Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 49)

 The Chamber: Kamar Gas

"Tentu saja Anda akan mengajukan banding seperti biasanya," kata Roxburgh. Bangsat-bangsat yang menyeringai di sekelilingnya semua memandang Adam dengan tampang tercengang.

"Terus terang, Mr. Roxburgh, saya tidak diwajibkan merundingkan rencana saya dengan Anda. Atau dengan pengadilan sekalipun."

"Tentu saja tidak," McAllister menyela karena suatu alasan, mungkin cuma karena tak mampu berdiam diri lebih dari lima menit.

Adam memperhatikan pengacara yang duduk di sebelah kanan Roxburgh, jenis teratur dengan mata dingin yang jarang meninggalkan Adam. Ia masih muda tapi beruban, bercukur bersih dan sangat rapi. McAllister sangat menyukainya, dan beberapa kali memiringkan tubuh ke kanan, seolah-olah menerima nasihat. Yang lain dari kantor Jaksa Agung tampaknya juga ikut menyetujui pemikiran dan gerakannya.

Ada satu referensi di antara ratusan artikel yang dikumpulkan dan disusun Adam tentang seorang ahli hukum tenar di kantor Jaksa Agung yang dikenail sebagai Dr. Death, burung yang pandai dengan kegemaran mendesakkan kasus-kasus hukuman mati sampai pada kesimpulannya. Nama pertama atau entah nama terakhirnya adalah Morris, dan Adam samar-samar teringat pada seorang Morris entah siapa, yang disebut beberapa saat tadi ketika Roxburgh memperkenalkan stafnya.

Adam menduga ia Dr. Death yang keji. Namanya Morris Henry.

"Nah, kalau begitu, bergegas dan ajukanlah," kata Slattery jengkel. "Saya tak ingin bekerja 24 jam sehari saat urusan ini sampai pada titik genting."

"Tidak, Sir," kata Adam, pura-pura bersimpati. Slattery menatapnya sejenak dengan pandangan tajam, lalu kembali pada tulis-menulis di depannya.

"Baiklah. Saudara-saudara, saya sarankan Anda sekalian berada di dekat telepon Minggu malam dan Senin pagi. Saya akan menelepon segera setelah mengambil keputusan. Pertemuan ini dibubarkan."

Persekongkolan bubar disertai kebisingan dokumen-dokumen dan berkas-berkas yang diambil dari meja serta dengung percakapan yang tiba-tiba. Adam berada paling dekat ke pintu. Ia mengangguk pada Slattery, dengan lemah mengucapkan “Selamat siang, Yang Mulia," dan meninggalkan kantor itu. Ia melontarkan senyum sopan kepada sekretaris dan beranjak ke lorong ketika seseorang memanggil namanya. Ternyata Gubernur, dengan dua bawahan membuntuti.

"Bisakah kita bicara sebentar?" McAllister bertanya sambil mengangsurkan sebelah tangan ke pinggang Adam. Mereka berjabatan sebentar.

"Tentang apa?"

"Cuma lima menit, oke?" Adam melihat ajudan Gubernur menunggu dalam jarak beberapa meter.

"Sendirian. Pribadi. Dan off the record" katanya.

"Tentu," kata McAllister, lalu menunjuk ke pintu ganda. Mereka melangkah ke dalam ruang sidang kecil kosong dengan lampu-lampu padam. Tangan Gubernur tidak memegang apa-apa. Ada orang lain yang membawakan koper dan tas kerjanya. Ia menyisipkan tangannya dalam-dalam ke saku dan bersandar pada jerjak. Ia ramping dan berpakaian bagus, jas indah, dasi sutra bergaya, kemeja katun putih wajib. Ia belum lagi empat puluh tahun dan beranjak tua dengan baik. Cuma sedikit uban menghiasi pelipisnya. "Bagaimana keadaan Sam?" ia bertanya, pura-pura menunjukkan keprihatinan yang dalam.

Adam mendengus, memalingkan wajah, lalu meletakkan tasnya di lantai. "Oh, keadaannya baik sekali. Akan saya katakan padanya Anda menanyakannya. Dia akan senang."

"Saya dengar kesehatannya buruk."

"Kesehatan? Anda sedang mencoba membunuhnya. Bagaimana Anda bisa mengkhawatirkan kesehatannya?"

"Cuma mendengar desas-desus."

