Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 47)

The Chamber: Kamar Gas

"Di sini mereka punya satu peraturan kendur yang memperkenankan kunjungan tak terbatas selama 72 jam sebelum eksekusi. Selama tidak ada risiko keamanan, mereka mengizinkan si terhukum melakukan hampir segala hal. Di depan ada kantor sempit dengan meja dan telepon, dan itu jadi ruang kunjungan. Tempat itu biasanya terisi dengan segala macam orang—nenek, kemenakan, sepupu, bibi— terutama pada orang-orang Afrika ini. Gila, mereka datang berbus-bus. Sanak saudara yang tak pernah menghabiskan lima menit pun untuk memikirkan si narapidana sekonyong-konyong muncul untuk berbagi saat-saat terakhir. Itu nyaris jadi peristiwa sosial.

"Mereka juga punya satu peraturan lain, tak tertulis kurasa, yang memperkenankan satu kali kunjungan untuk melakukan hubungan suami-istri. Bila tak ada istri, Kepala Penjara dengan belas kasihan yang luar biasa akan mengizinkan pertemuan singkat dengan seorang pacar. Satu hubungan badan cepat-cepat untuk terakhir kali sebelum sang kekasih pergi." Sam melirik Stock di ujung counter, lalu membungkuk lebih dekat lagi.

"Nah, si Stock ini adalah salah satu penghuni The Row yang populer, dan entah bagaimana dia berhasil meyakinkan Kepala Penjara bahwa dia punya seorang istri dan seorang pacar, dan wanita-wanita itu setuju untuk melewatkan beberapa saat bersamanya sebelum dia mati. Pada saat bersamaan! Mereka bertiga, bersama-sama!

“Kepala Penjara mengaku tahu ada sesuatu yang mencurigakan, tapi semua orang suka Stocky dan... nah, mereka toh akan membunuhnya, jadi apa salahnya. Maka Stock pun duduk dalam ruangan sempit itu bersama ibu, saudara-saudara, sepupu, kemenakan, dan segerombolan orang Afrika, kebanyakan di antaranya tak pernah menyebut-nyebut namanya selama sepuluh tahun. Dia menikmati santapan terakhirnya yang terdiri atas steak dan kentang, sementara yang lain menangis, meratap, dan berdoa.

“Dengan empat jam masih tersisa, mereka mengosongkan ruangan dan mengirim keluarga ke kapel. Stock menunggu beberapa menit sementara satu van lain membawa istri dan pacarnya ke The Row sini. Mereka tiba bersama penjaga dan dibawa ke kantor kecil di depan tempat Stock siap menunggu dengan mata liar. Laki-laki malang itu sudah dua belas tahun tinggal di The Row.

"Nah, mereka membawa kasur kecil untuk pertemuan ini, dan Stock serta perempuan-perempuannya memakainya. Kelak para penjaga mengatakan wanita-wanita Stock itu bertampang lumayan, dan para penjaga juga mengomentari betapa muda penampilan mereka. Stock baru saja akan melakukan hajatnya entah dengan istri atau pacarnya, itu tidak penting—ketika telepon berdering. Itu dari pengacaranya. Pengacaranya menangis dan terengah-engah sambil meneriakkan berita besar bahwa Pengadilan Fifth Circuit lelah mengeluarkan keputusan penundaan hukuman.

"Stock menutup percakapan. Dia ada urusan yang lebih penting di depan mata. Beberapa menit berlalu, kemudian telepon berdering lagi. Stock mengangkatnya. Dari pengacaranya lagi, dan kali ini dia jauh lebih terang ketika menceritakan pada Stock tentang manuver hukum yang telah menyelamatkan nyawanya, untuk sementara. Stock memberikan pujian, kemudian meminta pengacaranya agar tidak menceritakan hal ini sampai satu jam kemudian."

Adam kembali melirik ke kanan, dan dalam hati bertanya manakah di antara dua pengacara itu yang telah menelepon Stock sementara ia menikmati hak konstitusionalnya atas kunjungan bersetubuh terakhir.

