Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 45)

The Chamber: Kamar Gas

Akhirnya batuknya berhenti, ia berdiri tegak dan bernapas cepat, ia menelan dan meludah lagi, lalu mundur dan menarik napas perlahan-lahan. Kejang-kejang itu selesai, wajahnya yang merah mendadak pucat kembali. Ia duduk di seberang Adam dan menyedot rokok dengan hebat, seolah-olah batuk-batuk itu harus ditimpakan pada kesalahan kebiasaan atau benda lain. Ia mengambil waktu, bernapas dalam, dan berdeham melonggarkan tenggorokan.

"Eddie anak yang lembut," ia mulai dengan suara parau. "Seperti ibunya. Dia bukan pesolek. Sebenarnya dia setangguh anak laki-laki lain." Istirahat panjang, satu lagi sedotan nikotin. "Tak jauh dari rumah kami ada keluarga negro..."

"Bisakah kita sebut mereka kulit hitam, Sam? Aku sudah pernah memintamu."

"Maaf. Ada satu keluarga Afrika di daerah kami. Keluarga Lincoln. Namanya Joe Lincoln, dan dia sudah bertahun-tahun bekerja untuk kami. Punya satu istri sah dan selusin anak sah. Salah satu dari anak-anak itu sebaya dengan Eddie, dan mereka tak terpisahkan, teman paling akrab. Bukan sesuatu yang terlalu luar biasa saat itu. Kau bermain dengan siapa pun yang ada di dekatmu. Aku bahkan punya teman-teman Afrika kecil, percaya atau tidak.

"Ketika Eddie mulai bersekolah, dia jadi sangat bingung, sebab dia dan teman Afrika-nya naik bus yang berlainan. Nama bocah itu Quince. Quince Lincoln. Mereka tak sabar menunggu saat pulang sekolah dan pergi bermain di ladang. Aku ingat Eddie selalu resah sebab mereka tak bisa pergi ke sekolah bersama-sama. Quince tak bisa bermalam di rumah kami, dan Eddie tak dapat bermalam bersama keluarga Lincoln. Dia selalu menanyaiku mengapa orang-orang Afrika di Ford County begitu miskin, tinggal di rumah kumuh, tak punya pakaian bagus, dan ada begitu banyak anak dalam setiap keluarga. Dia benar-benar menderita oleh hal ini, dan itu membuatnya berbeda. Setelah lebih dewasa, dia bahkan jadi lebih bersimpati kepada orang-orang Afrika. Kucoba bicara dengannya."

"Sudah tentu kau melakukannya. Kau mencoba meluruskannya, bukan?"

"Aku mencoba menjelaskan berbagai persoalan kepadanya."

"Seperti misalnya?"

"Seperti kebutuhan untuk menjaga pemisahan antarras. Tak ada salahnya dengan sekolah-sekolah yang terpisah tapi setara. Tak ada salahnya dengan undang-undang yang melarang perkawinan antarras. Tak ada salahnya menjaga kaum Afrika di tempat mereka."

"Di manakah tempat mereka?"

"Di bawah kendali. Biarkan mereka lepas bebas, dan lihat apa yang terjadi. Kejahatan, obat bius, AIDS, anak haram, kehancuran umum dalam tatanan moral masyarakat."

"Bagaimana dengan perkembangan nuklir dan lebah pembunuh?"

"Kau paham maksudku."

"Bagaimana dengan hak asasi, konsep-konsep radikal seperti hak untuk memberikan suara, memakai WC umum, makan di restoran dan tinggal di hotel, hak untuk tidak didiskriminasikan dalam perumahan, pekerjaan, dan pendidikan?"

"Kau kedengaran seperti Eddie."

"Bagus."

"Sewaktu menyelesaikan sekolah menengah, dia menyembur-nyemburkan ucapan seperti itu, bicara tentang betapa buruknya orang-orang Afrika itu diperlakukan. Dia meninggalkan rumah ketika berumur delapan belas tahun."

