Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 46)

The Chamber: Kamar Gas

"Tidak begitu. Aku cenderung mengingat hal-hal baik dalam diri Eddie. Dia satu-satunya ayah yang pernah kumiliki, jadi aku tak tahu bagaimana menilainya. Dia tidak merokok, minum, berjudi, memakai obat bius, menyeleweng, memukuli anaknya, atau apa pun semacam itu. Dia punya masalah dalam mempertahankan pekerjaan, tapi kami tak pernah kelaparan atau tanpa tempat berteduh.

“Dia dan Ibu terus-menerus bicara tentang perceraian, tapi itu tak pernah terjadi. Beberapa kali Ibu pindah, kemudian Dad pindah. Itu mengganggu, tapi aku dan Carmen jadi terbiasa. Dia mengalami hari gelap, atau dikenal sebagai saat-saat buruk, ketika dia mengurung diri dalam kamar, mengunci pintu, dan menutup tirai. Ibu akan mengumpulkan kami di sekitarnya dan menjelaskan Dad sedang tidak sehat, dan kami harus sangat tenang. Tak boleh menyalakan televisi atau radio. Ibu sangat membantu bila Dad sedang menarik diri.

“Berhari-hari dia tinggal dalam kamar, lalu sekonyong-konyong keluar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kami belajar hidup dengan saat-saat buruk Eddie. Dia tampak normal dan berpakaian normal. Dia hampir selalu ada bila kami membutuhkannya. Kami main bisbol di halaman belakang dan ikut dalam karnaval. Dia beberapa kali membawa kami ke Disneyland. Kurasa dia orang baik, ayah yang baik, tapi memiliki sisi gelap dan aneh yang sekali-sekali muncul."

"Tapi kalian tidak dekat?"

"Benar, kami tidak dekat. Dia membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan proyek-proyek ilmu alam, dan dia menuntut rapor yang sempurna. Kami bicara tentang tata surya dan lingkungan, tapi tak pernah bicara tentang perempuan, seks, dan mobil. Tak pernah bicara tentang keluarga dan nenek moyang. Tak ada keakraban. Dia bukan orang yang hangat. Ada saat-saat aku membutuhkannya dan dia mengunci diri dalam kamarnya."

Sam menggosok sudut-sudut matanya, lalu kembali membungkuk ke depan, bertelekan lutut dengan wajah dekat ke kisi-kisi dan memandang langsung pada Adam. "Bagaimana kematiannya?" ia bertanya.

"Maksudmu?"

"Bagaimana itu terjadi?"

Adam menunggu lama sebelum menjawab. Ia bisa menceritakan kisah ini dengan beberapa cara. Ia bisa kejam, penuh kebencian, dan jujur secara brutal. Itu bisa menghancurkan laki-laki tua ini. Ada godaan besar untuk melakukannya. Itu perlu dilakukan, katanya pada diri sendiri berkali-kali sebelumnya. Sam perlu menderita; perlu ditampar wajahnya dengan perasaan bersalah atas bunuh dirinya Eddie. Adam benar-benar ingin menyakiti bangsat tua ini dan membuatnya menangis.

Tapi pada saat yang sama ia ingin menceritakan kisah itu dengan cepat, menyentuh bagian-bagian yang menyakitkan, kemudian pindah ke sesuatu yang lain. Laki-laki tua yang duduk terkurang di seberang kisi-kisi itu sudah cukup menderita. Pemerintah merencanakan membunuhnya kurang dari empat minggu lagi. Adam merasa ia tahu lebih banyak tentang kematian Eddie daripada yang diungkapkannya.

"Dia sedang mengalami saat buruk," kata Adam, memandang kisi-kisi, tapi menghindari Sam. "Dia mengurung diri dalam kamar selama tiga minggu; lebih lama dari biasa. Ibu terus mengatakan pada kami dia akan membaik, cuma beberapa hari lagi dan dia akan keluar, sebab dia rasanya selalu pulih kembali. Dia memilih suatu hari ketika Ibu sedang bekerja dan Carmen pergi ke rumah teman, suatu hari ketika dia tahu akulah yang pertama pulang. Aku menemukannya tergeletak di lantai kamar tidurku, masih memegang pistol, kaliber 38. Satu tembakan ke pelipis kanan. Di kepalanya ada lingkaran darah yang rapi. Aku duduk di tepi ranjang."

"Berapa umurmu saat itu?"

"Hampir tujuh belas. Masih di sekolah menengah. Dengan nilai A. Kusadari dia telah mengatur setengah lusin handuk dengan hati-hati di lantai, kemudian menempatkan diri di tengahnya. Aku memeriksa denyut nadi di pergelangannya, dan dia sudah kaku. Dokter pemeriksa jenazah mengatakan dia sudah tiga jam meninggal. Di sebelahnya ada catatan, terketik rapi pada kertas putih. Catatan itu ditujukan kepada Dear Adam. Dia mengatakan mencintaiku, menyesal, ingin aku menjaga ibu dan adikku, dan suatu hari kelak aku akan mengerti. Kemudian dia mengarahkan perhatianku pada kantong sampah plastik, juga di lantai, dan mengatakan aku harus memasukkan handuk kotor ke kantong sampah, menyeka yang berantakan, kemudian menelepon polisi. Jangan sentuh pistolnya, katanya. Dan bergegaslah, sebelum yang lain pulang."

