Selasa, 30 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 44)

The Chamber: Kamar Gas

Steve Roxburgh jelas menikmati wawancaranya. Ia berdiri, siap melawan usaha terakhir yang diambil Cayhall dan pengacaranya untuk menggagalkan eksekusi itu. la dan stafnya siap bekerja delapan belas jam sehari untuk melaksanakan kehendak rakyat. Persoalan ini sudah terlalu lama terseret-seret dan sudah tiba saatnya keadilan dilaksanakan, demikian ia dikutip mengucapkannya lebih dan satu kali. Tidak, ia tidak khawatir dengan tantangan upaya hukum terakhir dari Mr. Cayhall.

Sam Cayhall menolak memberi komentar. Marks menjelaskan, dan Adam Hall tak dapat dihubungi, seolah-olah Adam sangat bergairah untuk bicara, tapi tak dapat ditemukan.

Komentar keluarga terdengar menarik sekaligus mengecilkan hati. Elliot Kramer, sekarang 77 tahun dan masih bekerja, digambarkan masih bersemangat dan sehat, meskipun mengalami masalah jantung. Ia juga sangat getir. Ia menyalahkan Klan dan Sam Cayhall yang bukan saja telah membunuh dua cucunya, tapi juga bertanggung jawab atas kematian Marvin.

Sudah 23 tahun ia menunggu Sam dieksekusi, dan sudah tak sabar lagi. Ia mengutuk sistem yudisial yang membiarkan seorang terpidana hidup selama hampir sepuluh tahun setelah juri menjatuhkan vonis hukuman mati. Ia tak yakin apakah akan menyaksikan eksekusi tersebut. Itu tergantung dokternya, katanya, tapi ia ingin melakukannya. Ia ingin berada di sana dan menatap mata Cayhall ketika mereka mengikatnya.

Ruth sedikit lebih moderat. Waktu telah menyembuhkan banyak luka, katanya, dan ia tidak pasti bagaimana perasaannya setelah eksekusi itu. Tak ada yang bisa mengembalikan anak-anaknya. Tak banyak yang bisa diceritakannya kepada Todd Marks.

Adam melipat surat kabar itu dan meletakkannya di samping kursi. Mendadak perutnya yang rapuh terasa nyeri, akibat Steve Roxburgh dan David McAllister. Sementara sang pengacara berharap bisa menyelamatkan nyawa Sam, rasanya mengerikan melihat musuh-musuhnya begitu bersemangat menghadapi pertempuran terakhir.

Ia orang baru. Mereka veteran. Roxburgh khususnya sudah pernah mengalami hal ini, dan punya staf berpengalaman, termasuk seorang spesialis yang terkenal sebagai Dr. Death, ahli hukum cakap yang sangat bergairah menanggapi eksekusi. Adam tak punya apa-apa kecuali setumpuk berkas penuh dengan pembelaan yang tak berhasil, dan doa semoga terjadi mukjizat. Saat ini ia sama sekali lemah dan tanpa harapan.

Lee duduk di sampingnya dengan secangkir kopi espresso. "Kau kelihatan khawatir," katanya sambil membelai lengan Adam.

"Temanku di dok pemancingan sama sekali tidak membantu."

"Kedengarannya si tua Kramer sangat kukuh."

Adam menggosok pelipis dan mencoba meredakan rasa saktt. "Aku butuh pereda rasa sakit."

"Bagaimana dengan Valium?"

"Bagus,"

"Apa kau lapar sekali?"

"Tidak. Perutku agak kacau."

"Bagus. Makan malam dibatalkan. Ada masalah kecil dengan resepnya. Pilihannya adalah pizza dingin atau sama sekali tidak makan."

"Tak ada yang enak buatku. Tak ada apa pun kecuali Valium."

~ 21 ~

Adam menjatuhkan kuncinya ke dalam ember merah itu dan memandangnya naik. Gerbang kedua tertutup di belakangnya dan Packer menunggu di dekatnya. “Selamat siang." katanya.

Waktu itu hampir pukul 14.00. Penyiar prakiraan cuaca pagi di radio meramalkan hari pertama tahun itu dengan suhu sekitar 31 derajat Celcius.

"Halo, Sersan." kata Adam, seolah mereka sekarang sudah menjadi sahabat lama. Mereka menyusuri jalan bata menuju pintu kecil dengan rumput liar.

"Akan kujemput Sam,” ujar Packer, lalu menghilang.

