Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 42)

The Chamber: Kamar Gas

Rumah Lettner berupa sebuah cottage di tepi sungai, satu mil di utara kota. Teras belakangnya ditutup kasa untuk melindunginya dari serangga, dan tak jauh di bawahnya terlihat pemandangan sungai yang menakjubkan. Mereka duduk di kursi goyang anyaman di beranda dan membuka bir lagi, sementara Irene menggoreng ikan.

Menyajikan makanan di meja adalah pengalaman baru bagi Adam, dan ia makan ikan tangkapannya dengan lahap. Sambil mengunyah makanan dan minum, Wyn meyakinkannya bahwa rasanya selalu lebih lezat bila ikannya ditangkap sendiri. Setelah makan beberapa lama, Wyn beralih ke scotch. Adam menolak. Ia cuma ingin segelas air, tapi machismo mendorongnya terus minum bir. Ia tak bisa mengelak lagi pada titik ini. Lettner pasti akan memarahinya.

Irene meneguk anggur dan bercerita tentang Mississippi. Beberapa kali ia pernah diancam, dan anak-anak mereka menolak mengunjungi mereka. Mereka berdua berasal dari Ohio, dan keluarga mereka terus mengkhawatirkan keselamatan mereka. Begitulah saat itu, katanya lebih dan satu kali dengan nada penuh kerinduan akan ketegangan. Ia bangga luar biasa terhadap suaminya dan prestasinya selama perang perjuangan hak sipil.

Ia meninggalkan mereka sesudah makan malam dan menghilang dalam cottage itu. Saat itu hampir pukul 22.00, dan Adam sudah siap tidur. Wyn bangkit berdiri sambil berpegangan pada tiang kayu, dan minta diri ke kamar mandi. Ia kembali dengan scotch baru dalam dua gelas tinggi. Ia mengangsurkan satu kepada Adam. Lalu kembali ke kursi goyangnya.

Mereka bergoyang-goyang dan meneguk minuman tanpa berbicara selama beberapa lama, lalu Lettner berkata, "Jadi, kau yakin Sam punya asisten?”

"Tentu saja dia punya asisten." Adam sadar benar bahwa lidahnya tebal dan kata-katanya lamban.

Kata-kata Lettner jelas luar biasa. "Dan apa yang membuatmu begitu yakin?"

Adam menurunkan gelas besar itu dan bersumpah tidak akan minum lagi. "FBI menggeledah rumah Sam sesudah pengeboman itu, benar?"

"Benar."

"Sam ada di penjara Greenville, dan kalian mendapat surat perintah penggeledahan."

"Aku ada di sana, Nak. Kami masuk dengan selusin agen dan menghabiskan waktu tiga hari."

"Dan tak menemukan apa pun."

"Begitulah."

"Tak ada bekas dinamit. Tak ada sisa tutup peledak, sumbu, detonator. Tak ada jejak alat atau zat yang dipakai dalam pengeboman. Benar?"

"Benar. Jadi, apa maksudmu?"

"Sam tidak punya pengetahuan tentang peledak, tidak pula punya sejarah pernah memakainya."

"Tidak, bisa kukatakan dia punya sejarah memakainya. Seingatku, Kramer adalah pengeboman keenam. Bangsat-bangsat gila itu mengebom membabi buta, Nak, dan kami tak bisa menghentikan mereka. Kau tak ada di sana. Aku terlibat di tengahnya. Kami telah menakut-nakuti dan menginfiltrasi Klan sampai mereka takut bergerak, lalu sekonyong-konyong peperangan lain meletus dan bom berjatuhan di mana-mana.

“Kami mendengarkan di tempat semestinya. Kami memuntir tangan orang sampai patah untuk memaksakan pengakuan. Dan kami tidak mendapat jejak apa pun. Informan kami tak tahu apa-apa. Sepertinya ada satu cabang lain dalam Klan yang mendadak menyerbu Mississippi tanpa memberi tahu cabang lama."

"Apakah waktu itu Anda tahu tentang Sam?"

"Namanya ada dalam catatan kami. Seingatku ayahnya anggota Klan, dan mungkin juga satu atau dua saudara laki-lakinya. Jadi, kami punya nama mereka. Tapi mereka tampaknya tidak membahayakan. Mereka tinggal di bagian utara negara bagian itu, di suatu daerah yang tidak dikenal dengan kekerasan serius oleh Klan. Mereka mungkin membakar salib, mungkin menembaki beberapa rumah, tapi bukan apa-apa dibanding dengan Dogan dan kelompoknya. Tangan kami sudah penuh dengan para pembunuh. Kami tak punya waktu untuk menyelidiki setiap orang yang mungkin jadi anggota Klan di negara bagian itu."

