Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 43)

 The Chamber: Kamar Gas

Ia terbangun di lantai di samping sofa sempit, dalam sebuah ruangan yang ia sangka ruang duduk, tapi sebenarnya ruang cuci di samping dapur. Dan Lettner menerangkan sambil tertawa terbahak-bahak bahwa sofa itu bangku yang biasa dipakainya duduk bila melepaskan sepatu lars.

Irene akhirnya menemukan tubuhnya sesudah mencari-cari di dalam rumah, dan Adam minta maaf sebesar-besarnya, sampai mereka memintanya berhenti. Irene bersikeras mereka sarapan besar. Hari itu hidangannya daging babi yang disajikan sekali seminggu, tradisi di cottage Lettner. Adam duduk di depan meja dapur, meneguk air dengan rakus sementara babi asin digoreng; Irene bersenandung dan Wyn membaca koran. Ia juga menggoreng telur orak-arik dan mencampur bloody mary.

Vodka itu mematikan sebagian rasa sakit di kepalanya, tapi tak bisa menenangkan perutnya. Ketika mereka terentak-entak menuju Calico Rock melalui jalan yang tidak rata, Adam ngeri akan mabuk.

Meskipun lebih dulu jatuh tak sadarkan diri, Lettner luar biasa sehat pagi ini. Tak ada sisa-sisa mabuk. Ia makan sepiring penuh makanan berlemak dan biskuit, dan hanya minum bloody mary. Ia membaca koran dengan penuh perhatian dan berkomentar tentang ini-itu. Adam memperkirakan ia satu di antara pecandu alkohol fungsional yang minum tiap malam, tapi bisa menepiskan mabuknya dengan cepat.

Desa itu terlihat. Jalannya mendadak lebih halus dan perut Adam berhenti melonjak-lonjak. "Maaf tentang semalam," kata Lettner.

"Apa?" tanya Adam.

"Tentang Sam. Aku kasar. Aku tahu dia kakekmu dan kau sangat prihatin. Aku berbohong tentang sesuatu. Aku sebenarnya tak ingin Sam dieksekusi. Dia bukan orang jelek."

"Akan saya katakan padanya."

"Yeah. Kurasa dia akan sangat senang."

Mereka memasuki kota dan berbelok ke arah jembatan. "Ada hal lain," kata Lettner. "Kami curiga Sam punya partner."

Adam tersenyum dan memandang ke luar jendela. Mereka melewati sebuah gereja kecil dengan orang-orang tua berdiri di bawah naungan pohon dalam gaun indah dan jas yang rapi.

"Kenapa?" tanya Adam.

"Karena alasan yang sama. Sam tak punya sejarah dengan bom. Dia tidak terlibat dalam tindak kekerasan Klan. Dua saksi itu, terutama sopir truk di Cleveland, selalu mengusik kami. Sopir truk itu tak punya alasan untuk berbohong, dan tampak begitu yakin pada dirinya. Sam rasanya bukan jenis yang akan memulai serangan bomnya sendiri."

"Jadi, siapakah orang itu?"

"Terus terang aku tak tahu." Mereka berhenti di tepi sungai dan Adam membuka pintu, berjaga-jaga kalau mabuk. Lettner membungkuk bertelekan kemudi dan menganggukkan kepala ke arah Adam.

"Setelah pengeboman ketiga atau keempat—kurasa sinagoga di Jackson—beberapa tokoh Yahudi di New York dan Washington rapat dengan LBJ, yang pada gilirannya menelepon Mr. Hoover, yang kemudian memanggilku. Aku pergi ke D.C. Aku berbicara dengan Mr. Hoover dan Presiden, dan mereka menekanku cukup hebat. Aku kembali ke Mississippi dengan tekad baru. Kami mendesak keras informan-informan kami. Maksudku, kami mencederai beberapa orang. Kami mencoba segalanya, tapi sia-sia. Sumber-sumber kami tak tahu siapa yang melakukan pengeboman. Hanya Dogan yang tahu, dan jelas tidak menceritakannya pada siapa pun. Namun setelah pengeboman kelima—kurasa kantor surat kabar—kami mendapat terobosan."

Lettner membuka pintunya dan berjalan ke depan jip. Adam mengikutinya ke sana, dan mereka menyaksikan sungai mengalir melewati Calico Rock.

"Kau mau bir? Aku mendinginkannya di toko pancing."

"Tidak. Saya sudah separo mabuk."

