Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 40)

 The Chamber: Kamar Gas

Roland telah bertahun-tahun mengikuti kasus Sam Cayhall, karena beberapa alasan. Pertama, biasanya kasus macam itulah yang menjadi minat komputer mereka—seorang teroris Klan tua dari dasawarsa enam puluhan menunggu ajalnya di death row. Data tentang Cayhall sudah setebal lebih dari tiga puluh senti. Meskipun bukan pengacara, Roland sependapat dengan umum bahwa pembelaan Sam sudah berakhir dan ia akan mati.

Bagi Roland ini cocok, tapi ia menyimpan pendapatnya untuk diri sendiri. Sam Cayhall adalah pahlawan bagi supremasi kulit putih, dan kelompok Nazi di bawah Roland sudah diminta berpartisipasi dalam demonstrasi sebelum eksekusi. Mereka tak punya hubungan langsung dengan Cayhall, sebab ia tak pernah menjawab surat mereka, tapi ia adalah suatu simbol dan mereka ingin menarik manfaat sebanyak mungkin dari kematiannya.

Nama keluarga Roland, Forchin, berasal dari kaum Cajun di sekitar Thibodaux. Ia tak punya nomor Social Security, tak pernah melaporkan pembayaran pajak, dan sepanjang pengetahuan pemerintah ia tak pernah ada. Ia punya tiga paspor palsu yang dibuat dengan sempurna, salah satunya adalah paspor Jerman, dan satu lagi dikeluarkan Republik Irlandia. Roland bisa menyeberangi berbagai perbatasan negara dan melewati imigrasi tanpa khawatir.

Salah satu nama lain Roland, yang hanya diketahuinya dan tak pernah diungkapkan pada siapa pun, adalah Rollie Wedge. Ia kabur dari Amerika Serikat pada tahun 1967 setelah pengeboman Kramer, dan tinggal di Irlandia Utara. Ia pun pernah tinggal di Libya, Munich, Belfast, dan Lebanon. Pada tahun 1967 dan 1968 ia pernah kembali sebentar ke Amerika Serikat untuk mengamati dua sidang Sam Cayhall dan Jeremiah Dogan. Saat itu ia bepergian tanpa kesulitan, dengan dokumen-dokumen sempurna.

Ada beberapa kali perjalanan pendek lain ke Amerika Serikat, semuanya terpaksa, gara-gara kekacauan dengan kasus Cayhall. Namun dengan berjalannya waktu, ia tidak begitu mengkhawatirkannya lagi. Ia pindah ke lubang perlindungan ini tiga tahun sebelumnya, untuk menyebarkan pesan naziisme. Ia tidak lagi menganggap dirinya anggota Klan. Sekarang ia seorang fasis yang bangga.

Setelah menyelesaikan bacaan paginya, ia sudah menemukan cerita Cayhall dalam tujuh di antara sepuluh surat kabar. Ia menuang kopi lagi ke dalam cangkir styrofoam-nya, dan naik lift 24 meter ke sebuah serambi di kabin kayu. Hari itu cerah, sejuk, dan bermandi matahari; tak ada awan terlihat. Ia berjalan ke atas, menyusuri jalan setapak sempit ke arah gunung, dan dalam sepuluh menit sudah memandang lembah di bawahnya. Ladang-ladang gandum ada di kejauhan.

Roland sudah 23 tahun memimpikan kematian Cayhall. Mereka menyimpan rahasia bersama, suatu beban berat yang akan terangkat hanya bila Sam dieksekusi. Ia sangat mengagumi laki-laki itu. Tidak seperti Jeremiah Dogan, Sam menghormati sumpahnya dan tak pernah bicara. Menghadapi tiga sidang pengadilan, beberapa pengacara, tak terhitung pengajuan banding, dan jutaan pertanyaan, Sam Cayhall tak pernah menyerah. Ia laki-laki terhormat, dan Roland menginginkannya mati.