"Apakah kau merindukannya?"

"Pada mulanya tidak, kurasa. Kami banyak bertengkar. Dia tahu aku anggota Klan, dan dia benci melihatku. Setidaknya dia mengatakan benci."

"Jadi, kau lebih memikirkan Klan daripada memikirkan putramu sendiri?"

Sam menatap lantai. Adam mencoret-coret buku. AC berdengung dan mereda, dan akhirnya berhenti. "Dia anak yang manis," kata Sam pelan. "Dulu kami sering memancing bersama. Itu kegemaran kami. Aku punya perahu tua, dan kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk memancing ikan crappie dan bream, kadang-kadang bass. Kemudian dia dewasa dan membenciku. Dia malu padaku. Tentu saja itu menyakitkan. Dia mengharapkan aku berubah, dan aku mengharapkannya bisa mengerti seperti semua bocah kulit putih lain seusianya. Itu tak pernah terjadi. Kami makin jauh terpisah ketika dia masuk sekolah menengah, kemudian rasanya omong kosong hak-hak sipil itu mulai, dan tak ada harapan lagi sesudah itu."

"Apakah dia berpartisipasi dalam gerakan itu?"

"Tidak. Dia tidak tolol. Dia mungkin berempati, tapi tetap tutup mulut. Kau tidak berkeliling ke mana-mana membicarakan sampah itu kalau kau orang setempat. Cukup banyak Yahudi dan orang-orang radikal dari Utara untuk membuat hal itu terus bergolak. Mereka tidak membutuhkan bantuan."

"Apa yang dia kerjakan setelah meninggalkan rumah?"

"Bergabung dalam Angkatan Bersenjata. Cara mudah untuk keluar dari kota, jauh dari Mississippi. Dia pergi selama tiga tahun, dan ketika kembali dia membawa istri. Mereka tinggal di Clanton dan kami hampir tak pernah bertemu. Sekali-sekali dia bercakap-cakap dengan ibunya, tapi tak pernah bicara banyak padaku. Saat itu awal tahun enam puluhan, dan gerakan orang Afrika sedang meroket. Ada banyak rapat Klan, banyak kegiatan, hampir semuanya terjadi di selatan kami. Eddie tetap menjaga jarak. Dia sangat pendiam, lagi pula tak banyak yang ingin dia katakan."

"Kemudian aku lahir."

"Kau lahir sekitar saat tiga pekerja hak sipil tersebut menghilang. Eddie berani-beraninya bertanya apakah aku terlibat dalam hal itu."

"Kau terlibat?"

"Tidak. Selama setahun aku tak tahu siapa yang melakukannya."

"Mereka anggota Klan, bukan?"

"Mereka orang Klan."

"Apa kau senang ketika orang-orang itu terbunuh?”

"Apa hubungannya urusan ini denganku dan kamar gas di tahun 1990?"

"Apakah Eddie tahu ketika kau terlibat dalam pengeboman?"

"Tak seorang pun di Ford County tahu. Sebelumnya kami tidak terlalu aktif. Seperti tadi kukatakan, sebagian kegemparan itu terjadi di selatan kami, sekitar Meridian."

"Dan kau tak sabar untuk ikut bergabung?"

"Mereka butuh bantuan. FBI sudah menginfiltrasi begitu dalam, sampat tak ada siapa pun yang bisa dipercaya. Gerakan hak sipil menggelinding pesat bagaikan bola salju. Harus ada tindakan. Aku tidak malu dengannya."

Adam tersenyum dan menggelengkan kepala. "Eddie malu, bukan?"

"Eddie tidak tahu apa pun tentang hal itu, sampai pengeboman Kramer."

"Mengapa kau melibatkannya?"

"Tidak."

"Ya, kau melibatkannya. Kau menyuruh istrimu membawa Eddie dan pergi ke Cleveland mengambil mobilmu. Dia pelengkap dalam kejadian ini."

