Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 41)

 The Chamber: Kamar Gas

Terdengar suara orang, diikuti langkah kaki, lalu pintu terbuka lagi. Seorang laki-laki dan seorang bocah masuk. Lettner bangkit berdiri. Mereka butuh makanan dan bekal, dan selama sepuluh menit mereka berbelanja dan berbicara, dan memutuskan di mana ikan mau memakan umpan. Lettner meletakkan birnya di bawah counter kalau ada pelanggan datang.

Adam mengambil soft drink dari pendingin dan meninggalkan toko itu. Ia berjalan menyusuri tepian dok kayu di samping sungai dan berhenti di pompa bensin. Dua remaja dalam perahu sedang melemparkan pancing dekat jembatan. Adam baru sadar bahwa seumur hidupnya tak pernah memancing. Ayahnya bukan orang yang gemar menikmati hobi dan bersantai. Ia pun tak mampu mempertahankan pekerjaan.

Pada saat ini, Adam tak bisa mengingat dengan tepat apa yang dikerjakan ayahnya dengan waktunya. Pelanggan berlalu dan pintu terempas. Lettner berjalan pelan ke pompa bensin. "Kau suka memancing trout?” ia bertanya sambil mengamati sungai.

"Tidak. Tak pernah melakukannya"

"Mari kita pergi jalan-jalan. Aku perlu memeriksa suatu tempat di hilir. Mestinya banyak ikan di sana."

Lettner membawa kotak esnya yang ia letakkan dengan hati-hati ke dalam perahu. Ia melangkah turun dari dok, dan perahu itu bergoyang hebat dari satu sisi ke sisi lainnya, sementara ia meraih motor.

"Ayo," serunya pada Adam, yang sedang mengamati jarak 76 senti antara dirinya dan perahu itu. "Dan ambil tali itu," Lettner berseru lagi, menunjuk ke tali tipis yang terikat pada kaitan.

Adam melepaskan tali itu dan dengan cemas melangkah ke dalam perahu yang bergoyang tepat ketika kakinya menyentuhnya. Ia tergelincir, mendarat pada kepala, dan nyaris berenang. Lettner tertawa sambil menarik tali starter. Ron, tentu saja, menyaksikan semua ini dan menyeringai tolol di atas dok. Adam malu tapi tertawa juga, seolah-olah semua ini sangat lucu. Lettner menyalakan mesin, bagian depan perahu terentak ke atas, dan mereka meluncur.

Adam mencengkeram pegangan di kedua sisi ketika perahu melaju cepat dan lewat di bawah jembatan. Calico Rock dengan cepat mereka tinggalkan. Sungai itu berbelok dan menikung, melewati bukit-bukit indah dan mengitari tebing-tebing karang. Lettner mengendalikan perahu dengan satu tangan dan meneguk bir segar dengan tangan satunya.

Sesudah beberapa menit, Adam lebih santai sedikit dan bisa meraih sebotol bir dari kotak pendingin tanpa kehilangan keseimbangan. Botol itu sedingin es. Ia memegangnya dengan tangan kanan dan mencengkeram perahu dengan tangan kiri. Lettner bersenandung atau menyanyikan sesuatu di belakangnya. Deru motor yang melengking tinggi menghalangi percakapan.

Mereka melewati sebuah dok kecil untuk memancing trout. Sekelompok pemancing dari kota sedang menghitung ikan dan minum bir, dan mereka melewati satu armada kecil perahu karet dengan para remaja jorok sedang merokok sesuatu dan berjemur. Mereka melambaikan tangan kepada pemancing yang sedang bekerja keras.

Perahu itu akhirnya mengurangi kecepatan dan Lettner mengendalikannya dengan hati-hati melalui tikungan, seolah-olah ia bisa melihat ikan di bawah dan harus mengatur posisi dengan sempurna. Ia mematikan mesin. "Kau mau mancing atau minum bir?" ia bertanya, menatap ke air.

"Minum bir."

"Cocok." Botolnya sekonyong-konyong jadi nomor dua ketika ia mengambil gagang pancing dan melempar pancing ke suatu titik ke arah tepian. Adam mengawasi sejenak, dan ketika melihat tak ada hasil, segera ia merebahkan tubuh dan menggantungkan kaki di atas air. Perahu itu tidak nyaman.

"Seberapa sering Anda memancing?" tanya Adam.

"Tiap hari. Ini bagian dari pekerjaanku, kau tahu, bagian dari pelayananku kepada pelanggan. Aku harus tahu tempat ikan makan umpan."

"Pekerjaan sulit."

"Seseorang harus melakukannya."

"Apa yang membawa Anda ke Calico Rock?"

"Aku mendapat serangan jantung pada tahun 1973, jadi harus pensiun dari FBI. Aku mendapat pensiun yang lumayan dan segala macam, tapi... sialan, aku jadi bosan duduk-duduk saja. Aku dan istriku menemukan tempat ini. Ada dok yang akan dijual. Saru kekeliruan mengarah pada kekeliruan lain, dan di sinilah aku. Beri aku sebotol bir."