"Kalau begitu, bagaimana kau menjelaskan peralihan Sam secara mendadak pada tindak kekerasan?"

"Aku tak bisa menjelaskannya. Dia bukan bocah alim anggota paduan suara, oke? Sebelum itu dia sudah pernah membunuh."

"Anda pasti?"

"Kau sudah mendengarku. Dia menembak dan membunuh salah satu pegawainya yang berkulit hitam pada awal tahun lima puluhan. Tak pernah melewatkan sehari pun dalam penjara karena tindakan itu. Bahkan, aku tidak yakin, tapi aku merasa dia tak pernah ditangkap karena urusan itu. Mungkin ada lagi pembunuhan lain. Korban kulit hitam lain."

"Saya lebih baik tidak mendengarnya."

“Tanya dia. Lihat apakah bangsat tua itu punya cukup nyali untuk mengakuinya di depan cucunya sendiri." Ia menghirup seteguk lagi. "Dia orang yang kejam, Nak, dan dia pasti punya kemampuan untuk menanam bom dan membunuh orang. Jangan naif."

"Saya tidak naif. Saya cuma mencoba menyelamatkan nyawanya."

"Kenapa? Dia membunuh dua anak kecil yang sama sekali tak berdosa. Dua bocah. Apakah kau menyadari hal ini?"

"Dia dipidana karena membunuh. Tapi bila pembunuhan itu keliru, negara pun keliru membunuhnya."

"Aku tak percaya sampah macam itu. Hukuman mati terlalu enak untuk orang-orang ini. Terlalu bersih dan steril. Mereka tahu mereka akan mati, maka mereka punya waktu untuk memanjatkan doa dan mengucapkan selamat tinggal. Bagaimana dengan korbannya? Berapa banyak waktu yang mereka miliki untuk bersiap?"

"Jadi, Anda ingin Sam dieksekusi?"

"Yeah. Aku ingin mereka semua dieksekusi."

"Tadi saya pikir Anda mengatakan dia bukan orang jelek."

"Aku bohong. Sam Cayhall pembunuh berdarah dingin. Dia bersalah besar. Bagaimana lagi kau bisa menerangkan fakta bahwa pengeboman itu berhenti begitu dia ditahan?"

"Mungkin mereka ketakutan sesudah kasus Kramer?"

"Mereka? Siapa gerangan mereka?"

"Sam dan partnernya. Dan Dogan."

"Oke. Aku ikuti permainanmu. Mari kita asumsikan Sam punya asisten."

"Tidak. Mari kita asumsikan Sam adalah si asisten, dan orang lain itu pakar bahan peledak."

"Pakar? Bom itu sangat kasar, Nak. Lima yang pertama tak lebih dari beberapa batang dinamit diikat jadi satu dengan sumbu. Kaunyalakan korek api, lari mati-matian, dan lima belas menit kemudian... buum! Bom untuk Kramer tak lebih dari bom gombal dengan beker dihubungkan ke sana. Mereka beruntung bom itu tidak meledak ketika mereka bermain-main dengannya."

"Apa Anda pikir bom itu sengaja disetel untuk meledak pada saat kejadian itu?"

"Juri berpendapat demikian. Dogan mengatakan mereka merencanakan membunuh Marvin Kramer."

"Kalau begitu, mengapa Sam berkeliaran di sana? Mengapa dia begitu dekat ke bom itu sampai tertimpa reruntuhan?"

"Kau harus tanya Sam, dan aku yakin sudah kaulakukan. Apakah dia menyatakan punya asisten?”

“Tidak.”

"Kalau begitu, bereslah urusannya. Kalau klienmu sendiri sudah bilang tidak, apa lagi yang kaucari-cari?”

"Sebab saya pikir klien saya bohong."

"Kalau begitu, kasihan klienmu. Kalau dia ingin berbohong dan melindungi identitas seseorang, mengapa kau repot?"

"Mengapa dia berbohong pada saya?"

Lettner menggelengkan kepala dengan kesal, lalu menggumamkan sesuatu dan minum. "Bagaimana aku bisa tahu? Aku tak ingin tahu, oke? Sejujurnya aku tak peduli apakah Sam bohong atau menceritakan yang sebenarnya. Tapi bila dia tidak berterus terang kepadamu, pengacara dan cucunya sendiri, kubilang gas saja dia."