"Nah, pada saat itu kantor Jaksa Penuntut sudah bicara pada Kepala Penjara, dan eksekusi itu ditunda, atau dibatalkan seperti istilah yang mereka pakai. Tak ada bedanya bagi Stock. Dia meneruskan hajatnya, seolah-olah dia takkan pernah lagi melihat perempuan lain. Pintu ke kamar itu tak dapat dikunci dari dalam, karena alasan-alasan yang jelas. Maka Naifeh, setelah menunggu dengan sabar, mengetuk pintunya pelan dan meminta Stock keluar. Saat untuk kembali ke selmu, Stock, katanya. Stock mengatakan dia cuma butuh lima menit lagi. Tidak, kata Naifeh. Sebentar, Stock memohon, dan mendadak terdengar suara-suara lagi. Maka sang Kepala Penjara tersenyum lebar kepada penjaga yang balas tersenyum, dan selama lima menit mereka mengamati lantai sementara ranjang berderit dan terguncang-guncang dalam ruangan sempit itu.

"Stock akhirnya membuka pintu dan berjalan keluar bagaikan juara dunia tinju kelas berat. Penjaga mengatakan dia lebih gembira dengan penampilannya daripada dengan penundaan eksekusinya. Mereka cepat-cepat menyingkirkan perempuan-perempuan itu, yang ternyata sama sekali bukan istri dan pacarnya."

"Siapa mereka?"

"Sepasang pelacur."

"Pelacur!" Adam mengucapkannya terlalu keras, dan salah satu pengacara itu menatapnya.

Sam membungkuk begitu dekat, sampai hidungnya nyaris berada di celah kisi-kisi. "Yeah, pelacur setempat. Entah bagaimana saudaranya mengatur untuknya. Ingat uang penguburan yang dia usahakan dengan susah payah."

"Kau bercanda."

"Itu dia! Empat ratus dolar dihabiskan untuk pelacur, yang pada mulanya tampak sedikit mahal, terutama untuk pelacur Afrika setempat, tapi tampaknya mereka ketakutan setengah mati harus datang ke death row. Kurasa ini masuk akal. Mereka mengambil seluruh uang Stock. Kelak dia mengatakan padaku dia sama sekali tak peduli bagaimana mereka menguburnya. Katanya cukup pantas untuk setiap sen. Naifeh malu dan mengancam akan melarang kunjungan untuk bersetubuh. Namun pengacara Stock, yang kecil berambut hitam di sana, mengajukan gugatan dan mendapatkan keputusan yang menjamin adanya sekali hubungan badan terakhir. Kurasa Stock nyaris berharap mendapatkan kesempatan berikutnya."

Sam bersandar kembali di kursinya dan senyumnya perlahan-lahan lenyap. "Aku pribadi tidak begitu memikirkan kunjungan bersetubuh. Itu dimaksudkan untuk hubungan suami-istri saja, kau tahu, begitulah arti istilah tersebut. Tapi Kepala Penjara mungkin akan menekuk peraturan untukku. Bagaimana menurutmu?"

"Aku sama sekali belum memikirkannya."

"Aku cuma bercanda, kau tahu. Aku sudah tua. Aku akan cukup puas dengan gosokan punggung dan minuman keras."

"Bagaimana dengan santapan terakhirmu?" tanya Adam, masih sangat pelan.

"Itu tidak lucu."

"Kupikir kita sedang bercanda."

"Mungkin sesuatu yang menjijikkan seperti babi rebus dan kacang polong karet. Sampah serupa dengan yang mereka berikan padaku selama hampir sepuluh tahun. Mungkin sepotong roti panggang ekstra. Aku tak suka memberikan kesempatan pada koki menyiapkan santapan yang cocok untuk manusia di dunia bebas."

"Kedengarannya lezat."