Oh, memang ia pernah terpaksa mengirim beberapa ancaman kepada Cayhall dan Dogan selama dua sidang pertama, tapi itu sudah begitu lama. Dogan menyerah di bawah tekanan, ia bicara dan bersaksi memberatkan Sam. Dan Dogan mati.

Bocah ini membuatnya khawatir. Seperti semua orang lainnya, Roland kehilangan jejak putra Sam dan keluarganya. Ia tahu tentang putri Sam di Memphis, tapi putranya menghilang. Dan sekarang ini—pengacara muda yang terdidik baik, tampan, dari biro hukum Yahudi kaya raya, muncul entah dari mana, siap menyelamatkan kakeknya.

Roland tahu cukup banyak tentang eksekusi untuk memahami bahwa dalam waktu yang semakin sempit, pengacara akan mencoba segala hal. Kalau Sam ingin buka mulut, ia tentu akan melakukannya sekarang, di depan cucunya. Ia melemparkan sepotong batu ke punggung bukit dan mengawasinya melompat-lompat hilang dari pandangan. Ia harus pergi ke Memphis.

***

Sabtu adalah hari biasa penuh kerja keras di Kravitz & Bane Chicago, tapi segalanya sedikit lebih lamban di cabang Memphis. Adam tiba di kantor pukul 09.00 dan hanya menemukan dua pengacara lain dan satu paralegal sedang bekerja. Ia mengunci diri dalam ruangannya dan menutup tirai.

Ia dan Sam telah bekerja dua jam kemarin. Saat Packer kembali ke perpustakaan dengan borgol dan rantai kaki, mereka sudah menutupi meja dengan berpuluh-puluh buku hukum dan catatan. Packer menunggu dengan tak sabar ketika Sam perlahan-lahan mengembalikan buku-buku itu ke rak.

Adam mempelajari kembali catatan mereka. Ia memasukkan risetnya sendiri ke komputer dan merevisi petisi itu untuk ketiga kalinya. Ia sudah mengirimkan satu copy dengan fax kepada Garner Goodman, yang merevisi dan mengirimkannya kembali.

Goodman tidak optimis dengan pemeriksaan yang adil terhadap gugatan itu, tapi pada tahap ini tak ada ruginya dilakukan. Bila kebetulan pemeriksaan diadakan di pengadilan federal, Goodman siap memberikan kesaksian tentang eksekusi Maynard Tole. Ia dan Peter Wiesenberg menyaksikannya. Bahkan Wiesenberg begitu jijik menyaksikan manusia hidup digas sampai mengundurkan diri dari firma tersebut dan mengambil pekerjaan sebagai guru. Kakeknya selamat dari Holocaust—pembantaian orang Yahudi oleh Nazi; neneknya tidak. Goodman berjanji akan menghubungi Wiesenberg dan yakin ia pun mau bersaksi.

Siang hari, Adam bosan dengan kantor. Ia mengunci pintunya dan tidak mendengar suara apa pun di lantai itu. Pengacara-pengacara lain sudah menghilang. Ia meninggalkan gedung itu.

Ia bermobil ke barat, menyeberangi sungai ke Arkansas, melewati pangkalan truk dan lapangan pacuan anjing di Memphis Barat, dan akhirnya melewati kemacetan, sampai di tanah pertanian luar kota. Ia melewati dusun-dusun kecil Earle, Parkin, dan Wynne, tempat bukit-bukit mulai tampak. Ia berhenti untuk membeli Coke di toko desa. Tiga lelaki tua dalam overall pudar sedang duduk di teras sambil mengusir lalat dan menderita dalam hawa panas. Ia menurunkan kap mobil dan memacunya.

Dua jam kemudian ia berhenti lagi, kali ini di kota Mountain View untuk makan sandwich dan menanyakan arah. Calico Rock tidak jauh di jalan ini, demikian ia diberitahu, ikuti saja White River. Jalan itu indah, berkelok-kelok di kaki perbukitan Ozarks, melewati hutan lebat dan menyeberangi sungai-sungai pegunungan. White River berkelok-kelok seperti ular ke arah kiri, dihiasi para pemancing ikan trout dalam sampan kecil.