Adam melonggarkan tenggorokan dan memandang ke lantai.

"Aku berbuat tepat seperti yang dia tuliskan, dan aku menunggu polisi. Selama lima belas menit kami sendirian, cuma kami berdua. Dia tergeletak di lantai dan aku berbaring di ranjang, memandanginya. Aku mulai menangis dan menangis, bertanya kepadanya mengapa, bagaimana, apa yang terjadi, dan seratus pertanyaan lain. Di sanalah ayahku, ayah satu-satunya yang pernah kumiliki, tergeletak dalam jeans pudar, kaus kaki kotor, dan sweatshirt UCLA favoritnya.

“Dilihat dari leher ke bawah dia seperti tertidur saja, tapi kepalanya berlubang dan darah sudah mengering di rambutnya. Aku membencinya karena kematian itu, dan aku kasihan padanya, sebab dia mati. Aku ingat bertanya padanya mengapa dia tidak bicara padaku sebelum ini. Kuhujam dia dengan banyak pertanyaan. Aku mendengar suara-suara, dan mendadak ruangan itu penuh dengan polisi. Mereka membawaku ke ruang duduk dan membungkusku dengan selimut. Dan itulah akhir riwayat ayahku."

Sam masih bertelekan siku, tapi satu tangannya sekarang menutupi mata. Cuma ada beberapa hal lain yang ingin dikatakan Adam.

"Setelah pemakaman, Lee tinggal bersama kami beberapa lama. Dia bercerita padaku tentang kau dan keluarga Cayhall. Dia mengisi banyak celah tentang ayahku. Aku jadi terpesona olehmu dan pengeboman Kramer, dan aku mulai membaca artikel-artikel dalam majalah dan surat kabar lama. Aku perlu sekitar satu tahun untuk memahami mengapa Eddie bunuh diri seperti itu. Dia bersembunyi dalam kamarnya selama sidangmu, dan dia bunuh diri ketika sidang itu berakhir."

Sam menyisihkan tangannya dan menatap tajam pada Adam dengan mata basah. "Jadi, kau menyalahkan kematiannya gara-gara aku, benar, Adam? Itu yang sebenarnya ingin kaukatakan, bukan?"

"Tidak. Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu."

"Kalau begitu seberapa? Delapan puluh persen? Sembilan puluh persen? Kau punya waktu untuk menghitung angkanya. Seberapa banyak kesalahanku?"

"Aku tidak tahu, Sam. Mengapa bukan kau yang mengatakannya padaku?"

Sam menyeka mata dan menaikkan suaranya. "Oh, persetan! Aku akan katakan seratus persen. Akan kupikul tanggung jawab penuh atas kematiannya, oke? Itukah yang kauinginkan?"

"Terserah apa katamu."

"Jangan menguliahi aku. Tambahkan saja nama anakku dalam daftarku, itukah yang kauinginkan? Anak kembar Kramer, ayah mereka, lalu Eddie. Empat orang yang telah kubunuh, benar? Ada lagi yang ingin kautambahkan di ujangnya? Lakukanlah segera, bocah besar, sebab jam terus berdetak."

"Ada berapa lagi di sana?"

"Mayat?"

"Ya. Mayat. Aku sudah dengar desas-desus."

"Dan tentu saja kau percaya, bukan? Kau tampak begitu bersemangat mempercayai segala yang buruk tentang diriku."

"Aku tidak mengatakan percaya."

Sam melompat berdiri dan berjalan ke ujung ruangan. "Aku muak dengan percakapan ini!" ia berteriak dari jarak sembilan meter. "Dan aku muak denganmu! Aku nyaris berharap pengacara-pengacara Yahudi terkutuk itulah yang ada di sini; menggangguku lagi."

"Kami bisa menyediakannya untukmu," balas Adam.

Sam berjalan perlahan-lahan kembali ke kursinya, "Di sinilah aku, mengkhawatirkan nyawaku, 23 hari dari kamar gas, tapi kau malah bicara tentang orang mati. Teruslah berceloteh, bocah besar, dan sebentar lagi kau bisa mulai bicara tentang aku. Aku ingin tindakan."

"Aku mengajukan petisi pagi ini."

"Bagus! Kalau begitu pergilah, sialan. Keluar saja dari sini dan berhentilah menyiksaku!"

~ 22 ~

Pintu di sisi Adam terbuka dan Packer masuk bersama dua laki-laki di belakangnya. Mereka jelas pengacara—setelan jas gelap, roman cemberut, tas-tas kerja yang tebal melembung. Packer menunjuk beberapa kursi di bawah AC dan mereka duduk. Ia memandang Adam dan secara khusus memperhatikan Sam yang masih berdiri di sisi seberang. "Semua beres?" ia bertanya pada Adam.