Sam tiba seperti biasa, tangan terborgol di punggung, wajahnya tanpa ekspresi. Baju rutan merah yang tak dikancingkan ke pinggang. Rambut kelabu di dadanya, dan kulit mengilat karena keringat. Ia menghadap Packer yang cepat-cepat membuka borgol, kemudian berlalu melewati pintu.

Sam langsung mengambil rokok dan memastikan bahwa sebatang sudah dinyalakan sebelum ia duduk dan berkata. "Selamat datang kembali."

"Aku mengajukan ini pukul sembilan pagi ini," kata Adam, menggeser petisi itu melalui lubang sempit pada kisi-kisi. "Aku bicara dengan panitera pengadilan tinggi di Jackson. Tampaknya dia berpendapat pengadilan akan memutuskan hal ini dengan cepat."

Sam mengambil dokumen itu dan memandang Adam. "Kau bisa bertaruh begitu. Mereka akan menolaknya dengan sangat senang."

"Negara bagian dituntut segera menanggapinya, jadi kita sekarang sedang membuat Jaksa Agung sibuk.”

"Bagus. Kita bisa menyaksikan berita terbaru dalam siaran berita malam. Mungkin dia mengundang kamera ke kantornya, sementara mereka menyiapkan jawaban."

Adam menanggalkan jas dan mengendurkan dasi. Ruangan itu lembap dan ia sudah berkeringat. "Apakah nama Wynn Lettner menyentuh sesuatu dalam ingatanmu?"

Sam melemparkan petisi itu ke sebuah kursi kosong dan menyedot keras filternya. Ia mengembuskan aliran asap buangan ke langit-langit. "Ya. Kenapa?"

"Apakah kau pernah bertemu dengannya?" Sam memikirkan ini sejenak sebelum bicara, dan—seperti biasa—kata-katanya terkendali.

"Mungkin. Aku tak pasti. Aku tahu siapa dia waktu itu. Kenapa?"

"Aku menemuinya selama akhir pekan. Dia sudah pensiun sekarang, dan mengelola dok pemancingan trout di White River. Kami bercakap-cakap panjang."

"Menyenangkan. Apa yang kaudapat?"

"Katanya dia masih berpendapat ada seseorang yang bekerja bersamamu."

"Apakah dia menyebutkan sebuah nama kepadamu?"

"Tidak. Mereka tak pernah punya tersangka, atau begitulah yang dikatakannya. Tapi mereka punya informan, salah satu anak buah Dogan, yang memberitahu Lettner bahwa orang lain itu orang baru, bukan salah satu dari kelompok biasanya. Menurut mereka dia dari negara bagian lain dan sangat muda. Itu saja yang diketahui Lettner."

"Dan kau percaya ini?"

"Aku tak tahu apa yang kupercaya."

"Apa bedanya sekarang?"

"Entahlah. Itu bisa kupakai dalam usaha menyelamatkan nyawamu. Tak lebih dari itu. Aku habis akal, kurasa."

"Dan aku tidak?"

"Aku berpegangan pada jerami, Sam. Meraih-raih dan mengisi lubang-lubang."

"Jadi, ceritaku berlubang-lubang?"

"Kurasa begitu. Lettner mengatakan sangsi, sebab mereka tak menemukan jejak bahan peledak ketika menggeledah rumahmu. Dan kau tak punya sejarah pernah memakainya. Dia mengatakan rasanya kau bukan jenis orang yang akan mengambil prakarsa melakukan pengeboman sendiri."

"Dan kau percaya segala yang dikatakan Lettner?"

"Yeah. Sebab itu masuk akal."

"Coba kutanya. Bagaimana kalau kukatakan padamu ada orang lain? Bagaimana kalau kuberikan nama, alamat, nomor telepon, golongan darah, dan analisis urinenya? Apa yang akan kaulakukan dengan itu?"

"Mulai berteriak-teriak sehebat-hebatnya. Aku akan mengajukan mosi dan dalih satu truk penuh. Aku akan menimbulkan kegemparan di media dan membuatmu jadi kambing hitam. Akan kucoba menjadikan ketidakbersalahanmu sensasional dan berharap seseorang memperhatikan, seseorang seperti hakim pengadilan tinggi."