Calico Rock adalah kota kecil pada tebing di atas sungai. Tiga dok untuk memancing ikan trout di tepi timur sungai dekat jembatan. Adam parkir di tepi sungai dan berjalan ke dok pertama, sebuah tempat bernama Calico Marina. Bangunan itu terapung pada ponton dan ditahan dekat ke tepian dengan tambang-tambang tebal. Sederet perahu sewaan kosong diuntai jadi satu di samping dermaga. Bau bensin dan minyak pelumas yang menusuk memancar dari pompa bensin tunggal. Sebuah papan tanda mencantumkan tarif perahu, pemandu, peralatan, dan izin memancing.

Adam berjalan di dok itu dan mengagumi sungai beberapa meter dari sana. Seorang laki-laki muda dengan tangan kotor muncul dari ruang belakang dan bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Ia mengamati Adam dari atas ke bawah, dan jelas memutuskan orang ini bukan pemancing. "Aku mencari Wyn Lettner."

Nama Ron terjahit di atas saku kemeja dan sedikit tertutup dengan corengan minyak pelumas. Ron berjalan kembali ke ruangannya dan berseru, "Mr. Lettner!" ke arah pintu kasa yang menuju sebuah toko kecil. Lalu Ron menghilang.

Wyn Lettner seorang laki-laki bertubuh besar, tingginya lebih dari 180 senti dengan rangka besar yang cukup kelebihan beban. Garner mengatakan ia peminum bir, dan Adam ingat hal ini ketika melirik ke perut Lettner yang buncit. Umurnya akhir enam puluhan, dengan rambut kelabu yang sudah menipis, tertutup rapi di bawah topi EVIN-RUDE. Sedikitnya ada tiga foto surat kabar Agen Khusus Lettner tersusun pada suatu tempat dalam berkas Adam, dan pada setiap foto itu ia berpenampilan sebagai agen FBI biasa—jas gelap, kemeja putih, dasi sempit, rambut model militer.

Dan waktu itu ia jauh lebih ramping.

"Ya Sir," katanya keras ketika berjalan melewati pintu kasa, sambil menyeka remah makanan dari bibir. "Saya Wyn Lettner." Suaranya dalam dan senyumnya menyenangkan.

Adam mengangsurkan tangan dan berkata, "Saya Adam Hall. Senang berjumpa dengan Anda."

Lettner menyambut tangannya dan mengguncangnya dengan keras. Lengannya besar dan bisepsnya menggelembung. "Ya," katanya menggelegar. "Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?"

Syukurlah tak ada orang lain di dok itu, kecuali Ron yang tak terlihat, tapi menimbulkan suara dengan suatu alat di ruangannya. Adam bergerak-gerak sedikit gelisah dan berkata, "Ah, saya pengacara, dan saya mewakili Sam Cayhall."

Senyum itu melebar dan memperlihatkan dua deret gigi kuning yang kuat. "Kau mendapatkan pekerjaan yang memang dirancang untukmu, bukan?" katanya sambil tertawa dan menepuk pundak Adam.

"Saya rasa begitu," kata Adam canggung, sambil menunggu serangan lain. "Saya ingin bicara tentang Sam."

Lettner mendadak serius. Ia menggosok dagu dengan tangannya yang gemuk dan mengamati Adam dengan mata menyipit. "Aku melihatnya di koran, Nak. Aku tahu Sam kakekmu. Pasti berat bagimu. Urusan pun akan jadi lebih keras lagi." Kemudian ia tersenyum kembali. "Berat pula bagi Sam." Matanya berkedip-kedip, seakan-akan ia baru saja melontarkan lelucon menggelikan dan ingin Adam menanggapinya dengan tertawa.

Adam tidak menangkap humor itu. "Sam punya waktu kurang dari sebulan, Anda tahu," katanya, yakin bahwa Lettner juga sudah membaca tentang tanggal eksekusi tersebut.