"Cuma bercanda. Omong-omong, Dogan mengelola tempat jual-beli mobil bekas, dan salah satu pegawainya laki-laki kulit hitam tua yang bertugas mencuci mobil dan menyapu lantai. Kami sudah pernah mendekati lelaki tua itu sebelumnya, tapi sikapnya kasar. Tapi entah dari mana sekonyong-konyong dia bercerita kepada salah satu agen kami bahwa dia melihat Dogan dan satu orang lain meletakkan sesuatu dalam bagasi Pontiac hijau beberapa hari sebelumnya. Katanya dia menunggu, lalu membuka bagasi itu dan melihat isinya adalah dinamit.

“Keesokan harinya dia mendengar ada pengeboman lain. Dia tahu FBI sedang mengawasi Dogan dengan ketat, jadi dia pikir hal itu perlu diberitahukan pada kami. Pembantu Dogan seorang Klucker bernama Virgil, dia juga pegawai. Jadi, aku pergi menemui Virgil. Kuketuk pintunya pada pukul tiga pagi, menggedornya keras-keras, kau tahu, seperti yang selalu kami lakukan waktu itu. Tak lama kemudian dia menyalakan lampu dan melangkah ke teras.

“Aku datang bersama sekitar delapan agen, dan kami semua mengacungkan lencana ke muka Virgil. Dia ketakutan setengah mati. Kukatakan padanya kami tahu dia mengirimkan dinamit ke Jackson malam sebelumnya, dan dia sedang menghadapi ancaman tiga puluh tahun penjara. Melalui pintu kasa kau bisa mendengar istrinya menangis. Virgil gemetar dan siap menangis juga. Kutinggalkan kartu namaku dengan instruksi untuk meneleponku sebelum tengah hari itu juga, dan aku mengancamnya agar tidak memberitahu Dogan atau siapa pun lainnya. Kukatakan kami akan mengawasinya setiap saat.

"Aku sangsi Virgil kembali tidur. Matanya merah dan bengkak ketika dia menemuiku beberapa jam kemudian. Kita harus berteman. Dia mengatakan pengeboman itu bukan pekerjaan kelompok Dogan yang biasanya. Dia tak tahu banyak, tapi mendengar cukup banyak dari Dogan dan percaya bahwa pelaku pengeboman itu seorang laki-laki yang sangat muda dari negara bagian lain. Orang ini muncul entah dari mana, dan mestinya sangat pandai memakai peledak. Dogan yang memilih sasaran, merencanakan pekerjaan, lalu memanggil orang ini, yang menyelinap ke dalam kota, melaksanakan pengeboman, lalu menghilang."

"Apakah Anda mempercayainya?"

"Sebagian besar, ya. Itu sangat masuk akal. Pasti orang baru, sebab saat itu kami sudah melubangi tubuh Klan dengan informan. Kami sebenarnya tahu setiap gerakan yang mereka ambil."

"Apa yang terjadi pada Virgil?"

"Aku melewatkan beberapa waktu bersamanya, memberinya sejumlah uang, kau tahu, rutin seperti biasanya. Mereka selalu menginginkan uang. Aku jadi yakin dia tak tahu siapa yang memasang bom-bom tersebut. Dia takkan pernah mengaku dirinya terlibat, serta mengirim mobil dan dinamit itu, dan kami tidak menekannya. Bukan dia yang kami buru."

"Apakah dia terlibat dalam pengeboman Kramer?"

"Tidak. Dogan memakai orang lain untuk itu. Kerap kali Dogan seperti punya indra keenam tentang kapan harus mengganti campuran atau mengubah kegiatan rutin."

"Orang yang dicurigai Virgil sama sekali tidak mirip dengan Sam Cayhall, bukan?" tanya Adam.

"Tidak."

"Dan Anda tak punya tersangka?"

"Tidak."

"Ayolah, Wyn. Pasti kalian tahu sesuatu."

"Sumpah. Kami tidak tahu. Tak lama setelah kami menemui Virgil, Kramer dibom dan semuanya berakhir. Seandainya Sam punya teman, teman itu pasti meninggalkannya."

"Dan FBI tidak mendengar apa pun sesudahnya?"

"Sedikit pun tidak. Kami sudah mendapatkan Sam, yang tampang dan baunya benar-benar bersalah."

"Dan, tentu saja, kalian bernafsu sekali menutup kasus itu."

"Benar. Dan pengeboman itu berhenti, ingat? Tak ada pengeboman lain setelah Sam tertangkap, jangan lupakan itu. Kami sudah mendapatkan orang kami. Mr. Hoover senang. Orang-orang Yahudi senang. Presiden senang. Lalu mereka tak dapat memidananya selama empat belas tahun, tapi itu lain cerita. Setiap orang lega ketika pengeboman-pengeboman itu berhenti."

"Jadi, kenapa Dogan tidak buka mulut tentang pengebom sebenarnya ketika mengadukan Sam?"