“Aku ada dalam penjara, oke? Aku ketakutan. Dan tak seorang pun tahu. Itu tidak berbahaya."

"Barangkali Eddie tidak berpikir demikian."

"Aku tak tahu apa yang dipikirkan Eddie, oke? Saat aku keluar dari penjara, dia sudah menghilang. Kalian semua pergi. Aku tak pernah melihatnya lagi sampai penguburan ibunya, dan saat itu dia menyelinap masuk dan keluar tanpa sepatah kata pun kepada siapa pun." Ia menggosok kerut pada keningnya dengan tangan kiri, lalu menyisirkannya pada rambutnya yang berminyak. Wajahnya sedih, dan ketika ia melirik ke lubang, Adam melihat secercah air mata di matanya.

"Terakhir kali aku melihat Eddie, dia sedang masuk ke mobilnya di luar gereja setelah upacara pemakaman. Dia tergesa-gesa. Hati kecilku mengatakan aku takkan pernah melihatnya lagi. Dia datang karena ibunya meninggal, dan aku tahu itulah kunjungan terakhirnya ke rumah. Tak ada alasan lain baginya untuk kembali. Aku ada di tangga depan gereja, Lee bersamaku, dan kami berdua menyaksikannya berlalu. Di sanalah aku menguburkan istriku, dan pada saat yang sama menyaksikan putraku menghilang untuk terakhir kalinya."

"Apakah kau pernah mencoba menemukannya?"

"Tidak. Tidak sungguh-sungguh. Lee mengatakan punya nomor teleponnya, tapi aku tak ingin mengemis. Sudah jelas dia tak ingin berurusan apa pun denganku, jadi aku membiarkannya. Aku sering memikirkanmu, dan aku ingat pernah bercerita kepada nenekmu betapa menyenangkan melihatmu. Tapi aku tak ingin menghabiskan banyak waktu mencoba melacak kalian."

"Pasti akan sulit menemukan kami."

"Itulah yang kudengar. Sekali-sekali Lee bicara dengan Eddie, dan dia melaporkannya padaku. Kedengarannya kalian berpindah-pindah ke seluruh penjuru California."

"Selama dua belas tahun aku bersekolah di enam tempat.”

“Tapi kenapa? Apa yang dia kerjakan?"

"Beberapa macam pekerjaan. Dia kehilangan pekerjaan, dan kami pindah karena dia tak bisa membayar sewa rumah. Kemudian ia mendapat pekerjaan, dan kami pindah ke tempat lain lagi. Lalu Dad gusar dengan sekolahku karena alasan yang tidak jelas, dan dia mengeluarkanku."

"Pekerjaan macam apa yang dia lakukan?"

"Suatu ketika dia bekerja di kantor pos, sampai dipecat. Dia mengancam akan menggugat mereka, dan untuk waktu lama dia mempertahankan perang kecil yang hebat terhadap sistem pos. Dia tak dapat menemukan pengacara untuk menangani hal ini, maka dia mengganggu mereka dengan surat-surat. Dia selalu punya meja kerja kecil dengan mesin tik tua dan kardus-kardus berisi surat-suratnya, dan itu adalah miliknya yang paling berharga. Tiap kali kami pindah, dengan hati-hati dia mengurus kantornya, demikian dia menyebut benda-benda itu. Dia tak peduli dengan barang lain. Tak ada banyak memang, tapi dia melindungi kantornya mati-matian. Aku ingat beberapa malam berbaring di tempat tidur, mencoba tidur dan mendengarkan mesin tik terkutuk itu berketak-ketik sepanjang malam. Dia benci pemerintah federal."

"Itulah anakku."