Ia melempar lagi ketika Adam memberikan bir. Ia cepat-cepat menghitung ada empat belas botol tersisa dalam es. Perahu itu hanyut mengikuti sungai. Lettner meraih dayung. Ia memancing dengan satu tangan dan mendayung perahu dengan tangan satunya dan entah bagaimana meletakkan bir baru di antara lutut. Kehidupan pemandu pemancing.

Mereka mengurangi kecepatan di bawah pepohonan, matahari terhalang sejenak. Caranya melempar pancing kelihatan mudah. Ia melecutkan gagangnya dengan gerak pergelangan tangan yang lancar halus, dan melemparkan senar ke mana saja yang ia inginkan. Tapi tak ada ikan yang menggigit umpan. Ia melempar ke tengah sungai.

"Sam bukan orang jelek." Ia sudah pernah mengucapkan ini satu kali.

"Anda pikir dia harus dieksekusi?"

"Itu tidak tergantung padaku, Nak. Rakyat negara bagian ini menginginkan hukuman mati, maka itu tercatat di buku. Rakyat mengatakan Sam bersalah dan harus dieksekusi, jadi apa hakku?"

"Tapi Anda punya pendapat."

"Apa gunanya? Pemikiranku sama sekali tak ada nilainya.”

"Mengapa Anda mengatakan Sam bukan orang jelek?"

"Panjang kisahnya."

"Kita masih punya empat belas botol bir tersisa."

Lettner tertawa dan senyum lebar itu kembali, ia meneguk dari botol dan memandang ke sungai, jauh dari senarnya. "Sam bukan sasaran kami, kau tahu. Dia tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan yang benar-benar kotor, setidaknya pada permulaannya. Ketika para pekerja hak-hak sipil itu menghilang, kami melacak dengan geram. Kami menebar uang di semua tempat, dan tak lama kemudian kami punya segala macam informan Klan.

“Orang-orang ini pada dasarnya cuma redneck bodoh yang tak pernah punya uang sepeser pun, dan kami memanfaatkan kehausan mereka akan uang. Kami takkan pernah menemukan tiga orang itu seandainya kami tidak menabur sejumlah uang. Seingatku ada sekitar 30.000, meskipun aku tidak berurusan langsung dengan si informan. Sialan, Nak, mereka dikubur dalam sebuah bendungan. Kami menemukan mereka. Prestasi kami jadi kelihatan bagus, kau mengerti.

“Akhirnya kami berhasil melakukan sesuatu. Melakukan banyak penahanan, tapi pemidanaan sulit sekali. Kekerasan berlanjut. Mereka mengebomi gereja dan rumah orang-orang kulit hitam begitu sering sampai kami tak bisa mengejar. Kejadian di sana seperti perang saja. Hal itu makin parah dan Mr. Hoover makin gusar dan kami menebar uang lebih banyak lagi.

"Dengar, Nak, aku takkan menceritakan apa pun yang bermanfaat, kau mengerti?"

"Kenapa tidak?"

"Beberapa hal bisa kubicarakan, beberapa lainnya tidak."

"Sam tidak sendirian ketika mengebom kantor Kramer, bukan?"

Lettner kembali tersenyum dan mengamati senar pancingnya. Gagang pancing itu tergeletak di pangkuannya. "Tapi pada akhir tahun 1965 dan awal 1966, kami punya jaringan informan yang sangat luas. Sebenarnya tidak sesulit itu. Kami sudah tahu seseorang masuk Klan, kemudian kami menguntitnya. Kami membuntutinya pulang di waktu malam, mengedipkan lampu mobil kami di belakangnya parkir di depan rumahnya. Itu biasanya membuatnya ketakutan setengah mati.

“Lalu kami membuntutinya pergi bekerja, kadang-kadang kami berbicara dengan bosnya, mengibaskan lencana ke sana kemari, berlagak seperti akan menembak seseorang. Kami bicara dengan orangtuanya, memperlihatkan lencana kami pada mereka, datang dalam setelan jas gelap, membiarkan mereka mendengarkan aksen Yankee kami, dan orang-orang kampung yang malang ini secara harfiah buka mulut tepat di depan kami. Bila orang itu pergi ke gereja, kami mengikutinya pada suatu hari Minggu, lalu keesokan harinya kami akan bicara pada pendetanya; kami ceritakan padanya kami mendengar desas-desus hebat bahwa Mr. Ini dan Itu anggota aktif Klan, apakah dia tahu sesuatu tentang hal itu.

“Kami berlagak seolah-olah menjadi anggota Klan merupakan tindak kejahatan. Bila orang itu punya anak remaja, kami menguntit mereka pergi berkencan, duduk di belakang mereka dalam gedung bioskop, menangkap mereka parkir dalam hutan. Sepenuhnya bukan apa-apa kecuali gangguan, tapi selalu berhasil. Biasanya mereka jadi sangat gelisah, sampai tak sabar lagi untuk bekerja sama. Aku pernah melihat mereka menangis, Nak, kalau kau bisa mempercayainya. Benar-benar menangis ketika mereka akhirnya datang ke altar dan mengakui dosa mereka." Lettner tertawa ke arah senarnya yang tidak aktif.