Mereka berjalan menuruni bantaran sungai, ke suatu titik beberapa senti di atas air. Mobil Adam berdiri di dekat situ. Lettner berdeham melonggarkan tenggorokan dan meludah ke sungai. "Apa kau akan bersaksi memberatkan seorang teroris yang tidak ada dalam tahanan?"

Adam berpikir sejenak. Lettner tersenyum, memperlihatkan giginya yang kuning besar, lalu terkekeh ketika ia mulai beranjak ke dok. "Mari kita minum bir."

"Tidak. Terima kasih. Saya harus pergi."

Lettner berhenti, mereka berjabatan tangan serta berjanji untuk bertemu lagi. Adam mengundangnya ke Memphis, dan Lettner mengundangnya kembali ke Calico Rock untuk memancing dan minum lagi. Saat itu undangannya tak dapat diterima. Adam menitipkan salam untuk Irene, minta maaf lagi karena tidur di kamar cuci, dan kembali mengucapkan terima kasih kepadanya atas percakapan itu.

Ia meninggalkan kota kecil itu, mengemudi dengan sangat waspada melewati tikungan dan perbukitan, masih berhati-hati untuk tidak mengacaukan perutnya.

***

Lee sedang bergulat memasak pasta ketika Adam memasuki apartemennya. Meja sudah ditata dengan peralatan makan keramik, perak, dan bunga segar. Resep itu untuk manicoti panggang, dan pekerjaan di dapur tidak berjalan dengan baik.

Lebih dari satu kali pada minggu-minggu yang lalu Lee mengaku dirinya tidak pandai memasak. Sekarang ia membuktikannya. Panci dan wajan bertebaran di counter. Celemeknya yang jarang dipakai tertutup percikan saus tomat. Ia tertawa ketika mereka saling mencium pipi dan ia mengatakan ada pizza beku bila urusan jadi makin parah.

"Kau tampak lesu," katanya, mendadak menatap ke mata Adam.

"Aku melewatkan malam yang berat."

"Kau bau alkohol."

"Aku minum dua gelas bloody mary untuk sarapan. Dan aku perlu satu lagi sekarang."

"Bar sudah tutup." Ia mengambil pisau dan memotong setumpuk sayuran. Zuchini adalah korban berikutnya. "Apa yang kaulakukan di sana?"

“Mabuk-mabukan dengan orang FBI itu. Tidur di lantai, di sebelah mesin cucinya."

"Menyenangkan sekali." Selisih satu sentimeter saja ia nyaris teriris. Ia menarik tangan dari papan pemotong dan memeriksa satu jari. "Apa kau sudah baca koran Memphis?"

"Belum. Apakah aku perlu membacanya?"

"Ya. Ada di sana." Ia mengangguk ke sudut snack bar.

"Kabar buruk?"

"Baca saja."

Adam mengambil edisi-Minggu Memphis Press dan duduk di kursi di depan meja. Pada halaman depan bagian kedua, ia sekonyong-konyong melihat wajahnya sedang tersenyum. Itu foto yang sudah dikenalnya, yang diambil belum lama, ketika ia masih mahasiswa tahun kedua di Michigan. Beritanya mengisi setengah halaman, dan fotonya digabungkan dengan banyak foto lain—Sam, tentu saja, Marvin Kramer, Josh dan John Kramer, David McAllister sang jaksa penuntut, Steve Roxburgh, Naifeh, Jeremiah Dogan, dan Mr. Elliot Kramer, ayah Marvin.

Todd Marks sibuk. Narasinya mulai dengan sejarah ringkas kasus tersebut yang menempati satu kolom penuh, lalu ia bergerak cepat ke keadaan sekarang dan menguraikan kembali kisah yang sudah ditulisnya dua hari yang lalu. Ia menemukan sedikit lagi data biografi Adam—masuk college di Pepperdine, sekolah hukum di Michigan, sejarah ringkas pekerjaan di Kravitz & Bane.

Naifeh sangat sedikit bicara, cuma mengatakan bahwa eksekusi akan dilaksanakan sesuai undang-undang. McAllister, sebaliknya, penuh dengan kata-kata bijak. Selama 23 tahun ia hidup dengan mimpi buruk Kramer, katanya muram. Ia merasa tersanjung dan dihargai untuk menuntut Sam Cayhall dan menggiring pembunuh itu pada keadilan, dan hanya eksekusi yang bisa menutup bab mengerikan dalam sejarah Mississippi ini. Tidak, katanya sesudah merenung lama, gagasan memberikan pengampunan sama sekali di luar pertimbangan. Sama sekali tidak adil bagi anak-anak kecil Kramer. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 44)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.