"Tapi karena alasan-alasan berbeda, kurasa. Suatu kali Internal Revenue Service memburunya. Kupikir ini aneh, sebab dia tak punya penghasilan cukup untuk membayar pajak tiga dolar. Jadi, dia mengumumkan perang kepada IRS yang disebutnya sebagai Infernal Revenue, dan gusar selama bertahun-tahun. Pemerintah California mencabut SIM-nya selama setahun ketika dia tidak memperpanjangnya, dan ini melanggar segala macam hak asasi dan hak sipil. Ibu harus menyopirinya selama dua tahun, sampai dia menyerah pada birokrasi. Dia selalu menulis surat kepada gubernur, Presiden, senator AS, anggota kongres, siapa saja yang punya kantor dan staf. Dia ribut saja tentang ini-itu, dan bila mereka membalas suratnya, dia mengumumkan kemenangan kecil. Dia menyimpan setiap surat.

“Suatu hari dia bertengkar dengan tetangga sebelah, tentang anjing yang kencing di teras kami, dan mereka saling berteriak di seberang pagar hijau. Makin seru mereka berkelahi, makin kuat saja teman-teman mereka, dan keduanya nyaris menelepon segala macam orang penting yang bisa langsung memberikan hukuman kepada lawannya. Dad lari masuk ke ramah, dan dalam beberapa detik kembali dalam pertengkaran itu dengan tiga belas surat dari Gubernur Negara Bagian California. Dia menghitungnya keras-keras dan melambai-lambaikannya di depan hidung tetangga itu, sampai akhirnya orang malang itu runtuh. Itulah akhir pertengkaran tersebut. Akhir dari anjing mengencingi teras kami. Tentu saja setiap surat itu memintanya, dengan cara halus, agar menyingkir."

Meskipun tak menyadarinya, mereka berdua tersenyum di akhir cerita pendek ini.

"Kalau dia tak dapat mempertahankan pekerjaan, bagaimana kalian semua bertahan hidup?" Sam bertanya sambil menatap melalui lubang.

"Entahlah. Ibu selalu bekerja. Dia sangat produktif dan kadang-kadang punya dua pekerjaan sekaligus. Jadi kasir di toko sayur. Juru tulis di apotek. Dia bisa mengerjakan apa saja, dan aku ingat beberapa pekerjaan yang cukup baik sebagai sekretaris. Pada suatu titik, Dad mendapat lisensi untuk menjual asuransi jiwa, dan itu jadi pekerjaan paro waktu permanen. Kurasa dia bagus dalam pekerjaan itu, sebab segalanya membaik ketika aku makin besar. Dia bisa mengatur waktunya sendiri, dan tidak melapor pada siapa pun. Ini cocok baginya, meskipun dia mengatakan benci perusahaan asuransi.

“Dia memperkarakan satu perusahaan karena membatalkan sebuah polis atau entah apa, aku benar-benar tak mengerti, dan dia kalah dalam kasus itu. Tentu saja dia menimpakan segala kesalahan pada pengacaranya, yang melakukan kekeliruan mengiriminya surat panjang penuh pernyataan keras. Selama tiga hari Dad mengetik, dan ketika karya besarnya selesai, dengan bangga dia memperlihatkannya kepada Ibu. Dua puluh satu halaman berisi kekeliruan dan kebohongan si pengacara. Ibu cuma menggelengkan kepala. Dia bertempur dengan pengacara malang itu selama bertahun-tahun."

"Ayah macam apakah dia?"

"Aku tidak tahu. Itu pertanyaan sulit, Sam."

"Kenapa?"

"Karena cara matinya. Lama sesudah kematiannya aku masih marah padanya. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa memutuskan harus meninggalkan kami, seolah kami tak membutuhkannya lagi, dan sudah tiba saatnya mati. Dan sesudah mengetahui yang sebenarnya, aku marah padanya karena membohongiku selama bertahun-tahun itu, karena mengganti namaku dan kabur. Itu sangat membingungkan bagi seorang anak muda. Masih membingungkan."

"Apa kau masih marah?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 46)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.