Satu tangan berat sekonyong-konyong menempel ke pundak Adam dan mendorongnya ke arah toko. "Masuklah ke sini, Nak. Kita akan bicara tentang Sam. Kau mau bir?"

“Tidak. Terima kasih." Mereka memasuki sebuah ruangan sempit dengan peralatan memancing bergantungan dari dinding dan langit-langit, serta rak-rak kayu reyot tertutup makanan—biskuit asin, sarden, sosis kalengan, roti, babi, kacang polong, dan cupcake—segala keperluan untuk sehari di sungai. Pendingin minuman ringan berdiri di satu sudut.

"Duduklah," kata Lettner, melambai ke sudut dekat cash register. Adam duduk di kursi kayu yang rapuh, sementara Lettner mengaduk-aduk kotak es dan menemukan sebotol bir. "Kau betul tidak mau?"

"Mungkin nanti." Saat itu hampir pukul 17.00.

Ia memutar tutupnya, mengeringkan sedikitnya sepertiga botol pada tegukan pertama, mendecakkan bibir, lalu duduk di kursi kulit usang yang tak disangsikan tentu diambil dari sebuah van yang dirakit menurut pesanan. "Apakah mereka akhirnya akan mengeksekusi Sam?" tanyanya.

"Mereka berusaha sangat keras."

"Bagaimana peluangnya?"

"Tidak bagus. Kami punya berbagai pembelaan detik terakhir seperti biasa, tapi jam terus berdetak."

"Sam bukan orang jelek," kata Lettner dengan sedikit nada penyesalan, lalu minum satu tegukan panjang lagi. Lantai berkeriut pelan ketika dok itu bergeser bersama guncangan air sungai.

"Berapa lama Anda tinggal di Mississippi?" tanya Adam.

"Lima tahun. Hoover memanggilku setelah tiga orang pekerja hak sipil menghilang. 1964. Kami membentuk unit khusus dan mulai bekerja. Sesudah Kramer, Klan seperti kehabisan bahan bakar."

"Dan Anda bertanggung jawab menangani apa?"

"Mr. Hoover sangat spesifik. Dia memerintahkan aku agar menginfiltrasi Klan dengan taruhan apa pun. Dia ingin menggulungnya. Terus terang, kami mulai dengan lamban di Mississippi. Banyak alasannya. Hoover benci keluarga Kennedy dan mereka mendesaknya dengan keras, maka dia sengaja berlama-lama. Namun ketika tiga bocah itu hilang, kami mulai bekerja keras. 1964 adalah tahun yang luar biasa di Mississippi.”

"Saya lahir tahun itu."

"Yeah, menurut koran kau lahir di Clanton."

Adam mengangguk. "Lama saya tidak mengetahui hal itu. Orangtua saya mengatakan saya lahir di Memphis."

Pintu berbunyi dan Ron masuk ke dalam toko. Ia memandang mereka, lalu mengamati biskuit asin dan sarden. Mereka mengawasinya dan menunggu. Ia melirik Adam, seolah-olah mengatakan, "Teruskan berbicara. Aku tidak mendengarkan."

"Kau mau apa?" tukas Lettner kepadanya.

Ron meraih sekaleng sosis Wina dengan tangannya yang kotor dan menunjukkannya kepada mereka. Lettner mengangguk dan melambaikan tangan ke pintu. Ron berjalan ke sana, memandangi cupcake dan keripik kentang ketika beranjak pergi.

"Dia usil luar biasa," kata Lettner sesudah ia pergi. "Aku beberapa kali bicara dengan Garner Goodman. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, rasanya aneh."

"Dia bos saya. Dia memberikan nama Anda pada saya. Katanya Anda akan bicara dengan saya."

"Bicara tentang apa?" tanya Lettner, lalu meneguk minumannya lagi.

"Kasus Kramer."

"Kasus Kramer sudah ditutup. Satu-satunya yang tersisa adalah Sam dan kencannya dengan kamar gas."

"Anda ingin dia dieksekusi?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 41)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.