"Oh, aku akan membaginya denganmu. Aku sering kali heran, mengapa mereka memberi makan si terhukum sebelum membunuhnya. Mereka juga mendatangkan dokter dan memberikan pemeriksaan fisik pra-eksekusi. Bisakah ini kaupercaya? Harus memastikan bahwa kau cukup bugar untuk mati. Dan mereka punya psikiater dalam staf di sini, yang akan memeriksamu sebelum eksekusi. Dia harus memberikan laporan tertulis pada Kepala Penjara bahwa secara mental kau cukup sehat untuk digas. Dan dalam daftar gaji mereka punya seorang pendeta yang akan berdoa dan bermeditasi bersamamu, dan memastikan jiwamu berjalan ke arah yang benar.

“Semuanya dibayar para pembayar pajak di Negara Bagian Mississippi dan dikelola orang-orang penyayang di sini. Jangan lupakan kunjungan untuk bersetubuh. Kau bisa mati dengan nafsu terpuaskan. Mereka memikirkan segalanya. Mereka amat baik hati. Benar-benar memperhatikan seleramu, kesehatanmu, dan kesejahteraan spiritualmu. Sampai saat terakhir, mereka memasang kateter di alat vitalmu dan menjejali pantatmu dengan slang agar kau tidak mengeluarkan kotoran. Ini untuk kepentingan mereka, bukan kepentinganmu. Mereka tak mau terpaksa membersihkanmu sesudahnya. Jadi, mereka memberimu makanan lezat, apa saja yang kauinginkan, kemudian mereka memasangimu dengan slang. Gila, bukan? Gila, gila, gila, gila."

"Mari kita bicara tentang hal lain." Sam menghabiskan rokok terakhir dan melemparkannya ke lantai di depan penjaga.

"Tidak. Mari kita berhenti bicara. Ini sudah cukup untuk sehari."

"Baiklah."

"Dan tak ada percakapan lain tentang Eddie, oke? Sama sekali tidak adil kau datang ke sini dan menyerangku dengan persoalan seperti itu."

"Maaf. Tak ada pembicaraan lagi tentang Eddie."

"Mari kita coba pusatkan perhatian pada diriku selama tiga minggu mendatang, oke? Itu lebih dari cukup untuk membuat kita sibuk."

"Baiklah, Sam."

***

Sepanjang Highway 82 dari timur, Greenville berkembang sebagai daerah yang acak-acakan, tak sedap dipandang mata, dengan deretan pusat perbelanjaan yang penuh dengan persewaan video dan toko kecil menjual minuman keras, deretan franchise fast-food yang tak berujung-pangkal serta motel-motel dengan makan pagi dan televisi kabel gratis. Sungai menghalangi perkembangan seperti itu ke barat, dan karena Highway 82 merupakan koridor utama, daerah itu jelas menjadi wilayah favorit para developer.

Dalam 25 tahun terakhir, Greenville telah berkembang dari kota kecil di tepi sungai dengan penduduk 35.000 menjadi kota besar yang sibuk dengan 60.000 jiwa. Kota itu makmur dan maju. Tahun 1990, Greenville adalah kota terbesar nomor lima di negara bagian itu.

Jalan-jalan menuju distrik pusat diteduhi dan dipagari rumah-rumah tua yang anggun. Pusat kotanya kuno dan indah, dilestarikan dengan baik dan jelas tak berubah, pikir Adam, begitu kontras dengan kekacau-balauan tanpa akhir di sepanjang Highway 82.

Ia parkir di Washington Street beberapa menit selewat pukul 17.00, ketika para pedagang di pusat kota dan pelanggan mereka sibuk berkemas mengakhiri hari itu. Ia melepaskan dasi dan meninggalkannya bersama jas dalam mobil, sebab suhu udara masih berkisar pada sembilan puluhan derajat dan tak menunjukkan tanda-tanda akan menurun.