Adam menghirup minuman panjang-panjang dan menerawang pada kegelapan. Sebenarnya ia pun merasa konyol menggali ke sana kemari, mencoba membuktikan kliennya sendiri berbohong kepadanya. Ia akan mencoba hal ini sekali lagi, lalu bicara tentang hal lain. "Anda tidak percaya pada saksi-saksi yang melihat Sam dengan orang lain?"

“Tidak. Seingatku mereka agak goyah. Laki-laki di pangkalan truk itu tidak maju untuk waktu yang lama. Yang lain baru saja meninggalkan honky-tonk. Mereka tak dapat dipercaya."

"Apakah Anda percaya Dogan?"

"Juri percaya."

"Saya tidak tanya tentang Juri."

Napas Lettner akhirnya memberat, dan ia tampak mulai kabur. "Dogan gila, tapi juga jenius. Dia mengatakan bom itu dimaksudkan untuk membunuh, dan aku percaya. Ingat, Adam, mereka nyaris menghabisi sekeluarga penuh di Vicksburg. Aku tidak ingat nama..."

"Pinder. Dan Anda terus mengatakan mereka melakukan ini dan itu."

"Aku cuma mengikuti permainanmu, oke? Kita mengasumsikan Sam punya teman. Mereka memasang bom di rumah keluarga Pinder di tengah malam buta. Satu keluarga bisa saja tewas semua."

"Sam mengatakan dia meletakkan bom itu di garasi, sehingga tak seorang pun akan terluka."

"Sam bilang begitu padamu? Sam mengaku dia melakukannya? Kalau begitu, mengapa kau menanyaiku tentang adanya asisten? Sepertinya kau perlu mendengarkan klienmu sendiri. Bangsat itu bersalah, Adam. Dengarkan dia."

Adam kembali meneguk minuman, kelopak matanya makin berat. Ia memandang jam tangan, tapi tak bisa melihatnya. "Ceritakan pada saya tentang pita rekaman itu," katanya sambil menguap.

"Pita rekaman apa?" tanya Lettner, menguap.

"Pita rekaman FBI yang diputar dalam ruang sidang Sam. Yang merekam percakapan Dogan dengan Wayne Graves untuk mengebom Kramer."

"Kami punya banyak pita rekaman, dan mereka punya banyak sasaran. Kramer cuma satu di antara sekian banyak. Persetan, kami punya pita rekaman dengan dua Klucker berbicara tentang pengeboman sebuah sinagoga ketika berlangsung upacara perkawinan. Mereka ingin mengunci pintu-pintunya dan menembakkan gas melalui saluran pemanas sehingga seluruh jemaat tewas. Bangsat-bangsat gila.

“Itu bukan Dogan, cuma sepasang anggotanya yang idiot berbicara sampah, jadi kami menyisihkannya. Wayne Graves juga Klucker yang masuk dalam daftar gaji kami, dan dia membiarkan kami menyadap teleponnya. Suatu malam dia menelepon Dogan, mengatakan dia ada di telepon umum, dan mereka bicara akan meledakkan Kramer. Mereka juga bicara tentang sasaran-sasaran lain. Itu sangat efektif dalam sidang Sam. Namun rekaman itu tidak membantu kami menghentikan satu pengeboman pun. Tidak pula membantu kami mengidentifikasi Sam."

"Anda tidak tahu Sam Cayhall terlibat?"

"Sama sekali tidak. Seandainya si tolol itu meninggalkan Greenville pada saat seharusnya, mungkin dia masih jadi orang bebas."

"Apakah Kramer tahu dia jadi sasaran?"

"Kami memberitahu dia. Tapi saat itu dia sudah terbiasa dengan ancaman. Dia mempekerjakan penjaga di rumahnya.” Kata-katanya mulai sedikit terseret dan dagunya jatuh tiga perempat senti.

Adam mohon diri dan hati-hati berjalan ke kamar mandi, ketika kembali ke teras ia mendengar dengkuran berat Lettner tersuruk di kursinya dan tak sadarkan diri dengan minuman di tangan. Adam mengambilnya, lalu beranjak mencari sofa.

~ 20 ~

Hawa pagi menjelang siang itu hangat, tapi rasanya menimbulkan demam di depan jip tentara yang tidak memiliki AC dan peralatan penting lain. Adam berkeringat dan terus meletakkan tangan pada pegangan pintu yang ia harapkan akan segera terbuka saat makan pagi Irene siap.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 43)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.