"Dia membenci Anda, oke? Kesehatannya buruk, tapi dia bisa bertahan sampai tiga minggu lagi."

"Kebencian bukan sesuatu yang baru bagi Sam, Anda tahu."

"Sebenarnya apa yang ingin Anda bicarakan?"

"Cuma ingin menyampaikan salam. Saya yakin tak lama lagi kita akan bertemu kembali."

"Dengar, Gubernur, saya sudah menandatangani kontrak dengan klien saya yang secara tegas melarang saya bicara dengan Anda. Saya ulangi, dia benci Anda. Andalah penyebab dia ada di death raw. Dia menyalahkan Anda atas segalanya, dan kalau tahu kita sekarang bicara, dia akan memecat saya."

"Kakek Anda sendiri akan memecat Anda?"

"Ya. Saya benar-benar mempercayainya. Jadi, kalau besok saya membaca di koran bahwa Anda menemui saya hari ini dan kita bicara tentang Sam Cayhall, saya akan terpaksa kembali ke Chicago, dan itu mungkin akan mengacaukan eksekusi Anda, sebab Sam takkan punya pengacara. Tak bisa membunuh orang bila dia tak punya pengacara."

"Kata siapa?"

"Pokoknya jangan diributkan, oke?"

"Anda boleh pegang ucapan saya. Tapi kalau kita tak bisa bicara, bagaimana kita membahas masalah pengampunan?"

"Entahlah. Saya belum lagi sampai ke titik itu.”

Wajah McAllister selalu menyenangkan. Senyum ramahnya selalu tersungging atau tampak samar-samar. "Anda sudah memikirkan pengampunan, bukan?"

"Ya. Dengan tiga minggu tersisa, saya sudah memikirkan pengampunan. Setiap terpidana mati memimpikan pengampunan, Gubernur, dan itulah sebabnya Anda tak bisa memberikannya. Anda mengampuni satu narapidana, dan Anda akan dikerumuni lima puluh lainnya, meminta keputusan yang sama. Lima puluh keluarga menulis surat dan menelepon siang-malam. Lima puluh pengacara mengusik dan berusaha masuk ke kantor Anda. Anda dan saya tahu, itu tak bisa dilakukan."

"Saya tidak yakin dia harus mati." Ia mengucapkan ini sambil berpaling, seolah-olah terjadi perubahan hati, seolah-olah waktu bertahun-tahun telah membuatnya matang dan melunakkan kegigihannya untuk menghukum Sam. Adam hendak mengucapkan sesuatu, lalu menyadari besarnya pengaruh kata-kata terakhir ini. Semenit ia menatap lantai, memusatkan perhatian pada pantofel berjumbai milik sang Gubernur. Gubernur tenggelam dalam pikiran.

“Saya pun tidak yakin dia harus mati," kata Adam.

"Berapa banyak yang sudah dia ceritakan pada Anda?"

“Tentang apa?"

“Tentang pengeboman Kramer."

"Dia mengatakan sudah menceritakan segalanya."

"Tapi Anda ragu?"

"Ya."

"Begitu juga saya. Saya selalu punya kesangsian."

"Kenapa?"

"Ada banyak alasan. Jeremiah Dogan adalah pembohong terkenal, dan dia ketakutan setengah mari harus masuk penjara. IRS menangkapnya basah, Anda tahu, dan dia yakin bila masuk penjara, dia akan diperkosa, disiksa, dan dibunuh geng orang-orang kulit hitam. Dia adalah Imperial Wizard, Anda tahu. Dogan juga tak tahu-menahu tentang banyak bal. Dia licin dan sulit ditangkap bila melakukan terorisme, tapi dia tidak memahami sistem peradilan pidana. Saya selalu curiga ada seseorang, mungkin FBI, mengatakan pada Dogan bahwa Sam harus dipidana, atau mereka akan mengirimnya ke penjara. Tak ada vonis bersalah, tak ada kesepakatan. Dia saksi yang bersemangat di mimbar. Dia mati-matian menginginkan juri menjatuhkan vonis bersalah pada Sam."

"Jadi, dia bohong?"

"Saya tidak tahu. Mungkin."

"Tentang apa?"

"Pernahkah Anda menanyai Sam apakah dia punya asisten?"

Adam berhenti sedetik dan menganalisis pertanyaan itu. "Saya benar-benar tak bisa membicarakan apa yang telah saya bicarakan dengan Sam. Itu rahasia."

