pengacara dari Divisi Banding Pidana Kevin Laird, Bart Moody, Morris Henry, Hugh Simms, dan Joseph Ely. Mereka menangani semua kasus hukuman mati." Mereka semua mengangguk patuh sambil mempertahankan kernyit curiga. Adam menghitung ada sebelas orang di sisi lain meja itu.

McAllister memilih tidak memperkenalkan gerombolan pembantunya, yang semua sedang menderita sakit kepala atau hemorrhoid. Wajah mereka bersungut-sungut karena kesakitan, atau mungkin karena seriusnya pertimbangan urusan hukum di depan mata.

"Semoga kami tidak mulai terlalu awal, Mr. Hall," Slattery berkata sambil memasang kacamata baca di hidungnya. Ia berumur awal empat puluhan, salah satu orang pilihan Reagan yang masih muda. "Kapan Anda berniat mengajukan petisi Anda secara resmi di pengadilan federal ini?"

"Hari ini," kata Adam gelisah, masih tercengang dengan kecepatan semua ini. Tapi ini perkembangan positif, demikian ia memutuskan ketika mengemudi ke Jackson. Apabila Sam mendapatkan keringanan, itu akan diperolehnya dari pengadilan federal, bukan dari pengadilan negara bagian.

"Kapan pihak negara bagian bisa memberikan jawaban?" sang Hakim bertanya pada Roxburgh.

"Besok pagi, dengan anggapan petisi di sini mengemukakan persoalan yang sama seperti yang diajukan ke Mahkamah Agung."

"Persoalannya sama," kata Adam pada Roxburgh, lalu ia menoleh pada Slattery. "Saya disuruh ke sini pukul sebelas. Pukul berapa rapat mulai?"

"Rapat dimulai bila saya memutuskan mulai, Mr. Hall," kata Slattery dingin. "Anda ada masalah dengan itu?"

"Ya. Jelas rapat ini sudah dimulai sejak tadi, tanpa saya."

"Apa salahnya? Ini kantor saya, dan saya akan memulai rapat kapan saja saya inginkan."

"Yeah, tapi itu petisi saya, dan saya diundang ke sini untuk membahasnya. Rasanya saya harus berada di sini selama seluruh rapat."

"Anda tidak mempercayai saya, Mr. Hall?" Slattery beringsut ke depan bertelekan siku, sepenuhnya menikmati ini.

"Saya tidak mempercayai siapa pun," kata Adam, menatap sang Hakim.

"Kami mencoba mempermudah pekerjaan Anda, Mr. Hall. Klien Anda tidak punya banyak waktu, dan saya cuma mencoba mempercepat segalanya. Saya pikir Anda akan senang kami bisa mengatur rapat ini dengan kecepatan seperti itu."

"Terima kasih," kata Adam, dan memandang buku tulisnya. Suasana hening sejenak ketika ketegangan sedikit mengendur.

Slattery memegang sehelai kertas. "Ajukanlah petisi itu hari ini. Negara bagian akan menyatakan tanggapannya besok. Saya akan menimbangnya selama akhir pekan dan mengeluarkan keputusan pada hari Senin. Apabila saya putuskan mengadakan sidang dengar pendapat, saya perlu tahu dari dua belah pihak, berapa lama waktu yang diperlukan untuk persiapan. Bagaimana dengan Anda, Mr. Hall? Berapa lama untuk bersiap menghadapi sidang dengar pendapat?"

Sam punya waktu 22 hari untuk hidup. Sidang dengar pendapat apa pun harus dilakukan secepatnya, perkara ringkas dengan saksi-saksi cepat dan, ia berharap, keputusan kilat pengadilan. Menambah tekanan pada saat ini adalah fakta bahwa Adam tak tahu berapa lama yang diperlukan untuk bersiap menghadapi sidang dengar pendapat, sebab ia belum pernah mencoba urusan macam itu. Ia pernah berperan serta dalam beberapa pertempuran kecil di Chicago, tapi selalu bersama Emmitt Wycot di dekatnya. Ia cuma pelonco, sialan! Ia bahkan tak tahu dengan tepat lokasi ruang sidang.

Dan sesuatu mengatakan padanya bahwa sebelas burung pemangsa yang sedang mengamatinya saat ini tahu benar bahwa ia tak tahu apa yang ia lakukan. "Saya bisa siap dalam seminggu," katanya dengan wajah poker yang mantap dan keyakinan sebanyak yang bisa ia kerahkan.

"Baik," kata Slattery, seakan-akan mengatakan ini boleh juga, jawaban bagus, Adam, bocah baik. Seminggu cukup memadai. Kemudian Roxburgh membisikkan sesuatu kepada salah satu prajuritnya dan seluruh kelompok tersebut merasa itu menggelikan. Adam tak menghiraukan mereka.

Slattery menuliskan sesuatu, lalu mengamatinya. Ia memberikannya kepada Breck, si panitera, yang memperhatikannya dengan cermat dan beranjak cepat untuk melakukan sesuatu yang lain dengannya. Yang Mulia memandang sepanjang dinding sebelah kanannya yang penuh dengan pasukan hukum, lalu menjatuhkan tatapan pada Adam muda.

"Sekarang, Mr. Hall, ada hal lain yang ingin saya bahas. Seperti Anda ketahui, eksekusi ini dijadwalkan untuk dilaksanakan 22 hari lagi, dan saya ingin tahu apakah pengadilan ini akan menerima dalih pembelaan lain atas nama Mr. Cayhail. Saya tahu ini pertanyaan yang luar biasa, tapi kita di sini bekerja dalam situasi yang luar biasa. Terus terang, ini keterlibatan pertama saya dalam kasus hukuman mati yang sudah sejauh ini, dan saya pikir paling baik kalau kita semua bekerja sama di sini."

“Dengan kata lain, Yang Mulia, Anda ingin memastikan takkan ada penundaan.” Adam berpikir sejenak. Permintaan itu luar biasa dan agak tidak adil. Tapi Sam punya hak konstitusional untuk mengajukan apa saja kapan saja, dan Adam tak dapat diikat dengan janji-janji yang dibuat di sini. Ia memutuskan bersikap sopan. "Saya sungguh tak bisa mengatakannya, Yang Mulia. Tidak sekarang. Mungkin minggu depan."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 49)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.