Adam mengangguk dan Sam duduk di kursinya. Packer berlalu. Dua pengacara baru tadi dengan efisien menggarap pekerjaan mereka, menarik dokumen-dokumen berat dari berkas-berkas tebal. Dalam semenit, dua jas mereka sudah dilepas.

Lima menit berlalu tanpa sepatah kata pun dari Sam. Adam menangkap beberapa lirikan dari pengacara di ujung seberang. Mereka berada dalam ruangan yang sama bersama narapidana paling terkenal di The Row, narapidana berikutnya yang akan digas, dan mereka tak tahan untuk tidak mencuri pandang ingin tahu pada Sam Cayhall dan pengacaranya.

Kemudian pintu di belakang Sam terbuka, dan dua penjaga masuk bersama seorang laki-laki hitam kurus yang diborgol dan dirantai, seakan-akan ia bisa meledak setiap saat dan membunuh puluhan orang dengan tangan kosong. Mereka menggiringnya ke kursi di seberang pengacaranya dan sibuk membebaskan sebagian anggota badannya. Tangan narapidana itu tetap terborgol di punggung. Salah satu penjaga meninggalkan ruangan, tapi yang lain mengambil posisi di tengah, antara Sam dan narapidana kulit hitam itu.

Sam melirik rekannya di counter itu, jenis manusia yang gelisah dan jelas tak menyukai pengacaranya. Pengacaranya pun tidak kelihatan gembira. Adam memandang mereka dari tempatnya di balik kisi-kisi. Dalam beberapa saat kepala mereka merapat dan mereka bicara bersama-sama melalui lubang, sementara klien mereka duduk dengan angkuh, bersandar tangan. Suara mereka yang rendah bisa terdengar, tapi ucapan mereka tak dapat dipahami.

Sam beringsut maju lagi, bertelekan siku, dan memberi tanda pada Adam agar berbuat sama. Wajah mereka bertemu dalam jarak beberapa senti dengan lubang kisi-kisi di antara mereka.

"Itu Stockholm Turner," kata Sam, nyaris berbisik.

"Stockholm?"

"Yeah, tapi dia dipanggil Stock. Orang-orang Afrika pedesaan ini suka nama-nama yang luar biasa. Katanya dia punya saudara laki-laki bernama Denmark dan satu lagi bernama Germany. Mungkin benar."

"Apa yang dia lakukan?" tanya Adam, sekonyong-konyong ingin tahu.

"Merampok toko wiski, kurasa. Menembak pemiliknya. Sekitar dua tahun yang lalu dia mendapat surat pengukuhan hukuman mati, dan eksekusi nyaris dilaksanakan. Dia cuma dua jam dan kamar gas."

"Apa yang terjadi?"

"Pengacaranya berhasil mendapatkan penundaan, dan sejak itu mereka selalu bertempur. Kau takkan pernah bisa tahu, tapi dia mungkin orang berikutnya sesudah aku."

Mereka berdua memandang ke ujung ruangan, tempat rapat memanas berlangsung dengan kekuatan penuh. Stock tidak lagi bersandar pada tangan. Ia duduk di tepi kursi dan berteriak-teriak ribut pada pengacaranya.

Sam tersenyum lebar, lalu terkekeh, lalu mencondongkan tubuh lebih dekat lagi pada kisi-kisi. "Keluarga Stock sangat miskin, dan mereka tak banyak berurusan dengannya. Itu bukan hal yang luar biasa, terutama dengan orang-orang Afrika. Dia jarang menerima surat atau kunjungan. Dia dilahirkan lima puluh mil dari sini, tapi dunia bebas sudah melupakan dirinya. Ketika pembelaan bandingnya habis harapan; Stock mulai mengkhawatirkan hidup dan mati dan segala urusan umumnya.

“Di sini, bila tak seorang pun mengklaim mayatmu, negara menguburmu seperti pengemis di kuburan murahan. Stock jadi prihatin dengan nasib mayatnya, dia mulai mengajukan segala macam pertanyaan. Packer dan beberapa penjaga menanggapinya, mereka meyakinkan Stock bahwa mayatnya akan dikirim ke krematorium untuk dibakar. Abunya akan dijatuhkan dari udara dan ditaburkan di Parchman. Mereka mengatakan padanya bahwa karena dia toh penuh dengan gas, dia akan meledak seperti bom saat mereka menyulut korek. Stock hancur. Dia jadi sulit tidur dan berat badannya merosot.

“Kemudian dia mulai menulis surat kepada keluarga dan teman-temannya, mengemis beberapa dolar agar bisa mendapatkan apa yang disebutnya pemakaman Kristen. Uang mengalir datang dan dia menulis surat lebih banyak lagi. Dia menulis kepada para pendeta dan kelompok-kelompok pembela hak sipil. Bahkan pengacaranya pun mengirim uang.

"Ketika masa penantiannya dicabut, Stock punya hampir empat ratus dolar, dan siap mati. Atau begitulah menurutnya."

Mata Sam menari-nari dan suaranya ringan. Ia menceritakan kisah itu perlahan-lahan, dengan suara rendah, dan menikmati detailnya. Adam lebih geli karena caranya bercerita daripada kisah itu sendiri.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 47)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.