"Tentu saja. Banyak orang di negara bagian ini yang diam-diam tak ingin menyaksikan Sam dieksekusi." McAllister sekarang mengawasi Adam dengan cermat.

"Apakah Anda salah satu di antara mereka?"

"Entahlah. Tapi bagaimana kalau Sam tidak merencanakan membunuh Marvin Kramer dan anak-anaknya? Sam pasti ada di sana, terlibat langsung di tengahnya. Tapi bagaimana kalau orang lain yang punya niat membunuh?"

"Kalau begitu, Sam tidak begitu berdosa seperti yang kita pikir."

"Benar. Dia pasti bukan tanpa kesalahan, tapi tidak cukup bersalah untuk dieksekusi. Ini mengusik saya, Mr. Hall. Boleh saya panggil Anda Adam?"

"Tentu."

"Saya kira Sam tidak menyebut-nyebut adanya asisten?"

"Saya sungguh tak bisa membicarakan itu. Tidak sekarang."

Gubernur menarik satu tangannya dari saku dan memberikan sehelai kartu nama kepada Adam. "Di belakangnya ada dua nomor telepon. Satu nomor kantor pribadi saya. Satunya lagi nomor rumah. Semua telepon dijaga kerahasiaannya, saya sumpah. Saya kadang-kadang bermain untuk kamera, Adam, itu bagian dari pekerjaan, tapi saya juga bisa dipercaya."

Adam mengambil kartu dan melihat angka tulisan tangan tersebut.

"Saya tak dapat menghadapi diri sendiri kalau saya gagal memberikan pengampunan kepada orang yang tidak sepantasnya mati," McAllister berkata seraya berjalan ke pintu. "Teleponlah saya, tapi jangan tunggu terlalu lama. Urusan ini sudah memanas. Saya menerima dua puluh telepon tiap hari."

Ia berkedip pada Adam, sekali lagi memperlihatkan giginya yang mengilat, dan meninggalkan ruangan.

Adam duduk di kursi besi pada dinding, dan melihat bagian depan kartu itu. Hurufnya dicetak timbul dengan tinta emas, disertai simbol resmi. Dua puluh telepon sehari. Apa artinya? Apakah si penelepon menginginkan Sam mati atau mereka ingin ia diampuni?

Banyak orang di negara bagian ini tak ingin melihat Sam dieksekusi, demikian katanya, seolah-olah ia sudah menimbang antara suara yang memilihnya dan yang tidak.

~ 24 ~

Senyum sekretaris di serambi itu tidak sespontan biasanya, dan ketika Adam berjalan ke kantornya, ia mendeteksi suasana yang lebih muram di antara staf dan pengacara itu. Suara percakapan jadi satu oktaf lebih rendah. Segalanya jadi sedikit lebih mendesak.

Chicago datang. Itu terjadi sekali-sekali, tidak selalu dengan maksud melakukan inspeksi, tapi lebih sering untuk memberikan layanan kepada klien lokal atau mengadakan rapat birokratis dalam firma itu. Tak seorang pun pernah dipecat ketika Chicago datang. Tak seorang pun pernah dicerca atau diumpat. Namun kejadian itu selalu menimbulkan keresahan, sampai Chicago berlalu dan kembali ke Utara.

Adam membuka pintu kantornya dan nyaris membentur wajah E. Garner Goodman yang gelisah, lengkap dengan dasi sutra hijau, kemeja putih yang tersetrika licin, dan rambut beruban yang acak-acakan. Ia sedang mondar-mandir seputar ruangan dan kebetulan berada dekat pintu ketika pintu tersebut terbuka. Adam menatapnya, lalu meraih tangannya dan menjabatnya cepat.

"Masuk, masuk," kata Goodman, menutup pintu sambil mengundang Adam masuk ke dalam kantornya sendiri, ia belum tersenyum.

"Apa yang kaukerjakan di sini?" tanya Adam, melemparkan tasnya ke lantai dan berjalan ke meja kerjanya. Mereka berhadapan.

Goodman mengelus jenggot kelabunya yang rapi, lalu merapikan dasinya. "Aku khawatir ada sedikit urusan darurat. Bisa jadi kabar buruk."

"Apa?"

"Duduk, duduk, ini mungkin butuh sedikit waktu."

"Tidak. Aku baik-baik saja. Apa ini?" Pasti kabar mengerikan bila ia perlu duduk segala.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 50)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.