Ia berjalan tiga blok dan menemukan taman dengan patung perunggu dua bocah kecil seukuran aslinya di tengahnya. Keduanya berukuran sama, dengan senyum dan mata yang sama. Salah satu sedang berlari, sedangkan lainnya bermain lompat tali, dan si pematung mewujudkannya dengan sempurna. Josh dan John Kramer, lima tahun untuk selamanya, membeku dalam waktu dengan tembaga dan timah. Sebuah pelat kuningan di bawahnya menyatakan:

JOSH DAN JOHN KRAMER MENINGGAL 21 APRIL 1967 
(2 MARET 1962-21 APRIL 1967)

Taman itu persegi sempurna, separo dari blok kota itu yang dulu pernah ditempati kantor hukum Marvin dan bangunan tua di sampingnya. Lahan itu telah bertahun-tahun menjadi milik keluarga Kramer, dan ayah Marvin memberikannya kepada kota itu untuk dipakai sebagai tempat peringatan. Sam benar-benar telah meratakan kantor hukum tersebut dengan bomnya, dan pemerintah kota sudah memangkas gedung di sampingnya. Sejumlah uang dibelanjakan untuk mendirikan Kramer Park, dan banyak pemikiran dicurahkan untuk itu.

Taman itu sepenuhnya dipagari dengan besi tempa ornamental dan sebuah gerbang masuk dari trotoar pada setiap sisinya. Deretan pohon ek yang sempurna mengikuti pagar itu. Jajaran semak yang terpangkas rapi bertemu tepat di sudut-sudutnya, lalu rumpun bunga begonia dan geranium berbentuk melingkar. Sebuah amfiteater kecil berdiri di salah satu sudut di bawah pepohonan, dan di seberangnya sekelompok anak kulit hitam berayun-ayun di udara dengan ayunan kayu.

Taman itu kecil dan penuh warna, kebun kecil yang menyenangkan di tengah jalan-jalan dan gedung-gedung. Sepasang remaja bertengkar mulut di sebuah bangku ketika Adam berjalan lewat. Segerombolan bocah delapan tahun mengendarai sepeda mengitari air mancur. Seorang polisi tua berjalan santai dan memberi salam kepada Adam sambil memegang ujung topinya.

Adam duduk di sebuah bangku dan menatap Josh dan John, tak lebih sembilan meter dari sana. "Jangan pernah melupakan korbannya," Lee pernah memperingatkan. "Mereka punya hak untuk menginginkan pembalasan. Mereka layak mendapatkannya."

Ia ingat semua detail mengerikan dari sidang-sidang itu—para pakar FBI yang bersaksi tentang bom dan kecepatannya dalam meruntuhkan gedung tersebut, dokter yang dengan cermat menguraikan tubuh-tubuh kecil itu dan apa yang membunuh mereka, regu pemadam kebakaran yang berusaha menolong, tapi sangat terlambat dan cuma bisa mundur kembali. Ada foto-foto gedung dan anak-anak itu, serta hakim pengadilan harus susah payah menahan diri dan hanya mengizinkan beberapa foto ini sampai pada juri. McAllister, seperti biasa, ingin memperlihatkan foto berwarna besar tubuh yang koyak porak-poranda, tapi ditolak.

Adam sekarang duduk di tanah yang dulu pernah menjadi kantor Marvin Kramer. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan tanah itu berguncang. Ia melihat puing-puing membara dan awan debu yang tergantung di atas tempat kejadian dalam potongan videonya. Ia mendengar suara cemas penyiar berita, sirene melengking di latar belakang.

Bocah-bocah perunggu itu tidak jauh lebih tua darinya ketika kakeknya membunuh mereka. Mereka umur lima dan ia hampir umur tiga tahun, dan entah mengapa ia sebaya dengan mereka. Hari ini ia 26 tahun dan mereka seharusnya 28.

Perasaan bersalah menghunjam keras di bawah perutnya. Ia menggigil dan berkeringat. Matahari bersembunyi di belakang dua pohon ek besar di sebelah barat. Ketika cahayanya berkedip-kedip menerobos ranting-ranting, wajah anak-anak itu berseri memantulkan cahaya.

Bagaimana Sam bisa melakukan ini? Mengapa Sam Cayhall kakeknya dan bukan kakek orang lain? Mengapa ia memutuskan berperan serta dalam perang suci Klan melawan orang Yahudi?

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 48)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.