Adam menghirup birnya. Barangkali bila meminumnya semua, akhirnya lidah Lettner akan lebih lancar.

"Pernah ada satu orang, aku takkan bisa melupakannya. Kami menangkapnya di ranjang bersama gundik kulit hitamnya dan itu bukan sesuatu yang luar biasa. Maksudku, orang-orang ini pergi membakari salib dan menembaki rumah orang-orang kulit hitam, lalu menyelinap seperti orang gila untuk menemui pacar mereka yang kulit hitam. Aku tak mengerti mengapa perempuan-perempuan kulit hitam itu bisa membiarkan hal ini.

“Nah, dia punya gubuk berburu di tengah hutan dan memakainya sebagai tempat kencan. Suatu siang dia menemui gundiknya di sana untuk kencan. Setelah selesai dan siap pergi, dia membuka pintu depan dan kami memotretnya. Perempuan itu pun kami potret, kemudian kami bicara dengan si pria. Dia diaken atau tetua di suatu gereja desa, tokoh, kau tahu, dan kami bicara kepadanya seolah-olah dia anjing. Kami menyuruh perempuan itu pergi dan mendudukkan si pria di dalam pondok kecil itu, dan tak lama kemudian dia menangis. Kelak terbukti dia salah satu di antara saksi terbaik kami. Namun kemudian dia masuk penjara."

"Kenapa?"

"Nah, rupanya sementara dia main-main dengan pacarnya, istrinya juga melakukan hal yang sama dengan bocah kulit hitam yang bekerja di tanah pertaniannya. Perempuan itu hamil, bayinya campuran, maka informan kami pergi ke rumah sakit dan membunuh ibu dan anak itu. Dia menghabiskan lima belas tahun di Parchman."

"Bagus."

"Waktu itu kami tak banyak mendapatkan pemidanaan, tapi kami mengganggu mereka sampai ke suatu titik yang membuat mereka takut berbuat banyak. Kekerasan menurun luar biasa, sampai Dogan memutuskan mengincar orang-orang Yahudi. Harus kuakui, kami kecurian. Kami tidak tahu apa-apa."

"Kenapa tidak?"

"Sebab dia jadi lebih waspada. Dengan pahit dia mendapati orang-orangnya sendiri yang berbicara kepada kami, maka dia putuskan beroperasi dengan unit kecil yang tak banyak bicara."

"Unit? Berarti lebih dari satu orang?"

"Seperti itulah."

"Jadi, Sam dan siapa lagi?"

Lettner mendengus dan terkekeh sekaligus, dan memutuskan bahwa ikan telah pindah ke tempat lain. Ia meletakkan gagang dan gulungan pancingnya dalam perahu dan menarik tali starter. Mereka pindah, sekali lagi berpacu ke hilir. Adam membiarkan kakinya bergantung di sisi perahu; sepatu moccasin serta mata kakinya yang telanjang langsung basah. Ia meneguk bir. Matahari akhirnya mulai menghilang di balik perbukitan, dan ia menikmati keindahan sungai itu.

Perhentian berikutnya adalah air tenang di bawah tebing dengan seutas tali tergantung dari atas. Lettner melempar dan menggulung pancing, semuanya tanpa hasil, dan mengambil peran sebagai interogator. Ia mengajukan seratus pertanyaan tentang Adam dan keluarganya—perjalanan kabur ke barat, identitas baru, bunuh diri itu.

Ia menerangkan bahwa ketika Sam dipenjara, mereka memeriksa keluarganya dan tahu ia punya seorang putra yang baru saja meninggalkan kota itu, tapi karena Eddie tampak tidak membahayakan, mereka tidak meneruskan penyelidikan. Sebaliknya, mereka menghabiskan waktu untuk mengawasi saudara-saudara dan sepupu Sam. Ia sangat tertarik dengan masa muda Adam dan bagaimana ia dibesarkan tanpa tahu apa-apa tentang sanak saudaranya.

Adam mengajukan beberapa pertanyaan, namun jawabannya kabur dan langsung dibelokkan pada pertanyaan lain tentang masa lalunya. Adam sedang ber-sparing dengan orang yang sudah berpengalaman 25 tahun mengajukan pertanyaan.

Tempat memancing ketiga dan terakhir tidak jauh dari Calico Rock, dan mereka memancing sampai hari gelap. Sesudah lima botol bir, Adam mengerahkan keberanian untuk melempar pancing. Lettner instruktur yang sabar, dan dalam beberapa menit Adam menangkap ikan trout dengan ukuran mengesankan. Selama selingan yang pendek itu, mereka lupa tentang Sam, Klan dan mimpi buruk lain dan masa lampau. Mereka hanya memancing. Minum dan memancing.

***

Nama pertama Mrs. Lettner adalah Irene, dan ia menyambut suami dan tamu tak diundangnya dengan sikap ramah dan santai. Wyn menerangkan, ketika Ron membawa mereka pulang, bahwa Irene sudah terbiasa dengan tamu mendadak. Sikapnya sangat tenang ketika mereka terhuyung-huyung melewati pintu depan dan memberikan seuntai trout kepadanya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 42)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.