Sam mengangguk perlahan-lahan, seolah-olah ini cukup konyol dan tepat seperti diduganya. "Itu takkan berhasil, Adam," katanya hati-hati, seperti sedang menguliahi seorang bocah. "Aku punya waktu tiga setengah minggu. Kau tahu undang-undang. Tak ada cara untuk mulai meneriakkan bahwa John Doe yang melakukannya, bila John Doe tak pernah disebut-sebut."

"Aku tahu. Tapi aku tetap akan melakukannya."

"Takkan berhasil. Berhentilah mencoba mencari-cari John Doe."

"Siapakah dia?"

"Dia tidak ada."

"Ada."

"Mengapa kau begitu yakin?"

"Sebab aku ingin percaya kau tak bersalah, Sam. Itu sangat penting bagiku."

"Sudah kukatakan aku tak bersalah. Aku memasang bom itu, tapi aku tak punya niat membunuh siapa pun."

"Tapi kau memasang bom? Mengapa kau mengebom rumah Pinder, dan sinagoga itu, dan kantor real estate itu? Mengapa kau mengebomi orang-orang tak berdosa?"

Sam cuma mengepul-ngepulkan asap dan memandang ke lantai.

"Mengapa kau membenci, Sam? Mengapa itu terjadi begitu mudah? Mengapa kau diajar membenci orang kulit hitam, Yahudi, Katolik, dan siapa saja yang sedikit berbeda darimu? Pernahkah kau bertanya pada diri sendiri mengapa?"

“Tidak. Aku tak punya rencana seperti itu."

"Jadi, kaulah persoalannya, benar? Karaktermu, pembawaanmu, sama seperti tinggi badan dan matamu yang biru. Sesuatu yang kaubawa sejak lahir dan tak bisa berubah. Itu diturunkan ayah dan kakekmu dari gennya, semuanya Klucker yang setia, dan itu akan kaubawa ke kuburmu dengan bangga, benar?"

"Itu adalah jalan hidup. Itu saja yang kuketahui."

"Lalu apa yang terjadi padi ayahku? Mengapa kau tak bisa menulari Eddie?"

Sam membanting rokok ke lantai dan membungkuk ke depan, bertelekan meja. Kerut merut di sudut mata dan di keningnya. Wajah tepat pada lubang kisi-kisi, tapi ia tak memandangnya. Sebaliknya ia menatap ke bagian bawah kisi-kisi. "Jadi begitulah. Saatnya untuk bicara tentang Eddie." Suaranya jauh lebih lembut dan kata-katanya lebih lambat lagi.

"Jangan pengecut, Sam. Ceritakan padaku di mana kau keliru menuntun Eddie. Apa kau mengajarinya mengucapkan kata negro? Apa kau mengajarinya membenci bocah-bocah kecil berkulit hitam? Apa kau mencoba mengajarinya cara membakari salib atau merakit bom? Apa kau membawanya melakukan pembunuhan pertamanya? Apa yang kaulakukan padinya. Sam? Di mana kau keliru?"

"Eddie tak tahu aku bergabung dalam Klan. Sampai dia di sekolah menengah atas.”

“Kenapa tidak? Tentunya kau tidak malu akan hal itu. Itu sumber kebanggaan besar dalam keluarga, bukan?"

"Kami tak pernah membicarakan itu.”

“Mengapa tidak? Kau generasi keempat keluarga Cayhall yang jadi anggota Klan. Dengan akar tertanam dalam sampai zaman Perang Saudara, atau kurang-lebih seperti itu. Bukankah itu yang kauceritakan padaku?"

"Ya."

"Kalau begitu, mengapa kau tidak mendudukkan Eddie dan memperlihatkan padanya foto-foto dan album keluarga ini? Mengapa tidak kauceritakan kisah pengantar tidur tentang marga Cayhall yang heroik dan bagaimana mereka berkeliaran di waktu malam dengan topeng menutupi wajah mereka yang beraur dan membakari gubuk-gubuk negro? Kau tahu, kisah-kisah perang Ayah kepada anak."

"Kuulangi lagi. Itu bukan sesuatu sang kami perbincangkan."

"Nah, setelah dia besar, apakah kau mencoba merekrutnya?”

"Tidak. Dia lain." Sam tersentak ke depan dan batuk-batuk pendek yang serak dan dalam. Wajahnya memerah ketika ia bergulat mencari napas. Batuk-batuk itu makin hebat dan ia meludah ke lantai. Ia berdiri dan membungkukkan badan dengan dua tangan di paha, terbatuk-batuk sambil terguncang-guncang, mencoba menghentikannya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 45)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.